Kamis, 18 November 2010

Kisah Seorang Gadis

Angin bulan Maret yang menerpa pucuk pinus di tepian Ranu Kumbolo terasa menusuk kulit. Mega yang duduk mencangkung segera meninggikan kerah jaket birunya. Mencoba menahan dingin yang menusuk kulitnya. Setelah itu tangannya kembali menyelusup ke saku jaketnya. Sementara itu Alda, Dirga dan Anggi yang menjadi teman sependakiannya asyik mendirikan tenda.

Bola mata Mega yang bening mengarah pada seekor belibis yang berenang kian kemari di atas birunya air Ranu Kumbolo. Sesekali belibis cantik berbulu putih itu menghilang dari pandangannya. Terhalang kabut tipis yang mulai menyelimuti Ranu Kumbolo. Begitu juga Puncak Maha Menu yang berpasir sudah tak terlihat lagi.

"Kasihan belibis itu, tentunya ia kesepian. Nggak ada yang menemaninya bermain," gumam Mega dalam hati.

Mendadak Mega merasakan kekosongan pada batinnya. Batinnya terasa lelah, gundah dan seribu satu macam perasaan tidak mengenakkan bercampur jadi satu.

Pikirannya melayang pada kejadian dua minggu lalu. Siang itu, sepulang sekolah, Erick mengajaknya berkunjung ke rumah yang sedang kosong. Di sana Erick mencoba merayunya. Tidak cuma itu, Erick juga berusaha menciumnya.

Tentu saja Mega menolak tegas-tegas yang membuat Erick tersinggung. Merasa tersinggung, Erick mulai mengungkit-ungkit kelakuannya selama ini yang di mata Erick tak lebih dari sekadar cewek gampangan.

Merasa tercampakkan harga dirinya, Mega minta pulang. Erick yang merasa keinginannya belum terlaksana menolak mengantarkannya pulang. Malah dengan berang Erick melontarkan kata-kata yang menusuk hatinya.

"Hei! Kamu kan cewek yang mau diajak kencan sama cowok mana saja. Asal diajak clubbing, ditraktir makan. Sekarang ngapain sok suci?" sergah Erick sengit.

"Apa kamu bilang?! Lantas kamu pikir, kamu itu apa, heh? Kamu playboy tanggung tahu! Kamu nggak lebih dari benalu yang bisanya mengandalkan kekayaan Papamu, huh!" balas Mega tak kalah sengitnya.

Bola matanya yang sendu mulai berkaca-kaca, tapi Mega mencoba menguatkan dirinya. Erick yang ada di hadapannya terperangah dibuatnya. Erick seakan tak percaya kalau bibir mungil yang menggemaskan itu bisa mengeluarkan kata-kata tajam.

"Rupanya kamu selalu menganggap cewek yang suka pergi clubbing, adalah cewek gampangan. Yang bisa kamu perlakukan seenak perutmu?" sambungnya lagi sambil keluar pintu.

Setengah berlari Mega meninggalkan Erick. Pikirnya, makin jauh dari rumah itu, makin baik Tak sadar langkah kakinya membawanya kembali ke sekolahnya yang memang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Erick.

Terengah-engah Mega sampai di kantin. Tak peduli dengan Alda, Dirga dan Anggi yang sedang asyik ngobrol, Mega langsung memesan minuman dingin pada ibu kantin.

"Hei, Ga! Belum pulang, yuk gabung sama kita-kita. Kita-kita lai ngobrolin rencana ngisi liburan," sapa Anggi. "Sebentar lagi kan anak-anak kelas tiga ujian. Sementara anak-anak kelas tiga ujian, kita-kita kan libur. Rencananya, aku, Alda dan Dirga mau cabut ke Semeru," lanjut Anggi.

"Ya, Ga! Kamu mau ikutan? Sekali-sekalilah kamu ikutan. Olahraga sambil menghirup udara segar bebas polusi," sela Dirga.

***

Semua itulah yang membawanya kini berada di tepi Ranu Kumbolo. Yang membawanya kini berada di kawasan gungung Semeru. Yang membawanya mau ikut mendaki gunung, kegiatan yang sebelumnya sama sekali tidak disukainya.

"Ah...!" Mega menghirup napas dalam-dalam. Bola matanya yang indah menatap sekeliling. Ranu Kumbolo yang lengang. "Kenapa baru sekarang aku mencobanya? Kenapa nggak dari dulu-dulu? Kalau saja aku tahu mendaki gunung itu mengasyikkan, tentunya aku nggak perlu ke diskotik? Tentunya nggak bakalan dihina Erick!" sesalnya dalam hati.

Kembali pikirannya menerawang. Terbayang ruang diskotik yang sudah beberapa kali jadi tempatnya menghabiskan malam Minggu bersama Erick, Tony, Mona, Rinto dan Susi. Tempatnya berhura-hura yang identik dengan minuman alkohol dan peredaran pil ekstasi. Tempat yang tak pernah sepi dari hingar-bingar house-music dan kilatan cahaya lampu warna-warni.

Sungguh berbeda dengan tempatnya sekarang ini berada. Tempat yang begitu asri. Begitu sunyi. Penuh kedamaian. Tempat yang membuatnya terasa begitu dekat dengan-Nya.

Sesaat Mega menyibakkan rambutnya yang terurai panjang. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menggelayut dalam benaknya. Rindu pada kamarnya yang berdinding merah muda. Rindu pada rumahnya. Dari rumah itulah lahir keputusannya yang jauh dari kalimat bijak.

Malam itu masih di meja makan seusai makan malam, Mamanya membuka obrolan.

"Kemarin sama Papa, Mama mengambil keputusan agar kamu masuk sekolah musik. Agar bakat nyanyi dan musikmu terasah dengan baik. Ya, paling nggak agar kamu profesional di musik. Kebetulan Papamu kenal baik dengan Oom Prana — pemilik sekolah musik itu. Mama yakin kamu pasti suka," tutur Mamanya lembut.

"Mama dan Papa selama ini belum pernah minta pendapat Mega, kan?! Mega suka atau nggak?" tanggap Mega acuh tak acuh sembari tangan kanannya memainkan gelas di depan wajahnya.

"Tapi Mama dan Papa pikir itu yang terbaik untuk kamu, selain kursus komputer dan bahasa Inggris," ujar Mamanya berusaha memberi pengertian.

"Mama dan Papa selalu mengatakan bahwa apa yang Mama dan Papa lakukan untuk Mega selalu mengatasnamakan yang terbaik. Mulai urusan sekolah, kegiatan sampai teman. Lantas kapan sih Mega bisa menentukan sendiri apa yang Mega anggap terbaik?" gerutu Mega.

"Bukannya Mama dan Papa bertindak otoriter terhadapmu. Nggak, Ga! Mama dan Papa hanya ingin membekalimu. Bukan mengarahkan kamu untuk jadi penyanyi atau musisi. Sebab, Mama dan Papa lihat sekarang ini persaingan hidup begitu ketat. Contohnya, banyak sarjana nganggur. Cuma kebetulan nggak punya koneksi dan kesempatan. Apalagi dua atau lima tahun mendatang? Padahal kebanyakan mereka sebenarnya menguasai komputer dan bahasa Inggris," sela Papanya.

Mega tak berkutik mendengar kata Papanya. Hanya saja Mega tidak mengatakan setuju atau sebaliknya. Melainkan memilih beranjak dari meja makan menuju kamar tidurnya.

Mega memang sudah lama tidak menyukai sikap Mama dan Papanya. Pada awalnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar hingga SMP, Mega memang merasa senang mendapatkan perhatian yang cukup dari Mama dan Papanya. Tapi lama kelamaan semenjak duduk di bangku SMA, Mega merasa seperti patung tanah liat yang dibentuk sesuai selera Mama dan Papanya.

Dalam situasi dan kondisi seperti itulah, suatu sore sepulang kursus, Mega berkenalan dengan Mona di Cafe Olala, Blok M Plaza.

"Ga... lebih baik gabung sama kita-kita ketimbang sumpek di rokum, sumpek di sekolah yang banyak aturan," bujuk Mona sewaktu Mega bermain ke tempat kos Mona dan teman-temannya di kawasan Bangka.

"Kapan aja kita mau, kita bisa ngeceng di mal-mal. Apalagi kalau malam Minggu, kita bisa nongkrong di puncak atau clubbing sampai pagi. Ngapain juga cuma jadi kutu buku dan ngadepin bonyok yang kolokan," sela Selvi, teman kos Mona. "Soal biaya hidup sehari-hari dan sekolah, gampang deh! Syukur-syukur sih bokap lu masih mau ngedrop dokat. Jadi kita tinggal cari buat hepi," lanjut Selvi bersemangat.

Rupanya bujuk manis Mona dan Selvi mengena sasarannya. Kesenangan semu menari-nari dalam angan Mega yang masih lugu. Hingga suatu malam, Mega lari dari rumahnya. Meninggalkan kekangan yang dirasakannya selama ini.

"Maafkan Mega, Ma. Maafkan Mega, Pa," gumam Mega ketika berusaha meninggalkan rumahnya. Malam itu Mega yang sudah membulatkan tekadnya dengan hati-hati sekali membuka pintu gerbang rumahnya. Agar tidak tertangkap basah oleh Pak Cahya, satpamnya yang sedang terbuai mimpi di pos satpam.

Tapi apa yang aku dapatkan sekarang ini?! Hura-hura di diskotik? Hinaan Erick? Hanya itukah yang pantas aku dapatkan? Lantas ke mana perginya kebebasan? Ke mana? Beruntung aku belum terjerumus seperti Mona dan Selvi yang sudah kecanduan pil ekstasi! Dan rela menjual diri mereka menjadi perek bila ketagihan barang-barang haram tersebut!

Pulang? Haruskah aku pulang?! Tapi untuk apa? Untuk dikekang lagi? Tidak, aku tidak akan pulang! Namun tiba-tiba menyelinap rasa rindu dalam benaknya. Rindu pada kecupan dan belaian Mamanya. Rindu pada gandengan mesra Papanya saat berjalan di Plaza Senayan, Plaza Indonesia atau Seibu. Mega merasa dirinya kini seperti belibis putih yang sendirian berenang kian kemari di hadapannya.

***

Perlahan Mega beranjak dari tempat duduknya. Sesaat Mega berbalik. Kemudian melangkahkan kakinya pada jalan setapak. Menuju tenda dome yang sudah didirikan Alda, Dirga dan Anggi. Sambil melangkahkan kakinya yang terbungkus Timberland, Mega berangan-angan. Besok sesampainya di Malang, Mega akan menelepon Mamanya. Lusa sesampainya di Jakarta, langsung pulang ke rumahnya. Sungkem pada Mama dan Papanya.

Kabut sudah tak nampak lagi. Sesekali angin berembus menerpa pucuk-pucuk pinus dan ilalang. Mentari menuju peraduannya. Cahaya kemerahannya memantul pada permukaan air Ranu Kumbolo. Belibis putih mengepakkan sayapnya. Terbang di senja yang indah. Menuju sarangnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner