Rabu, 23 Februari 2011

Air Mata Cinta di Hari Valentine


Namaku Nicholas, teman-teman memanggilku Nicky atau Nick. Tahun 2010 ini aku tepat berumur 28 tahun.

Sebagai seorang pegawai kantor dengan jabatan asisten manajer, cukup banyak gadis yang tertarik kepadaku. Yah, mungkin karena uang, bila tak mau dibilang jabatan. Terlebih wajahku yang tampan, menjadi pendukung dan daya tarik tersendiri bagi wanita di sekelilingku.

Namun sepertinya mereka semua harus bertepuk sebelah tangan. Hal ini dikarenakan dari sekian banyak gadis yang mengenalku, hanya ada satu yang membuatku terpikat. Seorang gadis yang bekerja di gedung yang sama denganku, namun berbeda lantai dan perusahaan. Gadis yang telah bekerja sekitar dua tahun di perusahaan tersebut. Bekerja sebagai posisi keuangan dan masih berusia 25 tahun. Namanya Vania, sebuah nama yang indah, seindah pemiliknya.

Vania adalah kekasihku yang keempat, dan semoga, yang terakhir. Masih kuingat saat pertama kali aku tertarik pada lawan jenis adalah ketika aku masih berumur 15 tahun dan duduk di jenjang terakhir SMP kelas 3.

Usia yang masih sangat muda. Bahkan banyak yang bilang itu adalah cinta monyet. Aku tak peduli itu. Banyak teman-teman sekolahku yang juga sudah saling tertarik satu sama lain.

1997.

Aku termasuk murid yang tertutup dan lebih senang membaca dibanding aku harus bergaul dengan teman-teman. Saat itu awal tahun 1997, semester terakhir di SMP. Aku dipindahkan duduk dengan Kelly, gadis yang menjadi kembang sekolah karena kecantikan dan kebaikan hatinya. Tak hanya itu, Kelly juga bintang kelas di sekolah.

Banyak sudah teman yang mendekatinya, namun ditampik begitu saja oleh Kelly dengan alasan dia lebih mementingkan belajar. Sikap dinginnya itu tidak membuat dia dijauhi, namun sebaliknya, semakin banyak teman yang penasaran untuk bisa menaklukkan hatinya. Kelly sendiri tetap pada pendiriannya, takkan memilih siapapun juga untuk dijadikannya sebagai kekasih.

Ketika kami diharuskan duduk semeja berdua, aku sempat bergetar. Betapa tidak. Saat itu aku baru menyadari mengapa Kelly selalu dilirik dan didekati teman-teman di sekolah. Kecantikan yang dimilikinya, walaupun usianya baru 15 tahun, terpancar begitu indah, kulitnya yang putih terawat tanpa sedikitpun ada jerawat dan semacamnya, nyaris sempurna. Mungkin bila tetes air jatuh menitik di kulitnya, air tersebut pasti akan langsung menetes turun dengan cepatnya. Kulitnya yang halus. Rambutnya yang indah tergerai dan harum. Ditambah senyuman memikat yang dimilikinya, dengan lesung pipi yang membuat setiap lelaki yang memandangnya bagaikan terbang di angkasa.

Hampir setiap saat aku mencuri pandang wajahnya yang cantik itu. Posisi dudukku yang tepat di sampingnya bukanlah suatu kesulitan bagiku untuk melakukan hal tersebut. Hingga suatu saat...

"Nick..." Kelly memanggilku. Saat itu kelas kami sedang tak ada guru, sehingga kami mengerjakan tugas untuk pelajaran berikutnya tanpa diawasi guru.

"Ya," Aku meletakkan pen dan menengok memandangnya. Matanya yang indah menatapku tanpa berkedip.

'Aduh, cantik sekali...' Kataku dalam hati. Entah mengapa saat itu jantungku mulai berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Mau sampai berapa lama kamu curi pandang seperti itu?"

'Mati aku. Jadi dia tahu kalau aku mencuri pandang dia terus menerus?' Kataku lagi.

"Ng... Nggak... Nggak kok... Kata... Kata siapa?" Ujarku terbata-bata. 'Kenapa lagi nih? Kok jadi gugup gini sih...'

Kelly tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Nick, mata tak bisa berbohong lho..."

"Ahh..." Aku segera berpaling dan menutup kedua mataku. Sikapku itu membuat Kelly semakin tertawa lepas.

"Nick, kamu lucu..." Ujar Kelly diantara gelak tawanya. Tangannya entah disengaja atau tidak menepak punggung tanganku.

"Aduuhh..." Aku memekik walaupun tepakannya tidak sakit, tapi lebih mengarah ke pekikan kaget.

"Oh, sorry, sakit ya..." Kelly terhenyak saat menyadarinya. Tangannya menjulur memegang tanganku.

Perbuatannya hanya bisa membuatku semakin terbelalak saja. Jantungku semakin berdegup kencang. Andaikan jantung tak ada jaringan syaraf, mungkin saja sudah lepas dari tempatnya. Tanpa kusadari, refleks aku tarik lenganku dari pegangan Kelly.

"Ma... Maaf..." Ujarku sambil menunduk dan memalingkan wajahku.

"Eh, A... Aku yang minta maaf..." Kelly juga memalingkan wajahnya yang mungkin memerah saat itu.

Itulah pertama kalinya aku mengenal Kelly lebih dari sekedar seorang teman yang sudah saling mengenal sejak dari kelas 1 SD. Keakraban yang tak bertahan lama. Hanya sampai saat kami lulus dari SMP dan saat itu kami terpisah.

Orang tua Kelly meminta putrinya kembali ke Bandung untuk melanjutkan studinya disana. Selama ini Kelly tinggal menumpang di rumah neneknya. Namun tahun ini, nenek Kelly telah meninggalkan dunia, dan rumahnya diwariskan kepada anak sulungnya yang adalah paman Kelly, kakak dari mamanya.

Sejak kepindahannya ke Bandung, tak ada lagi kabar yang terdengar dari Kelly saat itu. Tahun 1997 adalah tahun dimana ponsel masih berupa barang langka yang mahal dan teknologi internet baru mulai dikenal di Indonesia.

Aku melanjutkan studi di sebuah SMA elit di Jakarta. Selama 3 tahun pendidikanku, aku jatuh cinta kepada seorang gadis teman sekelasku. Kehadirannya membuat kenanganku akan Kelly menjadi pudar dan menghilang.

Namun, entah apa yang terjadi. Hubunganku dengan Eva, temanku semasa SMA ini, tak bisa bertahan lama. Seperti halnya dengan Kelly, begitu kami lulus SMA, begitu pula kisah cinta kami terpisah. Orang tua Eva menikahkan putrinya dengan putra seorang jutawan yang telah dijodohkannya sebelumnya. Ketika putra hartawan tersebut pulang setelah selesai menamatkan kuliahnya di luar negeri, pertunangan mereka pun dilakukan. Karena Eva tak ingin aku merasa sakit hati, dia pun menyembunyikannya selama ini.

Tak selamanya yang disembunyikan itu akan aman tak terbongkar. Begitu mengetahui perihal sebenarnya, aku menjadi sakit hati dan sangat membenci Eva. Ternyata selama 3 tahun, dia memanfaatkanku bersama dengannya untuk mengisi kekosongan harinya selama menunggu tunangannya kembali ke Jakarta. Dengan begitu secara tidak langsung, Eva telah menghalangi dan mengecewakan teman-teman yang ingin mendekatiku.

Untungnya, kejadian tersebut tak membuatku gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke sebuah universitas terkenal di Australia. Paling tidak, selama 4 tahun aku kuliah disana, aku bisa melupakan sakit hatiku kepada Eva.

Entah karena wajahku yang memang tampan atau bagaimana. Di Australia, aku kembali berkenalan dengan banyak gadis yang tertarik kepadaku. Disana pula, aku menjalin hubungan dengan seorang dari mereka yang bernama Helen, seorang blasteran Indo-Belanda.

Hubungan kami lagi-lagi kandas di tengah jalan. Suatu malam, aku memergoki Helen berjalan dengan seorang lelaki lain di sebuah cafe. Sontak, akupun memutuskan hubunganku dengannya, tanpa memperdulikan tangisnya yang menurutku hanya tangisan dusta.

Tahun 2004, aku lulus kuliah di Australia dan kembali ke Jakarta. Mencari lowongan kerja di surat kabar menghabiskan waktu hampir dua tahun sebelum akhirnya aku mendapatkan posisi nyaman sebagai asisten manajer di kantorku sekarang berada. Setelah bekerja disana sini dengan segala lika-likunya, baru pekerjaanku sekali ini yang menjanjikan masa depan baik untukku.

Suatu hari, karena pekerjaan kantor yang banyak, aku terpaksa harus bekerja lembur. Bertiga dengan temanku, kami mengurung diri di kantor dan berkutat dengan pekerjaan kami yang menumpuk.

Meja kantor yang hanya dibatasi sekat antar satu personil dengan lainnya membuat kami mudah untuk saling berhubungan saat bekerja. Pada saat itu, kantor kami yang sudah memakai jasa pelayanan internet, banyak mempermudah pekerjaan kami.

"Nick, teman Friendster-mu sudah berapa?" Di saat sedang asyiknya bekerja, seorang teman yang duduk di sebelah mejaku berkata memecah keheningan.

"Wah, gak tau juga ya." Ujarku. "Terakhir aku buka sih masih seratusan orang..."

"Seratusan?" Celetuknya lagi. "Payah kau. Katanya lulusan luar negeri, tapi kok punya temen cuma seratusan?"

"Hahahaha..." Seorang teman lain tertawa mendengar perkataan itu. "Tio, Nick itu kan jarang mau bergaul, kutu buku gitu lho..."

"Kata siapa?" Aku menaikkan kacamataku yang turun hingga ke hidungku. "Lihat ya. Suatu saat nanti aku pasti akan menyaingi, bahkan melewati kalian..."

"Di Indonesia lebih mengenal Friendster sih. Coba kalau Facebook, belum tentu kalian ada sebanyak temanku." Kataku lagi. Tahun 2007, di saat budaya Barat sudah mulai menggunakan Facebook, Indonesia baru mulai mengenal situs Friendster.

"Bagus tuh..." Tio tertawa. "Buktikan kalau memang kamu bisa melewati kami!"

"Tentu!" Jawabku dan kembali menekuni pekerjaaanku.

Waktu menunjukkan sekitar pukul tujuh malam ketika pekerjaan kami semua selesai. Sambil merentangkan tanganku melepas penat, aku melirik ke layar komputer yang terpampang halaman depan Friendster.

"Eh, siapa ini? Sepertinya aku kenal deh." Gumamku saat mengenali sesosok foto di layar. Aku mendekat dan melihat lebih jelas lagi. "Ini sepertinya Amelia."

Amelia adalah salah seorang temanku semasa SMP. Aku mengarahkan panah mouse ke fotonya dan menekan mouse. Menunggu sesaat, akupun dibawa ke profilnya.

"Hmm... Iya, benar, ini Amelia." Ujarku lagi. Kutekan tulisan 'Add as Friend' untuk memintanya menjadi temanku.

Tanpa sengaja mataku melirik ke beberapa foto temannya.

"Hei..." Aku terperangah. "Ini..."

Jantungku mulai berdegup kencang saat itu. Betapa tidak! Salah satu foto temannya yang kulihat itu adalah foto seorang yang sangat kukenal. Orang yang telah kulupakan dan tak kuingat-ingat lagi. Siapa nyana, aku bisa bertemu dengannya lagi, walau hanya di dunia maya.

"Mudah-mudahan profilnya tidak dikunci." Gumamku sambil menekan panah mouse di fotonya.

Menunggu beberapa detik, aku pun dibawa ke sebuah halaman profil dan data. Namun apa yang ingin kucari tak kutemui.

"Ya sudah, aku add saja. Mudah-mudahan dia mengenaliku." Kataku.

"Nick, gak mau pulang nih?" Tio menepuk pundakku dari belakang. Tiba-tiba dia memajukan badannya melihat ke layar monitor di depanku.

"Wah, cewek cantik, pantas senyum-senyum sendiri dari tadi..." Gumamnya. "Kelly Monica."

Temanku yang satu lagi mendekat dan bergabung sambil tersenyum. "Mau cari cewek buat nyaingin Friendster kita kali..."

"Mau pulang? Ayolah..." Aku mengalihkan topik pembicaraan dan segera menekan ikon logout Friendster. Aku tak ingin Tio dan temanku melihat profil yang sedang kulihat itu lebih jauh. Sikapku itu membuat kedua temanku tertawa melihatnya.

================

Beberapa hari berlalu. Ketika kembali aku masuk ke Friendster, ternyata Kelly, gadis teman Amelia yang kutambah sebagai teman, menerima permintaan bertemanku. Tak hanya itu, di kolom testimoni khas Friendster, ada pesan yang ditinggalkannya.

"Hai, Nick. Lama tak jumpa. Ada dimana kamu sekarang?"

Aku segera membalas di kolom testimonial di profil Kelly. "Aku sudah ada di Jakarta. Kamu masih di Bandung?"

Begitulah. Sementara aku bisa berhubungan kembali dengan Kelly melalui dunia maya hingga suatu hari aku mengajaknya bertemu ketika pulang kerja.

"Aku sudah lama kembali ke Jakarta, Nick." Kelly berkata sambil menyedot minuman juice jeruk dari sedotan. "Sekarang aku sudah bekerja di toko yang kubuka sendiri."

"Oh ya?" Alisku terangkat. "Toko apa? Dimana?"

"Di Mangga Dua. Toko pakaian." Jawabnya sambil tersenyum.

'Gila. Lesung pipinya masih menawan.' Kataku dalam hati. "Lalu, masih nikah atau sudah single?"

"Hihihi..." Pertanyaanku membuat Kelly tertawa. "Nick, kamu masih lucu seperti dulu. Masih nikah atau sudah single? Memangnya kamu berharap aku single ya?"

"Kalau memang begitu, kenapa?" Tanyaku. "Aku begini-begini masih single lho."

Tertawa Kelly terlepas saat itu mendengar perkataanku.

"Lho kenapa?" Aku menatapnya dengan kening berkerut.

"Tidak. Tidak apa-apa." Kelly mengambil tisu di atas meja dan menutup bibirnya.

"Aku... Aku tertawa karena kamu masih single..." Ujarnya sesaat kemudian.

"Lho, apa ada yang aneh kalau aku single?" Tanyaku lagi.

"Nick, kamu kan tampan. Kalau kamu mau, banyak kok yang akan mau sama kamu." Jawab Kelly.

"Yah, kamu benar." Ujarku sambil memainkan jariku di mulut cangkir kopi yang kuminum. "Tapi semua wanita itu matrelialistik, hanya memandang uang dan jabatan."

"Tidak semuanya begitu kok, Nick." Sahut Kelly.

"Itu kalau kamu kan?" Imbuhku sambil menatap mata indahnya tak berkedip.

"Hihihi..." Kelly tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang masih sama seperti SMP dulu, putih dan terawat.

"Benar kan?" Tanyaku. "Masih single sampai sekarang?"

"Hmmm..." Cukup lama juga Kelly bergumam sebelum akhirnya dia menjawab. "Sebenarnya sih..."

"Iya..." Alisku terangkat menunggu lanjutan jawabannya.

"Aku sudah punya..." Jawabnya pelan. "Maaf ya, Nick."

"Oh begitu..." Aku menghembuskan nafas menahan kecewa. "Tak apa. Tak apa."

"Aku tak tahu dimana dirimu berada dan aku tak mungkin menunggu sampai selama ini kan?" Kata Kelly. "Umurku sudah 25 lho..."

"Memang sih..." Aku menghembuskan nafasku lagi.

"Jangan kecewa begitu dong, Nick." Kelly menyenggol lenganku. "Kamu masih bisa memilikiku kok."

"Maksudmu?"

"Ya, aku pernah dengar orang berkata begini." Kelly menatap lekat kedua mataku. "Dalam suatu hubungan percintaan, walaupun sangat dekat, namun rasa saling menghargai pasangannya tidak sebesar rasa menghargai seorang teman sejati."

"Teman sejati itu teman sehati. Dia akan selalu ada disaat suka maupun duka, senang maupun sedih. Tak pernah mengeluh dalam kesulitan. Selalu berada di sana sebelum dia dibutuhkan. Selalu memberikan pundaknya sebagai tempat menangis dan selalu menyadarkan sahabatnya di jalan yang benar."

"Semua itu jauh lebih terasa sebagai sahabat sejati dibandingkan sebagai pasangan. Mengapa? Karena dalam hubungan suatu cinta, bisa saja hubungan itu terputus dan berhenti. Namun persahabatan akan selamanya terjalin sampai maut menjelang."

"Itulah mengapa sebagian orang lebih memilih untuk bersahabat daripada berkomitmen." Lanjut Kelly.

"Jadi maksudmu kita jadi..."

"Sahabat." Ujar Kelly memotong kalimatku. "Sahabat baik. Sahabat sejati. Yang saling memperhatikan dan mengisi."

"Tapi..." Aku masih tak bisa menerima kenyataan ini.

"Nick, dalam persahabatan, ada sesuatu yang bisa dilakukan, dan sesuatu itu tak bisa dilakukan dalam berpasangan."

"Apa?" Tanyaku dalam suara malas.

"Sebagai sahabat sejati, tak ada rahasia yang tersembunyi di antara keduanya. Namun sebagai pasangan hidup, masih sering kali ada rahasia di antara mereka."

Aku masih diam termenung memikirkan perkataan Kelly barusan.

"Maaf, Nick." Kata Kelly lagi. "Kalau kamu mencintaiku, kamu pasti akan menerimaku sebagai sahabat sejatimu."

"Bagiku, seorang sahabat sejati jauh lebih berarti daripada pasangan hidupku. Sesuatu yang tak bisa kuceritakan kepada pasanganku, bukan tidak mungkin kamu sebagai sahabat sejatiku bisa menjadi tempat tersebut menggantikannya."

"Bagaimana?" Kelly masih tak berkedip menatap kedua mataku.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya aku mengangkat tanganku. "Oke, deal!"

"Deal!" Kelly mengangkat tangannya dan mengacungkan kelingking kanannya sebagai tanda persahabatan. Ketika kedua kelingking kami saling mengait, itulah tanda persahabatan kami dimulai.

Setelah janji persahabatan kami malam itu, entah kenapa perasaanku menjadi lega. Aku tak lagi merasa terikat dengan ketidakpastian selama ini. Dengannya pula, aku bisa membuka hatiku kepada gadis lain untuk mengenalku lebih dekat.

Kesempatan itu datang pada pertengahan tahun 2008. Vania, seorang gadis manis yang tak sengaja bertemu denganku di pintu masuk, menarik perhatianku. Itu kali pertamanya dia berada di gedung tempat aku bekerja, datang untuk memenuhi undangan wawancara. Aku masih sempat mengantarkannya hingga ke pintu masuk perusahaan yang berbeda lantai dengan kantorku tersebut, sebelum akhirnya aku pergi meninggalkannya.

Selang seminggu kemudian, aku kembali bertemu dengan Vania. Pagi itu kami mengantri untuk mendapatkan layanan lift menuju ke lantai atas.

"Lho, Vania?" Sapaku saat melihat gadis itu.

"Eh, Koko Nick..." Vania tersenyum membalas sapaanku.

"Wawancara lagi ya?" Tanyaku.

"Tidak dong. Aku sudah bekerja mulai hari ini." Jawab Vania. Senyumnya masih belum lepas dari bibirnya.

"Oh, selamat ya." Kujulurkan tanganku menyalaminya.

"Terima kasih, Ko." Vania menerima salam tanganku. "Koko di kantor apa?"

"Oh, di lantai 17." Kataku. Tepat saat itu lampu lift di depan kami menyala dan pintu lift membuka. "Mari."

Vania dan aku melangkah masuk ke dalam lift yang sama. Kami masih sempat berbicara beberapa saat ketika akhirnya aku meninggalkan kartu namaku kepadanya.

"Ini kartu namaku. Siapa tahu suatu saat kamu butuhkan." Kataku saat memberikannya kartu namaku.

Ketika aku bertemu dengannya lagi di tempat yang sama tiga hari kemudian, aku mencoba menawarkannya untuk makan siang bersama hari itu. Aku sudah bersiap untuk ditolaknya, karena tak selamnya usaha pertama kita akan berhasil. Siapa sangka, Vania menerimanya.

Sejak saat itu, kami pun semakin lama semakin akrab. Bahkan bukan saja kami sering makan siang bersama, namun kami juga sudah pulang bersama suatu sore. Beberapa minggu kemudian, ketika aku menawarkan diri untuk menjemput Vania, gadis itu kembali menerimanya.

Tak berapa lama kemudian, kami pun resmi menjadi pasangan. Aku masih sempat mengenalkan Vania kepada Kelly, seperti yang pernah aku janjikan kepadanya bahwa aku akan mengenalkan pasanganku padanya. Disana Kelly juga membawa pasangannya yang sudah kukenal terlebih dulu.

================

Menjelang akhir Januari 2011, aku mendapat kabar mengejutkan dari Kelly. Hubungannya dengan pasangannya putus tanpa alasan yang jelas. Kelly sendiri masih menyimpan kepedihan hatinya dariku. Sebagai sahabatnya, akupun tahu diri untuk tidak memaksanya.

Hingga suatu malam, Kelly memintaku menjemputnya dari tokonya. Waktu itu kebetulan aku sedang tugas di luar kantor, sehingga aku bisa langsung menjemputnya. Kepada Vania, aku memberitahukannya agar dia pulang sendiri hari itu. Namun selebihnya aku tidak menceritakan bahwa aku sedang bersama dengan Kelly.

Di kantin tempatnya bekerja, Kelly menceritakan alasannya, bahwa mereka tidak melanjutkan hubungan karena kedua orang tua pasangannya tidak menyetujui perbedaan agama mereka berdua. Selama ini keduanya selalu menyembunyikan dari orang tua kedua belah pihak.

Hari itu keluarga pasangannya datang melamar Kelly di depan kedua orang tuanya. Pada saat itulah, rahasia yang selama ini mereka tutup sebaik mungkin, terkuak di depan mereka semua. Kelly akhirnya memutuskan untuk berpindah agama demi pasangannya, namun pasangannya menolaknya. Sebaliknya dia yang memutuskan untuk berpindah agama demi Kelly. Namun ternyata niat mereka berdua ditentang habis oleh orang tua pasangannya.

Keadaan semakin genting saat di dalam emosinya, Kelly mendapatkan pasangannya membentak dan mencaci kedua orang tuanya. Kelly tak menerima kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu oleh pasangannya. Orang tua Kelly yang semua menyetujui kekasihnya, kini berbalik menentangnya. Akhirnya baik Kelly dan orang tuanya memutuskan kalau hubungan keduanya tak mungkin lagi berlanjut. Hal mana tentunya merupakan sebuah keputusan yang membahagiakan bagi orang tua pasangannya.

Aku tersentak mendengar penjelasan Kelly kepadaku. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku melihat gadis yang kini telah menjadi sahabatku itu menitikkan air matanya.

"Aku... Aku tak tahu lagi harus bagaimana, Nick..." Ujar Kelly dengan bibir bergetar berusaha menahan agar tangisnya tak meledak.

"Kel," Sepasang tanganku menjulur memegang kedua tangannya. "Menangislah bila kamu merasa itu memang perlu. Kalau kamu merasa itu bisa membuatmu lega. Aku sahabatmu, aku akan selalu ada untukmu..."

"Te... Terima kasih... Nick..." Bulir air mata Kelly kembali menetes dan membasahi punggung tanganku yang masih memegang jemarinya itu.

Entah bagaimana caranya, pada saat aku masih memegang tangan Kelly, tepat di hadapanku muncul sesosok tubuh yang tak ingin kulihat saat itu. Setidaknya aku tak ingin dia muncul disana sekarang, melihat aku memegang tangan Kelly dan menghiburnya.

PLAKK!!!

Sebuah tamparan mendarat dengan tiba-tiba di pipi kiriku.

"Koko! Tak kusangka! Ternyata dugaanku selama ini benar!" Sosok yang muncul mendadak dan menamparku itu membuatku melepaskan peganganku pada tangan Kelly. Kelly sendiri tersentak menyadari kehadiran mendadak sosok itu dan langsung saja Kelly menarik tangannya dari peganganku.

"Vania!!" Aku terbelalak melihat kemunculan yang tiba-tiba itu. Pipiku yang menjadi tempat tamparannya masih terasa pedas hingga membuatku mengusapnya. "Kenapa kamu bisa berada disini?"

"Kenapa aku tidak boleh berada disini?" Vania membentakku dengan mata membelalak dan kedua tangan dikacak pinggang.

"Mak... Maksudmu?"

Vania menggeleng. Kedua matanya mulai berkaca-kaca saat itu. "Aku sudah lama curiga padamu, Ko. Hari ini semuanya terbukti."

"Tunggu..." Aku berdiri dari dudukku. "Ini semua salah paham. Aku dan Kelly hanya sahabat."

"Mau berapa kali kamu membohongiku dengan kata-kata itu, Ko?" Ujar Vania. "Koko kira aku tidak tahu kedekatan kalian berdua seperti apa?"

Kelly, yang saat itu kuharapkan bisa membantuku menjelaskan semuanya, ternyata masih menunduk sedih, tak banyak bisa membantuku. Aku pun meraih lengan Vania.

"Lepaskan!!" Vania menampik peganganku.

"Vania, dengarkan dulu!!" Aku masih mencoba membujuknya, berharap Vania bisa memberiku kesempatan menjelaskan semua ini.

"Mendengarkan semua kebohonganmu? Iya?" Bentak Vania. Semua pengunjung kantin itu melihat ke arah kami. Sungguh kami saat itu bagaikan pemain sandiwara yang sedang ditonton dalam sebuah siaran langsung.

"Vania..."

"Cukup, Ko!! Aku tak mau dengar lagi!" Kata Vania dengan suara keras. "Kita putus!!"

BLEDAARRR!!!

"Kita putus!!"

Ucapan itu terngiang kembali di telingaku, walaupun saat itu Vania sudah membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu dengan merengut kesal. Entah kenapa aku juga tak berinisiatif mengejarnya. Hanya bisa terpaku dalam kebingungan mendengar dua kata yang menyakitkan itu.

Aku terduduk dengan lemas di hadapan Kelly. Orang-orang di kantin yang tadinya melihat kejadian itu, kini sudah kembali kepada kesibukan masing-masing.

"Nick. Vania, kenapa tidak kamu kejar?" Kelly mengangkat kepalanya dan perkataannya menyadarkan lamunanku.

"Ke... Kejar?" Terbengong aku mengikuti perkataannya.

"Iya, kejar dia. Mumpung dia belum jauh." Kata Kelly lagi. "Siapa tahu masih ada harapan?"

"Kamu bagaimana?" Tanyaku.

"Jangan pikirkan aku! Pentingkan Vania. Aku tak apa-apa disini." Ujar Kelly.

Akhirnya aku bangun dari tempat dudukku dan mengejar sesuatu yang tidak pasti arahnya. Entah kemana Vania menghilang. Aku berlari, berlari dan terus berlari. Namun, selain para pengunjung yang melihatku dengan tatapan mata bingung, aku tak melihat Vania sama sekali, begitupun bayangannya.

Tiba-tiba terpikir olehku untuk menghubungi nomor ponsel Vania. Kusambar ponsel dari saku bajuku dan menekan nomor tertentu.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan hubungi beberapa saat lagi." Terdengar suara operator yang menjawab panggilanku.

Aku menekan nomor lainnya. Hasilnya sama. Tidak aktif.

"Aaaarrrgggghhhhhhh!!!" Aku menjerit dalam keputusaanku. Kuremas rambutku, tanpa peduli ponsel yang masih kugenggam itu nyaris jatuh karenanya.

"Rumahnya!" Aku lantas berlari ke tempat parkir mobil dan menyalakan mesin untuk mengejarnya. Tak lupa aku menghubungi Kelly memberitahukan bahwa aku telah pergi dari tempat tersebut.

Ternyata Vania tidak pulang ke rumahnya malam itu. Walau aku telah menunggunya sampai larut malam, tak ada tanda-tanda kehadirannya akan pulang. Bahkan adik lelakinya keluar dari dalam rumah dan memberitahuku bahwa Vania malam itu tidak pulang. Dia juga tak mau menjawab dimana Vania berada malam itu. Akhirnya aku hanya bisa pulang dengan tangan hampa.

Malamnya, pikiranku galau dan tak bisa beristirahat dengan tenang. Tak tahan dengan semuanya, aku menyambar kunci mobil dan bertolak ke rumah Kelly.

Malam itu, aku menginap di rumah Kelly. Semua kepedihan yang kurasakan kuceritakan kepadanya. Kini ganti aku yang membutuhkan tempat mencurahkan semuanya.

Ketika keesokan harinya aku tiba di kantorku, aku menyempatkan diri ke kantor tempat Vania bekerja. Sayangnya, hari ini Vania tidak masuk kerja. Entah hilang kemana dia dari terakhir aku bertemu dengannya di rumah makan itu semalam.

Aku tak menyerah. Aku tetap mencari tahu Vania dan berharap untuk bertemu dengannya. Namun, Vania bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan kabar terakhir yang kudapat, dia memutuskan untuk berhenti kerja dan pulang ke Bangka, kampung halamannya.

Hilang sudah semua harapanku. Aku gagal total. Hubunganku dengan Kelly tak kunjung jadi, malah menjadi persahabatan. Di saat aku berharap aku bisa menjalin hubungan dengan Vania, justru semuanya menjadi berantakan hanya karena kesalahpahaman yang semestinya bisa dimengerti dan diterima.

Sore itu, hujan mengguyur kota Jakarta dengan derasnya. Aku mengemudikan mobilku tanpa peduli derasnya hujan yang turun. Kunyalakan radio di mobilku sekencangnya untuk mengusir kegalauan hati dan berharap bisa mengalahkan suara hujan di luar.

"Pendengar Radio Cakrawala, tak terasa Hari Valentine kembali datang menyapa. Apakah kita sudah menyiapkan diri kita menyambutnya?" Terdengar suara pembawa acara dari radio yang kunyalakan itu.

"Ada sebuah pepatah mengatakan, percintaan berasal dari persahabatan. Namun bila sudah mendapatkannya, kita tak boleh lagi memutuskannya. Apalagi sampai kembali lagi menjadi persahabatan. Namun bila ada yang mengalaminya, jangan bersedih, karena persahabatan itu selalu indah."

"Bagi pendengar, lagu ini menceritakan tentang sebuah hubungan percintaan yang berubah menjadi persahabatan. Inilah lagu persembahan dari kami untuk semua pendengar Radio Cakrawala, Shi Nian, Sepuluh Tahun, yang dinyanyikan oleh Eason Chan. Selamat mendengarkan!"

Begitu suara pembawa acara tersebut menghilang, sebuah alunan musik terdengar menggantikannya. Tak lama kemudian lagu tersebut pun dinyanyikan.


十年
shí nián
(Sepuluh Tahun)


如果那两个字没有颤抖
rú guǒ nà liǎng ge zì méi yôu chàn dô
我不会发现我难受
wô bù huì fā xiàn wô nán shòu
怎么说出口也不过是分手
zên me shuō chū kôu yê bù guò shì fēn shǒu

(Jikalau dia tidak mengucapkan kata-kata menggetarkan itu, aku takkan menyadari kesakitanku. Tak peduli bagaimana kita mengungkapkannya, hal ini hanya akan berakhir dengan putusnya hubungan).


如果对于明天没有要求
rú guô duì yú míng tiān méi yôu yāo qiú
牵牵手就像旅游
qiān qiān shôu jiù xiàng lü^ yóu
成千上万个门口总有一个人要先走
chéng qiān shàng wàn gè mén kôu zông yôu yī ge rén yāo xiān zôu

(Jikalau kamu bertanya tentang ketidakpastian esok, memegang tangan ini ibarat berkelana. Akan terdapat ribuan pintu, tapi seseorang harus keluar di tempat yang pertama).


怀抱既然不能逗留
huái bào jì rán bù néng dòu liú
何不在离开的时候
hé bù zài lí kāi de shí hòu
一边享受一边泪流
yī biān xiâng shòu yī biān lèi liú

(Andai kita tak bisa bersama dalam pelukan ini, mengapa tidak kita pisahkan saja kesenangan dengan penderitaan).


十年之前
shí nián zhī qián
我不认识你你不属于我
wǒ bù rèn shi nǐ, nî bù shû yú wô
我们还是一样陪在一个陌生人左右
wômen hái shì yí yàng, péi zài yī gè mò shēng rén zuô yòu
走过渐渐熟悉的街头
zôu guò jiàn jiàn shú xī de jiē tóu

(Sepuluh tahun yang lalu, aku tak mengenalmu, kamu bukan milikku. Kita adalah sama, berjalan berdampingan dengan orang asing).


十年之后
shí nián zhī hòu
我们是朋友还可以问候
wǒ men shì péng you hái kě yǐ wèn hòu
只是那种温柔再也找不到拥抱的理由
zhǐ shi na zhǒng wēn róu zài yě zhǎo bù dào yōng bào de lǐ yóu
情人最后难免沦为朋友
qíng rén zuì hòu nán miǎn lún wéi péng you

(Sepuluh tahun kemudian, kita menjadi teman. Kita masih bisa saling menjaga, tapi tidak menemukan alasan untuk berpelukan satu sama lain. Cinta kita telah kembali menjadi persahabatan).


直到和你做了多年朋友
zhí dào hé nǐ zuò le duō nián péng you
才明白我的眼泪
cái míng bai wǒ de yǎn lèi
不是为你而流也为别人而流
bú shì wéi nǐ ér liú yě wéi bié rén ér liú

(Setelah bertahun-tahun menjalin persahabatan, akhirnya aku mengerti bahwa, jikalau air mataku tidak disebabkan olehmu, aku pasti telah menangis untuk orang lain).


Aku tak lagi kuasa menahan air mataku saat lagu Shi Nian mengalun di telingaku. Pun aku tak sanggup untuk menutup telinga ini. Semua yang dinyanyikan Eason Chan, semuanya, terjadi padaku, selama hampir sepuluh tahun ini.

Sepuluh tahun pertama aku mengenal Kelly dan kami masih belum menyadari ketertarikan kami satu sama lain. Sepuluh tahun bertemu kembali, saat kami sudah saling menyadari dan berharap, keadaan justru memaksa kami untuk menjadi sahabat sejati.

Air mataku menetes deras seakan ingin bersaing dengan derasnya hujan di luar sana. Untungnya saat itu, aku hanya sendiri di dalam mobilku. Sendiri, ditemani lagu sendu ini.

Malam Valentine tahun ini terasa sendu. Sesendu hati dan perasaanku.


~TAMAT~
Cerita dan karya asli: Kaz Felinus Li.
Copyrights: ©HSG-February 2011


Cinta Yang Tak Pernah Padam

Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk.

Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah.

Betapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. "Operator," kataku pada bagian peneragan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?"

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit.

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!" "Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada." Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.

"Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. "Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut, "bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah."

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya," lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. "Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,......."

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ......katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael." Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?" Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini."

"Siapakah Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar." Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan." Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?" Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini."

Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang." Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya," kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya."

"Michael," kataku, "Ayo ikuti aku." Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan.

"Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?" Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. "Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah."

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!" Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka.

Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun.


Keajaiban Cinta Sejati

Kisah ini terjadi di beijing cina, seorang gadis bernama Yo Yi Mei, memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah.
Namun ia tdk pnh mengungkapkannya. Ia hanya slalu menyimpan didlm hati berharap tmnnya bs mengetahuinya sendiri.
Tapi sayang temennya tak pernah mengetahuinya,hanya menganggapnya sbg sahabat, tak lebih. Suatu hari Yi Mei mendengar bhw sahabatnya akan menikah, hatinya sesak tp ia tersenyum "aku harap kau bahagia"
Sepanjang hari yi mei bersedih, ia mnjd tdk ada semangat hdp. Tapi ia slalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya.

12 juli 1994.
sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yg akan segera dicetak kpd Yi Mei,
ia berharap Yi Mei akan datang.
Sahabatnya melihat Yi Mei yg menjadi sangat kurus dan tdk ada ceria bertanya "apa yg terjadi dgn mu, kau ada masalah?" yi mei tersenyum semanis mungkin "kau salah lihat, aku tak punya masalah apa2.
Wah contoh undangannya bagus,tp aku lbh setuju jika kau pilih warna merah muda lebih lembut" ia mengomentari rencana undangan sahabatnya.
Sahabatnya tersenyum "Oh ya..mmm aku akan menggantinya, trimakasih atas sarannya mei..aku hrs pergi menemui calon istriku hr ini, kami ada rencana melihat2 perabotan rumah..daah", Yi Mei tersenyum..melambaikan tangan, ia pulang dg hati yg sakit sgt sakit..

18 juli 1994.
Yi Mei terbaring dirmh sakit, ia mengalami koma.
Yi mei mengidap kanker darah stadium akhir, kecil harapan Yi Mei utk hidup.
Semua organnya yg berfungsi hanya pendengaran dan otaknya yg lain bisa dikatakan "mati" dan semuanya memiliki alat bantu, hanya muzizat yg bisa menyembuhkannya.
Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya, Yi Mei adalah tamu penting dlm pernikahannya, keluarga Yi Mei sendiri setuju memberikan "suntik mati" utk Yi Mei krn tak tahan melihat penderitaan Yi Mei..

10 desember 1994.
Semua keluarga setuju besok 11 des 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sdh ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yg mohon diberi kesempatan berbicara yg terakhir.
Sahabatnya menatap Yi Mei yg dulu slalu bersama, ia mendekat berbisik ditelinga Yi Mei..

"Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu2 ?
Kau tau,aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat wktu disekolah wktu kita dihukum bersama gara2 kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?
Apa kau ingat jg wktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari..
kau marah dan mendorongku hingga akupun kotor?

Apakah kau ingat aku slalu mengerjakan PR dirmh mu?
Aku tak pernah melupakan hal itu, Mei..aku ingin kau sembuh..aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu..
aku sangat suka lesung pipimu yg manis..
kau tega meninggalkan sahabatmu ini??
" Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei.

"Mei..kau tau..kau sangat berarti utkku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rmh skit ini..
aku ingin kau hidup..,kau kenapa???
Karna aku sgt mencintaimu.. Aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku..meskipun aku tau kau tdk mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup..aku ingin kau hidup..,
Mei tolonglah..dengarkan aku Mei..bangunlah !!" sahabatnya menangis, ia menggenggam kuat tangan Yi Mei.."aku slalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku..Yi Mei sembuh..sembuh total..aku percaya.

Bahkan kau tau aku puasa..agar doaku semakin didengar Tuhan.."
"Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat ! Kau sdh tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi..

Aku sangat mencintaimu..aku menikah hanya ingin membuat dirimu tdk lg dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yg slalu kau impikan..hanya itu Mei, seandainya saja kau mencintaiku..aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak perduli..tapi itu tak mungkin..Kau bahkan mau pergi dariku..sebagai sahabat"
sahabat Yi Mei mengecup pelan dahi Yi Mei, ia berbisik "Aku Sayang Kamu, Aku Mencintaimu" suaranya terdengar parau krn tangisan.
Dan apa yg terjadi..

It's amazing...............
"CINTA" bisa menyembuhkan segalanya, 7 jam stlh itu.
dokter menemukan tanda2 kehidupan dlm diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru2nya, organ tubuhnya bekerja.
Sungguh sebuah keajaiban, pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yg terjadi, dan sebuah muzizat lagi, masa koma lewat pada tanggal 11 desember 1994.

14 des 1994.
Saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara, sahabatnya ada disana.
Ia memeluk Yi Mei menangis bahagia. Dokter sangat kagum akan keajaiban yg terjadi,
"Aku senang kau bisa bangun..kau sahabat terbaikku" sahabatnya memeluk erat Yi Mei,
Yi Mei tersenyum "Kau yg memintaku bangun..kau bilang kau mencintaiku..taukah kau..aku slalu mendengar kata2 itu, aku berpikir aku hrs berjuang utk hidup.
"Lei..aku mohon jgn tinggalkan aku ya..aku sgt mencintaimu..
" Lei memeluk Yi Mei.."aku jg mencintaimu"..

17 Feb 1995.
Yi Mei dan Lei menikah.
Hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 org anak laki2 yg telah berusia 14 thn.
Kisah ini sempat gempar di Beijing.
Kisah Cinta Sejati yang luar biasa, saya yakin anda (pembaca) pasti juga memiliki Cinta Itu.
Temukan & rasakan Cinta yang luar biasa itu di dalam hidupmu.....
Selamanya......

Salam Cinta Penuh Kasih.

Selasa, 22 Februari 2011

Belahan Jiwaku

Oleh : Shine Huang


Seharum Bunga, semerbakmu damaikan jiwaku
Seakan dahagaku terpuaskan dengan bening ketulusan yang kau beri.
Jamahan lembut dekap erat tubuhku
Gigil yang sempat membalut raga, kini menghangat terasa.

Kau tambatan hatiku,
Belahan jiwaku,
Berjalanlah jajari langkahku, hingga tutup usia senjaku
Bersama rajut kasih penuh bahagia selamanya

Kau tambatan hatiku,
Belahan jiwaku,
Sederet bait puisi cinta, ku persembahkan hanya untukmu.
Dalam senyum indahmu, ku ukir abadi kata berbingkai rindu.




Sabarlah Menunggu Cintamu Hadir


Apakah Cinta itu?
Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai,menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik,akan memberi kesusahan
untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta,maka pasti ada alasan dibaliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam
waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan
pengharapan - penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.
Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.


.......(O̴̴̴̴̯͡ .̮ O̴̴̴̴̯͡)

Bila Cinta Tak Lagi Buta



Juliet akhirnya memilih mati. Ia menegak racun dan tubuhnya terkapar disisi Romeo... Yup! Bagi banyak orang, kisah Romeo dan Juliet adalah simbol kesejatian plus ketulusan cinta. Tapi lain hal dengan Leo. Menurut Leo, Juliet itu bodoh!

"Bukankah kebodohan terbesar di dunia ini adalah ketika seseorang memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri?" Ujar Leo, membela diri.

"Walaupun itu dilakukan atas nama cinta? sahut Led sambil mengerutkan kening.

"Ya," balas Leo sambil menerawang. Seolah ia melihat Juliet di atas langit-langit ruang dayaka di Padum.

"Kebodohan sampai kapanpun akan tetap menjadi kebodohan walaupun dilakukan atas nama cinta..."

"Lho, bukankah cinta itu memerlukan pengorbanan?" sanggah Led.

"Pengorbanan yang dilakukan tanpa logika adalah pengorbanan yang sia-sia. Terbukti, ketika Juliet memilih mati, kisah mereka berakhir. Coba kalau Juliet memilih hidup, mungkin kisahnya akan berakhir dengan bahagia".

"Lho, tapi khan, Shakespeare menginginkan Juliet mati."

"Tapi kematian Juliet bukan semata-mata karena rasa cintanya yang sejati, tapi semata-mata agar ceritanya menjadi menarik. Bukankah cerita yang berakhir dengan tragis akan lebih menarik? Sampek Engtay, Siti Nurbaya, misalnya..."

"Jadi pengorbanan Juliet bukan karena cinta sejatinya pada Romeo?"

"Sudah jelas, khan?"

"Trus apa artinya pengorbanan Juliet?"

"Bagi Romeo, pengorbanan Juliet nggak berarti apapun. Soalnya orang yang udah mati nggak mungkin merasakan cinta lagi. Tapi bagi kita, kematian dan pengorbanan Juliet bisa jadi pelajaran penting :
jangan sampai cinta itu membuat kita buta dan kehilangan logika!" Tegas Leo, sambil mengenang kembali peristiwa akhir tahun 2008 yang lalu, ketika seorang gadis bloon, mau membunuh diri demi mendapatkan hatinya.

Led mengangguk-angguk mesti ia belum sepenuhnya paham maksud Leo. Otak tuh anak emang sulit banget diterka jalan pikirannya. 'Kadang cara berpikirnya suka terbalik, tapi kalau dipikir-pikir ternyata ada benarnya juga.' dalam batin Led berucap.

"Heh, Pernah nonton film titanic, kapal tenggelem" tanya Leo.

Led mengganguk lagi, kali ini sambil menerka apa lagi yang bakal di bahas Leo.

"Cinta Rose kepada Jack pun nggak kalah tulus dengan cintanya juliet kepada Romeo. Tapi ketika Jack akhirnya mati, bukan berarti Rose lantas bubuh diri. Cintanya yang besar dan rasa kehilangan nggak membuatnya kehilangan kendali. Kendali itu tetap ada di otaknya. Itulah cinta sejati."

"Maksudnya ?"

"Kita selalu menyambut kedatangan orang yang kita cintai dengan mata dan hati yang berbinar-binar namun selalu mengiringi kepergiaannya dengan air mata dan keputusasaan. Cinta sejati adalah ketika kita menerima kepergiannya dengan ketulusan yang sama ketika kita menyambut kedatangannya. Karena pengorbanan terbesar adalah ketika kita harus tetap hidup sementara orang yang kita cintai telah mati..."

Jadilah Kehendak~Mu

Suatu hari seorang pria hendak menghantar putra tunggalnya ke sekolah. Sebelum berangkat, pria itu mengajak istri dan putranya berdoa seperti biasanya.
“Tuhan, hidupku, hidup istriku dan hidup anakku hari ini kuserahkan kepadaMU. Apapun yang terjadi pada hari ini terserah kehendakMu saja. Amin”
Saat dalam perjalanan menuju ke sekolah si anak, mereka mengalami kecelakaan yang merenggut kedua mata sang anak. Ibu dari anak itu begitu histeris dan ayahnya amat terpukul, tetapi si anak tenang-tenang saja.

Karena kedua matanya buta, anak tersebut tidak dapat melanjutkan sekolah. Ia hanya bisa tinggal dirumah dan bermain piano tua peninggalan kakek buyutnya. Selama bertahun-tahun ia hanya bermain piano hingga ia menjadi seorang pianis buta yang terkenal, namun selama bertahun-tahun itu pula kedua orang tuanya menyalahkan Tuhan atas kebutaannya.

Dengan penghasilannya sebagai seorang pianis, anak itu bisa menghidupi keluarganya dan mengangkat keadaan keluarganya yang dulunya serba pas-pasan. Ia bisa menikah dan memiliki anak-anak yang sehat.

Pada suatu hari, sebuah stasiun tivi swasta mewawancarainya dan keluarga. Ketika kedua orang tuanya ditanyai, mereka mulai melontarkan ketidak puasan mereka pada Tuhan. Mereka menyalahkan Tuhan yang mengambil mata anaknya padahal anak itu begitu cerdas dan menjadi kebanggaan mereka. Bagaimana mereka begitu berhemat agar si anak bisa terus sekolah walau sering kali mereka hanya bisa makan sekali sehari agar bisa membeli buku pelajaran. Mereka telah menggantungkan banyak cita-cita pada anaknya, namun Tuhan dengan ‘tidak adilnya’ merenggut penglihatan anak semata wayang mereka.

Mendengar itu, si anak lalu tertawa kecil dan mulai bicara “Tuhan itu sayang sama saya, tidak pernah sekalipun Ia berlaku tidak adil. Malam hari setelah kecelakaan itu, saya bermimpi bertemu Tuhan dan saya melakukan hal yang sama seperti ayah dan ibu. Saya mengeluh dan bertanya mengapa harus saya yang mengalami musibah ini. Mengapa Ia harus mengambil mata saya, tidak cukupkah kami hidup menderita dan kekurangan hingga penglihatanku juga harus diambil? Lalu Tuhan menjawab saya – ‘bukankah kamu dan kedua orang tuamu sendirilah yang berserah sesuai kehendakku? Sekarang saat aku berkehendak, mengapa engkau mengeluh?’ – Tuhan berdiam diri sejenak dan memandangku – ‘Tunggu dan rasakanlah, rencanaKu itu indah bagimu’ katanya lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkannya semua pada Tuhan.

Hidup kami dulu teramat susah, untuk makan saja sering kami kelaparan karena memaksakan diri untuk membayar biaya sekolahku. Ketika aku buta dan terpaksa berhenti sekolah, kami baru sedikit bisa bernafas. Piano tua warisan kakek yang tidak laku-laku dijual itu menjadi satu-satunya hiburanku, bahkan membawa hidupku hingga seperti saat ini. Coba bayangkan andai Tuhan tidak mengambil mataku, paling-paling aku menjadi pegawai rendahan seperti ayah dahulu.”

Si anak menghela nafasnya lalu berkata dengan penuh keyakinan, “Apapun yang terjadi saat ini adalah kehendak Tuhan yang indah. Oleh karena itu, hingga saat ini pun aku tetap berserah pada kehendakNya. Dan ketika Ia berkehendak, aku tidak akan mengeluh”
Hikmat MU tidak terselami ..maka jadilah kepadaku seperti apa yang KAU kehendaki... (O̴̴̴̴̯͡ .̮ O̴̴̴̴̯͡)

Percakapan Bayi Dengan Tuhan

Suatu pagi seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan,
Bayi : "Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil & lemah."

Tuhan : "Aku sudah memilih 1 malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."

Bayi : "Tapi di sini di dalam surga apa yang pernah kulakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya."

Tuhan : "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangantan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

Bayi : "Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?"

Tuhan : "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa paling indah yang pernah engkau dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkanmu bagaimana cara berbicara."

Bayi : "Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?"

Tuhan : "Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa."

Bayi : "Saya dengar bahwa di bumi banyak orang yang jahat, siapakah nanti yang akan melindungi saya?"

Tuhan : "Malaikatmu akan melindungimu walaupun hal itu akan mengancam jiwanya."

Bayi : "Tapi saya pasti akan sedih karena tidak melihatMu lagi."

Tuhan : "Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar dan sang bayi pun bertanya perlahan,
"Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?"
Jawab Tuhan,
"Kamu akan memanggil malaikatmu, IBU  (O̴̴̴̴̯͡ .̮ O̴̴̴̴̯͡) 





.

Sabtu, 19 Februari 2011

Pesan Terakhir

Aku telah berusaha datang kepadamu,aku berseru memanggilmu dengan segenap hatiku; dan ketika aku datang kepadamu, kulihat engkau datang kepadaku.

Kamar rumah sakit, tenang dan remang-remang,bagiku terlihat tidak nyata.Waktu berlalu lamban,sepertinya aku sedanng menonton tablo yang dimainkan di dalam gedung teater yang gelap.Sayangnya,yang kulihat itu nyata-saudara-saudaraku dan aku sendiri,tenggelam dalam pikiran masing-masing,duduk membisu memandang ibu kami yang duduk di samping tempat tidur ayah,menggenggam tangannya,dan berbisik lembut kepadanya meskipun ayah tidak sadar.Ayah kami, setelah bertahun-tahun dengan sabar menahan penderitaan karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan,sekarang sampai di akhir perjuanngannya.Pagi-pagi tadi,ayah kehilangan kesadaran.Koma.Kami tahu,saat ajalnya sudah dekat.

Ibu berhenti berbicara kepada ayah,kulihat dia memandangi cincin-cincin di jarinya sambil tersenyum lembut.Aku juga tersenyum,karena tahu ibu pasti membanyangkan ritual yang mereka mainkan selama empat puluh tahun menikah dengan ayah.Ibu,yang enerjik dan tak bisa diam,selalu keliru memasang cincin pertunangan dan cincin kawinnya.Ayah,yang tenang dan sabar,selalu meraih tangan ibu dan dengan lembut serta hati-hati membetulkan kedua cincin itu.Meskipun sangat perasa dan penuh cinta,sulit bagi ayah untuk mengucapkan kata-kata “aku cinta padamu,”karenannya dia mengungkapkan cintanya lewat hal-hal kecil,seperti itu selama bertahun-tahun.

Setelah diam beberapa lama,ibu berpaling kepada kami dan berkata lirih dengan suara sedih,”aku tahu ayah kalian akan meninggalkan kita,tetapi tiba-tiba dia tidak sadar sehingga aku tidak sempat mengucapkan pesan terakhir,bahwa aku mencintainya sampai kapanpun.”

Aku menunduk.Aku ingin berdoa,memohon mukjizat agar kedua orang tuaku  bisa mengungkapkan cinta mereka untuk terakhir kalinya,tetapi hatiku sesak dan kata-kata tak mau terucap.Sekarang kami hanya bisa menunggu.Malam semakin larut,satu persatu kami terlena,kamar semakin sunyi.Tiba-tiba,kami tersentak bangun.Ibu menangis.Takut bahwa yang buruk telah terjadi,kami bangkit berdiri untuk menghiburnya.Tapi,alangkah kagetnya kami melihat ibu ternyata menangis bahagia.Kami ikuti arah pandangannya,dia masih menggenggam tangan ayah,dan entah bagaimana tadi,tangan ayah yang satunya telah bergeser sedikit dan kini tertumpang di tangan ibu.

Ibu tersenyum sambil menangis dan berkata, “sesaat tadi dia memandangku.”Ibu berhenti berbicara,memandang tangannya lagi.”Lalu,”bisiknya dengan suara parau penuh perasaan,”dia membetulkan letak kedua cincinku.”

Ayah meninggal satu jam kemudian.Tetapi Tuhan,dalam kebijaksanaanNya yang abadi,maha mengetahui apa keinginan kita sebelum kita sempat berdoa memohon kepadaNya.Doa kami dikabulkan dengan cara yang akan selalu kami syukuri dan kami kenang sepanjang hidup kami.

Ibu sudah menerima pesan terakhir dari Ayah.

“Melewati tahun demi tahun aku akan berjalan bersamamu.Di dalam hutan yang lebat menghijau.Di pantai-pantai berpasir.Dan bila waktu kita di dunia sudah habis,di sorga kelak,kau akan tetap menggandeng tanganku.”

Rabu, 16 Februari 2011

Bila Cinta Tak Lagi Buta



Juliet akhirnya memilih mati. Ia menegak racun dan tubuhnya terkapar disisi Romeo... Yup! Bagi banyak orang, kisah Romeo dan Juliet adalah simbol kesejatian plus ketulusan cinta. Tapi lain hal dengan Leo. Menurut Leo, Juliet itu bodoh!

"Bukankah kebodohan terbesar di dunia ini adalah ketika seseorang memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri?" Ujar Leo, membela diri.

"Walaupun itu dilakukan atas nama cinta? sahut Led sambil mengerutkan kening.

"Ya," balas Leo sambil menerawang. Seolah ia melihat Juliet di atas langit-langit ruang dayaka di Padum.

"Kebodohan sampai kapanpun akan tetap menjadi kebodohan walaupun dilakukan atas nama cinta..."

"Lho, bukankah cinta itu memerlukan pengorbanan?" sanggah Led.

"Pengorbanan yang dilakukan tanpa logika adalah pengorbanan yang sia-sia. Terbukti, ketika Juliet memilih mati, kisah mereka berakhir. Coba kalau Juliet memilih hidup, mungkin kisahnya akan berakhir dengan bahagia".

"Lho, tapi khan, Shakespeare menginginkan Juliet mati."

"Tapi kematian Juliet bukan semata-mata karena rasa cintanya yang sejati, tapi semata-mata agar ceritanya menjadi menarik. Bukankah cerita yang berakhir dengan tragis akan lebih menarik? Sampek Engtay, Siti Nurbaya, misalnya..."

"Jadi pengorbanan Juliet bukan karena cinta sejatinya pada Romeo?"

"Sudah jelas, khan?"

"Trus apa artinya pengorbanan Juliet?"

"Bagi Romeo, pengorbanan Juliet nggak berarti apapun. Soalnya orang yang udah mati nggak mungkin merasakan cinta lagi. Tapi bagi kita, kematian dan pengorbanan Juliet bisa jadi pelajaran penting :
jangan sampai cinta itu membuat kita buta dan kehilangan logika!" Tegas Leo, sambil mengenang kembali peristiwa akhir tahun 2008 yang lalu, ketika seorang gadis bloon, mau membunuh diri demi mendapatkan hatinya.

Led mengangguk-angguk mesti ia belum sepenuhnya paham maksud Leo. Otak tuh anak emang sulit banget diterka jalan pikirannya. 'Kadang cara berpikirnya suka terbalik, tapi kalau dipikir-pikir ternyata ada benarnya juga.' dalam batin Led berucap.

"Heh, Pernah nonton film titanic, kapal tenggelem" tanya Leo.

Led mengganguk lagi, kali ini sambil menerka apa lagi yang bakal di bahas Leo.

"Cinta Rose kepada Jack pun nggak kalah tulus dengan cintanya juliet kepada Romeo. Tapi ketika Jack akhirnya mati, bukan berarti Rose lantas bubuh diri. Cintanya yang besar dan rasa kehilangan nggak membuatnya kehilangan kendali. Kendali itu tetap ada di otaknya. Itulah cinta sejati."

"Maksudnya ?"

"Kita selalu menyambut kedatangan orang yang kita cintai dengan mata dan hati yang berbinar-binar namun selalu mengiringi kepergiaannya dengan air mata dan keputusasaan. Cinta sejati adalah ketika kita menerima kepergiannya dengan ketulusan yang sama ketika kita menyambut kedatangannya. Karena pengorbanan terbesar adalah ketika kita harus tetap hidup sementara orang yang kita cintai telah mati..."


Salam Hangat,

Jadilah Kehendak~Mu

Suatu hari seorang pria hendak menghantar putra tunggalnya ke sekolah. Sebelum berangkat, pria itu mengajak istri dan putranya berdoa seperti biasanya.
“Tuhan, hidupku, hidup istriku dan hidup anakku hari ini kuserahkan kepadaMU. Apapun yang terjadi pada hari ini terserah kehendakMu saja. Amin”
Saat dalam perjalanan menuju ke sekolah si anak, mereka mengalami kecelakaan yang merenggut kedua mata sang anak. Ibu dari anak itu begitu histeris dan ayahnya amat terpukul, tetapi si anak tenang-tenang saja.

Karena kedua matanya buta, anak tersebut tidak dapat melanjutkan sekolah. Ia hanya bisa tinggal dirumah dan bermain piano tua peninggalan kakek buyutnya. Selama bertahun-tahun ia hanya bermain piano hingga ia menjadi seorang pianis buta yang terkenal, namun selama bertahun-tahun itu pula kedua orang tuanya menyalahkan Tuhan atas kebutaannya.

Dengan penghasilannya sebagai seorang pianis, anak itu bisa menghidupi keluarganya dan mengangkat keadaan keluarganya yang dulunya serba pas-pasan. Ia bisa menikah dan memiliki anak-anak yang sehat.

Pada suatu hari, sebuah stasiun tivi swasta mewawancarainya dan keluarga. Ketika kedua orang tuanya ditanyai, mereka mulai melontarkan ketidak puasan mereka pada Tuhan. Mereka menyalahkan Tuhan yang mengambil mata anaknya padahal anak itu begitu cerdas dan menjadi kebanggaan mereka. Bagaimana mereka begitu berhemat agar si anak bisa terus sekolah walau sering kali mereka hanya bisa makan sekali sehari agar bisa membeli buku pelajaran. Mereka telah menggantungkan banyak cita-cita pada anaknya, namun Tuhan dengan ‘tidak adilnya’ merenggut penglihatan anak semata wayang mereka.

Mendengar itu, si anak lalu tertawa kecil dan mulai bicara “Tuhan itu sayang sama saya, tidak pernah sekalipun Ia berlaku tidak adil. Malam hari setelah kecelakaan itu, saya bermimpi bertemu Tuhan dan saya melakukan hal yang sama seperti ayah dan ibu. Saya mengeluh dan bertanya mengapa harus saya yang mengalami musibah ini. Mengapa Ia harus mengambil mata saya, tidak cukupkah kami hidup menderita dan kekurangan hingga penglihatanku juga harus diambil? Lalu Tuhan menjawab saya – ‘bukankah kamu dan kedua orang tuamu sendirilah yang berserah sesuai kehendakku? Sekarang saat aku berkehendak, mengapa engkau mengeluh?’ – Tuhan berdiam diri sejenak dan memandangku – ‘Tunggu dan rasakanlah, rencanaKu itu indah bagimu’ katanya lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkannya semua pada Tuhan.

Hidup kami dulu teramat susah, untuk makan saja sering kami kelaparan karena memaksakan diri untuk membayar biaya sekolahku. Ketika aku buta dan terpaksa berhenti sekolah, kami baru sedikit bisa bernafas. Piano tua warisan kakek yang tidak laku-laku dijual itu menjadi satu-satunya hiburanku, bahkan membawa hidupku hingga seperti saat ini. Coba bayangkan andai Tuhan tidak mengambil mataku, paling-paling aku menjadi pegawai rendahan seperti ayah dahulu.”

Si anak menghela nafasnya lalu berkata dengan penuh keyakinan, “Apapun yang terjadi saat ini adalah kehendak Tuhan yang indah. Oleh karena itu, hingga saat ini pun aku tetap berserah pada kehendakNya. Dan ketika Ia berkehendak, aku tidak akan mengeluh”
Hikmat MU tidak terselami ..maka jadilah kepadaku seperti apa yang KAU kehendaki...

Rabu, 09 Februari 2011

Imlek Terakhir

 
Angel
masih tertidur pulas ketika panggilan telepon dari ibunya, terus
berdering di Hp nya. Setelah beberapa kali lelah berdering, panggilan
itu pun berakhir. Nenek angel sedang berada di sebuah klenteng,
bersembhayang untuk menghormati leluhurnya. Ia berharap angel datang
untuk menghormati leluhur orang tuanya yang telah meninggal 3 tahun
silam karena sebuah kecelakaan. Upacara itu dilakukan untuk merayakan
tahun baru imlek yang akan datang esok hari.


Setelah
lama beristirahat, angel bangkit mengosok giginya di kamar dan
memandangi dirinya di cermin. Rambutnya yang panjang terhelai lembut
berwarna merah. Wajahnya cantik, dan berkulit putih dengan mata sipit
yang memikat karena bulu matanya yang panjang. Tubuhnya juga cukup
tinggi sekitar 168cm. Angel telah melupakan hari buruk tersebut, kini
ia berkerja sebagai seorang public relation di sebuah rumah makan mewah.


Ketika
tubuhnya mulai hangat sehabis mandi, ia baru menyadari panggilan miss
call dari sang nenek yang kini menjadi satu satunya anggota yang ia
miliki. Ia pun menelepon balik sang nenek yang telah berusia 68 tahun.


"Napa nek?" Tanya angel

"Kamu datang dong. Nenek mau ajak kamu sembhayang di klenteng buat almarhum papa sama mama kamu, cepet nenek uda lama disini!"

"Aduh.. sabar dong. Angel juga baru bangun.. ntar nyusul de!" ujar Angel setengah hati

"Dasar
ya. Uda jam 10 masih belum bangun.. kalau nenek disana uda nenek siram
air kamu biar bangun. Anak perempuan kok kayak gitu!!"


"Uh.. iya iya! Angel kesana sekarang!"

Setelah
menutup telepon itu dengan perasaan sebal karena ocehan di pagi hari.
Angel pun keluar dari rumahnya untuk memanaskan mobil. Kemudian ia
mulai merasa bosan dengan mengingat apa yang harus ia lakukan di
klenteng. Menghirup polusi dupa yang akan menusuk hidungnya, belum lagi
dengan banyaknya orang yang antri menunggu ditempat ibadah tersebut.
Dengan setengah hati ia pun berangkat menuju klenteng yang terletak 1
jam dari rumahnya.


Di tempat lain.

Agnes
baru saja turun dari sebuah bus yang mengantarkannya dari sebuah
daerah. Ia terlihat asing ditempat barunya, dengan hanya memiliki
sebuah tas kecil ditangannya ia berjalan menelurusuri tempat yang
tertera di sebuah kertas yang ia pegang. Kemudian ia bertanya kepada
seseorang yang ia tak kenal disebuah jalan.


"Pak Maaf ya, boleh Tanya dimana ya pasar Glodok?"

"Oh.. naik aja angkot 41 atau naik busway jurusan roxy –kota lalu terusin ke stasiun kota.!"

"Oh.. makasih ya..!"

Sang
bapak tampak mengerti jika Agnes adalah seorang gadis yang yg merantau
mencari sesuap nasi. Lalu ia membiarkan agnes berjalan seorang diri
mencari tempat halte busway yang cukup jauh. Agnes adalah seorang gadis
yang melarikan diri dari orang tuanya yang memaksa ia untuk menikah
dengan seorang juragan kaya, ayahnya terlilit hutang yang cukup besar
sehingga ia merelakan putri cantiknya untuk menikah lelaki yang mungkin
sudah berkepala lima dengan 3 istri muda lainnya.


Tak
rela menjadi siti nurbaya di jaman modern, Agnes pun memilih untuk
melarikan diri. Ia memilih untuk lari kepada seorang temannya yang dulu
adalah rekan satu sekolah di kota asalnya , Surabaya. Lilis. Lilis
berdagang makanan khas cina di pasar glodok. Sekilas ada yang aneh
dengan wajah agnes. Tubuhnya mirip dengan Angel , sekilas mereka tampak
mirip, hanya rambut mereka yang berbeda warna. Bentuk wajah mereka
sedikit mirip namun sangat tidak masuk akal bila diperhatikan sekilas
sama.


Agnes
berhasil sampai di halte busway, dan kini ia mengikuti saran bapak tua
itu untuk mengantarkannya ke kota. Sepanjang perjalanan ia cukup was
was mengingat peringatan tentang bahayanya ibukota bagi pendatang
sepertinya. Pakaian yang seadanya dengan kaos putih dan celana jeans
cukup untuk membuatnya tampak wong ngedeso.


Di mobil Angel.

Angel
mengikuti saran neneknya untuk mengunakan kaos putih polos dengan
celana jeans untuk menghormati klenteng. Ia pun melaju mobilnya dengan
cepat. Tiba tiba terdengar suara telepon dari sang kekasih yang tinggal
di Singapore.


"Hei manis, mau imlek neh. Dapat angpao ga hehehe!"

"Ah kamu emangnya aku ini masih anak sd ya. Uda bukan jaman kali. Ga pulang ke Jakarta!"

"Mau dong.. kan mau ketemu kamu. Besok aku pulang dan ketemu sama orang tua aku, aku mau ngenalin kamu sama mereka!"

"Hm.. boleh. Pasti kan besok!! Soalnya nenek mau ajak aku pergi ke tempat saudara . !"

"Iya iya.. kamu lagi dimana sih?" Tanya sang kekasih bernama Hendra

"lagi di jalan.. nyetir!"

"Oh.. yauda kamu nyetir ya. Hati hati ok!"

"Sip..!"

Ketika
Angel mematikan teleponnya. Tiba tiba sebuah mikrolet merah melaju
cepat menutup pandangannya ia berhasil lolos dari mikrolet merah itu
namun ketika mikrolet itu menghilang. Dari arah depan muncul truk
container yang besar melaju kencang. BlAKKKKKKKK…


Mobil
Angel menabrak truk tersebut. Bensin membocori seluruh isi mobil dan
meledak seketika. Angel terbakar dalam kejadian tersebut. Ia sempat
melihat dirinya terhempas dengan darah yang mengalir diseluruh
kepalanya, dan


BOOM.. Mobil meledak seketika.

Masyarakat bekerumunan mendekati Angel. Wajahnya terbakar dari arah luar. Tubuhnya masih terlindungi. Dan ia pun kritis.

Di lain tempat.

Agnes
berhenti di halte busway kota. Ia sempat bingung dengan laju tempat
yang ia turuni. Ia merasa tidak yakin karena arah dua mobil yang saling
menyelempet. Tiba tiba seseorang laki laki menarik tasnya. Ia berteriak
histerik kepada orang tersebut. Namun tidak ada yang peduli ketika ia
berkata maling telah mengambil tasnya. Karena tak ingin kehilangan
alamat dan uang ditasnya. Ia pun berlari mengejar maling itu seorang
diri.


Maling
itu melaju dengan lihai di jalan yang dipadati oleh mobil dengan cepat.
Angel tak menyadari ketika ia mengejar maling tersebut. Sebuah mobil
kijang melaju dengan cepat. Ketika ia berbalik melihat sebuah mobil
melaju. Ia berusaha menghindar dan sebuah mobil lain dari arah
berlawanan melaju dengan cepat. Dan terhantamlah wajahnya hingga ia
terpental hingga 5 meter jauhnya. Yang tersisa dari kecelakaan tersebut
adalah sebuah luka besar di kepala dan wajahnya.


Sebuah
ambulans datang melaju dengan cepat. Dua ambulan tersebut membawa Angel
yang sekarat dengan luka bakar. Satu lagi membawa Agnes yang mengalami
pendarahan cukup besar di kepalanya. Unit gawat darurat rumah sakit
tersebut dipadatin oleh banyak pasien sakit tidak seperti biasanya.
Dokter membuat keputusan untuk menyatukan beberapa pasien dalam satu
ruangan. Angel dan Agnes pun disatukan dalam sebuah ruangan. Dokter
belum datang, karena sibuk dengan pasien lain.


Suster
yang bertugas juga harus bergiliran. Hingga mereka tak menyadari kedua
orang itu berada dalam satu jarak yang hanya 1 meter. Suster membuka
pakaian keduanya. Dan menyatukan dalam sebuah kesalahan besar.
Kesibukan membuat ia meletakkan pakaian Angel di tempat Agnes, dan
pakaian Agnes di tempat Angel. Pakaian tersebut telah penuh dengan noda
darah sehingga tak akan ada yang menyadari kesalahan tersebut. Dan
keduanya pun dibawah ke dua ruang berbeda untuk diperiksa.


Beberapa
jam kemudian keduanya ditangani oleh dokter. Sayang nasib Angel buruk
karena fatalnya kecelakaan, ia pun meninggal saat diperiksa. Sedangkan
Agnes tak sadarkan diri. Dokter pun menganalisis gegar otak yang
dialami agnes mgkn akan membuatnya amnesia. Dan dokter tidak bisa
memprediksi kapan agnes akan sadar, ia pun memutuskan mengoperasi wajah
pasien yang rusak karena hantaman mobil disaat itu juga.


Kesalahan
besar dokter terjadi ketika mereka salah memasukan nama keduanya yang
tidak mempunyai status. Dokter mencoba mencari jati diri keduanya,
tertukarlah keduanya ketika dokter menemukan ktp milik Angel terjatuh
di pakaian Agnes. Dan yang mereka tau hanya satu, Angel selamat dan
yang meninggal adalah Agnes. Dokter menghubungi keluarga Angel yang
disambut histeris oleh sang nenek yang segera menuju rumah sakit.


Sedangkan
jasad Angel asli dibiarkan hingga ada yang mencarinya. Media massa
membantu kasus ini cepat menyebar. Orang tua Agnes pun dipanggil untuk
melihat kondisi putrinya segera dari Surabaya. Tangis mengiringi
kematian sang putri mereka. Walau sesungguhnya Agnes asli masih hidup.
Namun untuk sementara wajahnya ditutupi oleh perban untuk menjaga hasil
operasi yang dokter lakukan. Nenek bersuka cita melihat sang cucu
berhasil selamat dari kecelakaan tersebut tanpa tau cucu aslinya telah
mati.


Segera
jasad Agnes palsu dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan. Nenek pun
memindahkan sang cucu dari rumah sakit tersebut ke yang lebih baik.
Semakin jauhlah kenyataan yang tidak akan pernah mereka kira. Dokter
bedah plastic terbaik pun dipanggil untuk mengembalikan kecantikan
Angel palsu tersebut yang masih tak sadarkan diri setelah kejadian naas
tersebut.


***

1
bulan kemudian, mujizat itu datang, Angel tersadar dari tidur
panjangnya. Ketika ia bangkit dari tidurnya. Wajahnya masih diperban
nyaris seperti mumi. Yang berdiri disampingnya adalah sang kekasih
Hendra, dengan setia pria itu menjaga sang kekasih yang ia cintai,
bahkan ia berhenti bekerja untuk itu.


"Angel kamu sudah sadar, thks GOD!" teriak Hendra

Angel menatap wajah pria itu dengan kebingungan, ia tak ingat siapa pria disampingnya.

"Kamu
pasti lupa sama aku, aku Hendra. Pacar kamu. Kata dokter kamu hilang
ingatan. Tapi kamu jangan takut. Seiring waktu ingatan kamu pasti
kembali!!" jelas Hendra


Angel
tak menjawab penjelasan pria berusia 28 tahun tersebut, ia masih
berusaha memperhatikan dirinya. Dan kemudian waktu pun berjalan. Angel
tak pernah bicara hingga perban di wajahnya terbuka. Sedikit perubahan
yang mencolok dari wajahnya, namun dokter mengatakan wajah Angel tidak
mungkin cantik seperti dahulu, yang mereka lakukan adalah yang terbaik.
Nenek dan Hendra tidak peduli akan itu. Mereka tetap bersyukur orang
mereka cintai selamat dan bisa berkumpul kembali.


Angel
mengeluarkan satu kata pertamanya ketika ia tiba dirumah besar milik
sang nenek. Ia bahkan tak ingat siapa orang disampingnya. Namun kasih
sayang akhirnya menyadarkan ia bahwa mereka adalah orang baik. Ia pun
mulai terbiasa dan mulai berbicara dan suaranya yang asli medok
Surabaya memang sempat mengagetkan sang nenek dan Hendra. Namun dokter
berdalih, bahwa suster yang merawat Angel sering mengajak Angel bicara
sehingga secara naluri suster asal Surabaya yang berbahasa medok asli
suroboyo itu mengalir dan membentuk karakter pada Angel.


Satu
kesalahan tersebut tertutupi, kehidupan pun berlanjut, Angel merasakan
kebahagian bersama keluarga barunya. Sang kekasih yang begitu mencintai
dan memberikan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan membuat ia
semakin mantap melanjutkan mimpi yang pernah dikatakan oleh Angel asli.
Segera menikahi sang kekasih. Dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk
menikah pada saatnya.


Suatu
ketika Angel termenung di ruang tamunya. Ia memperhatikan sesosok pria
bernyanyi dengan indah. Sosok pria itu sedang mengikuti sebuah kontes
bintang. Dan pria itu mewakili daerah Surabaya. Dan kenyataan
sesungguhnya pria itu adalah mantan kekasihnya. Angel beberapa kali
mengalami sakit kepala ketika melihat nama pria itu disebut


Agus.. Agus. Agus.

" siapa pria ini, mengapa ia begitu membuat aku ingin berjumpa dengannya!" ujar Angel dalam hati.

disebuah makan malam.

Nenek
sesungguhnya mulai merasakan keanehan pada cucunya. Angel tidak pernah
mencuci piring ataupun menyapu seumur hidup tinggal bersamanya.
Anehnya, cucunya yang sekarang begitu rajin, setiap selepas makan ia
akan selalu membersihkan piring yang kotor. Menyapu setiap paginya,
bahkan menyirami taman rumah mereka. Namun nenek yang tulus dan
kesepian itu tidak ingin kehilangan lagi orang yang ia cintai. Dan ia
pun mulai bicara dengan cucunya disaat makan malam.


"Angel, kamu coba ini enak loh parenya!"

"Boleh.,!"

Angel
malahap pare tersebut dengan terus meminta tambahan yang banyak. Sang
nenek meneteskan air mata ketika melihat Angel begitu menyukai makanan
pahit tersebut. Neneknya tersadar, orang yang duduk disampingnya
bukanlah cucunya. Cucunya yang asli tidak bisa menikmati makanan pahit,
tubuhnya akan alergi dan akan muntah. Walaupun Angel kehilangan ingatan
ia tidak akan kehilangan penyakit lamanya.


"Nenek , kenapa nenek nangis!?" Tanya Angel

"Ga
pa pa, nenek hanya terharu . ntah kapan nenek bisa melihat kamu makan
bersama nenek lagi kelak,, nenek sudah tua dan mungkin tidak akan
memiliki waktu indah ini lagi!"


Angel
tersentuh oleh kalimat tersebut. Ia pun memeluk penuh kasih sang nenek
yang setia menjaga dan merawatnya sejak dulu. Di malam hari sebelum
tidur sang nenek berdoa pada Tuhan


"Mungkin
dia bukanlah cucu yang nyata bagiku, namun dia adalah surga terakhir
yang kumiliki Tuhan. Aku tidak akan pernah rela kehilangan lagi orang
yang aku sayangi. Izinkanlah hambamu ini untuk sekali saja merayakan
satu tahun imlek bersamanya dan kembalikan lah cucu yang nyata bagiku
dalam keadaan apapun aku siap menerimanya, dan lenyapkanlah misteri ini
dari hidupku"


Angel
menjadi fanatic terhadap tayangan reality show pemilihan penyanyi idola
yang tardapat mantan kekasihnya. Ntah mengapa setiap melihat sosok itu
ia mulai teringat tentang masa lalu yang jauh dari pikirannya tentang
sebuah kota. Yang ia ingat selalu satu. Ia berlari disebuah desa yang
penuh dengan rumputan hijau. Kemudian bermain air di tepi sungai.
Kemudian menaiki sepeda bersama sosok yang ada dilayar telivisi
tersebut. Namun ia berpikir itu hanya ilusi yang berlebihan karena
terlalu mengidolakan pria tersebut.


Pernikahan
Angel dan Hendra semakin dekat. Mereka semakin bahagia menyambut
pernikahan tersebut. Namun disatu sisi Angel mulai merasakan keanehan
setiap harinya. Ia mulai bicara tentang desa indah yang dikira adalah
sebuah khayalan oleh sang kekasih. Angel terus bicara dan membuat
Hendra menjadi penasaran tentang tempat itu. Hingga pada suatu hari.
Tayangan televisi reality show yang menayangkan Agus mantan kekasih
Agnes mulai menayangkan sosok tempat tinggal Agus di desanya di
Sidoarjo dekat dengan Surabaya.


Disaat
itu Angel dan Hendra sedang menonton televisi bersama. Hendra terpanah
ketika Angel berteriak histeris kalau desa itulah yang ada di dalam
khayalannya. Desa itu adalah tempat ia bicarakan setiap saat. Hendra
tersentak dan mulai berpikir tentang Angel yang ia kenal tidak lah
pemimpi yang hidup untuk berdongeng padanya setiap hari. Hendra semakin
penasaran. Begitu pula Angel, dia penasaran dan berharap Hendra mau
mengantarkanya ke tempat itu.


Ajang
pemilihan penyanyi idola tersebut berhasil membawa nama Agus keluar
sebagai juara. Angel dan Hendra bahkan datang khusus untuk menyaksikan
final tersebut di tempatnya. Sang pembawa acara bertanya pada Agus
tentang kemenangan. Agus berujar sambil berlinang air mata.


"Kemenangan
ini kupersembahkan untuk sang kekasih yang telah tiada, Agnes. Dan
setelah kemenangan ini hal pertama yang akan aku lakukan adalah melayat
pada dirinya. Memberikan cerita mimpi yang menjadi kenyataan"


Suara
lantang yang terdengar besar dari kisah sedih Agus sontak membuat Angel
terperangah. Jiwanya gusar, ingatannya yang hilang begitu dalam.
Bangkit dan menyadarkan ia akan siapa dirinya. Ia menatap wajah Hendra
yang tampak bingung dengan Angel yang berlinang air mata.


"Hendra bisakah kamu antarkan aku ke rumah sakit dimana aku pernah dirawat"

Hendra
tak bertanya apapun, ia segera menuju rumah sakit itu, Angel meminta
data kejadian secara lengkap tentang peristiwa naas tersebut. Menurut
catatan , ada satu pasien yang seruangan denganya. Dan pasien itu telah
meninggal bernama Agnes. Hendra mulai menyadari satu hal yang tak ingin
ia percayai, Angel menatapnya dengan penuh kesedihan dan berujar.


"Aku bukanlan Angel yang selama ini kamu pikirkan. Aku adalah Agnes , Angel dan aku tertukar ketika berada dalam satu ruangan"

Hendra
menatap wajah Angel dengan penuh tangis. Mereka berpelukan dengan penuh
haru. Nenek datang secara tak sengaja juga karena ingin tau misteri
kejadian yang terjadi saat cucunya dirawat dirumah sakit. Ia melihat
Angel dan Hendra saling berpelukan. Dan Hendra pun menatap sang nenek
dengan penuh perasaan sedih. Nenek telah menyadari apa yang seungguhnya
terjadi. Dengan ikhlas ia berkata satu hal


"siapapun dia, dia adalah bintang bagi sinar kebahagiaan nenek"

"Dan dia adalah orang yang penuh kasih dan kehangatan bagiku " Timpa Hendra

Angel
pun akhirnya menjadi Agnes. Agnes kembali ke Surabaya dan keluarganya
seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Mayat Angel
asli yang telah dimakamkan penuh kasih di daerah lahirnya , Sidoarjo
bukanlah putri sesungguhnya. Air mata bahagia terselimuti diantara
keluarga tersebut. Kemudian muncul Agus yang datang khusus untuk
melihat keluarga Agnes. Ia pun mendapatkan kebahagian setelah
mendengarkan misteri yang terungkap. Suka cita bahagia terselimut bagi
siapapun yang mengenal Agnes.


Sedangkan
dilain tempat, Hendra dan nenek datang ke desa yang tak pernah mereka
pikirkan. Berdiri menatap sebuah batu nisan indah dengan mawar merah
terhempas di atasnya. Setidaknya mereka telah menerima semua ini dengan
ikhlas . kepergian Angel sungguh sedih, namun kehadiaran Agnes dalam
hidup mereka telah menutupi kesedihan yang seharusnya terjadi.


Mereka
pun merayakan hari besar imlek bersama keluarga Agnes. Di sebuah kota
yang tak pernah mereka pikirkan. Dan kini Agnes adalah Angel bagi
keluarga nenek dan Hendra. Dan tahun baru tersebut pun berlalu dengan
keceriaan tuk melupakan kesedihan yang pernah ada.


Untuk semuanya hapuskan air mata di tahun yang berlalu, berikan kan senyuman indah bagi tahun yang akan datang.
 

Shine Huang. Design By: SkinCorner