Rabu, 09 Maret 2011

Senja Pilu



Desa ini aneh. Begitu senyap. Meski aku tahu letaknya tidak jauh dari kota. Pagi, senja, hingga langit pekat tak membuat desa ini riuh. Lampu telah menontonkan cahayanya, namun tetap saja bagai lampu sentir yang remang nyalanya di ufuk malam. Hanya temaram dengan suara jengkerik yang mulai berbisik. Hal ini mengusikku. Gelisahku mulai bergumam. Mungkinkah telah terjadi sesuatu? Hingga lima jam aku menunggu. Pun tanyaku tak bersambut. Resah telah mencekam desa kelahiranku.

Angin yang menyentuh seperti kaku. Angin yang tak biasa juga membuat jendela rumah penduduk tertutup rapat. Tak memberiku celah untuk mengintip. Langkah ini tetap menuntun di kegelapan. Hingga aku sampai pada satu rumah di sudut gang. Tak banyak berubah. Berandanya masih penuh meja-meja kayu jati, tempatku bersama lima kawan kecilku mengerjakan hitungan matematika, fisika, serta sesekali  mendengar epos Mahabarata. Hanya saja, meja kecil ini sudah lapuk, rongga-rongga yang tampak membesar kian hari, lengkap dengan serpihan kayu yang jatuh terurai oleh hewan tetani. Kupandangi kesunyian ini. Menguak memori masa silam hidupku. Tawa liar bocah kecil seperti menggema. Redup lagi, ada tangis yang bersahutan, sesekali nafas semangat berembus menyapaku.


Langkah kaki yang melintas di depanku mengusir hayalku. Coba mendekat, memaknai gesture lelaki berpeci itu. Sepertinya ia baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Maaf Pak, Tyang (saya) mau tanya mengapa desa Nagasari ini bagitu sepi Pak?


Tanyaku berlalu. Bapak paruh baya itu bungkam. Sepertinya diam menjadi pilihan yang tepat untuk menyelamatkan desa ini. Meratapi tubuh dingin Bapak tua itu, nampaknya aku hafal bagaimana cara orang itu berjalan. Namun sayang, aku tak diberi waktu banyak untuk mengingatnya.


Sepi ini sebentar lagi akan membunuhku. Aku berharap akan kecewa. Tapi tidak, rasa ini semakin kuat, terperajat untuk menemukan serpihan kenanganku bersama desa ini. 'Nagasari, 11 April 1986', kutemukan batu paras bertuliskan tanggal memesona. Ya…aku ingat, jemari lunglai Gde Botol, salah satu kawanku mengukir itu.


'Ingat selalu ya, nanti kita ketemu lagi di sini.'


Suaranya hidup lagi bersama kesedihan yang telah coba kukubur. Sedikit berdebu, aku mengibas beberapa pasir yang menutup batu paras itu. Bagaimana seorang anak usia sembilan tahun menyembunyikan kesedihannya? Coba beritahu aku. Gde Botol, kawan sepermainanku harus menghilang karena hukum kesepekang (dikucilkan). 'manak salah',(kembar buncing) saat itu berubah jadi hukum rimba bagi keluarga Gde Botol. Aku belum cukup mengerti, namun aku tahu seseorang menangis artinya mereka tengah bersedih. Anak sekecil itu dihujat, diarak keliling desa karena Ibunya beranak kembar buncing. Bayi mungil dengan jenis kelamin yang berlainan dianggap membawa leteh (kotoran) yang harus segera dibersihkan.


Deru bertalu memecah dada. Persahabatan kami dimutilasi. Seperti nyanyian balonku ada lima, kini satu balon harus kami lepas. Aku tak mengerti hukum 'manak salah' itu. Sejak itu, senja di desa ini seolah bisu. Mahluk dewasa yang lebih mengerti tetap bungkam. Mereka sibuk mengadakan upacara mebersih, membuang malapetaka. Rerumputan berembun tangis. Hukum tidak boleh dibicarakan. Mereka percaya, siapa yang membahas hukum ini, kutukan akan datang pada keturunan mereka. Suram yang makin kelabu. Di pengasingan itu, Gde Botol tidak bisa bermain lagi. Aku ingat perut buncitnya yang selalu lapar ketika menghirup aroma makanan. Kini, Gde Botol tinggal di pengasingan dengan makanan seadanya. Ia akan ditangkap apabila keluar. Aku tak mampu lagi membayangkan kesedihan di balik tembok-tembok yang terus membisu. Kembar buncing itu, bagaimana nasibnya? Belum lagi keluarga Gde harus membayar denda yang jumlahnya tak sedikit. Kemelaratan ini melibas keluarga tak berdaya. Setelah hukum kesepekang itu, tak kudengar lagi kabar Gde Botol juga kembar buncing.


Desir angin yang berbisik di celah bambu memutar kembali memoriku. Aku kembali ke desa ini untuk sebuah tujuan. Menyergap diam yang terpendam. Di rumah ini, aku akan menemukan jawaban; bukan pilu, itu harapku. Kuperhatikan lagi detail bangunan tua ini. Seolah tumbuh, seperti umurku yang menahun kian usang. Ada rumbai menggelayut di depan pintu. Memberiku aba-aba, mempersilakan masuk tanpa harus menunggu jawaban sang pemilik rumah.


Terus melangkah pada malam yang retak; sambil sesekali menoleh. Mungkin aku menemukan orang di dalam rumah tua ini. Aku telah hafal betul lika-liku rumah ini; rumah singgah adalah rumahku selama 10 tahun. Kakiku membentur sesuatu. Ya…sebuah kursi panjang di depan kamar Ibu Mutia, tempat aku dan 5 kawan kecilku mengintip lelaki yang sering mampir, membawa banyak makanan untuk kami.


"Hey, bocah pingitan, hentikan tingkah tidak sopan kalian. Kecil-kecil suka ngintip, kudoakan mata kalian bisulan."


Tiada henti Bu Mutia mengatai kami, hujan amarah akan terlontar jika kami masih berniat memuaskan rasa ingin tahu kami.


Bu Mutia, salah satu pengasuh kami. Kala itu, umurnya 26 tahun, masih cantik dan segar.  Meski pemarah, perihnya tak mendarah daging. Dalam celah hatinya, aku tahu ia ingin menjadi Ibu yang baik untuk kami. Buih kekerasan merona pekat di hidup Bu Mutia. Perkawinannya kandas lantaran tidak mampu memberi keturunan. Luka itu tak dibiarkannya terkulai lagi. Phobia yang berhasil ia lalui, membuatnya seperti ini. Kering rasa.


Tubuh Bu Mutia sangat anggun. Lekuknya tertata dengan indah, seolah belum terjamah. Ia adalah penari joged primadona di desa Nagasari ini. Meski bukan warga asli; Bu Mutia seolah tercipta begitu lentur untuk menari. Itulah cerita lelaki yang selalu datang ke rumah singgah kami dan merayu Bu Mutia. Lelaki tak bernama itu sering kulihat meratapi senja di celah jendela kamar Bu Mutia. Seolah mengusir sepinya. Aku tak paham hubungan Bu Mutia dengan lelaki itu. Lelaki itu termenung, menatap lekat air mata Bu Mutia, saat kami mengintip mereka yang tengah berdua. Mereka berpeluk, seperti menyepakati sesuatu. Lalu meninggalkan Bu Mutia yang tengah mengusap air matanya. Lalu lelaki itu menghampiri kami.


"Tak bisakah kalian berhenti mengintip, kalian sebenarnya tengah mencuri jika melakukan ini."


Kata-kata itu membuat kami berlalu. Namun, Luh Gina, kawanku satu-satunya perempuan, menghentikan laju lelaki tak bernama itu.


"Tuan, apakah kau suami Bu Mutia?" "Anak manis, aku hanya lelaki singgah, sama seperti rumah singgah ini di hidup Bu Mutia. Tapi aku tahu banyak tentang hidup Ibu asuh kalian itu." "Aku tidak mengerti tuan, ceritakanlah apa yang tuan tahu. Kami menyayangi Bu Mutia, kami juga ingin menghapus air matanya, sama seperti yang tuan lakukan. Tapi kami tak mampu."


Lelaki nan gagah itu mirip sosok seorang Ayah yang kudamba. Ia memeluk kami sambil memberi camilan kecil. Lalu duduk di kursi panjang tempat kami mengintip. Aku menatapnya erat. Garis halus di keningnya ingin ku sentuh dan memeluknya balik. Suasana ini yang sering aku impikan. Bersenda gurau bersama sosok yang disebut Ayah. Pun aku melihat mata sayu kawanku memandangi lelaki tak bernama ini bertutur. Mungkin rasaku sama dengan 5 Kawan kecilku itu. Kami menginginkan sebuah keluarga, lengkap dengan manusia yang bernama Ayah, Ibu, juga anak-anak.


Lewat desahan nafas, lelaki itu menggulirkan kalimat yang penting, "Bu Mutia telah kehilangan rahimnya sejak jadi penari joged."


Kalimat itu membuat kami mematung; mendengarkan dengan saksama. Lena disihir pujian, Bu Mutia bukan hanya menggunakan tubuhnya untuk menari. Ia menjalang lewat tarian. Masa lalunya yang kelam. Senyumpun rasanya pahit. Berlebih ketika Bu Mutia memutuskan untuk mengangkat rahimnya, agar tidak beranak pinak. Dan ia bebas mengundang lelaki belang menelanjangi tubuhnya. Karma itu telah tumbuh, kini tangis Bu Mutia mengeram, merindukan memangkul buah hati. Karma itu membedah kembali lukanya.


Lidahku kelu. Aku tak mengerti secara utuh. Namun, Lelaki itu bersedia mengeja kata yang lebih sederhana untuk kami pahami. Bu Mutia menelanjangi jiwanya, merelakan luka itu kembali dibedah hanya untuk menutupi kebutuhan kami. Pria dengan dasi warna-warni, menghampiri malam-malam Bu Mutia itu, ternyata membayar makanan, pakaian, serta keperluan kami.


Risauku berlagu. Apa aku begitu jahat pada Bu Mutia? Memenuhi seluruh otakku dengan pikiran-pikiran busuk terhadap sang dewi? Aku, dan 5 kawanku bukan anak kandung Bu Mutia, bukan pula siapa-siapa. Lalu, mengapa ia begitu baik? Dan mengapa ia memilih untuk tinggal bersama bocah yang tak karuan asala usulnya seperti aku dan 5 kawanku yang lainnya. Memandangi hujan di beranda rumah singgah ini, kami berbincang tentang mimpi dan Bu Mutia.


Setiap liku rumah ini penuh kenangan. Tak kusudahi membasuh diri dengan kenangan itu. Kenangan yang membuatku menemukan warna. Kepedihan ini terasa beranak pinak. Senandung Ibu yang kurindu sejak kecil tak bertandang. Dekapan Ibu yang menurut cerita orang, sangat hangat tak pernah membelaiku. Jiwaku penuh sumpah serapah. Hina dalam didih yang perih. Beginilah nasib anak-anak di pesinggahan. Di luar, mereka mencaci kami sebagai anak hina;hasil hubungan gelap, sehingga kami tidak bertuan. Ucapan itu ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Aku mempunyai Ibu, Bu Mutia. Pun Tuan tak bernama aku sebut Ayah.


Di antara kami, Gde Botol paling beruntung. Ia punya keluarga dan cinta. Menggores kanvas indah di hidupnya dengan cerita indah sebuah keluarga. Namun, kepedihan kembali berlagu untuk kami. Bagaimana kawanku itu harus menyerah pada hukum alam. Bu Mutia saat itu kehilangan satu anaknya. Ia selalu menyembunyikannya dihadapan kami dengan pura-pura marah. Lalu memeluk kami. Seraya berucap.


"Nak, hanya kalian mampu mengubah hidup kalian. Ibu tidak ingin nasib kalian seperti Gde Botol atau Ibu."


Sayup kata terakhir itu terus berdendang bersama mimpiku.


Memendam luka teramat perih membuatku takut bermimpi. Namun luka itu pula menjelma jadi hasrat. Hasrat untuk melawan getir kepedihan. Air mata adalah kebodohan. Ketika kini, aku kembali membawa mimpi itu untuk Ibunda Mutia dan 4 kawanku yang tersisa. Bu Mutia berharap padaku untuk melakukan perubahan. Aku disekolahkannya setinggi mungkin. Kini aku pulang dengan gelar sarjanaku. Kadek Ayu Kartika Priyatna, S.Pd, aku telah jadi guru di sebuah sekolah ternama. Mengajar adalah hidupku, seperti Bu Mutia. Ternyata indah, membuat mahluk lain memahami arti sebuah hidup.


Aku kembali mengurai ar mata. Rahasia kesedihan kembali bergema. Aku terlambat. Bu Mutia, kawanku, rumah singgah, dan kenangan itu telah terkubur. Rumah ini telah disita. Pun penghuninya tidak terjamah lagi. Entah kemana. Serpihan itu luluh lantah…tetap bisu, seperti desa yang telah mati ini. Desa dengan senja pilu. [Oleh: Mei-Ing]

Senin, 07 Maret 2011

Tentang Kiyo

AWAL Maret. Barangkali di sana musim masih semi. Udara masih terasa dingin. Pohon-pohon yang tadinya ranggas mulai berdaun. Dan tentunya, satu hal yang tak mungkin dilewatkan orang Jepang sepertimu di musim ini adalah hanami, menikmati daun-daun sakura di sebuah taman bersama keluarga atau teman-temanmu. Ngobrol, makan, minum sake, tentunya hal yang lumrah dilakukan dalam hanami. Namun dua tahun yang lalu saat kita melakukan hanami  berdua saja, kamu tak membawa sake. Pastinya terasa aneh bagimu, sebab orang Jepang kenyataannya tak bisa dipisahkan dari sake. Di setiap rumah pasti ada sake—kecuali untuk keluarga non-Jepang yang adalah pendatang. Entah kenapa saat itu kamu tak membawanya. Barangkali untuk menghormatiku. Sebab aku tak minum sake. Dan jika kamu sendiri saja meminumnya, tentunya tak akan asyik.

Di sini tak ada hanami. Di sini tak ada pohon sakura yang bisa dinikmati daun-daunnya. Satu-satunya yang bisa dinikmati adalah hujan dalam skala kecil yang membuat tubuh kota seperti wajah manusia yang terkena air wudhu. Pohon-pohon seperti merunduk. Tiang-tiang dan trotoar serupa sepasang kekasih yang saling mendiamkan diri. Setahun yang lalu, kita menikmati hujan seperti ini berdua, di dalam angkot, di kursi paling belakang, berhadapan. Saat ini, yang duduk di hadapanku bukan dirimu, tapi seorang perempuan yang sedari tadi sibuk membalas sms. Wajahnya tak sama denganmu. Jauh berbeda. Tapi kehadirannya membuatku teringat padamu. “Hujan itu indah ya,” katamu saat itu. Ya, hujan memang indah jika kita sedang bersama seseorang yang kita sukai.

Bulan Maret di negeri ini sering dikaitkan dengan awal musim kemarau. Tapi nyatanya, hujan masih sering turun. Apalagi kota ini dijuluki Kota Hujan. Wajar saja rasanya jika memasuki musim kemarau pun hujan tidak benar-benar absen. Kadang hujan turun dua kali sehari: pagi dan malam. Kadang tiga kali sehari, seperti minum obat saja. Jika terbangun dini hari, dan hujan sedang turun, akan terasa kulit seperti digerayang. Leher seperti diraba. Dan udara yang keluar dari mulut seolah-olah terlihat. Setahun yang lalu kamu merasakannya. “Dingin,” katamu. Tapi kita saat itu berdua. Dan suhu tubuh manusia seperti dirancang untuk saling menghangatkan di saat-saat seperti itu.

 

Bagaimana kabar mantan suamimu? Masihkah kalian bertemu sewaktu-waktu? Aku turut prihatin atas perceraian kalian. Aku turut prihatin atas kehidupan lelaki itu yang tiba-tiba memburuk. Pachinko[i] memang berbahaya. Dibandingkan keiba[ii] dan takarakuji[iii], Pachinko lebih berpeluang membuatmu miskin. 500 Yen untuk setiap putaran yang berdurasi rata-rata lima menit. Dalam satu jam saja uangmu akan habis 5000-6000 Yen. Sekali waktu kamu mungkin beruntung mendapatkan banyak bola, dan itu membuatmu ingin melipatgandakannya. Namun kamu tak pernah tahu apakah kamu memang beruntung atau sedang dipermainkan si pemilik usaha pachinko. Sudah jadi rahasia umum bahwa mesin-mesin itu dikendalikan di suatu tempat. Dan mantan suamimu itu, barangkali sedang sial sekaligus apes. Bertahan dari pagi sampai malam di mesin pachinko, sambil berharap mendapatkan kemenangan besar, nyatanya malah kehilangan uang dalam jumlah yang fantastis. Barangkali ia butuh pelampiasan, Kiyo. Tidak seperti kamu yang tak lagi mencintainya, ia mungkin masih mencintaimu.

 

Aku tak pernah mencoba mesin itu. Bukan karena patuh pada ajaran agama, tapi karena takut uangku akan habis begitu saja. Kamu pun mengaku jarang bermain pachinko. Kamu lebih memilih takarakuji. Lebih aman. Peluang menjadi bangkrut gara-gara membeli takarakuji hampir tidak mungkin. Suatu waktu aku pernah memintamu mengantarku ke tempat penjualan takarakuji. Kamu sepertinya heran. Kedua alismu yang tipis hampir bertemu di tengah. “Bukankah ajaran agamamu melarangmu berjudi?” Aku tak berniat berjudi. Aku hanya ingin membeli selembar takarakuji untuk kusimpan dan kubawa ke tanah air. Sebagai pengingat bahwa aku pernah ada di negerimu, bahwa aku pernah menikmati waktu bersamamu di sana. Jumbo takarakuji[iv]. Selembar 300 Yen. Yang menjual adalah seorang ibu rumah tangga gemuk berkacamata. Kita beli dua lembar. Satu untukku. Satu untukmu. “Bagaimana jika kamu ternyata menang?” Kemungkinan itu sangat kecil. Tapi jika aku menang, uangnya akan kuberikan padamu. “Benarkah?” Ya. Ratusan juta Yen tentunya jumlah yang sangat besar. Dengan uang itu kamu bisa sering-sering mengunjungiku di Indonesia.

 

 

 

ANGKOT berhenti. Lampu merah di depan menyala. Tampak angka yang terus berubah seperti hitungan mundur. Perempuan di hadapanku kini tak lagi sibuk membalas sms. Ia ditelepon seseorang. Barangkali pacarnya. Di luar, hujan masih setia membasahi kota.

 

Sudah hampir setahun aku tak mendengar suaramu, Kiyo. Aku khawatir tak lagi bisa mengenalinya. Jika aku berusaha mengingat-ingat suaramu seperti apa, yang kuingat justru suara teman-temanku: Intan, Rina, Alea. Mereka suka menggodaku. “Mana pacar Jepangmu itu?” “Kapan nikah?” “Mau dibawa ke sini atau hidup di sana?” Konyol! Kita bahkan belum pernah sepakat untuk menikah.

 

Desember tahun lalu aku memang pernah iseng mengajakmu menikah. Saat itu kita sedang berdua di balkon kamar menunggu detik-detik pergantian tahun. “Jangan gila! Aku punya suami.” Tapi kamu tak lagi mencintainya. Iya, kan? “Iya sih.” Ya sudah kalau begitu, bercerai saja. Aku menunggu kata-kata keluar dari mulutmu. Tapi kamu diam saja. Lalu detik pergantian tahun pun tiba. Satu demi satu kembang api bermunculan. Merah. Hijau. Kuning. Biru. Malam mulai ramai. Orang-orang terdengar bersorak di beberapa tempat. Aku merangkulmu dari belakang dan berbisik di telingamu: menikahlah denganku. Tapi kamu malah berusaha mengganti topik, memaksaku mengingat-ingat tahun baru yang kita lalui di Jepang setahun sebelumnya.

 

Tahun baru di negerimu begitu sepi. Tak ada perayaan kembang api. Yang dilakukan orang-orang di tengah malam—terutama anak-anak muda—adalah mendatangi jinja[v] untuk berdoa. Kamu dan suamimu memilih melakukannya di pagi hari, pagi pertama di tahun baru. “Kamu mau ikut berdoa?” Aku mengangguk saja. Meski sejak tengah malam sudah banyak orang yang berdoa, pagi harinya jinja belum juga sepi. Banyak anak-anak. Barangkali pagi adalah waktu berdoa untuk keluarga, sedangkan malam adalah waktu berdoa untuk anak-anak muda. “Kamu yakin mau ikut berdoa?” Kamu khawatir. Barangkali juga heran. Tidak seperti dirimu, aku memeluk suatu agama. Dan berdoa kepada Tuhan yang bukan Tuhanku tentu saja sangat dilarang. Tapi kuyakinkan padamu bahwa aku baik-baik saja. Setelah mengantri cukup lama, tiba giliran kita. Kamu, suamimu, lalu aku, melemparkan uang koin ke kotak di depan altar, menangkupkan tangan di dada setelah membunyikannya dua kali, lalu memejamkan mata dan berdoa selama lima detik. Selesai. Suamimu lalu mengajak kita mendatangi tempat penjualan omamori[vi] dan omikuji[vii]. Dia tampak senang. Sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang kedekatan kita. Atau mungkin pura-pura tak tahu. Kuharap yang pertama yang benar. “Kamu tadi beneran berdoa?” Kamu masih saja khawatir. Ya, aku tadi berdoa. Tapi tentunya aku berdoa kepada Tuhan yang kuyakini. Sebelum meninggalkan jinja aku menoleh untuk melihat kembali miko[viii] yang tadi menyambut kita. Cantik sekali. Sangat disayangkan ia memilih menjadi miko. Kamu mencubit pinggangku. Mungkin cemburu. Suamimu melihatnya. Ia menatapku cukup lama. Mungkin cemburu.

 

Kejadian itu hampir dua tahun yang lalu. Tahun baru terakhir kulewatkan sendiri dengan berdiri di balkon kamar, menikmati suguhan kembang api sambil sesekali meniup terompet. Kini sudah Maret. Tak ada lagi terompet. Tak ada lagi kembang api.

 

 

 

TIBA di depan Botani Square, angkot berhenti, hujan tidak. Setelah turun dan membayar 3000 rupiah, aku bergegas menuju koridor. Orang-orang berlalu lalang. Warung-warung kecil di sisi kanan kulewati satu per satu. Aku jadi ingat vending machine yang begitu banyak ditemukan di negerimu. Isinya pun beranekaragam. Mulai dari minuman, makanan, rokok, mainan, telur, bunga, bahkan payung. Seandainya vending machine disebar di negeri ini, ditempatkan di pinggir-pinggir jalan, di stasiun-stasiun, aku yakin segera mengalami kerusakan. Bangsaku berbeda dengan bangsamu. Bangsamu suka sekali menjaga dan merawat. Bangsaku suka sekali merusak. Tapi seandainya vending machine benar-benar disebar di negeri ini, aku penasaran apa saja yang mungkin tersedia di dalamnya. Barangkali ada sejumlah vending machine yang menyediakan karedok, bubur ayam, pecel, jamu, dsb. Rasanya terdengar aneh.

 

Masuk ke Botani Square lewat pintu samping, aku langsung mencari eskalator-naik. Musholla ada satu lantai di atas. Dan ini sudah masuk waktu ashar. Setahun yang lalu, di waktu yang nyaris sama, kamu duduk menunggu di sebuah kursi kayu di dekat musholla. Kursi itu kini diduduki oleh dua orang perempuan. Yang satu berkerudung. Yang satu tidak. Aku membayangkan kamu berkerudung. Cantik pastinya. Orang-orang mungkin mengira kamu muslim. Dan mereka pastinya kaget ketika kamu membuka kerudung, sebab kamu memakai anting dengan gantungan salib berwarna perak. Saat itu pun tentunya orang-orang banyak yang menoleh mengamatimu, dan bertanya-tanya dalam hatinya: apa yang dilakukan seorang Kristiani di dekat musholla? Hahaha.. Mereka tak tahu kamu bukan seorang Kristiani. Mereka tak tahu bagaimana kamu memandang suatu agama.

 

“I’m Christian,” katamu saat kita meninggalkan musholla, bercanda tentunya. Dengan anting salibmu itu kamu memang tampak seperti seorang Kristiani. Tapi adakah seorang Kristiani yang tak pernah pergi ke gereja di hari Minggu, tak pernah membaca Injil, bahkan tak menyimpan Injil di rumahnya? Aku ragu. “Tapi aku menikah di gereja,” katamu, bercanda lagi. Ya. Orang Jepang memang aneh. Berdoa di jinja saat tahun baru, menikah di gereja dengan tata cara Kristiani, lalu ketika meninggal dikremasi lebih dulu sebelum dimakamkan, padahal kremasi itu identik dengan ajaran Hindhu dan Buddha. Bagi orang Jepang sepertimu, agama lebih dipandang sebagai budaya. Tak ada keharusan memeluk suatu agama. Agama adalah urusan pribadi. Negara tak boleh ikut campur. Bahkan telah diatur dalam Undang-undang negaramu, bahwa tidak diperbolehkan menggunakan uang negara untuk kepentingan keagamaan (seperti membangun tempat ibadah, merayakan hari-hari keagamaan, dsb). Bagiku tentu saja itu sangat ganjil. Tapi Jepang memang negara sekuler. Karenanya, wajar saja agama tak begitu penting bagi orang Jepang. “Japanese people belive ini God but it’s not too important.” Itu yang pernah kamu katakan padaku dengan logat Inggris yang sedikit aneh. Namun satu hal yang perlu dicermati: toleransi beragama di negaramu begitu tinggi.

 

Agak aneh sebenarnya, di negara yang katakanlah sebagian besar penduduknya tak beragama, toleransi beragama justru begitu tinggi. Mungkin karena kalian begitu menghormati privasi seseorang, sedangkan agama adalah urusan pribadi. Bersikap dan berperilaku baik tanpa perlu beragama. Barangkali seperti itu lah dirimu. Memang benar kenyataannya, memeluk suatu agama tidak lantas membuat seseorang berperilaku baik. Manakah yang lebih penting: beragama atau berperilaku baik? Bagimu tentu saja berperilaku baik. Bagiku, keduanya sama penting. Satu pertanyaan yang kurasa cocok diutarakan kepada orang-orang Indonesia: orang yang tak beragama saja perilakunya baik, mengapa orang yang beragama justru tidak? Pembakaran gereja di Temanggung. Penyerangan jemaat Ahmadiyyah di Pandeglang yang memakan korban jiwa. Dua kejadian ini hanya sedikit dari banyak kasus kekerasan yang dilakukan sekelompok orang atas nama agama dan keyakinannya. Seberapa pentingkah beragama, jika pada akhirnya hanya membuat seseorang menjadi brutal dan berbahaya bagi orang lain? Dalam hal kerukunan umat beragama, bangsaku harus banyak belajar dari bangsamu.

 

Oh ya, tentang rencana keberangkatanku ke Jepang bulan depan, sepertinya harus kutunda. Adikku minggu lalu meninggal. Kecelakaan sepeda motor. Ibu jatuh sakit, barangkali shock, dan kini dirawat di RS PMI. Aku belum sempat mengutarakan padanya rencanaku untuk melamarmu. Entahlah ia akan setuju atau tidak. Kurasa tidak. Almarhum Ayah pernah berkata bahwa jika aku menikah, harus dengan perempuan muslim. Kurasa Ibu juga berpikiran sama. Lalu bagaimana solusinya? Kamu bukan muslim. Dan aku tak yakin kamu bersedia menjadi muslim. Memeluk suatu agama bagimu adalah sesuatu yang merepotkan. Barangkali solusinya adalah dengan menikah di sana. Sebab di negara sekuler, agama tak begitu penting, sehingga pernikahan lintas agama bukan suatu masalah. Tapi ternyata, untuk pernikahan antarbangsa, harus pula disertai surat persetujuan dari orangtua kedua mempelai. Ah, merepotkan saja. Selain itu, dengan meninggalnya adikku, aku tak mungkin meninggalkan Ibu. Siapa yang akan merawatnya nanti kalau aku pergi? Tapi sungguh, aku ingin membina rumah tangga denganmu.

 

Bagaimana menurutmu, Kiyo? Kamu punya solusi? Atau jangan-jangan ketika aku melamarmu nanti, kamu malah menolakku. Ah, sudahlah. Itu bisa dipikirkan nanti. Aku masuk ke XXI. Mengantri. The King’s Speech. Aku akan segera menontonnya. (*)

 

 

 

Bogor.Maret.2011

 

 

 

 

[i] Permainan judi yang cara kerjanya mirip pinball. Bedanya, dalam piball diusahakan bola tidak masuk ke lubang, dalam pachinko, diusahakan bola masuk ke lubang. Setelah bola masuk ke lubang, gambar-gambar di layar akan bergerak. Biasanya ada tiga gambar. Jika semua gambarnya sama, maka si pemain memenangkan permainan, yang ditandai dengan mendapatkan sejumlah banyak bola yang nantinya bisa ditukarkan dengan barang-barang/makanan yang tersedia di tempat itu.
[ii] Pacuan kuda atau balap kuda.
[iii] Lotre keberuntungan. Sejenis tebak angka.
[iv] Salah satu Jenis takarakuji.
[v] Kuil Shinto.
[vi] Jimat keberuntungan.
[vii] Kertas berisi ramalan nasib.
[viii] Semacam pendeta Shinto perempuan, orang yang melayani Kamisama (Tuhan) dengan menjaga kebersihan jinja. Pakaian yang dikenakan oleh seorang miko adalah atasan putih, bawahan merah. Seorang  perempuan yang menjadi miko harus masih suci alias perawan. Ketika si perempuan memutuskan untuk berkeluarga, maka ia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya itu.

Jumat, 04 Maret 2011

Dear Diary,

 Dear Diary,

Hai Di, udah lama Vella ngga nulisin kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. Tadi pagi Vella sama temen-temen ngomongin cowok masing-masing. Di masih inget sama Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh sama dia. Dia soalnya nggak kayak cowok-cowok temen Vella yang lain Di. Sebel deh sama Evan, bayangin deh Di semua minusnya Evan nih yah:

• Minus 10 karena dia nggak punya handphone, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain punya handphone.

• Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain biar sama-sama SMP udah boleh bawa sendiri!

• Minus 10 karena dia itu rambutnya cuma cepak biasa, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain itu rambutnya gaya abhies.

• Minus 10 buat dia karena dia itu nggak suka ketempat-tempat dugem Di, padahal Vella suka banget ke sana, malu banget nggak sih punya cowok kayak gitu.

• Minus 10 buat dia lagi Di, karena dia nggak punya satu pun jacket XSML, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain sering banget belanja disana, kalau dia sih paling pake bajunya bangsa bangsa jacket yang merek FILA (idih banget nggak sich Di!).

• Minus 10 banget (dan yang ini banget banget-banget) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makan siang ke sekolah! Gila yah Di, malu-maluin banget nggak sih!

***

Dear Diary,

Hari Ini valentine, pas Evan ke kelas Vella mau kasih kado, Vella cuma diem aja. Seharian itu Di, Vella ngindarin dia abis-abisan, dia bingung gitu kayaknya Di, kenapa Vella ngindar terus.

Sampe rumah dia nelepon Vella, Vella males tapi ngomong sama dia Di, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalau Vella belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Vella males nerima.
Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella ngindarin Evan pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di rumah Vella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Vella bener-bener udah illfeel dan malu pacaran sama dia Di!

Akhirnya waktu itu hari Senin, seperti biasa pas di sekolah, Vella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Vella ngumpul di kantin sama temen-temen Vella.
Mereka pada nanya kok Vella ngindarin Evan terus Vella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Vella ngaku juga Vella ngomong, "Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah nggak ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? dipelet kali yah gue!!"

Tiba tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Vella, Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di, ternyata ada Evan di belakang Vella dan kayaknya dia denger yang Vella baru ucapin barusan. Vella cuma bisa diem tapi Vella sempet ngeliat Evan sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ.

Vella diem aja, ada beberapa yang ngomong "Hayo loo Vel, dia denger lho!!"

Tapi ada juga yang ngomong, "Udahlah Vel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus."

Bener juga yah Di, ya udah Vella cuek aja, syukur deh kalau dia denger. Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.

Dua hari pun berlalu Di, dan sejak saat Evan udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelepon Vella. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja.

Seminggu berlalu, 2 minggu berlalu sejak hari itu, Vella mulai ngerasa ada sesuatu yang ilang Di, nggak tau kenapa Vella mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Vella suka bengong bingung sendiri, cuma Vella berusaha ilangin perasaan itu. Vella nggak tau kenapa jadi males kemana mana, pengennya sendiri aja, males ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Vella berubah jadi kayak gini. Vella sendiri juga nggak tau kenapa Di.

***

Dear Diary,

Minggu malem nih Di, Ujan deres banget, Vella diem dan ngerenung di dalam kamar. Tiba-tiba di channel V ada lagunya Janet Jackson Di! Tau kan liriknya?

Doesn't really matter what the eyes is seeing,
Cause im in love with the Inner being.

Saat itu tiba-tiba Vella nangis Di, Vella baru sadar... Betapa baiknya Evan... Vella nangis senangisnya Di, karena Vella baru sadar betapa begonya Vella...

• Minus 10 karena Evan nggak punya HP Di, tapi plus 100 karena dia tiap malem rela jalan jauh ke wartel buat Nelpon Vella ngucapin selamat tidur setiap hari...

• Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17 Di, tapi plus 100 karena tiap malem minggu dia rela naik sepeda jauh dari kemang ke bona indah khusus ngapelin Vella biar ujan sekalipun...

• Minus 10 karena dia rambutnya cuma botak biasa dan nggak suka di spike, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut Vella apapun baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang Vella cantik banget...

• Minus 10 karena dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena dia rela nemenin Vella ke tempat-tempat kayak gitu, meski dia nggak suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang pagi nemenin Vella... dengan naik taksi ke rumahnya...

• Minus 10 karena Evan nggak punya jacket XSML dan hanya punya jacket FILA biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan di sekolah dia selalu minjemin Vella jacketnya meski dia sendiri kedinginan...

• Minus 10 karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata nabung uang jajan makang siangnya buat beli kado valentine buat Vella...


Dari 60 minus yang Evan punya Di, dia punya 600 Plus di hati Vella... dari 1000 kekurangan Evan, dia punya semilyar kebaikan... Ya Tuhan Di, betapa begonya Vella yah... Vella yang beruntung sebenernya punya cowok Evan, dan Vella juga yang nyakitin Evan, padahal nggak pernah sekalipun dia nyakitin Vella. Malemnya Vella nangis lama banget Di.

***

Dear Diary,

Vella ketemu sama Evan di sekolah. Vella kejar dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja, tapi pulang sekolah dia nanya Vella mau ngomong apa. Vella kasih dia kartu buatan Vella, Vella cium pipi dia dan Vella bilang minta maaf karena Vella udah nyakitin dia. Dia cuma diem aja terus pulang... Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella yang berbuat, Vella juga yang kehilangan... Sakit banget rasanya Di, Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yang bikin dan Vella pula yang nanggung resiko-nya...

Malem itu tiba tiba mama ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon. Ternyata bener Di, itu Evan, dia udah maafin Vella, dia udah lupain semuanya... aduh Di, girang banget hati Vella, hi hi hi senengnya.

Nanti malem Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya buat Evan, jadi Vella udahan dulu yah Di... thanx banget udah denger curhat-nya Vella, Vella belajar satu hal Di:

Hargailah apa yang kamu miliki sekarang,
Karena tanpa kamu sadari,
Kamu begitu beruntung telah memiliki-nya.

Selamat malem diaryku...

NB: Minus 10 Di, karena mukanya tidak tampan, tapi plus 100 karena hatinya luar biasa tampan...

Doesnt' Really Matter what The eyes is seeing cause im in love with the Inner being.

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner