Selasa, 30 November 2010

Impian Tiana

Disebuah pedesaan yang lengang dengan riak air yang tenang di belakang rumah gubuk mungil tempat aku menghabiskan masa kecilku dulu di kampung...
reot dinding kulit kayu,dengan bau khas lapuk yang masih ku rasakan hingga kini..
aku terkesima mengenang masa itu...
masa dimana aku menghabiskan sebagian masa hidupku di sana

Dengan kesederhanaan yang kami lakoni,menumbuhkan semangat bagiku utk maju selangkah kedepan.
mengenyam pendidikan yg lebih tinggi dari pada teman-teman sebayaku yang hanya bisa pasrah dengan titel tamatan EsDe.
aku tak hanya ingin bisa membaca dan menulis aksara yang dulu tak ku mengerti terpampang di layar televisi yang jarang-jarang bisa kulihat...
hanya sekali waktu saja aku dapat menikmati ayar bergerak yang menurutku aneh kala itu...
dan disana ku mulai berhayal....ku ingin miliki semua yang tergambar disana secara nyata....

tamat dari sekolah dasar aku merengek pada ibuku yang cuma seorang ibu rumah tangga biasa yang tak bekerja.
sedangkan ayahku cuma hanya seorang petani karet yang penghasilannya pas-pasan karena kami tidak mempuyai kebun utk di toreh,ayahku penoreh karet dr hasil kebun tetangga dgn jatah bagi hasil ...
aku merengek ingin melanjutkan sekolahku ke tingkat SLTP di kecamatan yang cukup jauh dari desa tempat tinggalku.
bisakah terbayang bagai mana mungkin orang tuaku mewujudkan keinginanku yang menurut orang'' di kampungku terlalu muluk utk taraf hidup kami yang serba kekurangan.
bersekolah di tingkat kecamatan seperti itu hanya bisa di lakoni oleh orang'' yg berada di kampungku,tidak untuk aku yang cuma seorang anak petani karet...
hatiku tak terperi kala itu, membayangkan ketidak berdayaan orang tuaku...dan pada suatu malam ku katakan pada bapak,kalau aku ingin memiliki apa yang ku lihat di layar bergerak yang jarang kulihat itu.
aku ingin jadi orang kaya Pak...aku ingin sekolah yang tinggi,agar aku bisa menggapai apa yang ku impikan di layar bergerak milik Pak Kades....

Bapak hanya bsa tersenyum, melihat imbuhanku malam itu,
Nak,,,cita''mu tinggi setinggi langit,namun kau lihatlah keadaan kita saat ini...kau sudah tamat dari EsDe saja sudah bersyukur,bisa membaca saja Bapak sudah senang...jaganlah memikirkan hal yang muluk-muluk tentang dunia di luar sana.
itu bukan dunia untuk kita orang'' miskin nak...
aku makin terpinggir oleh kata'' bapak yang untung saja tak mematahan semangatku waktu itu....Namun nasibku tak berpihak kala itu...aku harus rela membuang impian sekolah ketingkat SLTP di kecamatan krn kemiskinan orang tuaku.
akhirnya aku mengikuti jejak Bapak,menjadi pemotong karet hasil bagian dengan sang pemilik kebun.

tiapa malam selalu hatiku bergejolak,keinginanku utk sekolah kian mendidih,aku harus berusaha,dan nekat adalah jalan keluar untukku bisa wujudkan semua'y...pikiran itu yang tiba-tiba muncul di benakku.
langsung saja aku melompat dari derit reot dipan lusuh di beranda depan gubuk reotyg ku tinggali bersama keluargaku itu.
aku menemui bapak dan aku ungkapkan keinginanku lagi malam itu,,,,
Pak...kataku pada bapak yang duduk di sudut ruangan dgn rokok longlat terjepit di antara jari nya dengan asap bau rokok yang menyengat hidung...
aku masih ingin sekolah pak, aku ingin melanjutkan cita''ku pak...
Tiana...kamu itu seorang anak perempuan,bapak heran dengan mu,kenapa masih saja punya pikiran seperti itu.
setahun yang lalu kau katakan pada bapak ingin sekolah lagi,dan bapak kira kau sudah melupakan keinginan yang tak mungkin bisa bapak berikan untukmu...
bapak sudah tua, bapak tak menginginkan kau memikirkan hal yang tak mungkin nak....sudahlah lupakan saja impianmu itu.
"aku terdiam sejenak....tak bisakah ataukah memang ini takdir anak desa sepertiku yang mustahil memiliki cita-cita...????
aku tak ingin seperti Marni sahabat baikku...yg setamat EsDe menikah dan kini menggendong anak sambil bekerja di gelap'y dapur dgn kepulan asap menyesakkan nafas dikala fajar belum menyinsing demi menyiapkan kebutuhan suami'y yang juga seorang petani kebun karet.
aku tak ingin selamanya berkubang dengan bau getah karet yang menyengat seumur hidupku.
aku ingin ada perubahan,,,aku ingin hidupku jauh lebih baik dari Marni,Ida,Laila,Leha teman''ku dikampung.

Aku tetap ingin pergi pak, ijikan Tiana, walau Tiana anak perempuan,namun Tiana ingin merubah nasib kita Pak.
Tiana ingin bapak & ibu serta adik'' hidup lebih layak dari saat ini...jika bapak merestui Tiana dengan doa, Tiana yakin suatu saat nanti bapak akan menikmati impian Tiana akan layar bergerak milik pak Kades itu pak.

ibuku menangis,mata bapakkku juga berkaca'' melihat wajah memelasku kala memohon ijin padanya.
Pak, nasib & takdir harus kita perjuangkan,jangan hanya pasrah dengan keadaan yang ada.
umurku belum genap 14 thn kala itu, namun dgn buku ini aku yakin dunia diluar sana dapat menerima Tiana Pak.
buku ini pengobar semangat Tiana selama ini...ku acungkan buku usang yang ketemukan di jalan desa dua tahun lalu kala ku pulang sekolah dengan telanjang kaki menelusuri jalan desa yang berbatu...mungkin milik orang kota yang jatuh kala melintas di jalan desaku kala itu.

Dengan apa kau akan bertahan hidup disana Tiana,sesusah''nya kita disini, akan lebih terjamin dari pada kau di luar sana tanpa kami orng tuamu menjaga nak...kata ibuku yang masih menagis.
"aku akan sambil bekerja mak,kerja apa saja...asalkan aku dapat sekolah, nanti jika Tiana sudah sukses, Tiana akan menjemput bapak dan emak disini....Tiana janji mak,,,bapak ijinkanlah anakmu menraih mimpi...pintaku sekali lagi pada bapak yg membuang muka di keremangan sudut ruang dgn msh menghisap longlat'y.
aku tahu, bapak menyayangi aku,bapak tak ingin aku menderita di rantau, namun aku harusssss.....demi impianku.
Pak.....aku beralih bersujut di kaki bapak bersimpuh di ujung kakinya memohon.
bapak masih diam mematung,,,,lama,,,dan aku tek ingin beranjak tanpa jawaban dari bapakku.
akhirnya terdengar suara berat & serak bapakku terucap...Tiana,jika kau ingin pergi,pergilah nak...bapak tak dapat memaksamu lagi,,,hatimu keras bagaikan batu,tekatmu kuat laksana karang,bapak dapat merasakan'y sejak dari kau kecil..kau memendam impianmu selama setahun,bapak melihat kau sering melamun di serambi..bapak tahu apa yang kau pikirkan...kau tak seperti anak'' sebayamu...
Jika kau ingin pergi,,,pergilah nak...wujudkan impian mu, dan jangan kembali jika kau belum berhasil.
karena ini adalah pilihan hidupmu,,,dan bapak tidak bisa membekali materi,,,cuma doa yangkan selalu menyertai kau dimanapun kau berada & selama kau di jalan yang benar,,,
dengan mendengar kata restu dari bapak,,,duniaku terasa terbuka, malam nan geplap di gubuk reot itu terasa terang benderang kurasakan....aku melayang,,,,dan ku peluk bapakku erat'' yang tak pernah ku lakukan selama hidupku.
itu pertama kalinya aku memeluk bapakku.......TIana janji pak, Tiana akan kembali kesini dengan hasil yang membanggakan bapak sertaibu...itu janji Tiana.

Dengan selembar pakaian yg ku masukka kedalam kantong kresek lusuh serta buku penyemangatku, aku berangkat kekecamatam yang jarak'y 8 jam dari desaku,,,dgn menumpang truk yg melintas aku kuatkan tekatku.
sesampainya di tempat tujuan aku bingung dan tak tahu arah tujuanku,,,dan karena kelah'y ku coba beristirahat di tangga sebuah masjid krn mungkin lebih aman menurutku disana dari pada di jalanan.
hari sudah larut kala itu...perutku mulai tak bersahabat...mataku melihat kesana kemari,namun tak seorang pun yang kliat melintas....kerena lelah yg mendera,kantuk pun tak tertahankan,akhirnya ku terlelap dengan rasa laparku.
tanpa sadar ku terbangun karena ada yang menepuk pundakku dengan parlahan.
ku coba memincingkan mata,dan kulihat seraut mata teduh menatapku dengan senyum....Asalammualaikum sapanya padaku.
dan aku lekas bangun,& membalas salam'y walau aku bukan seorang muslim...dan ternyata beliau adalah seorang bapak ustad yang bersahaja....Ia menawarkan aku tempat berteduh dirumah'y dan disambut oleh istri'y yang tak kalah ramah'y juga...akhirnya aku menetap disana dan kuceritakan semua kisah tujuanku datang  kesana.
dan pak ustad berjanji akan membantuku....dan berjuta ucapan terima kasih ku ucapkan pada beliau yg sudah menolongku kala ku terlunta....

singkat cerita, aku diperkenalkan pada Koh Asun,pemilik warung kopi di kecamatan sebangun tempat tujuanku kala itu.
Ia seorang warga keturunan tionghua yang cukup baik terhadapku.
aku bekerja padanya sebagai pelayan,dgn rasa syukur ku kerjakan semua tugas darinya.
aku juga dibolehkan tinggal di rumahnya yg sederhana,tidur sekamar dengan anak perempuannya yang bernama Meilani anak semata wayang mereka yang cantik..
dan karena keuletan ku akhirnya aku di sekolahkan oleh keluarga Koh Asun bersama'' dengan meilani di sekolah yang sama.
selepas sekolah aku membantu diwarung kopi milik'y dan juga berkemas di rumah'y koh Asun papa'y Meilani.
hari berganti hari bergulir tahun....
ku coba menahan rasa rinduku pada bapak & emak serta sdik''ku di kampung....yg terlintas di otakku hanya satu pesan darii bapak..."JANGAN KEMBALI JIKA KAU BELUM BERHASIL" dan dengan itu tekatku makin terpacu.

Akhir'y aku dan meilani tamat di SLTP dan dengan nilai yg lumayan membanggakan,akhi'y aku mendapat beasiswa kekota utk melanjutkan SMU.
tanpa pikir lebh jauh,ku terima saja tawaran itu,,,hingga akhir'y aku pun melajutkan sekolahku dan harus meninggalkan keluarga koh Asun serta meilani & mama'y yang selama ini sudah sangat baik padaku.
dan aku berjanji tak akan melupakan jasa'' kalian padaku....ungkapku pada Koh Asun yang ku sapa Asun suk kala ku akan berangkat kekota pontianak untuk melanjutkan study ku,sedangkan meilani msh melanjutkan sekolahnya di kota yang sama yaitu msih di kecamatan sebangun.

mulailah lagi aku dengan kehidupan baruku di kota yang cukup terbilang besar nemurutku yang serang anak petani karet dari desa terpencil...
akhirnya aku dapat pula menghirup udara kota yang banyak debu mengotori hidung....bau asap kenalpot kendaraan, bau comberan got, beginikah suasana kota...kataku dlm hati.
ah,,,,tapi sudahlah, yg terpenting bukan itu semua yg menjadi soal, aku harus ttp pada tujuan semula...meraih impianku.

singkat cerita aku sekolah sambil bekerja, masih ditoko...tp kali ini di toko kelontong koh Ahong...dan ku sapa beliau dengan panggilan Hong Suk (sapaan paman dlm bhs khek warga pontianak) yg juga merupan saudara kandung dari Sun Su -
(koh Asun) papa'y meilani.

aku makin giat bekerja agar orng yg kutumpangi tak merasa sia-sia aku merepotkan mereka.
dan selama aku bekerja aku tak pernah dibayar dengan gaji selayak'y para pekerja pada umum'y begitu juga wktu msh ikut dgn asun suk,aku hanya berharap dapat terus sekolah & meraih impianku.
namun aku bersyukur dan tak mengharapkan imbalan apa pun yg penting aku di beri tumpangan dan tak merasa kelaparan selama ku jauh dari bapak & emak di kampung.

singkat kisahku, aku hampir menamatkan studyku di tingkat SMU,dan masih menumpang tinggal serta bekerja di rumah Hong suk yg begitu baik padaku selama ini...
hingga pada suatu hari Afa Ji (sapaanku pd Istri dari koh Ahong) berkata padaku...maukah kau menjadi bagian dari keluarga besar kami dan menikah dengan Ahua anak sulung ku setamat'y kau dari Sekolah di SMU Tiana ???
kau sudah lama tinggal di rumah kami dan kulihat perangaimu baik, Ahua akan bahagia mendapat pendamping sepertimu kelak...dan aku juga sudah mengenal dan suka padamu seperti aku menyayangi anakku sendiri...

Aku kaget dan tak dapat berkata banyak kala itu,,,aku tak menyangka kebaikan keluarga ini padaku & rasa sayang'y mereka padaku sampai sebegitu besar'y hingga ingin menjadikanku bagian dari keluarga mereka...
Begitu juga dengan Ahua, dia seorang pemuda yg baik,rajin bekerja membantu usaha keluarga'y...di samping itu dia juga kuliah sore hari setelah selesai bantu'' di toko papanya...dia baik & perhatian padaku.
aku beruntung bisa mengenal keluarga ini dalam kehidupanku....namun untuk menikah seusai aku tamat sekolah sepertinya tidak masuk dlm kamus masa depan yg ku impikan.
dan akhirnyaku katakan, aku masih ingin melanjutkan studyku jika Tuhan masih berkehendak aku sekolah lagi, dan untuk mewujudkannya aku akan bekerja selepas'y aku sekolah nanti.
dan untuk menikah aku belum bisa,,,dan ternyata Afa ji orng'y baik dan dapat mengerti & memahami aku.
malah aku di ijinkan utk tinggal di rumahnya selama yg ku inginkan...

singkat cerita perjalanan hidupku di ridohi oleh yg kuasa, aku lulus SMU dgn nilai yg memuaskan,lagi-lagi aku berkesempatan mengenyam bangku kuliah yg ku cita''kan sejak kecil.
kini aku di hadapkan pada satu pilihan yg tak mungkin ku lepaskan begitu saja,aku berkesempatan kuliah di jogja.
dan dengan sedikit keberatan hati dari keluarga Hong Suk serta Ahua tentunya aku bersikukuh ingin melanjutkan study di jogja...
akhir'y berangkatlah aku kuliah di jogja,kota impian kota yg lebih besar dari kota pontianak yg baru pernah kulihat kini.
bagai mimpi rasa'y perjalanan hidupku hingga bisa sampai disini....
dan tekatku makin kuat terasah setelah ku mulai mengenal duniaku yang sekarang.

Hari'' terus bergulir,masa terus berganti hingga tak terasa kuliahku sudah memasuki tahun ke-3
tak lama lagi aku akan menjadi sarjana seperti yg ku impikan, aku makin bersemangat,walau banyak hambatan di tengah-tengah perjalanan hidup yang tak mudah ini..
namun wajah bapak & emak serta adik''ku selalu terbayang di pelupuk mataku..."JANGAN KEMBALI JIKA KAU BELUM BERHASIL TIANA" Kata-kata bapak pemacu semangatku,walau tubuhku kian ringkih & lelah mendera kala ku harus bekerja paruh waktu utk memenuhi kebutuhan hidupku selama di Jogja.

Ahua, sekali waktu dia selalu menghubungiku via HP yang di berikannya padaku kala aku akan berangkat mengadu nasibku di jogja.
ku tahu perhatiannya cukup berlebih padaku, dan kadang terbersit rasa suka padanya, namun perasaan itu hilang sekejap kala ku ingat pada apa yg harus kuraih......
kini semua yg kulihat di layar bergerak milik pak Kades berukuran 14'' nyataku lihat,,,namun blum nyata bisa kumiliki.
semua itu memacu ku tuk menghilangkan rasa yg menyelinap dlm batinku tentang kebersamaan bersama dengan Ahua.
sekali waktu Ahua pernah bertanya padaku, "adakah kau menemukan teman spesial di ogja Tiana?"
"Apakah koko masih bisa menelpon mu setiap waktu tanpa ada yg melarang ?
Ku tahu arah maksud 'y Ahua dgn kata'' itu...namun ku coba untuk menepis semua prasangka yang ada...
Lupakan semua Tiana,,,tujuanmu cuma satu,,,raih cita''mu dam lekaslah kau kembali menjemput bapak & Emak mu di kampung yg sudah sekian tahun tak pernah kau dengar akbar beritanya....

Oh,,,Bapak,Emak,Yaya,Novi & Ahen....aku merindukan kalian.
doakan slalu anakmu ini Pak,Mak agar cepat kembali bertemu kalian di kampung.....

***

Akhir'y aku lulus kuliah juga di jogja, dan ku coba melamar pekerjaan di sebuah perusahaan asing yg bergerak di bidang pertambangan.
awal karier ku bekerja sebagai staff admin di perusahaan itu,dengan gaji yg tak seberapa besar hanya cukup untuk kebutuhanku sebulan dengan sewa kost murahan sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan.
namun ku tak boleh mengeluh,,,jalan hidupku harus bisa berubah.
setahun bekerja di perusahan itu aku mulai menunjukkan prestasi kerja yg mulai membuat atasanku memperhitungkan kemampuan ku dlm bekerja...
dan aku di angkat menjadi sekretaris boss ditempat ku bekerja,,,yg awal'y aku cuma staff biasa disana.
kehidupanku mulai sedikit berubah, aku tak lagi tinggal di koss kumuh tempat semula ku tinggal...
dan dengan semua yg kuraih,rasa syukur tak lelah''ku panjatkan pada Tuhan...
sampai akhirnya,aku ditawari posisi yg cukup menjanjikan namun harus ditugaskan keluar negri,,,tepatnya di taiwan.
dan kesempatan itu ku raup tanpa ku pikir'' lagi,,,karena hidupku yg tanpa ikatan.

setahun ku di Taiwan,aku bertemu Khai Long, seorang pemuda enerjik yg rupawan,warga Taiwan teman sekantor denganku sekaligus rekan kerjaku juga...
aku dekat dengannya sejak saat itu, Bisa dikatakan pacaran tanpa ada kata jadian diantara kami...
semua mengalir seperti air...hingga aku tugas balikkan keindonesia ditahun ketiga ku disana.

dan setibanya ditanah air tak berapa lama kabar yg datang untukku cukup mengejutkan, aku ditugaskan kembali keanak cabang perusahaan yang lain yg juga berada di luar negri,dan otomatis hubungan ku dengan Khai Long putus total karena kesibukanku yang makin padat setibanya aku di tempat kerjaku yang baru.
aku makin gila bekerja hingga aku melupakan tujuan awalku, aku lupa pada umurku yang kian bertambah...
pada janjiku untuk menemui bapak serta emak di kampung....

suatu malam aku dalam lelahku terlelap dalam mimpi,,,disanaku melihat wajah Bapak & Emak menantiku di depan gubuk reot kami yg hampir rubuh bangunan'y karena di makan usia...
wajah mereka makin keriput dan pias menatap kosong kejalan setapak menuju gubuk reot tempat tinggal ku dulu...
dalam tatapan kosong mata Emak ku lihat ada genangan air yg mengalir,  di sudut bibirnya ku dengar rintihannya memanggil namaku....."Tiana"
aku tersentak bangun,,,walau baru saja ku terlelap rasanya....aku langsung bersujut bersimpuh.
Bapak,,,Emak Maafkan anakmu yg tlah lupa akan janji'y menjemput kalian melihat dunia yg kulihat di gambar bergerak milik pak Kades....
aku merindukan kalian........

Hari-hari masih seperti bisanya berganti,aku makin tenggelam pada duniaku, dunia yg entah itu bagian dari cita''ku atau bukan. yg pasti itulah dunia yg kulakoni kini.
tak ada waktu luang yg kunikmati walau hanya sekedar utk memanjakan diri sendiri...
dua tahun di negri bersalju ku abdikan hidup ku dlm rutinitas kerja yg membabi buta...
Entahlahhhh......apa yg kucari...aku pun tak tahu jawabannya.

***

George Pranujaya, wakil direktur diperusahaan tempat ku bernaung pada suatu hari mengungkapkan isi hatinya padaku.
ia seorang pria keturunan pribumi sesuai dgn namanya,meminangku sebagai istri'y kala itu.
kala dimana aku tak lagi bertugas di negri paman sam,dan kini ku telah kembali lagi ke negriku tercinta, Indonesia.
aku memang tlah lama mengenal beliau,sejak ku mulai bekerja disini pada awal karierku...
Dia atasanku kala itu,dan aku begitu segan dan menghormati'y sebagai senior di perusahaan ini.
dan kini tak ku sangka,ia mengungkapkan keinginannya memperistriku,lagi-lagi ku tersekat di sudut pilihan.
dan dengan tegas ku katakan TIDAK pada'y tanpa alasan yg jelas kuberikan untuk'y.
"apakah karena aku seorang Duda beranak dua Tiana, kau menolak pinanganku ???
tanya'y padaku...
"tak tahukah kau jika aku memperhitungkanmu jadi bunda dari anak''ku dan juga pendamping hidupku di masa depan.
sekali lagi tak ada jawaban pasti dan kejelasan yg bisa ku beri untuk'y
mungkinkah hidupku di takdirkan tak memiliki pasangan hidup,hingga ku tak memikirkan kehidupan berumah tangga dan memiliki keluarga yg utuh dengan anak'' yg riuh menghiasi rumah tangga ku kelak ??!!
yg ada kini di benakku kehidupan yg bebas tanpa ikatan yg kan mengekang seluruh kebebasanku...Egoiskah jika ku berfikiran seperti itu kini ??

mencoba melupakan pelik'y masalah hati dengan pengungkapan George yg ku anggap tak di pada saat yg tepat.
aku mencoba menenangkan fikiranku dengan mencoba shopping di mall yg tak pernah kulakoni sebelumnya.
karena ku hanya membeli kebutuhan ala kadar'y sekedar yg ku anggap berguna.
dan selama ini tak kumiliki teman berbagi apa lagi teman yg bisa ku ajak besenang'' seperti shopping bersama dikala waktu luang misalnya...
hidupku benar-benar sendiri dan monoton,di dlm rutinitas yg ku geluti selama bertahun-tahun.
dan saat ini aku merasa benar-benar sendiri......

Dan di salah satu toko tanpa sengaja ku berpapasan dengan sosok yang tak asing bagiku.
aku mengenal dia sebagai bagian dari masa laluku, dia Afa ji yang sedang menggandeng seorang anak kecil kira-kira berumur tiga  tahun...
ku perhatikan dengan seksama dan kupastikan ia adalah Afa jie yang ku kenal, lalu ku sapa beliau dengan panggila Ajie (panggilan Bibi dlm bahasa khek) dan ia menoleh padaku setelah ku sentuh pundaknya.
dahinya berkerut mencoba mengingat-ingat apakah pernah mengenal aku.
"Ajie,,,apakah masih ingat padaku ??
"Aku Tiana, Ajie.....
" Haaaaaaaaiiiiiiiii,,,Tiana....apakah ini benar kamu ?
teriak'y kaget tak menyangka bisa bertemu aku lagi ditempat seperti ini.
dan akhirnya aku dan dia bercerita banyak hal...dan ku tanyakan siapa anak kecil yang di pimpinnya itu.
dan ia mengatakan bahwa itu adalah anak Ko Ahua,,,dan aku kaget sekali melihat Ahua telah mempunyai anak sebesar itu dan begitu lucunya...
entah mengapa aku tiba - tiba saja suka pada anak itu,walau pun ia enggan ku dekati, mungkin ia belum mengealku.

jadi Ko Ahua sudah menikah dan berkeluarga ih,,,??
berapa anak'y  sekarang ?
lama sekali tak pernah bertemu dengannya,apakabar'y
bagai mana juga kabar Ahong Suk sekarang,apakah sehat'' saja ???
banyak hal'' singkat yg kami bicarakan...ternyata ku dapati kabar jika Ahong suk telah meninggal 3 thn yg lalu.
sonia, adik'y Ahong yg seusia dgnku pun telah menikah dan memiliki 3 orng anak.
begitu juga dengan ABun serta Along adik laki'' Ahua mereka masing'' telah menikah dan memiliki keluarga dan anak.
ternyata waktu begitu cepat berlalu, dan melihat kebelakang hingga kemasa kini aku merasa benar'' tertinggal dari mereka.
melihat anak kecil dihadapanku jiwa kewanitaanku muncul...andaikan saja ia anakku...aku membatin.

Tiana....sini,jangan main jauh jauh nanti kamu di culik orang....kata-kata Afajie benar'' mengagetkan aku di antara lamunanku melihat anak kecil dihadapanku berlari menjauh dari pegangan nenek'y.
ajie, siapa nama'y ???
tanyaku yg belum sempat menanyakan nama anak ko Ahua...
Namanya Sama dengan namamu Tiana,,,Ahua yg memberikan nama itu untuk anak'y.
terlihat Afajie menatapku dalam'' tampak ada setitik mendung di wajahnya...dan aku menangkap mendung itu berkelebat lalu di sana.
belum sempat lagi ku bertanya ada sapaan di belakang punggungku ku dengar, dan suara itu masih ku ingat jelas.
iya,,,itu suara Ahua...aku msh belum melupakn suaranya hingga kini.
aku lekas'' berbalik menengok kebelakang, dan ku lihat sosok simpatik itu berdiri di hadapan ku kini...sungguh kenyataan yg tek pernah terbayangkan sebelumnya olehku dapat bertemu orng'' di masa lalu ku di sini.
namun ia hanya sendiri, tak tampak seseorng mendampingi'y dan ia juga terkejut melihat aku berdiri di hadapannya kini.

Tiana............hanya kata itu yg terucap ku dengar.

***

Sejak  pertemuan tak di sengaja itu dengaj keluarga Ko Ahua serta mama'y.
Ia sering mengunjungiku di apartemen yg ku tempati kini. ia bercerita banayk hal tentang hidupnya.
sekali waktu aku juga kerap mengunjungi Afajie, namun tak sekali pun ku bertemu dengan istri ko Ahua.
namun aku enggan tuk bertanya, entah mengapa...dan aku lebih tertarik membahas masa silamku kala masih tinggal bersama keluarga mereka.
banyak hal yang ku tanyakan, tentang toko kelontong yg kini diteruskan usahanya oleh aleng adik bungsu Ko Ahua.
semua saudara Ahua meneruskan usaha keluarga yaitu berdagang, namun tidak dengan Ahua.
Ia ingin mandiri dan mengikuti jejakmu meraih apa yg ia impikan Tiana...hingga ia nekat hijrah kejakarta dan melanjutkan kuliahnya di sini....jakarta tempat tujuannya.
dan hingga kini ia menetap dan menikah dengan wanita keturunan tionghua yg di nikahinya 4 thn yg lalu.
dan dari Afajie lah akhirnya ku ketahui jika Ko Ahua kini sudah menduda............................
karena istri'y lari bersama laki-laki selingkuhannya yang lebih kaya dan tega meninggalkan anaknya yang kala itu masih berumur satu setengah tahun....dan hingga kini tak tahu dimana rimbanya.
ya Tuhan..................setragis itukah nasib rumah tangga yg di jalani Ko Ahua...aku sungguh tak percaya.
laki-laki sebaik dan pengasih seperti dia tega di hianati seperti itu oleh orang yg di cintai'y.
"Namun, aku termangu sendiri dan berkata dalam hati........apa bedanya dengan aku yg meninggalkan'y dulu demi menggapai impianku....................????

di apartemen ku yg sepi ku kembali termangu sendiri, mengingat cerita yg ku denger dari Afa jie tentang kisah hidup laki-laki yg pernah menggantungkan harapan cintanya padaku...walau pun belum sempat terucap kala itu.
tiba-tiba kepalaku terasa berat, aku tak sanggup lagi membayangkannya lebih lama.
dan ku coba merebah sejenak dengan memutar lagu klasik yg lembut mendayu....
hingga mataku terasa berat,dan aku terlelap sejenak begitu tenang kurasakan...namun lagi-lagi hanya sejenak kurasakan.
terdengar suara ketukan pintu menyentak lelapku.
dengan lunglai ku buka pintu dan ku lihat sosok yg tak asing lagi bagiku berdiri di sana.
ku persihkan ia masuk sementara ku  tinggalkan dia mengunci pintu dan ku berjalan menuju dapur tuk merogoh minuman di lemari pendingin.

seperti biasa, hal'' standar yg kami bicarakan,,,tentang pekerjaan dan seputar rutinitas sehari-hari yang membosakan bagiku akhir-akhir ini.
aku tak banyak keluh kesah,begitu juga dengannya, dan aku serta dia bukanlah manusia yg senang bercerita tentang hal-hal penting tuk di bicarakan,tentang gosip misal'y.....
habis kata habis cerita, kami pun terdiam, tengelam dalam deru isi hati masing-masing,bingung dgn apa yg harus di ucapkan kemudian tuk memecah suasana hening....
dan seperti biasanya,jika sudah begitu ia bergegas pamit pulang padaku,dan aku tahu persis dengan sifat'y, entah mengapa padanya aku merasakan mengerti banyak hal namun banyak hal pula yg tak bisa terucap dikala kami bersama.
aku menunggu detik-detik ia mengatakan..."Tiana aku pamit dulu, kapan-kapan aku masih boleh main kemari kan ??"
Namun, terasa begitu lama tak juga ku dengar ia berucap, dan ku coba melirik'y sejenak.
kulihat dia seperti berfikir & ada sesuatu yg ingin di sampaikannya...walaupun pandangannya menatap layar televisi di depan'y, tp tatapannya kosong.

Ko, ingin minum kopi ??
tanyaku mencoba membuyarkan lamunannya...Ia menggeleng tampa suara.
"Ada sesuatu yg anda fikirkan,bisa kubantu Ko ??
"Tiana..."
"Ada yg ingin ku ceritakan padamu, tentang rumah tanggaku & juga Tiana anakku.

"Yaa....aku sudah dengar semuanya dari mamamu kemarin,mengapa bisa sampai begitu ?? tanyaku.
"Karin pergi karena salahku juga,aku penyebab dia pergi meningalkan aku dan Tiana...
"Hm...???? aku mengerutkan dahi mendengar cerita'y
"Ya,,,karena aku tak bisa melupakan kamu Tiana...hingga anakku lahir aku memberikannya nama Tiana sesuai namamu.
dan sebelumnya dia tahu tentang kamu, dia cemburu, kami bertengkar hebat,akhir'y sejak saat itu dia berubah begitu juga dengan aku terhadap'y.
dia tak pernah mau mengalah dan mengerti aku lagi,,,hingga akhirnya ia pergi bersama lelaki pilihannya dan meninggalkan aku serta anak'y tanpa kabar berita hingga saat ini.
"Tiana......" ia tampak diam sejenak,tampak ragu2 tuk berucap, dan aku diam tak menjawab panggilannya,menunggu ia melanjutkan kata...
"Maukah kau menjadi ibu dari anakku Tiana...???
"Terus terang ku katakan ini padamu saat ini,karena sudah sekian lama ku pendam rasa ini padamu, tanpa berani ku ungkapkan isi hatiku, dan sekarang aku tak ingin kau pergi lagi dariku seperti dulu.
kita sudah tak muda lagi, tak seperti beberapa tahun yg silam.
ku rasa kau sudah menggapai impianmu,apa yg kau cita''kan kini tlah terwujud ku lihat, tinggal satu yg belum kau wujudkan ya itu berumah tangga...
"Tiana kita sempat terpisah tanpa sempat ku mengungkapkan perasaanku padamu dulu, namun aku yakin kau tahu itu.
saat ini saat yg tepat menurutku, kau jangan pergi lagi Tiana, kita mulai kehidupan yg baru bersama,kita bangun impian kita yg belum sempat terwujud bersama.
maukah kau hidup dengan ku selamanya ... ???
"Kau melamar ku Koko ??
"Ya.....
"Aku menarik nafas dalam-dalam,tak menjawab,tak juga berani menatap matanya,aku tak tahu apa yg harus kukatakan padanya.
menolak lamaran George yg seorang duda,kini ku dilamar lagi oleh seseorang yg staus'y tak berbeda dengan George.
"Ku pikirkan lagi lamaranmu Ko...itu jawabanku pada'y.

***

Seminggu berlalu,dua minggu berganti waktu pula dan sudah dua kali Ko Ahua menanyakan jawabanku,dan aku tak bisa mengulur waktuku lagi.
harus ada jawaban tegas yg ku berikan untuknya,malam ini ia menunggu jawabanku pastinya...
Oh Tuhan....semoga ini semua akhir dari segalanya,dan keputusanku bukanlah sebuah kekeliruan fatal yg ku ambil.
"Tiana.....
"Ko....
(kata kami serentak terucap...dan seketika diam sejenak.)
"Aku sudah dengan siap dengan jawabanku untukmu...
"Katakan Tiana,apapun jawabanmu aku terima dengan lapang dada.
"Ya,aku tahu,,,dan aku siap menjalani sisa hidupku denganmu Koko.
"Tampak binar-binar bahagia dimata'y,namun aku tak tahu bahagia atau apa yg kurasakan saat ini.
"Aku akan atur secepatnya acara pertunangan kita,dan secepatnya kita mengunjungi orang tuamu Tiana...
"Degggg...aku tersentak,Orang tuaku......Bapak,Emak...untuk kesekian kalinya aku melupakan kalian...dan kini aku benar-benar merindukanmu.
akuakan kembali Bapak...janjiku akan ku tunaikan kini,Tianamu yg hilang kan kembali..

Begitulah akhirnya, aku dan Ko Ahua mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan kami, tampak rona-rona bahagia di mata keluarga besarnya atas pernikahan kami.
hingga hari yang di nanti-nantikan pun tiba, aku resmi di persunting istri oleh orang yg mencintaiku.pesta yg tak begitu besar di gelar...namun kebahagiaan menyelimuti hati kami.
dan sudah tentunya juga bahagiaku juga.
selepas menikah kami memutuskan mengunjungi orang tuaku dikampung yang sudah sekian tahun ku tinggalkan.
aku pun sudah hampr lupa akses menuju kesana, namun di sepanjang jalan yg mengantarkan aku pada kenangan masa kecilku dulu masih samar ku ingat.
jalan-jalannya sudah banyak berubah, tak lagi sepi seperti waktu ku tinggalkan dulu...jalan di kampungku taklagi jaan sempit yang semak...segalanya tlah berubah.
dan aku tak lagi mengenali mana arah menuju rumah gubuk Bapakku...
dengan bertanya kesana kemari akhirnya ku temukan rumah yg dulu menjadi tempatku berteduh dari panas dan hujan bersama keluargaku.
aku terpaku di ujung jalan setapak menuju halaman rumah bapak, mencoba mengingat-ingat tentang kenangan yg pernah tertinggal di sini...mataku berkaca-kaca.
tak ada yg berubah,setelah sekian tahun ku tinggal rumah bapak masih saja berupa gubuk peot yg berdindingkan kulit kayu...bau lapuknya masih ku ingat denga jelas hingga kini...
Bapak,,,,
Mak,,,,
aku memanggil dengan ketukan penuh harap bertemu lagi dengan orang-orang yg ku rindukan selama sekian tahun.
tak ada jawaban,
sunyi...
senyap..
dan aku mencoba melangkah kearah belakang rumah bapak, suamiku mengiringi langkahku...ku lihat di sekeliling halaman belakang yg sebagian di tumbuhi rumput semak.
semuanya masih tampak seperti dulu...
Di dekat tempayan tua di samping gubuk reot milik bapakku, mataku menagkap sesosok renta yg sedang merunduk.
hanya punggung'y yg tampak oleh kami, namun aku masih mengenalinya dengan jelas....
"Bapak.....panggilku dengan deraian air mata kerinduan...Ia membalikkan tubuhnya, menatapku begitu lama.
"Siapa ya nak....??? tanyanya padaku tak mengenali.
"Aku berlari memeluknya, ku tumpahkan semua kerinduanku saat itu........(itu kedua kalinya seumur hidupku aku memeluk bapak)
Ini Tiana Pak,,,anakmu.
"Tiana....Tiana...Tiana. (aku mengendurkan pelukkanku...menatap dalam-dalam wajah bapak yg kian keriput ku lihat, wajah tuanya tampak masih menyimpan lelah.
"Benarkah kau Tiana..???
"Kau kembali Nak...??
"kenapa lama sekali kau baru kembali...bapak & emak merindukanmu.
"Dimana emak Pak...sambil aku menuntun bapak masuk kerumah gubuk milik kami di bantu suamiku.
"Ibumu pergi kerumah Yaya adikmu...istrinya melahirkan tadi pagi, katanya.
dari bapak ku tahu jika semua adik-adikku telah menikah dan berumah tangga, nasib mereka sama seperti teman''ku yg lain.
pasrah dengan kemiskinan & menikah di usia muda, selamanya menetap di kampung dan tinggal di rumah gubuk berdinding kulit kayu tampa ada perubahan.
kasihan adik-adikku...mengapa mereka tak ada yg mengikuti jejakku berjuang keluar dari keterpurukan ini.
novi adik bungsuku menikah dengan pemuda kampung sebelah &  kini beranak satu.
sedangkan Ahen adik laki-laki di bawah ku menikahi anak gadis tetangga rumah, dam memiliki 2 orang anak...membayangkan kehidupam mereka hatiku miris.
masih seperti dulukah kehidupan keluargaku.

Hingga sore emak pun pulang dari rumah yaya adikku, beliau tampak terkejut ketika ku peluk kala ia hendak masuk dlm rumah.
tangis kami pecah penuh haru menyelimuti hati,,,ku ceritakan padanya kisah hidupku dalam perantauan ku mencari jati diri dan meraih cita-cita yg ku impikan.
hingga larut malam aku dan kedua orang tuaku bercerita tentang hidup kami selama ini...
keesokan harinya semua saudaraku berkumpul, ku peluk satu persatu adik-adik yg ku tinggalkan selama bertahun-tahun.
kini mereka telah tumbuh dewasa dan berumah tangga, namun kehidupan mereka jauh dari kelayakkan,dam menjadi petani karet adalah pilihan hidup yg mereka jalani, seperti halnya Bapakku

Tiga hari ku berkumpul bersama keluarga ku dikampung.
tiba saatnya aku akan kembali ke jakarta, namun ku katakan aku akan kembali menjemput bapak & emak tuk ku boyong bersama-sama ku kejakarta, menempati rumah baruku bersama suamiku.
Dan satu hal yg ku syukuri dlm hidup dan perjuanganku..." aku beruntung mendapatkan seorang suami yg baik hati seperti Huang Li Hua, dia lelaki yg sempurna yg di berikan Tuhan untukku"

Dua bulan kemudian, aku kembali menjemput kedua orang tuaku...
dan kepada ketiga adikku, ku berikan modal usaha yg layak untuk memperbaiki taraf ekonomi keluarganya...semoga dengan apa yg kuberikan dapat memberikan kehidupan yg lebih baik utk masa depan anak-anak mereka kelak.
tak lagi mengikuti jejak kakek dan nenek'y serta bapaknya yg cuma seorang penoreh pohon karet untuk menyambung hidup.

Kini, kebahagiaan ku lengkap sudah, janjiku pada Bapak & Emak sudah ku genapi tanda baktiku pada mereka.
Dengan keluarga kecil ku,bersama suami & Tiana serta sikecil Mikhael buah cinta kami...
Hari-hari ku lalui dengan rasa suka cita...ucapan syukur ak henti hentinya ku panjatkan pada Yang Kuasa,atas rahmat yg Ia berikan utkku.
kini yg aku impianku tlah nyata,aku miliki semua yg kulihat di layar bergerak milik pak kades,,,,aku miliki anak-anak yg lucu-lucu.
suami yang baik,serta dapat berkumpul kembali bersama kedua orang tuaku hingga akhir hayat memisahkan kami.
sungguh tak terperi kasih Tuhan hidupku......


Tamat.

Minggu, 28 November 2010

Waktu Nayla

Nayla melirik arloji di tangan kanannya. Baru jam lima petang. Namun, langit begitu hitam. Matahari sudah lama tenggelam. Ia menjadi muram seperti cahaya bulan yang bersinar suram. Hatinya dirundung kecemasan. Apakah jam tangannya mati? Lalu jam berapa sebenarnya sekarang? Nayla memeriksa jam di mobilnya.

Juga jam lima petang. Jam pada ponselnya pun menunjukkan jam lima petang. Ia memijit nomor satu nol tiga. Terdengar suara operator dari seberang, "Waktu menunjukkan pukul tujuh belas, nol menit, dan dua puluh tiga detik." Lalu manakah yang lebih benar. Penunjuk waktu atau gejala alam? Nayla menambah kecepatan laju mobilnya.

Kemudi di tangannya terasa licin dan lembab akibat telapak tangannya yang mulai basah berkeringat. Ia harus menemukan seseorang untuk memberinya informasi waktu yang tepat. Tapi jika Nayla berhenti dan bertanya, berarti ia akan kehilangan waktu. Sementara masih begitu jauh jarak yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan. Nayla sangat tidak ingin kehilangan waktu.

Seperti juga ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang belum sempat ia kerjakan. Namun Nayla pada akhirnya menyerah. Ia menepi dekat segerombolan anak-anak muda yang sedang nongkrong di depan warung rokok dan menanyakan jam kepada mereka. Tapi seperti yang sudah Nayla ramalkan sebelumnya, jawaban dari mereka adalah sama, jam lima petang.

Hanya ada sedikit perbedaan pada menit. Ada yang mengatakan jam lima lewat lima, jam lima lewat tiga, dan jam lima lewat tujuh. Nayla semakin menyesal telah membuang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah ia yakini jawabannya, yaitu jam lima petang. Berarti benar ia masih punya banyak waktu. Sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah menjadi abu.

***

Entah kapan persisnya Nayla mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskan pisau ke dadanya yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya.

Debaran yang satu tahun lalu menyapanya dan mengulurkan persahabatan abadi, hampir abadi, sampai ketika sang pembunuh tiba-tiba muncul dengan sebilah belati. Sebelumnya Nayla begitu akrab dengan waktu. Ketika cincin melingkar agung di jari manisnya.

Ketika tendangan halus menghentak dinding perutnya. Menyusui. Memandikan bayi. Bercinta malam hari. Menyiapkan sarapan pagi-pagi sekali. Rekreasi. Mengantar anak ke sekolah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Memarahi pembantu.

Membuka album foto yang berdebu. Mengiris wortel. Pergi ke dokter. Menelepon teman-teman. Berdoa di dalam kegelapan. Doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini ia idam-idamkan. Kala itu, waktu adalah pelengkap, sebuah sarana. Mempermudah kegiatannya sehari-hari.

Menuntunnya menjadi roda kebahagiaan keluarga. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam orang tua, kakek, nenek dan leluhur. Membeli hadiah Natal, ulang tahun dan hari kasih sayang. Mengirim pesan sms kepada si pencari nafkah supaya tidak terlambat makan.
Memperkirakan lauk apa yang lebih mudah dimasak supaya tidak terlambat menjemput anak di tempat les. Bercinta berdasarkan sistem kalender, kapan sperma baik untuk dimasukkan dan kapan lebih baik dikeluarkan di luar. Waktu bukanlah sesuatu yang patut diresahkan.

Karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enam ratus detik kali dua puluh empat jam. Gerakan mekanis rutinitas kehidupan. Menggelinding di atas jalan bebas hambatan. Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesin tik membahana dalam kamar yang lengang.

Riuh rendah suara karyawan di kafetaria gedung perkantoran. Ngeceng di Plaza Senayan. Mengeluh bersama sahabat tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotek. Menghapus air mata yang menitik. Melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goreng kambing ramai-ramai dalam mobil di pinggir jalan.

Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton Formula One atau Piala Dunia di Sports Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Bersentuhan tangan ketika memasangkan celemek di paha kekasih dengan tangan bergetar.

Menanti dering telepon dengan hati berdebar. Memilih kartu ucapan rindu yang tidak terlalu norak tanpa lebih dulu menunggu hari besar datang dengan dada berdebar. Memilih baju terbaik setiap ada janji dengan pacar dengan jantung berdebar.

Menanti pujian dengan rasa berdebar. Bercinta dengan rasa, jantung, dada, hati, tangan, kaki, payudara, vagina, leher, punggung, ketiak, mata, hidung, mulut, pipi, raga, berdebar. Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudera getar, cakrawala harapan.

***

MUNGKIN Nayla tidak bermaksud dengan sengaja melupakan, ia hanya tidak sadar. Ia hanya pingsan keletihan dan belum jua siuman. Ia hanya terhipnotis bandul jam yang bergerak kiri kanan dan berdetak dalam keteraturan. Membuat raganya beku. Lidahnya kelu. Hatinya membatu. Imajinasinya buntu. Kadang dalam tidur imajinasinya memberontak terbang.

Mengepakkan sayap bersama dengan burung-burung dan kupu-kupu. Mengendarai ikan paus di samudera lepas. Bungy jumping. Arung jeram. Baca komik Petualangan Tintin. Minum teh di atas awan sambil diskusi tentang cerpen Anton Chekov dengan almarhum ayah dan bertanya mana yang lebih mahal antara berlian dengan Fancy Diamond kepada almarhumah ibu.

Menjadi Arnold Schwarzeneger dan menggagalkan aksi teroris yang hendak menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Menelan biji durian. Makan rambutan. Nonton Cirque du Soleil. Nonton N'SYNC dan dipanggil ke atas panggung untuk diberi kecupan oleh Justin Timberlake.

Bertinju dengan Moehammad Ali. Mengalahkan Michael Jordan. Merebut suami Victoria Beckham. Mengedit karya Gabrielle Garcia Marques. Minum sirup markisa. Baca puisi bareng Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Diculik UFO. Punya toko buku kecil di Taman Ismail Marzuki.

Melaju kencang ke pusat getaran yang mendebarkan. Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu luar kamar. Suara kokok ayam jantan. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela.

Dan suara alarm jam ketika jarum panjangnya menunjuk angka dua belas dan jarum pendeknya menunjuk angka enam. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang menyampaikan bahwa sudah terdeteksi sejenis kanker ganas pada ovariumnya.

Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang memvonis umur Nayla hanya akan bertahan maksimal satu tahun ke depan. Suara alarm itu, adalah suara yang sama dengan suara dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan untuk sembuh. Suara alarm itu, adalah suara yang menyadarkannya kembali dari pengaruh hipnotis bandul waktu masa lalu, masa kini dan masa depan.

***

Manusia sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan hukuman ini akan dilaksanakan. Karena itu Nayla tidak tahu mana yang lebih layak, merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi ia sudah tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan eksekusi akan dilaksanakan.

Tapi apakah setahun yang dokter maksudkan adalah 12 bulan, 52 minggu dan 365 hari dari sekarang? Bagaimana kalau satu tahun dimulai dari ketika kanker itu baru tumbuh. Atau satu minggu sebelum Nayla datang ke dokter. Atau mungkin benar-benar pada detik ketika dokter itu mengatakan satu tahun.

Lalu berapa lamakah waktu sudah terbuang? Dari manakah Nayla harus mulai berhitung? Mata Nayla berkunang-kunang. Perutnya mulai terasa sakit seiring dengan bunyi dari segala bunyi jam, berdetak keras memekakkan telinganya.

Satu, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta detik mengejar dan mengepung pendengarannya ke mana pun Nayla melangkah. Memaksa mata Nayla menyaksikan lalu lalang kaki-kaki bergegas, suara klakson dari pengendara yang tak sabaran, lonceng tanda masuk sekolah, jutaan tangan karyawan memasukkan kartu ke dalam mesin absen, aksi dorong mendorong masuk ke dalam bus, tubuh-tubuh meringkuk di atas atap kereta api, semua orang tidak mau ketinggalan.

Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak lagi punya kesempatan, untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Matahari yang bersinar tidak terlalu cerah. Awan berbentuk mutiara, semar atau gajah. Kelopak bunga mulai merekah.

Kaki anjing pincang sebelah. Semut terinjak-injak hingga lebur dengan tanah. Padi menguning di sawah. Burung bercinta di atas rumah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah. Sejak saat itu, alarm Nayla tidak pernah berhenti berbunyi.

***

Nayla ingin menunda waktu. Nayla ingin mengulur siang hingga tidak kunjung tiba malam. Nayla ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar. Nayla ingin menghantamkan palu ke arah jam hingga suara alarmnya bungkam. Nayla ingin menunda kematian. Tapi Nayla selalu terlambat.

Nayla selalu berada di pihak yang lemah dan kalah akan rutinitas yang tak mau menyerah. Dan ia mulai merasa kewajibannya sebagai beban. Ia mulai cemburu pada orang-orang yang masih dapat berjalan santai sambil berpegangan tangan. Atau orang-orang yang berjemur di tepi kolam renang sambil membaca koran.

Ketika, ia tergesa-gesa menyiapkan air hangat, sarapan dan seragam. Berdesakan di antara hiruk pikuk suara dan keringat dalam pasar. Memastikan pendingin ruangan belum saatnya dibersihkan. Membayar iuran telepon dan listrik bulanan.

Memberi makan ikan. Memberi peringatan berkali-kali pada pembantu yang tidak juga mengerjakan perintah yang sudah diinstruksikan. Mengikuti senam seks dan kebugaran. Menjadi pendengar yang baik bagi suami yang berkeluh-kesah tentang pekerjaan.

Memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dalam sebulan. Menyimpan kekecewaan ketika anak sudah tidak lagi mau mengikuti nasihat yang seharusnya diindahkan. Dan masih saja ada yang kurang. Masih ada saja yang tidak sempurna. Sarang laba-laba di atas plafon.

Terlalu banyak menggunakan jasa telepon. Buah dada yang mulai mengendur. Vagina yang tidak lagi lentur. Terlalu letih hingga tidur mendengkur. Seragam sekolah yang luntur. Kurang becus mengatur keuangan. Terlalu banyak pemborosan.

Kurang peka. Kurang perhatian. Kurang waktu.... Waktu... Waktu... Waktu... Waktu...................?

Bahkan Nayla merasa sudah tidak punya waktu untuk sekadar memanjakan perasaan. Tidak nongkrong bersama teman-teman. Tidak belanja perhiasan. Tidak pergi ke klab malam. Tidak dalam sehari membaca buku lebih dari dua puluh halaman. Tidak lagi nonton film layar lebar di studio twenty one.

Tidak lagi mengerjakan segala sesuatu yang baginya dulu merupakan kesenangan. Nayla mulai merasakan dadanya berdebar. Semangatnya bergetar. Ia ingin menampar suaminya jika membela anaknya yang kurang ajar. Ia ingin ngebut tanpa mengenakan sabuk pengaman.

Ia ingin bersendawa keras-keras di depan mertua dan ipar-ipar. Ia ingin berjemur di tepi pantai dengan tubuh telanjang. Ia ingin mengatakan ia senang bercinta dengan posisi dari belakang. Ia ingin mewarnai rambutnya bak Dennis Rodman.

Ia ingin berhenti minum jamu susut perut dan sari rapet. Ia ingin memelihara anjing, kucing, babi, penguin, panda dan beruang masing-masing satu pasang. Ia ingin makan soto betawi sekaligus dua mangkok besar. Ia ingin berhenti hanya makan sayur dan buah-buahan waktu malam.

***

Apa yang sedang mengkhianati dirinya hingga ia merasa sama sekali tidak bersalah atas debaran di dadanya yang begitu memukau? Apa yang sedang memberi pengakuan sehingga ia merasa begitu lama membuang-buang waktu? Apakah hidup diberikan supaya manusia tidak punya pilihan selain berbuat baik? Dan mengapa pertanyaan ini baru datang ketika sang algojo waktu sudah mengulurkan tangan? Mungkin hidup adalah ibarat mobil berisikan satu tanki penuh bahan bakar.

Ketika sang pengendara sadar bahan bakarnya sudah mulai habis, ia baru mengambil keputusan perlu tidaknya pendingin digunakan, untuk memperpanjang perjalanan, untuk sampai ke tujuan yang diinginkan. Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu.

Kereta Api

Aku terkantuk-kantuk disudut bangku stasiun tua. Disebuah kota kecil yang kuno. Kota lama di perbatasan ibukota. Senyumku lama menghilang. Betapa tidak? Nyaris dua jam aku menanti kereta terakhir tiba. Lelah setelah seharian membantu keluarga sahabatku yang mengadakan pesta tunangan dengan kekasihnya. Berkali-kali mataku melirik jam tangan.

Hatiku lelah sudah. Jadwal kereta api negeri ini sudah kadung semrawut. Masyarakat hanya mampu menggerutu untuk setiap keterlambatan datang dan perginya kereta. Tak mampu berbuat lain. Para pejabat berwenang agaknya sudah lama terkena penyakit tuli. Hingga suara masyarakat pemakai jasa setia kereta apipun tak lagi terdengar. Aku menghela nafas berkali-kali.

Malam makin larut. Sudah jam sembilan ! Astaga, aku nyaris berdiri saking kagetnya. Mundar mandir tak karuan. Baru kusadari sekelilingku mulai sepi. Beberapa orang yang tadi tampak masih menunggu sepertiku, entah kemana perginya. Mungkin mereka pulang lagi. Atau ke kamar kecil. Penjaja makanan juga sudah sejam lalu membereskan dagangannya dan kembali pulang. Berarti sekarang tinggal aku sendirian di stasiun kecil ini.

Aku menoleh berkeliling. Sepi. Tiba-tiba dari arah belakang ada suara serak menegur. Membuatku nyaris terperanjat. Lho, tadi tak ada siapa-siapa? Seorang kakek berseragam pegawai kereta api tersenyum seraya mengepulkan asap rokoknya. Perlahan menghampiriku. Matanya menyipit memperhatikanku. Aku samasekali tak gugup, meski sempat kaget tadi. Dia tersenyum menganggukan kepala.

“Masih bertahan menunggu keretanya, mba?” tanyanya dengan suara serak yang lembut. Aku tersenyum. “Ya, pak. Soalnya cuma naik kereta saya bisa sampai dengan cepat kerumah. Kendaraan umum malam begini sudah jarang. Dan kurang aman” jawabku. Dia mengaggukan kepala. Lalu memandang jauh kearah lajur datangnya kereta. Pandangannya tampak menerawang jauh. Sejauh pandangannya. Wajahnya tampak pias. Terbatuk kecil di berkata lagi.

”Mba, mungkin sebentar lagi kereta terakhir akan tiba. Tenang saja. Pasti mba akan segera sampai kerumah dengan selamat. Kereta terakhir ini sudah lama tak beroperasi. Tapi kecepatannya tak kalah dengan yang biasa beroperasi”

Aku merasa heran. Memang kereta seperti apa yang akan membawaku pulang ini? Apa bukan yang biasa?

Seolah mengerti isi benakku, si petugas stasiun ini tertawa kecil. ” Keterlambatan ini memang karena kereta terakhir biasa ada sedikit masalah, mba. Jadi kami sedang mencoba mengoperasikan kembali yang lama. Tak perlu banyak tanya, mba. Naik saja dengan nyaman. Dan selamat berkumpul kembali dengan keluarga”, jelasnya sambil melengos pergi. Aku hanya menganggukan kepala. Lalu menatap kepergiannya sampai membelok kepintu samping.

Kini aku benar-benar sendiri. Menunggu kereta terakhirku. Mata yang kantuk kucoba menahannya sekuat mungkin. Aku berjalan mundar mandir. Beberapa saat kemudian telingaku seperti mendengar peluit dikejauhan.

Peluit? Tak sempat berfikir lebih jauh, buru-buru kukemasi barangku yang terdiri dari ransel, payung dan jacket malam serta topi pet pemberian abangku. Benar saja, dikejauhan tampak sebuah sosok hitam muncul. Derunya menggetarkan jantung. Rel-rel kereta didepanku seolah bersiap-siap untuk menyambut kereta yang sempat membuatku marah karena keterlambatannya yang tak kira-kira ini.

Meskipun tentu saja bukan keretanya yang salah. Tapi faktor human errornya. Aku merasa sedikit aneh. Kereta yang pelan-pelan tiba dihadapanku ini agak lain dari yang lain. Tampak berkilau. Seluruhnya berwarna hitam berkilau. Baru kali ini kulihat dengan jelas sosoknya. Tampak seperti sepur jaman dulu kala.

Aku ternganga. Ini sih memang sepur jaman kemerdekaan seperti yang sering kubaca dibuku atau kulihat di film-film. Astaga ! Jadi ini kereta terakhirku? Oh no ! tidak. ih serem. Mana mungkin aku mau naik kereta jaman silam ini. Tak berlampu pula. Masinisnya mana? Penumpangnya? Astaga. jangan-jangan cuma aku sendiri. Aku melangkah mundur menjauhi keretaku. Kereta itu tampak anggun menunggu.

Aku masih ternganga memperhatikan benda hitam didepanku ini. Naik tidak, naik tidak? batinku bertanya ragu. Akhirnya aku berlari kecil menuju pintu samping. Barangkali petugas kereta itu masih ada. Aku akan minta pendapatnya. Tapi pintu itu telah terkunci. Aku sedikit panik. Tak lagi bisa keluar dari stasiun ini.

Sungguh aneh. Menurut beberapa petugas stasiun yang biasa aku temui, biasanya sepi atau ramainya penumpang terakhir, pintu gerbang samping stasiun tak pernah dikunci. Tetap dibiarkan terbuka. Karena memang tak ada kuncinya, alias sudah lama tak pernah dikunci. Entahlah..aku merasa sedikit merinding.

Kereta itu tampaknya akan segera meninggalkanku. Aku bingung. Kalau tak naik berarti aku akan disini sampai pagi. Kalau ada orang jahat bagaimana? Aku jadi gelisah. Akhirnya dengan berdoa aku naiki sepur aneh itu. Sedikit kaget karena dipintu kereta ternyata ada petugas berdiri tersenyum. Astaga, nyaris jantungku copot. Aku tak membalas senyumnya. Hanya memberikan karcis kereta tanpa sadar meski dia tak menagihnya.

Wong aku baru naik. Tapi aku sudah tak sabar lagi ingin cepat agar kereta ini berangkat. Digerbong yang kumasuki, ternyata ada beberapa orang tampak tertidur. Pakaian mereka tampak lusuh. Aku menarik nafas lega. Setidaknya aku tidak sendirian di gerbong aneh ini. Tak ada lampu, Hanya pelita kecil berkelip-kelip disudut gerbong. Aneh ! benar-benar seperti kembali keabad lalu. Sempat terfikir aku setengah memasuki lorong waktu. Kutepis pikiran gila itu. Lelah membuat fikiranku mulai tak waras agaknya.

Kuletakkan ranselku didekat kaki. Lalu kusandarkan kepala dikaca jendela. Memandang keluar. Ke peron yang sepi. Kereta mulai berjalan perlahan. Tiba-tiba aku melihat si kakek petugas stasiun nampak duduk di bangku ujung dekat pintu samping tempat dia menghilang tadi. Kami saling tatap. Kulihat dia melambaikan tangannya dan mengacungkan jempol sambil tersenyum. Aku hanya mampu terpana sambil terus memandangnya semakin menjauh. Aku merasa benar-benar aneh malam ini. Halusinasikah? Baru kusadari sepertinya aku memang belum pernah melihat petugas itu sebelumnya. Siapa dia? petugas barukah? entahlah, aku mulai didera lagi kantuk yang tadi sempat menyerangku berkali-kali. Rasanya aku mulai tertidur.

Aku terbangun karena pundakku serasa didorong-dorong. Aku mengerjapkan mata dan terduduk. Kulihat petugas kereta tersenyum padaku. “Sebentar lagi sampai, mba. Siap-siap ya. Jangan ada yang ketinggalan” bisiknya perlahan. Kuucapkan terimakasih. Ah, rasanya baru saja aku tertidur sebentar, tahu-tahu sudah sampai. Diluar tampak lampu-lampu kota.

Keretapun memasuki stasiun kotaku. Suasana stasiun sama sepinya malam ini. Yah tentu saja, jam segini siapa pula yang akan naik kereta? batinku kesal. Seharusnya aku sudah sampai rumah jam tujuh tadi. Kubersiap turun. Sempat kulirik arah kursi yang selagi aku naik, masih ada penumpangnya. Tapi kursi itu kosong. Tak ada penumpangnya yang terdiri dari seorang ibu tua, seorang anak kecil dan seorang gadis muda. Kemana mereka? Sudah lebih dulu turunkah? Ah, masa bodolah.

Di pintu kereta sempat kutanyakan pada petugas. Kemana penumpang-penumpang yang tadi satu gerbong bersamaku.

Petugas itu tersenyum. “Mereka tidak turun kemanapun , mba. Mereka adalah penumpang abadi kami. Seperti juga saya petugas abadi kereta ini sejak lama. Hanya dikereta ini kami bertugas dan berjaga. Dan menjemput penumpang yang kemalaman, tapi masih setia menunggu kehadiran kami untuk membawa kembali kekeluarganya”.

Mendengar penjelasannya, aku seperti merasakan ada sesuatu yang tak beres. Tapi logikaku lebih mendominasi.

“Apa mereka keluarga bapak, atau masinisnya?” tanyaku iseng. Dia cuma tertawa.

“Mereka dan saya adalah petugas khusus yang mengurusi kereta ini bagi penumpang yang sabar menunggu hingga larut. Penumpang seperti itu adalah bagian kami. ” ujarnya tersenyum. Mengulangi lagi penjelasannya.

Aku masih tak memahami. Tapi petugas itu segera mendorongku keluar. Aku nyarus terjungkal. Baru saja kakiku menginjak lantai peron, aku terkejut setengah mati karena kereta tiba-tiba langsung berangkat dengan kecepatan tinggi. Nyaris terbang. Aku menjerit kecil. Jantungku rasa lepas. Kakiku lemas tak terkira. Aku terduduk di lantai peron. Tak mampu berdiri. Rasanya ingin berteriak. Tapi mulutku terkunci. Semakin terkejut karena tanganku seolah ada yang menarik untuk berdiri. Aku melongo, ternyata abangku yang tampak pias . Aku amat lega. Aduh aku ketakutan sekali tadi melihat kereta ajaib itu kabur begitu saja. Serasa mimpi rasanya. Abangku tak mengatakan sepatah katapun sementara aku bercerita. Membimbingku berjalan melewati lorong stasiun hingga pintu keluar. Kotaku selalu ramai duapuluhempat jam. Masih banyak orang nongkrong-nongkrong di warung kopi sekitar stasiun.

Abangku hanya bertanya apa aku baik-baik saja? Aku menganggukan kepala. Tenggorokanku rasa kering. Abangku pergi kesebuah warung dan membelikanku minuman dingin. Tenggorokanku terasa lega.

“Aku tak bisa mengantarmu sampai rumah, karena aku mau kerumah bude. Numpang nginap karena besok ada ujian skripsi. Aku takut kesiangan. Jadi kau pulang sendiri ya. Dekat ini kan?” kata abangku seraya memberiku ongkos pulang. Aku jadi kesal. Kok sempat-sempatnya menjemputku, tapi tak mau mengantarku pulang sekalian? protesku.

“Dari tadi aku menunggumu. Ternyata keretamu telat ya. Aku sungguh harus segera pergi. Itu ada angkot. Cepatlah naik.” Badanku didorongnya masuk angkot tanpa mau mendengarkan penjelasanku. Abangku melambaikan tangan saat angkot berangkat.

Lima menit kemudian, aku sudah sampai halaman rumah. Ayah ibuku sudah duduk diteras depan. Mereka segera menyambutku dan sibuk bertanya mengapa aku begitu terlambat. Aku jelaskan sambil berjalan masuk rumah. Sempat kulihat wajah kedua orangtuaku pias. Lalu saling lirik satu sama lain. Aku merasa konyol telah menceritakan semua pengalaman anehku distasiun malam ini. Tapi orangtuaku tak bertanya lagi. Mereka menyuruhku segera mandi dan istirahat. Aku merasa kebetulan tak lagi ditanya-tanya. Segera kuganti baju tanpa istirahat lagi, mandi dan berganti pakaian. Duduk dikamar sendiri, merenungi pengalaman tadi. Entah kenapa perasaanku menjadi tak enak hati. Aku merasa tak percaya seperti yang kulihat diwajah orangtuaku tadi. Setelah mandi fikiranku agak segar. Namun aku sempat merinding dan tak percaya bahwa yang kunaiki tadi adalah sebuah sepur jaman dulu. Masa kereta seperti itu masih beroperasi sih di jalur kereta ibukota?

Aku keluar kamar dan menghampiri kedua orangtuaku yang sedang asyik nonton tivi. Ibuku bertanya apa aku baik-baik saja. Aku hanya mengangguk lalu mulai bertanya tentang pengalamanku yang aneh itu. Apakah aku memang tidak sedang bermimpi? Ayah menepuk pundakku. Lalu berdehem. ” Sepertinya kau termasuk salah satu orang dikota ini yang akhirnya terpilih untuk ikut menikmati kereta hantu itu, nak”, jawab ayahku tenang. Tapi aku melotot mendengar jawabannya. Kereta hantu? Mana mungkin aku bisa naik kereta hantu? Itukan hanya cerita karangan masyarakat saja yang pernah aku dengar sebelumnya.

Ayah melanjutkan. ” Dulu Erry abangmu juga sempat mengalaminya. Itu saat dia masih SMA loh. Maka sekarang dia faham apa yang terjadi padamu. Tak mungkin kau naik kendaraan umum setelah lewat jam delapan belum pulang. Pasti kau nekad menunggu kereta. Maka dia mungin berinisiatif menjemputmu. Mengingat pengalamannya dulu, mungkin dia takut kereta hantu itu akan menjemput adiknya pula. Dan ternyata perasaannya tepat, bukan?

“Tapi dia mengatakan akan kerumah bude yah. Jadi aku disuruh pulang sendiri.” gerutuku.

”Ya, memang. sekalian jalan , jawab ayah santai. Ibu tertawa. Yang penting kau selamat nak. Lain kali jangan terlalu larut pulang. Terutama penggemar kereta sepertimu. Ingat nak, kereta terakhir itu sudah jadi legenda dikotanya sebagai pengantar terakhir orang-orang yang kepulangan malam. Tanya saja abangmu nanti kalau dia sudah pulang.”

“Ah, kereta itu bukan kereta hantu, ayah. Petugasnya sendiri yang cerita padaku bahwa itu kereta sengaja dioperasikan karena kereta lainnya sudah tidur semua malam ini”, jawabku mangkel. Ibu cekikikan sambil mengelus tanganku. Ayah tetap tenang dengan cerutunya.”

Petugas yang kau temui sudah almarhum, nak. Itulah mengapa dia masih ada disekitar situ malam begini. Percayalah nak, hal-hal seperti ini bukan yang pertamakalinya. Hanya saja kau terlalu percaya diri. Terlalu asyik dengan duniamu yang realistis. Tak mampu menangkap pesan alam yang disampaikan udara malam”, jelas ayahku membuatku makin keki. Ah, ayah dari dulu kebanyakan berkhayal. Hingga lebih sering menakut-nakuti anaknya yang mencoba berfikir secara logika. Ayah adalah seorang dalang yang juga penyair setingkat kecamatan.

Sedangkan ibuku sinden terkenal dikota kelahirannya dulu. Namun aku tak ingin ikut pola pikir mereka yang suka menghubungkan segala sesuatunya dengan hal-hal yang diluar nalar. Aku bergegas masuk kamar setelah pamit pada kedua orangtuaku.

Diranjang, aku berfikir keras. Benarkah pengalamanku ini, ya Gusti? Ah, baru kali ini aku tak sabar menunggu kepulangan abangku. Selama ini aku tak pernah menggubris cerita tentang kereta hantu yang konyol itu. Padahal sudah lama terdengar dari mulut kemulut. Termasuk kisah abangku yang sebenarnya justru tak pernah diceritakannya padaku. Aku justru baru tahu dari penuturan ayah tadi. Lalu aku terkenang kembali tentang petugas yang datang dan pergi tanpa jejak itu. Tentang pintu gerbang yang tiba-tiba terkunci. Hingga aku tak bisa melarikan diri keluar stasiun saat takut melihat bentuk kereta yang akan membawaku pulang. Aku tersentak. Ya, kereta itu memang layak diberi julukan kereta hantu karena aneh bentuknya, dan tiba-tiba pergi dengan kecepatan tinggi begitu saja setelah mengantarku. Juga penumpang dan petugas kereta dengan ceritanya yang mendirikan bulu romaku sekarang. Mereka adalah penumpang dan petugas abadi? Astaga, berarti mereka juga hantu dong. Aku tiba-tiba merasa merinding juga malu sendiri karena merasa logikaku mulai goyah. Setelah kurangkai-rangkai kejadian di stasiun tadi, rasanya aku mulai mempercayai apa kata ayah. Yang kunaiki kereta hantu! Aku mengkerukan kening tak habis fikir. Soalnya semua tampak begitu nyata, terlepas dari yang aneh-anehnya tadi.

Jadi malam ini aku telah menaiki kereta hantu, dengan penumpang hantu dan petugas hantu? Kecuali aku sendiri yang manusia?. Aku masih tak mampu percaya. Namun toh sejak saat itu aku nyaris tak pernah pulang malam dengan kereta lagi. Cukup naik kendaraan umum saja. Naik kereta hanya kalau hari masih siang atau sorei. Good bye kereta hantuku. Good bye Sepur jadulku! Semoga itu benar-benar kereta hantu terakhirku.

Selasa, 23 November 2010

Celaka Tiga Belas

Aku hanya menyisakan gigil di beranda rumah.Kopi di cangkir telah dingin dan laron-laron mati di bawah cahaya neon.Sedari tadi aku menunggu kantuk yang tak datang-datang.

Ranting pohon rambutan di hadapanku menjelma ribuan kepompong yang bergelantungan serupa harapan.Tak ada suara kecuali dengung nyamuk dan tetesan ledeng bocor dari rumah tetangga. Saat-saat seperti inilah aku selalu terkenang padanya. Pada beranda yang kerap menjadi panggung saat memainkan tiap babak tentang Ai-phing. Tentang mimpimimpi dan permainan api.Juga sesekali tentang warna sandalnya yang lucu. Lalu kami tertawa menunggu hujan reda di beranda. Ai-phing,tahukah kau,saat kulihat di kedalaman matamu. Bunga-bunga sedemikian mekar di halaman, angsa-angsa menari, kupu-kupu meneguk rumpun sari. Kita tak pernah peduli matahari telah terlalu lama pergi. Masih di beranda ini.

Cangkir kopi yang sama saat Ai-phing menyuguhiku dengan kopi yang kemanisan. Selalu begitu meskipun ia tahu betapa aku tak pernah benarbenar menghabiskannya. Lalu ia mencicipi dan mengacungkan jempol meyakinkan bahwa kopi buatannya begitu nikmat. ”Jangan terlalu banyak kopi, takarannya kukurangi dan gulanya kutambah,” katanya sambil mengaduk cangkir itu sedemikian lama hingga gulanya benar-benar larut. Ah,Ai-phing.Hal yang sepele pun membuatku sebegitu haru mengenangmu. Barangkali segala macam cara telah tuntas kulakukan. Bertumpuk surat cinta telah pula kutuliskan namun tak pernah benarbenar bisa kusampaikan. Sudah tujuh tahun beranda ini menjadi penjara yang kejam.

Tujuh tahun sudah kekangenanku menjadi kutukan. Sakit. Di sini, beranda ini kini serupa patung-patung putih yang berusaha mengucapkan diri dan kenangannya tentang seseorang. Seseorang yang pernah duduk di beranda ini dan meninggalkan semacam rasa perih dan kerinduan yang tak bisa berhenti, tak terobati. Beberapa tahun lalu pernah kudengar Ai-phing akhirnya menggapai cita-citanya menjadi guru bagi anak-anak terbelakang di pedalaman Kampar Hulu, Kabupaten Indragiri Riau. Tapi, bagaimana mungkin aku menyusulnya? Sementara ia sudah beranak dua dan lelaki selingkuhan yang menjadi suaminya itu telah membuatnya bahagia? Lelaki yang dulu potretnya secara tidak sengaja kulihat di dompetnya.

Lelaki yang dulu sempat membuatku menampar Ai-phing dan menerbangkan seribu sayap kupukupu di beranda rumah. Lelaki yang memiliki penghasilan yang baik karena bekerja sebagai mandor perkebunan sawit. Lelaki yang berhasil membuat Ai-phing melawan rezim keluarga dengan minggat kawin lari seusai wisuda. Namun sungguh,aku mengenal Ai-phing sangat dalam. Ia memilih jalan hidup sendiri seperti impiannya tempo hari di beranda ini.Menjadi guru, mengajari anak-anak membaca buku, mengajaknya mengenal angka,dan sesekali berlatih menari.Tapi, Ai-phing tak mau melakukannya di kota ini.Katanya,di kota ini guru-guru sudah sulit sekali dikenali.

Guru-guru di sini hanya berpikir besarnya tunjangan dan kenaikan gaji.Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Diamdiam aku pun merajut impian baru, di pedalaman. Ya, di pedalaman agar aku bisa mengikuti kibas sayapnya. Tapi, menjadi apakah aku? Penebang hutan? Pengumpul rotan? Ilmuwan? Atau, seorang buyayang mengajarkan agama? Semakin larut. Bunga-bunga rambutan bergoyang di antara dedaunan.Masih dengan dengung nyamuk dan tetesan ledeng bocor dari rumah tetangga.

Cangkir kopi di depanku semakin mengarca di antara derit kursi bambu yang kududuki dengan gelisah. Nyala rembulan semakin tampak setelah lindap di balik awan pekat. Hujan setengah malam adalah perihal biasa di kota Sungai Penuh. Mungkin di kota kecil yang dikelilingi jejeran Bukit Barisan ini hujan turun sepanjang tahun. Aku dan Ai-phing sepakat bahwa hujanlah yang kerap memperpanjang durasi setiap pertemuan.

***

Stasiun Gambir sudah ramai di pagi hari. Aku memesan tiket ke Yogyakarta jam 2 siang. Masih tersisa setengah hari untukku menunggu kereta Senja Utama. Setelah kepergian Ai-phing aku memang kerap meninggalkan Kota Sungai Penuh untuk sekadar melanjutkan hidup jika tidak ingin disebut melarikan diri dari kenyataan apalagi frustrasi,lalu terbunuh sepi.Begitu sakit aku kehilangan Ai-phing, terlebih jika mengenang bahwa aku sempat menghitung berapa jumlah pori-pori pada tubuhnya.Benar kata orang bahwa kulit itu adalah candu.

Aku memesan makanan dan kopi di warung padang sambil membuka-buka koran pagi menghilangkan kebosanan. Beberapa pengamen datang bergantian tanpa sepeser pun yang kuberikan. Aku begitu malas mendengarkan apa pun pagi ini.Tidak juga suara wanita sales obat kuat yang berdandan seksi. Beberapa halaman koran kulumat di antara kepulan asap.Menunggu membuat asbak di depanku begitu cepat penuh dengan puntungan- puntungan. Beberapa tahun terakhir aku memang begitu akrab dengan suasana perjalanan. Aku tidak menyalahkan Ai-phing yang menyebabkanku tidak tahu ke mana harus pulang. Kereta Senja Utama datang enam jam lagi. Biasanya selepas senja kereta ini akan menurunkan penumpang di Stasiun Tugu,Yogyakarta. Lalu aku akan mampir di jalan Pajeksan membeli dua atau tiga liter lapen untuk dibawa pulang dan meminumnya hingga tuntas memakai cangkir putih di beranda.

Berusaha menanggalkan kenangan kopi manis buatan Ai-phing. Tapi, rupanya aku ini memang laki-laki keturunan bengal. Justru mabuk semakin membuatku meracaukan segala perihal tentang Ai-phing.Tentang Ai-phing dan seribu sayap kupu-kupu di Taman Nasional Kerinci Seblat nun di belantara Sumatera. Di depanku melintas-lintas berbagai macam asongan. Mulai dari rokok, makanan, ikat pinggang dari kulit buatan, hingga pernakpernik murahan.Tiba-tiba mataku seperti tertusuk ranting yang runcing. Dadaku berpacu mencari tahu.

Di balik keramaian orangorang aku melihat perempuan berkerudung kuning menyelinap menawarkan dagangannya. Aku berdiri mendekati perempuan itu. Wajahnya kian jelas, namun aku tidak begitu yakin bahwa aku benar-benar mengenalnya.Ai-phingkah itu? Hatiku dilanda puting beliung, menghamburkan bertumpuk rasa sakit dan nyeri yang asing. Bagaimana mungkin Ai-phing ada di Stasiun Gambir dan tiba-tiba menjadi penjual roti? Wajah perempuan itu semakin kentara dibalik kerudung kuningnya yang lusuh. Tubuhnya yang ramping terlihat kurus dibalut kaos bergaris tipis. Ia menjinjing dua keranjang penuh roti beraneka rasa.

Ah, tidak mungkin itu Ai-phing. Alisnya yang runcing semakin kukenali meski matanya tak lagi bening seperti dulu selalu kutelusuri demikian dalam.Wanita itu belum melihatku. Ia masih berusaha meyakinkan kepada setiap orang di depannya bahwa roti yang dijualnya masih hangat dan nikmat. ”Ai-phing!” Wanita itu melihat ke arahku. Aku yakin sekali bahwa keterkejutannya tidak kalah dengan yang kurasakan. Namun sungguh, ia tampak begitu tenang. Ia mendekatiku. ”Rotinya, Mas? Ada roti sirup, cokelat,pisang… dan ini rasa kopi. Silakan mau yang mana.Lumayan buat sarapan atau bekal di jalan. Nanti kalau di kereta mahal lho.” ”Ai-phing?” ”Harganya murah lho, Mas. Cuma dua ribu lima ratus kok.”

***

Musala Baiturrahmah di pojok benteng, kidul Alun-alun Yogyakarta, Selepas salat isya masih terdapat beberapa jamaah istiqamah yang belum beranjak pulang. Mereka sengaja aku undang untuk menjadi saksi pernikahanku dengan Ai-phing.Hanya ada beberapa piring penganan dan minuman gelas yang kusuguhkan. Aku dan Ai-phing telah menikah siri malam ini dan ustad Ramlan yang biasa mengimami salat yang menjadi penghulunya. Cara ini terpaksa kami tempuh meski aku tahu betul bahwa Majelis Ulama telah memfatwakan haram. Malam ini aku resmi menjadi suami Ai-phing.Tak satu pun keluarga kami yang tahu perihal pernikahan ini.

Kami masih terlalu pengecut untuk memberitakannya kepada keluarga di kampung.Biarlah kami menikmati masa-masa indah ini dengan cara kami sendiri. Waktu-waktu yang begitu aku nantikan setelah tujuh tahun kesakitan. Aku telah memiliki Ai-phing seutuhnya. Juga Pheng-Kai dan Yong-Theng yang kini telah kuanggap sebagai anakku sendiri meski mereka masih belum terbiasa memanggilku bapak. Kami tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari musala itu.Ai-phing tidak lagi menjadi penjual roti di Stasiun Gambir seperti yang kutemui dua minggu yang lalu ketika transit perjalanan dari Kota Sungai Penuh menuju Yogyakarta.

Sebuah perjalanan yang tidak seperti biasanya. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Ai-phing di tempat yang tidak pernah aku duga. Aku juga tidak pernah membayangkan nasib Ai-phing menjadi sedemikian rupa.Aku sungguh-sungguh tidak peduli dengan statusnya sebagai janda beranak dua yang terlunta- lunta di Jakarta dan bukan lagi seorang guru bagi anak-anak buruh sawit di Sumatera. Ai-phing di Jakarta hendak mencari kerja karena suasana pelosok Kampar sudah tidak lagi memberi kenyamanan baginya. Suaminya meninggal beberapa bulan lalu tanpa ada tetangga yang mau menguburkannya. Tidak juga seorang pun yang datang melayat atau memberi ucapan belasungkawa.

Kematian yang benar-benar mereka anggap hina.Ia memilih Jakarta karena berusaha mengubur rasa trauma dan sakit hati dengan rimba Ibu Kota.Entahlah,Ai-phing memang selalu begitu, selalu menganggap dunia begitu mudah ditaklukkan. Di Ibu Kota ia terpaksa berjualan roti keliling karena Jakarta menolak mentah-mentah ijazah PGSD-nya. Ia tidak punya muka jika harus kembali ke Kota Sungai Penuh dan meminta maaf kepada orang tua. Juga tidak berniat kembali ke Kampar dengan menyimpan alasan yang enggan ia ceritakan. Aku tidak bertanya, tapi aku yakin suatu saat ia pasti akan menjelaskan semuanya. Lagi pula masih banyak waktuku bersama Ai-phing setiap harinya untuk menumpahkan segala tanya.

***

Empat tahun berlalu sejak pernikahanku dengan Ai-phing. Ai-phing menjadi ibu rumah tangga yang baik yang menyeduhkan kopi untukku setiap harinya.Tidak lagi dengan cangkir putih seperti dulu, namun masih dengan rasa yang sama, sedikit kopi dengan banyak gula. Pheng-Kai dan Yong-Theng sudah bersekolah dan sudah memanggilku dengan sebutan bapak. Anak kami yang ketiga perempuan bernama Suci baru pandai berjalan. Ai-phing masih terlihat cantik meski tubuhnya semakin kurus. Begitu pun aku dan anak-anak kami.Padahal aku selalu memberikan uang untuk membelikan makanan yang memenuhi standar gizi. Namun, masih saja kami sekeluarga mengalami penurunan berat badan yang tak bisa berhenti.

Sesekali di antara kami bergiliran merasakan mual,muntah-muntah, dan terkadang hingga tiba-tiba menjadi gampang lupa. Rambut Ai-phing semakin banyak yang rontok, menjelang subuh nafasnya kerap tersengal-sengal dengan batuk yang berat.Pagi hari aku ke apotek membeli obat TBC, lalu batuk itu reda untuk beberapa hari kemudian kumat lagi. Suatu malam Ai-phing mengeluh jika pangkal pahanya nyeri dan gatal-gatal,mungkin berjamur. Ia mengolesinya dengan salep herpes sisaan obat Pheng-Kai untuk sekadar menghilangkan gatal. Tapi ternyata hal itu terus berlanjut hampir tiap malam menjelang kami tidur. Ai-phing selalu mengeluh dengan gangguan di pangkal pahanya.

Keesokan harinya aku mengajaknya ke Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, khawatir jika penyakit itu tidak kunjung sembuh meski telah di beri salep herpes dari apotek. ”Positif.” Aku benar-benar gila mendengar penjelasan dokter. Ai-phing positif mengidap AIDS. Dan itu artinya aku, Yong-Kai, Yong-Theng, dan Mei-lan juga positif tertular AIDS. Aku tidak lagi mendengarkan penjelasan-penjelasan dokter berikutnya.(*)

Kamis, 18 November 2010

Kekasihku

Siau-Fung terbangun dengan muka pucat. Untuk kesekian kali, ia menemukan sepucuk surat di bawah bantalnya. Surat dengan bentuk tulisan yang serupa, sejak setahun lalu. Latin tegak dengan huruf k dan d yang bagus. Mirip tulisannya sendiri.

Kepada yang tercinta: Siau-Fung. Demikian tertera di sampul. Di bawahnya dituliskan alamat yang memungkinkan surat itu tiba di rumah ini. Memang tak ada kata 'di bawah bantal', namun surat dari Mong-Cai sampai ke tangannya selalu melalui bawah bantal.

Kali ini Siau-Fung tidak langsung membukanya. Ia mencoba mengingat berita terakhir yang dia sampaikan kepada Mong-Cai. Pasti ada sesuatu yang membuat Mong-Cai berminat membalasnya lebih cepat. Siau-Fung lupa, tapi ia masih bertahan untuk tidak segera membuka surat Mong-Cai. Kali ini ia memilih mandi lebih dulu, dan berniat minum teh manis.

Di bawah siraman air shower, pikiran Siau-Fung mengembara. Ia menuduh Mong-Cai sedang mempermainkannya. Lelaki itu tak pernah mau berkunjung lagi, meski berulang-kali Siau-Fung memintanya melalui surat."Mong-Cai, kekasihku. Bagaimanapun aku punya rasa rindu," demikian tulis Siau-Fung pada salah satu suratnya. "Dapatkah kau meluangkan waktu untuk singgah ke rumah? Berapa jauhnya antara Yogya dan Jakarta? Hanya tujuh jam perjalanan dengan Argo Dwipangga.

Bahkan hanya satu jam dengan Boeing 737. Demikian sibukkah, sampai hari Minggu pun kauhabiskan untuk melatih teater?"Surat Siau-Fung yang penuh harapan itu seperti terlempar sia-sia ke tengah buih lautan.

Surat balasan yang kemudian diterimanya nyaris tak sebanding dengan bara rindu di dadanya. "Siau-Fung di rumah, mungkin saat ini kau sedang menabur jagung untuk sepuluh merpati kesayanganmu. Sudahkah kau menonton film Onegin? Sebuah karya Alexander Pushkin yang demikian puitis.

Aku menyaksikan hampir sembilan kali, seperti ketika aku ketagihan Last Tango in Paris. Entah kenapa. Lalu aku teringat kau. Ya. Kau harus menontonnya."Sungguh Siau-Fung tak mengerti. Mengapa suratnya dan surat Mong-Cai seperti short message service yang salah waktu? Ada selisih informasi.

Siau-Fung teringat salah satu cerita Isaac Asimov. Dikisahkan tentang seorang ibu yang menyuruh anaknya di stasiun antariksa, agar terus mengajukan pertanyaan ke pesawat yang terkatung-katung di langit. Itu lebih efektif, ketimbang diam menunggu jawaban. Jika suaranya sampai, seseorang yang diajak bicara jauh di luar angkasa akan berturut-turut pula mengirim jawaban.

Disambarnya handuk, untuk membelit tubuh. Ia melompat dari kamar mandi serupa tupai. Di rumah itu, sepagi ini, mungkin belum banyak yang terjaga. Subuh baru saja selesai. Terdengar desis air yang dimasak Bi Ijah di dapur. Selebihnya kicau burung, dan suara permulaan acara televisi dari ruang tengah. Mungkin ayah baru saja bangkit dari kamar dan mencari siaran televisi melalui remote control.Setelah menyisir rambut, dan memandang wajahnya yang kuyu di depan cermin, Siau-Fung seperti teringat sesuatu.

Semalam ia tidur sangat sedikit. Rasanya ia telah menghabiskan waktu untuk menulis surat kepada Mong-Cai. Atau sesuatu yang lain?Dilepaskan handuk dari tubuhnya. Ia memandang pualam yang terbuat dari daging, memantul dari pengilon. Sepasang payudara yang kencang dan penuh, dengan warna biru samar di sekitar puting. Itulah pembuluh halus yang mungkin bekerja memancarkan air susu.

Terkadang Siau-Fung merasa jatuh cinta pada tubuhnya. Dibukanya lemari, mengambil celana dalam, t-shirt dan sepotong jins. Boleh jadi, semalam ia menulis buku harian."Siau-Fung!" Suara ibunya memanggil. Pintu kamarnya terbuka oleh dorongan tangan. "Kamu kuliah hari ini?""Ya. Kenapa?""Antar Mama ke toko bunga Chaniago Flowers di Tebet.""Ada yang ulang tahun, Ma?" tanya Siau-Fung sambil lalu."Astaga!" Ibunya masuk ke dalam kamar.

"Kamu lupa ulang tahun Adi?""Adi Tristianto? Kok Mama jadi repot?" Siau-Fung duduk di ranjang dengan kesal. Ada semacam bisnis antara orang tuanya dan salah satu rektor perguruan tinggi.

Adi anak rektor itu, yang dipuja dan dikagumi di kampus karena pesona intelektualnya."Aku alergi pemuda itu! Terlalu kurus. Dan, ia hanya berminat pada komputer."Ibunya ikut duduk di sebelahnya. Tersenyum sabar. "Setidaknya kau mulai memperhatikan dia. Mama bahkan tidak tahu kalau Adi jago komputer."Siau-Fung merasa semakin tak senang.

Rongga kepalanya hanya berisi Mong-Cai, seseorang yang jauh. Lelaki yang rajin menyuratinya dan langsung mengirimkan ke bawah bantal. Lelaki yang dalam suratnya kerap menceritakan beberapa pertunjukan teater yang sulit dilupakan karena sangat berkesan. Misalnya tentang 'Lelaki yang Mencintai Hujan'. Ah, mana surat itu? Siau-Fung berdiri dengan kasar."Kamu tidak pakai BH?" Ibunya mendelik. Namun, Siau-Fung tidak memperhatikan.

"Mama mandi dulu, ya. Awas, jangan ditinggal!"Siau-Fung tetap tidak menanggapi. Ia mencari surat Mong-Cai, lalu segera membacanya. Huruf-huruf di dalamnya bagai menari dan menyihirnya untuk terbang ke awang-awang."Kekasihku tercinta. Lama aku berpikir untuk datang ke Jakarta seperti harapanmu. Tapi, selalu saja ada pekerjaan yang memburu. Sesuatu yang sulit kutinggalkan, bahkan untuk sehari-dua.

Hampir setiap hari aku menerima tamu, yang datang tak tentu waktu. Pernah di suatu subuh, seorang kawan mengetuk pintu kamarku, meminta kepastianku mengisi acara di fakultasnya. Memang lagi-lagi teater. Sebuah dunia yang berisi blocking, cahaya, dan bahasa tubuh. Dunia yang kata-katanya bisa muncul dari mulut ataupun benda di sekitarnya. Dunia yang memiliki dimensi-dimensi waktu dalam satu proscenium, sepanjang kita mau menafsirkannya."Siau-Fung, saat ini sedang kutulis sebuah naskah yang sangat memesona. Setidaknya bagiku.

Kupilih judul Deja vu. Aku yakin kau tahu artinya. Sesuatu yang sama yang pernah terjadi. Kita terlibat di dalamnya, atau menyaksikannya. Ini tentang seorang lelaki yang kemudian bingung dengan suatu pilihan di akhir cerita. Maaf kalau aku membuatmu penasaran. Karena sesungguhnya, engkau pun membuat aku penasaran. Mungkin itulah yang menyebabkan cintaku tak kunjung padam.

Cinta yang tak menemui batas. Cinta yang mulai takut pada sebuah kenyataan. Siau-Fung, apakah saat ini, atau tadi, kau sedang menabur jagung untuk sepuluh merpati kesayanganmu?"Siau-Fung menghela napas. Ia tak pernah sekali pun memberi tahu tentang merpati peliharaannya kepada lelaki yang tidak menyukai telepon itu. Tapi Mong-Cai nyaris seperti Harry Potter dengan kepandaian yang lain. Ia bahkan tahu jumlah merpatinya. Apakah itu penyebab Siau-Fung jatuh cinta? Mencintai seseorang yang tahu benar, bahkan barangkali: letak tahi-lalatnya.

Bagaimana mungkin, Mong-Cai yang paham akan detail perasaannya, tega mengabaikan permintaannya?"Tahukah kau, Siau-Fung? Aku sedang memilih waktu yang tepat untuk mengunjungimu. Walaupun aku tak mempercayai sejumlah tempat dan nama-nama, tapi `waktu' bagiku sungguh memesona. Boleh jadi, hari Valentine sangat baik untuk pertemuan kita.

Hari yang penuh dengan bahasa bunga, saat terindah untuk memperkukuh akar-akar cinta. Antara kau dan aku, Siau-Fung. Kupikir, menunggu hari itu tiba, tidak memerlukan lautan kesabaran. Bukankah sudah amat dekat?"Kemudian Mong-Cai mengakhiri suratnya dengan kata-kata `peluk-cium'. Bahasa klasik yang mungkin banyak dipergunakan remaja tahun tujuh-puluhan. Ungkapan yang mulai tak lazim ketika e-mail menjadi pengganti surat dan kartu pos.

Tetapi, inilah yang barangkali membedakan romantisme Siau-Fung dan Mong-Cai dengan remaja zaman sekarang. Perjalanan surat dengan kendaraan prangko demikian memikat hati mereka. Mereka?Siau-Fung melipat kembali surat itu. Menghela napas, seperti bermaksud melupakan sesuatu yang menyedihkan. Serbuk harapan ditebar oleh Mong-Cai, tapi perasaannya gundah. Ia bergegas menuju meja makan.

Dihirupnya teh yang mulai dingin. "Ma, aku tunggu di mobil."Ia melewati ayahnya yang mulai membuka koran pagi. Pamit dan mencium tangannya. Ketika menuju garasi, ia teringat akan surat yang ditulisnya semalam untuk Mong-Cai. Ia kembali ke kamar dan mendapatkan yang dimaksud: catatan panjang serupa novelet dengan gemuruh badai di dalamnya. Riuh-rendah perasaan cinta yang mirip ombak dengan susunan gelombang yang beriring dahsyat.

Entah kenapa, ketika memasukkan sejumlah halaman tebal itu ke dalam amplop, matanya berkaca. Dadanya bagai hendak meledak. Membuat Siau-Fung lupa pesan ibunya untuk mengantar ke Chaniago Flowers. Ia meluncur sendiri dengan timbunan kegelisahan. Seperti berjalan dalam tidur, perilaku yang pernah menjadi kebiasaan ketika umur sepuluh tahun.

Seperempat jam kemudian ia telah berada di Jalan Matraman yang padat oleh sebuah pagi yang sibuk.Siau-Fung berlari kecil menuju fakultasnya setelah memarkir mobil di mulut Salemba. Ia abaikan bunyi handphone dalam tas kecilnya. Cita-citanya hanya satu: ingin segera berada di kelas dan mungkin sebuah tangis segera pecah di sana. Ada yang ia sesalkan dari tulisan Mong-Cai.

Valentine Day! Yang teringat mengenai hari itu adalah sebuah kematian. Sepanjang jalan ia mencoba mengaduk seluruh kenangan, namun tak kunjung muncul nama atau wajah seseorang yang mati di hari itu. Tapi, pasti seseorang yang sangat dekat, atau sangat berkesan."Mong-Cai, mungkin ini agak menyakitkan bagimu." Siau-Fung menuliskan kalimat tambahan di bawah surat panjangnya.

"Seandainya kau datang sebelum atau sesudah tanggal 14 Februari, aku sangat berterima kasih. Nanti tentu kuceritakan sebabnya." Dan, mobil pos keliling, pada tengah hari, segera mengurus perjalanan surat itu ke Yogya.***ARLETI menghabiskan waktu di Teater Bulungan. Mula-mula menemani Agung Setiaji Arya Dipayana dan Wulan Guritno yang sibuk menyiapkan pentas Sita Obong.

Namun, hingga jauh malam, ia tak hendak pulang. Ia tak peduli waktu. Sampai Aji membujuknya, bahkan kemudian mengantarkan ke rumah.Di meja kamarnya, Siau-Fung mendapatkan VCD film Onegin. Tidak ada sepucuk surat pun sebagai pengantar. Atau, Mong-Cai telah datang? Sementara ia justru pergi seharian. Kenapa orang rumah tidak meneleponnya? Siau-Fung nyaris membanting telepon genggamnya.

Tiba-tiba ia merasa menjadi anak tunggal dengan penyakit jiwa yang parah. Tinggal dalam kesunyian yang mengerikan, di rumah besar yang hampa.Sudah lewat tengah malam, ketika Siau-Fung memutar Onegin. Film yang pernah diceritakan Mong-Cai dalam suratnya. Namun, perasaannya tak kunjung tenang, karena besok tanggal 14 Februari.

Tanggal yang hendak ia hindari. Menyebabkan tubuhnya gemetar oleh rasa takut yang aneh. Jika besok Mong-Cai muncul di rumah, sama artinya lelaki itu telah mengabaikan harapannya! Telah mengkhianati perasaannya!Mata Siau-Fung nyaris tak terpejam sampai matahari terbit. Badannya demam, membuat ibunya sibuk menelepon dokter.

Tapi Siau-Fung menolaknya: "Aku tidak sakit, Ma! Aku cuma marah kepada Mong-Cai! Tolong jangan bukakan pintu untuknya! ""Mong-Cai?" Ibu dan ayahnya saling berpandangan. Perasaan khawatir mengalir."Dia yang selalu mengirimi aku surat! Kemarin dia datang, bukan?" Siau-Fung menunjukkan sebuah VCD dan, astaga! Dari laci mejanya, ternyata ada sebuah naskah drama Deja vu. "Mama bilang apa sama dia? Apakah dia akan datang lagi hari ini?""Siau-Fung, badanmu panas sekali...," Ibunya memeluk.

Tatapannya menyimpan cemas. Mengisyaratkan kepada ayahnya agar segera mengusahakan dokter. "Kamu semalam begadang, kan? Biar Mama telepon Adi untuk menemanimu."Siau-Fung serta-merta menolak. Bahkan dengan sedikit histeris. Berulang kali ia katakan, bahwa ia sama sekali tak berminat dengan pemuda kurus yang kutu-komputer itu.

Tapi, ada yang lebih membuatnya waswas. Bunyi bel pintu! Pandangan mata Siau-Fung tampak tegang. Siapa pagi-pagi datang bertamu?Kamar mendadak hening, karena semua telinga terpasang untuk suara berikutnya, sesamar apa pun. Siau-Fung mendengar ayahnya mempersilakan seseorang masuk ke rumah. Dari percakapan yang sayup, dapat diduga tamu itu laki-laki. Dan, langkah yang kemudian tersimak, agaknya mendekat ke arah kamar."Siau-Fung, ada yang mencarimu." Lalu terdengar ayahnya mempersilakan seorang laki-laki masuk. "Dari Yogya."Siau-Fung memandang tamunya dengan tangan kencang meremas sprei.

"Siapa kamu? Pasti bukan Mong-Cai!""Aku pemilik alamat yang selalu kaukirimi surat. Aku memang bukan Mong-Cai. Tapi aku kawan Mong-Cai. Namaku Landung. Ada enam belas surat kuterima, tapi aku tak berani membukanya. Aku tak yakin kalau kau tidak mengetahui.

Mong-Cai telah meninggal. Persis hari ini, setahun yang lalu."Siau-Fung seperti melihat seseorang dalam genangan minyak yang berkilau. Lambat laun mengabur. Pendengarannya hanya menangkap suara samar-samar. Mirip khotbah yang datar dari seseorang yang berjalan menjauh.

Ini memang hari yang ditakutkan. Hari yang mengingatkan trauma itu: ketika Mong-Cai tewas dalam sebuah kecelakaan. Landung gemetar ketika mulai membaca surat-surat Mong-Cai. Surat cinta yang selalu menyusup ke balik bantal tidur Siau-Fung. Surat yang ditulis perempuan itu, yang berperan sebagai Mong-Cai, sejak kepribadiannya terbelah. Dan, diam-diam mencintai tubuhnya sendiri.

Mimpi

Ada bulan di atas atap rumah ketika Putri Langit datang menemui Supria yang sedang tertidur di samping istrinya.

"Untung kamu datang, Putri," sambut Supria di dalam mimpinya. "Sudah lama aku menunggumu. Ke mana saja kamu, Putri? Aku gelisah sejak sore tadi," lanjut Supria dengan hati girang.

"Aku menemui orang-orang yang dirundung galau sepertimu. Mereka semua meminta aku berkunjung," sahut Putri Langit sesaat setelah turun dari langit dengan mengendarai selendang kabut.

"Bukankah kamu pernah berikrar untuk lebih memperhatikan aku ketimbang yang lain?" tuntut Supria lembut. "Bukankah begitu, Putri?"

"Benar. Perhatianku pada kamu melebihi yang lainnya. Tapi, bukankah seharusnya kamu mencurahkan perhatianmu pada kepentingan keluargamu - anak dan istri, juga orang-orang yang dekat denganmu?"

"Justru karena itulah, Putri, aku jadi tersiksa serasa neraka. Aku merasa dipasung oleh mereka. Aku seperti kuda, dipecut untuk terus berjalan. Bahkan berlari mengejar sesuatu yang tak pasti."

Putri Langit terdiam. Supria merasa tak enak hati pertemuan mereka direcoki kisah miris yang diungkapkannya sebagai bagian dari curahan hati.

"Maafkan aku, Putri. Aku sangat serakah ingin menguasai kebaikan hatimu."

"Jangan berkata seperti itu," ujar Putri Langit. "Semua makhluk sepertimu itu serakah. Tap,i tidak seharusnya kamu pun ikut-ikutan seperti mereka."

"Benar, Putri. Tapi, batinku tak akan pernah dapat tenang. Persoalan demi persoalan bemunculan, menumpuk segebung tanpa terakhiri," beber Supria.

"Sudahlah," suara Putri Langit melunak. "Aku kasihan padamu. Kemarilah, Lelakiku. Pegang tanganku. Ayo, ikut pergi bersamaku."

Lalu, Putri Langit membawa Supria terbang ke atas langit menerobos gemawan.

Di atas langit, tepatnya di Kerajaan Serba Ada, Supria diturunkan.

"Kita sudah sampai, Lelakiku," ujar Putri Langit. "Jangan sungkan untuk meminta."

Supria yang telah berada di ruang berdinding cahaya terlihat gugup. Tak disangkalinya kalau gemerlap langit membuatnya terkesima. Sungguh, kehidupannya di dunia fana merupakan aparadais. Tak ada keajaiban sesontak di sini, pikirnya. Sebuah dimensi yang bertolak belakang. Di Kerajaan Serba Ada ini semua serba mudah. Ketika Supria kehausan, tiba-tiba saja bermacam jenis minuman segar tersedia di hadapannya.

"Bagaimana?" tanya Putri Langit.

"Sungguh menakjubkan!" cetus Supria terkagum-kagum.

"Di dunia, kamu telah kehilangan suasana surga?"

Supria tersipu malu. Disingkirkannya gelas minuman dari hadapannya, lalu menatap Putri Langit dalam-dalam. "Aku ingin bercinta," desisnya.

Kali ini Putri Langit yang tersipu malu.

"Kenapa? Apa kamu menolak bercinta denganku?" kejar Supria.

"Tidak," sahut Putri Langit. "Justru aku membawamu ke sini untuk melupakan semua yang membebani pikiranmu."

Alangkah bahagianya Supria saat mendengar Putri Langit berkata seperti itu. Lalu, Supria menerima uluran tangan Putri Langit. Mereka lantas berpelukan. Di angkasa mereka seperti kapas yang bergelung dan berguling-guling.

Tempo-tempo mereka menjelma bintang, berkelap-kelip di angkasa raya. Pada saat yang lain, mereka seperti dua cahaya meteor yang bertubrukan. Tubuh mereka memercikkan beribu cahaya. Begitu indah.

"Aku bahagia sekali, Putri."

"Aku senang kamu bisa bahagia."

"Aku ingin memilikimu selamanya."

Putri Langit mengendurkan pelukannya. "Serakah kemanusiaanmu muncul lagi. Mestinya kamu tak perlu mempunyai sifat seperti itu lagi."

"Di bumi aku tersiksa sekali. Aku seperti kuda, dipecut untuk selalu terus berjalan. Aku tak mau turun lagi, Putri. Aku ingin selalu bersamamu," alasan Supria.

"Jangan begitu, Lelakiku," sanggah Putri Langit. "Aku akan datang dan membawamu ke mana kamu suka, asal kamu tidak mementingkan dirimu sendiri."

"Apa benar begitu?" tanya Supria penasaran.

Putri Langit tak menyahut. Sebaliknya, ia membawa Supria turun ke bumi untuk melihat apa yang dikerjakan oleh orang-orang dekatnya. Siang atau malam, orang-orang yang berada di bumi tak melihat keberadaan Putri Langit atau Supria yang telah menjelma menjadi angin.

"Kamu kenal dengan orang itu, Lelakiku?" tanya Putri Langit sambil menunjuk ke salah seorang perempuan di belakang gerobak rokok. Supria menyimak takzim. "Hah, itu Winarti? Istriku! Sedang apa dia?" tanyanya heran.

"Lihat saja dulu, ke mana dia setelah ini," kata Putri Langit, menyoal keberadaan istri Supria di pinggir jalan. Dan, perempuan yang dikenal sebagai istrinya itu kini berjalan menuju halte bus. Sebuah bus kota muncul.

Perempuan itu naik ke dalam bus kota bersama beberapa calon penumpang. Di dalam bus perempuan itu mengeluarkan alat musik serupa ketimpring dari dalam tasnya. Lalu perempuan itu menyanyi.

"Astaga, istriku mengamen?!"

"Nah, ternyata orang yang kamu anggap telah menyiksa dirimu, justru sebaliknya. Dia lebih tabah ketimbang dirimu," tukas Putri Langit.

Mata Supria tak berkedip. "Winarti! Winarti!" teriak Supria dari atas angkasa.

"Istrimu tidak akan mendengar atau melihatmu. Sebab kita sedang dalam wujud angin. Mau lihat yang lainnya?" tawar Putri Langit kemudian.

Supria mengangguk. Bahkan ia penasaran dengan benak baur ingin melihat semua kejadian pada saat dirinya berada di tempat lain.

"Ayo, Putri! Bawa aku ke tempat orang-orang yang aku kenal, dimana aku tak berada di dekat mereka saat ini."

"Dengan senang hati, Lelakiku," sambut Putri Langit seraya menuntun tangan Supria. Selanjutnya, mereka berkesiur ke pohon-pohon berdaun gimbal di tepi jalan - dimana biasanya orang-orang berteduh menyejukkan diri.

"Kamu lihat anak itu? Coba perhatikan siapa dia?" tanya Putri Langit sambil menunjuk ke salah seorang anak laki-laki yang sedang menyedot minyak tanah dari mobil tangki dengan menggunakan selang yang dimasukkan ke jirigen. Bocah kecil itu melakukannya di saat mobil tangki minyak itu terjebak lampu merah.

"Ya, Tuhan! Itu anakku! Itu anakku! Oh, sekecil itu dia sudah berada di jalan raya! Bagaimana ini, Putri?" keluh Supria semaput.

"Itulah. Ternyata anakmu pun tak mau tinggal diam terhadap kerasnya kehidupan ini. Meski di mata kita perbuatannya itu salah, tapi seperti yang aku bilang tadi, mereka juga sedang dirundung kesulitan.

Mereka juga merupakan orang-orang susah. Bukan hanya kamu yang merasakan hal tersebut. Lihatlah, mereka - istri dan anakmu - ikut berandil dalam menata ke kehidupan yang lebih baik dan layak. Sikapilah dengan benar, Lelakiku. Bersyukurlah, anak dan istrimu sedang membangun prinsip-prinsip di dalam hidup ini."

Supria tercenung. Sebagai angin dia memilih bersemayam di dahan pohon. Bersembunyi dari hiruk-pikuk persoalan. Dia ingin berteriak tapi entah seperti apa desaunya. Tentu anak dan istrinya tak akan tahu kalau yang berkesiur di sekeliling mereka itu adalah sang suami, sang ayah yang telah berburuk sangka terhadap diri mereka.

"Mau lihat yang lainnya lagi?" tantang Putri Langit sambil menarik tangan Supria dari rerimbun pohon yang tumbuh di tepi jalan raya itu.

Supria menurut. Dia tak bisa menolak. Putri sudah berbuat baik, pikirnya. Maka dengan senang hati Supria mengikuti terus ke mana Putri Langit pergi walau harus meninggalkan raganya di tempat lain.

"Apakah kamu ingin melihat orang-orang yang kamu anggap telah berjasa di tempat tinggalmu, Supria?" tanya Putri Langit kemudian.

Supria manut mengakuri.

"Kamu tahu siapa dia?" tanya Putri Langit, menelusup sebagai angin melalui ventilasi sebuah hotel yang mereka datangi.

"Ya, aku kenal. Dia adalah seorang lurah di desaku. Tapi kenapa dia bersama perempuan yang bukan istrinya?" Supria berkata.

"Jangan bingung, Lelakiku," kata Putri Langit.

Lalu Putri Langit membawa Supria yang tengah bingung ke sebuah hotel lainnya. "Kamu kenal dengan perempuan yang ada di dalam kamar hotel itu?" tanya Putri Langit untuk yang kesekian kali.

"Oh, itu! Bukankah itu istri temanku? Mengapa dia berdua dengan lelaki yang bukan suaminya di dalam hotel? Ah, dunia apa ini, Putri?"

Tanpa menyahuti, Putri Langit menyeret separo paksa kekasih batinnya itu pergi melihat sesuatu yang belum dimafhuminya sama sekali. Tiap sebentar, mereka melewati daerah-daerah asing yang belum pernah dikunjungi Supria. Kedua makhluk yang menjelma angin itu berkesiur ke tenda-tenda cafe, melayang ke gedung-gedung tinggi, lantas berhenti sebentar di sudut-sudut ruang. Hampir semua pemandangan yang dilihat Supria sangat bertentangan dengan hati nurani.

"Dan yang ini," kata Putri Langit sambil menunjuk ke sebuah rumah yang terpisah dari perkampungan penduduk. "Kamu mungkin tak kenal dengan perempuan tua itu, tapi tentu mengenal baik perempuan muda yang sedang terbaring tersebut," lanjut Putri Langit setelah mereka masuk ke rumah separo gubuk tersebut melalui lubang angin di atas jendela.

Supria terkejut bukan main. Dia serasa tak percaya. "Astaga! Bukankah itu Punasokawati, anak tetanggaku? Oh, mengapa dia dalam keadaan setengah telanjang dengan kedua kaki direntangkan?"

"Dia mau aborsi!" sela Putri Langit.

"Apa itu aborsi?"

"Mengeluarkan jabang bayi dari rahimnya."

"Lho, bukankah Punasokawati itu belum bersuami?"

"Itulah! Karena salah pergaulan, dia hamil di luar nikah. Sekarang, dia bingung dan malu. Memutuskan menggugurkan bayi yang dikandungnya setelah tidak ada yang bertanggung jawab. Mungkin saat ini dia sendiri bahkan tidak tahu siapa ayah si Janin. Pacarnya bejibun. Cinta hanya dijadikannya sebagai bentuk permainan. Mengenaskan!"

Supria mundur. Dia mau muntah. Kepalanya berdenyut. Perutnya mual.

"Kenapa, Lelakiku?! Kamu kenapa?!"

Supria galau.

"Apa mau lihat yang lebih gila lagi?" tawar Putri Langit kemudian.

"Ti-tidak, tidak! Sudah Putri, jangan kamu teruskan lagi membawaku ke dalam kehidupan gila ini. Jangan lagi, Putri! Aku mohon, jangan lagi, Putri!"

Mendengar ocehan Supria yang gaduh tanpa sadar, Winarti, istri Supria yang galak dan cerewet itu terjaga dari tidurnya.

Siapa Putri?! pikirnya. Kurang ajar! kutuknya kemudian.

Hati sang Istri tiba-tiba terbakar api cemburu di pagi buta. Tanpa basa-basi lagi, sang Istri mengambil air dari dalam gentong lalu menyiramkan ke wajah suaminya.

"Dasar bajingan! Siapa Putri, heh! Siaaapaaa?!" teriak Winarti sambil menjambak rambut Supria dengan kasar sehingga suaminya itu terlempar dari atas tempat tidurnya.

Supria yang masih gugup dan bingung itu hanya melongong di lantai kamarnya, tak dapat menjelaskan duduk persoalannya.
 

Shine Huang. Design By: SkinCorner