Kamis, 18 November 2010

Dia Kesepian

Mei-Hua sedang menunggu kedatangan Bie-Song, seperti hari-hari biasa. Setelah kisah tragis, karena permusuhan kedua pihak orang tua, nyaris merenggut nyawa sepasang kekasih ini. Mereka menikah dan menempati sebuah ruang apartemen di Jakarta Utara.

Mei-Hua bekerja di sebuah konveksi dan pulang lebih awal. Bie-Song bekerja di bagian produksi sebuah TV swasta, kebiasaan kerja mengejar tayangan membuat waktu pulangnya tak pasti. Sebenarnya hal ini tak merisaukan, mereka telah berikrar meninggalkan kehidupan lama dalam kisah klasik.

Meniatkan diri sebagai penduduk dunia, meskipun berada dalam dunia kotak yang rasanya semakin menyempit.Selalu, tak bisa dimungkiri, pada saat sendiri seperti ini Mei-Hua teringat hari-hari di Pantai Utara. Hari-hari bersama bunga ungu di pasir pantai, seekor kupu-kupu mengembang dari dalamnya.

Ia menunggu di dekat kapal yang merongsok, berdaster tapi bawahan berlilitkan kain batik. Angin pagi meriap-riap rambut yang tergerai dari gelungnya. Lautan membiru, tempat bertarung nasib para nelayan antara hidup dan mati. Sebuah perahu bertenaga motor meluncur dari sana, ke pertemuan air di hulu sungai.

Cakrawala alangkah jauhnya, alangkah sepinya menunggu. Meski ia mengenakan daster berkembang warna-warni mencolok, seperti menantang matahari untuk hidup lebih liat.Ia suka melihat bunga-bunga ungu itu. Bergelayutan seirama seperti sebuah janji sehidup semati, tidak hanya di malam pertama yang hanya semalam. Sepanjang usia, meski setiap hari jauh di mata, dan menunggu yang sepi.

Seperti warna ungu di pasir, lembut, dan ungu, dan seekor kupu-kupu berwarna kuning. Dan kenapa ia harus mengenakan daster berbunga warna merah, bercita biru laut yang jatuh di badan. Sambil melilitkan kain ia melengos malu pada angin nakal, mengingatkan kenakalan-kenakalan di atas tikar.

Cinta laki-laki perkasa sekaligus lembut, namanya memang Bie-Song, ah, Bie-Song..., batin Mei-Hua dalam helaan napas membentur kaca apartemen.

Ia pun teringat pohon-pohon nyiur di tepi pantai, meninggi, dan melambai-lambai ke cakrawala. Seharian melambai-lambai, untuk kemudian menunduk menjelang magrib, daun-daun yang merunduk pada kesemestaan. Kemudian ia bertanya kepada bunga ungu itu, bahkan batang pohonnya menjalar tak mampu berdiri tegak, tapi mengembangkan keindahan bunga berwarna ungu dan kupu-kupu itu.

Ah, kupu-kupu..., ya habis-habis pertanyaannya ditujukan kepada makhluk terindah itu. Makhluk yang senantiasa seperti menetaskan kesabaran dari setiap titik warna keindahan dan kelembutannya, menetas, dan menetes bersama tetes-tetes embun yang hanya sesaat.Hanya sesaat embun membasah di putik daun menghijau, dan siapa yang sanggup melihat isyaratnya.

Seperti Mei-Hua yang bertanya kepada kupu-kupu, berbisik senantiasa di antara angin yang membisu. Ah, kesabaran yang menjadikan ulat sebagai kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu yang indah. Begitu indah, satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan terindah, bisiknya sambil memainkan gerai rambut tertiup angin yang ditiup air condition. Tak terbayangkan tatkala sebagai ulat, binatang paling menggiriskan. Tak menyangka begitu sabar sebagai kepompong, sempurna puasa dan bertapa dari segala.
Begitu lulus dalam ujian waktu sayapnya yang indah mengembang mengisyaratkan kecantikan kisah tentang bidadari.Keindahan yang rasanya hanya untuk dilihat, tak disentuh dengan sentuhan jemari sekalipun. Sebab begitu pekanya, begitu lembutnya, lembut yang sebenarnya. Meski hati selalu terkenang masa kanak-kanak, menangkap kupu-kupu, berkejaran di pasir pantai dan jilatan buih ombak. Ingin rasanya menangkap kupu-kupu seperti dulu, ah, masa kanak-kanak memang selalu menggoda.

"Sayang..., aku tak akan menangkapmu..., "bisiknya dengan senyum terkembang, melihat sayap kupu-kupu yang mengembang dari kelopak bunga ungu. Pandangannya kemudian menjauh luruh ke cakrawala, ah, kenangan..., kenapa seperti tak berjarak waktu. Antara kenangan masa kanak-kanak dan kegadisannya.

Kupu-kupu yang ternyata pesawat terbang melayang di balik kaca apartemen, membawa kenangannya entah ke mana, mungkinkah pulang mudik?

***

Menggelayut bersama kupu-kupu, kenangan itu, dalam keabadian waktu dan angin laut bersama aroma asinnya. Ah, aroma asin, keringat tak terasakan, basuhan atau sekaan atau elapan. Yang pasti pelukan, dekapan, desah napas.

Helaan, ah, menunggu, betapa sepinya oleh kenangan yang menggoda bersama angin nakal. Aroma asin yang terendus, terutama pada pertemuan air hulu sungai. Tempat ia biasa menunggu di kapal yang merongsok, mengingat bahwa inilah hulu sungai perbatasan dua desa yang berseteru. Bahkan Bie-Song berasal dari desa seberang, dan marena cinta ia menyeberang untuk bertaruh nyawa. Setelah pesta sedekah laut, mereka saling pandang, saling senyum, saling pandang senyum.

Mei-Hua tersenyum-senyum sendiri pada kaca apartemen.Namanya Bie-Song memang, dan namanya Mei-Hua memang, siapa bisa percaya mereka bisa dipersatukan oleh pertemuan air di hulu sungai. Bahkan, karena alasan reformasi mereka tak lagi pergi ke kota provinsi untuk kuliah, demonstrasi memang marak di mana-mana. Bahkan, setelah bentrok berdarah itu, lagi-lagi darah dan nyawa, padahal begitu pekanya mereka pada perkara kematian. Perseteruan berlangsung entah tujuh turunan, Bie-Song entah baru turunan ke berapa.

Terjelepak berdarah di kapal yang merongsok, Mei-Hua menemukan dan merawatnya. Lalu berjanji sehidup semati berumah di kapal rusak dalam keabadian perseteruan. Konon entah kapal siapa dan dari mana terdampar oleh badai, mungkinkah badai perseteruan di tengah lautan.Setelah semalam penuh aroma asin dan angin nakal, Bie-Song berenang ke seberang sungai.

Di pagi hari yang penuh camar, Mei-Hua melambaikan tangan ke kapal yang melaut dari pantai seberang sungai. Hingga kapal itu menajdi sebuah titik di pertemuan membiru antara cakrawala, lautan, dan langit tanpa batas. Melewati saat-saat menunggu yang sepi, setelah pelukan, dekapan, desah napas, ah... kesepian menunggu setelah yang bagai renggutan. Helaan bahwa mereka peka pada perkara kematian juga wanita membuat setia menunggu bersama bunga ungu di pasir dan kupu-kupu berwarna kuning, ah, hidup mati siapa bisa menduga.

Mei-Hua mulai belajar setia pada pohon nyiur, melambai batas cakrawala yang samar. Kemudian bertanya kepada bunga-bunga ungu, kenapa bahkan batang pohonnya tak mampu tegak berdiri, merambat di pasir pantai. Siapa bisa sigap menangkap isyarat perbedaannya, antar kesetiaan pohon nyiur dan keindahan bunga-bunga ungu.

Lalu kupu-kupu berwarna kuning, siapa yang bisa bersabar menjadi kepompong, sempurna puasa dan bertapa dari segala. Bahkan, siapa mau menjadi ulat, menjalani penderitaan dan kenistaan hidup. Akan tetapi, dari ulat yang menggiriskan, kepompong yang sunyi melompong, akan mejadi kupu-kupu makhluk terindah. Mei-Hua mematutkan diri di depan kaca apartemen.Tinggal mana yang ia pilih, hidup sebagai ulat, sebagai kepompong, atau sebagai kupu-kupu.

Ah, ia rela bersabar seperti kepompong asal kebahagiaan berkembang sesudah sunyi yang melompong. Bahkan ia bersedia menjadi ulat, sebelumnya, asalkan berakhir menjadi kupu-kupu dengan sayap-sayap bagai kisah bidadari. Dan jika ditawarkan pilihan untuk anak-anak turunnya, ia sanggup menjadi kepompong, atau sebelumnya ulat, asalkan anak-anak turunannya menjalani hidup sebagai kupu-kupu terindah.

Oh, apakah kehidupan bersama Bie-Song adalah penderitaan dan kenistaan sebagaimana ulat menjalani hidupnya. Sesudah itu bahkan ia harus menjalani sunyi melompong sebagai kepompong. Kesabaran menunggu yang sepi, ah, anak-anak turun yang dibayangkan bersayap bidadari, seperti kupu-kupu kuning mengembangkan sayap dari bunga-bunga ungu.

Angin yang menggelayut, seperti gelayuan antara impian dan kenyataan, seperti gelayutan kupu-kupu di kelopak bunga-bunga ungu. Seperti gelayutan janji setia sehidup semati entah sampai berapa turunan, perseteruan yang mempertemukan nyawa. Siapa bisa menduga dasar kelautan, batas cakrawala, perseteruan abadi atau sementara setelah besok pagi matahari bersinar sama dan ia kembali diuji kelihatnnya.

Pertemuan air di hulu sungai pun tak pernah berubah, hanya lumut yang semakin menghijau di musim penghujan. Oh, kenapa mesti ada batas, kenapa batas musti dicipta. Kenapa kotak....***IALAH karena perseteruan itu, entah bagaimana tanah batas hulu sungai, di tengah lautan. Tempat nelayan mengadu nasib antara hidup dan mati, justru mereka bertemu sebagai dua seteru. Itulah sebabnya sesekali kapal terdampar oleh badai, badai perseteruan darah dan di tengah lautan.

Entah bagaimana cakrawala menautkan lautan dan langit tanpa batas, bagaimana nasib ditautkan oleh dendam. Siapa begitu tergesa, di perkampungan nelayan anak-anak menangis pilu dan para wanita meratap. Kapal-kapal bergelayut di hulu sungai, berjaja berkereyot antara air dan angin, duka yang dalam dicari tambatan. Kesepian di depan kaca, yang terpampang pemandangan kota.Kapal datang, kapal pergi, tambatan kapal di hulu sungai menyikan jala.

Perempuan menjemur ikan asin, aromanya mengendus bersama bau kematian dan air mata. Tiang-tiang layar mengacu ke langit tanpa batas, oleng ke kiri dan ke kanan. tubuh-tubuh hangus dalam penantian panjang, nasib antara hidup dan mati dipertaruhkan. Anak-anak bersama sampan, menerjunkan diri ke sungai, tahu apa mereka tentang air yang mengalir dan mengombak. Badai jiwa seperti badai lautan, menjerit-jerit dan melolong-lolong dalam tangis kepedihan, setelah itu mereda. Angin bertiup sebagai sedia kala di tiang-tiang layar, perempuan-perempuan menjinjing plastik warna wartni beri ikan hasil melaut para lelaki.

Ember-ember plastik warna-warni, daster warna-warni dengan bawahan kain batik berbagai corak. Mereka berjalan dari perkampungan nelayan, melewati tempat pelelangan Ikan yang tutup di saat reformasi. Melewati jembatan hulu sungai yang dibiarkan rusak, menyusuri jalan beraspal.

Dan dari rumah orang tuanya, dari kamarnya di lantai dua, Mei-Hua melihat mereka berbondong-bondong ke rumah orang tuanya ini. Mereka akan menyetor ikan kepada orang tunya yang memiliki empat puluh buah kapal yang disewakan. Harus kepada orang tuanya, tidak kepada orang tua Bie-Song di kampung seberang jembatan yang konon sengaja dirusakkan pada saat reformasi mulai bergulir.

Saat yang tepat untuk Mei-Hua juga berdaster warna warni dengan bawahan kain batik, gelung rambut berkerudung hampir menutup wajah. Ia kemudian membaur dengan para wanita itu, mengikuti mereka yang beriringan pulang. Seperti hari-hari kemarin dan kemarinnya, Mei-Hua menyusuri jalanan tanah perkampungan nelayan, melewati jembatan bambu.

Mnyusuri tanggul tambak, selalu para katak melompat di pinggir-pinggir tambak, berubua menampakkan air jernih dengan kecebong-kecebong berkerubut. Lambat laun ada mata-mata di balik dinding bambu, berkesiap mereka, para vcenteng dari pihak orangtuany dan orangtu Bie-Song.Sampai hari yang telah ditentukan, mereka saling serang di kapal yang merongsok.

Tepat bersamaan sebuah perahu bertenaga motor meluncur meninggalkan hulu sungai, dengan Mei-Hua dan Bie-Song berpelukan bagai tak mau dipisahkan oleh darah dan nyawa sekalipun. Di dalam kaca apartemen Mei-Hua merasakan seperti ada yang berdesir kuat di kedalaman dadanya, ia semakin mendekap erat bersama kenangan yang bagai nyiur melambai-lambai.

Lalu bunga-bunga ungu dan kupu-kupu kuning itu, dan dirinya terkurung di sini, tak ubahnya kehidupan di dalam televisi. Ia menghela serangkum napas, seperti selalu ingin menghelakan setiap kenangan, terutama pada saat sekarang.Berada di ruang nomor seratus sebelas lantai empat belas, Mei-Hua sering termangu melihat ke luar jendela kaca. Bangun pagi, mendapatkan dirinya tidur sendiri.

Kota yang basah oleh gerimis mengisyaratkan kesepian yang lebih basah dari arimata, lebih biru dari langit tak berbatas. Seperti ada yang merenggut jantung hati dari kedalaman dada, bukan sekadar berahi, terasa meremas-remas. Ia berulang-ulang menghela serangkum napas, semakin mendekap kencang dadanya.
Dipencet-pencetnya remote-control, chanel televisi yang berubah-ubah dengan tayangan iklan-iklan saling bersaing tak mengubah suasana apa pun. Ya, televisi yang dihidupkan sepanjang hari, mengganti konser katak yang rampak dalam kenangannya.Konon jika ada satu katak tak seirama akan dibunuh secara bermai-ramai oleh katak-katak.

Mei-Hua tak bisa lagi menahan isak tangisnya, dibiarkannya chanel televisi swasta itu, sebuah lagu ketuhanan menyayat. Di balik acara itu Bie-Song bekerja tanpa ia bisa meneleponnya, bahkan melalui telepon seluler.

Kesepian dirasakannya benar-benar sempurna, ia merasa dirinya seperti katak dalam dunia kotak yang rasanya semakin menyempit dan mengurung dalam ruang kaca sebuah apartemen di tengah-tengah kota Jakarta, dengan televisi yang hidup sepanjang hari, mengganti konser katak yang rampak.

Terbayang di balik kaca katak-katak menyerbu kota, beramai-ramai membunuh setiap televisi....

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner