Senin, 25 Oktober 2010

Jika Aku Mencintaimu


Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifat apa adanya yang alami dan menyukai perasaan hangat yang muncul ketika saya bersandar di dadanya yang bidang. 3 tahun masa pacaran dan 5 tahun masa-masa pernikahan hingga saat ini. Sekarang saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang tak menakjubkan lagi.

Saya seorang wanita yg sentimentil, benar-benar sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Sering saya berfantasi dan membayangkan suami saya bisa menjadi seperti pria-pria romantis di­ film-film, bahkan membanding-bandingkannya dengan mantan pacar-pacar yang terdahulu. Namun suami saya bertolak belakang, rasa sensitifnya kurang, ketidakbecusannya menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta. Dia orang yang terlalu apa adanya & jauh dari romantis. Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Aku lelah, kamu tak pernah mau mengerti keinginanku”, jawab saya. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, ” Apa yang dapat aku lakukan untuk merubah pikiranmu?”

Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya. ” Aku punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya, aku akan merubah pikiranku”. Saya menatap matanya dalam-dalam dan berkata “Seandainya, aku menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung curam & kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untukku?” Dia terdiam cukup lama dan berkata, “Aku akan memberikan jawabannya besok.” Huuh…Hati saya jengkel sekali mendengar responnya.

Esok paginya, dia tak ada dirumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya dibawah sebuah gelas berisi susu hangat yang bertuliskan : “Istriku Sayang… ‘AKU TIDAK MAU MENGAMBILKAN BUNGA ITU UNTUKMU’, tetapi ijinkan aku untuk menjelaskan alasannya.” Ya TUHAN, jawabannya itu menghancurkan hati saya. Saya lanjutkan untuk membaca kembali :
“Kamu sering mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PCnya hingga akhirnya menangis didepan monitor, aku harus memberikan jari-jariku supaya aku bisa menolongmu untuk memperbaiki programnya. ”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak rumah, membuka pintu untukmu. ”
“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, aku harus menjemputmu, atau memberikan mataku mengarahkanmu saat kamu menyetir mobil. ”
“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu yang pegal. ”
“Kamu senang diam didalam rumah, dan aku kuatir kamu akan jadi “aneh”. Sehingga aku harus memberikan mulutku untuk ceritakan humor dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu. Serta mengajar banyak hal tentang berita-berita perkembangan dunia, agar kamu bisa terus mengikutinya. ”
“Kamu senang membaca banyak buku dan itu tak baik untuk kesehatan matamu, aku harus menjaga mataku agar saat kita tua nanti, aku masih dapat menolong menggunting kukumu dan mencabuti ubanmu, atau memegang tanganmu menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir laut yang indah, menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar indah seperti wajah cantikmu. ”
“Sayangku, aku begitu yakin tak ada orang yang lebih mengenalmu selain diriku dan tak ada yang mencintaimu lebih dan aku mencintaimu. Aku ingin menjagamu dan bersamamu selalu. Karena itu, aku tak akan mengambil bunga itu lalu mati & tak bisa lagi bersamamu… aku ingin menemanimu seumur hidupku, hingga usai masa, hingga akhir segala sesuatu, percayalah…aku mengasihimu lebih dari yang kamu duga!”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya, membuat tintanya menjadi kabur. Saya terlalu menuntutnya menjadi seorang yang bukan dirinya. Lalu, saya membaca kembali, “Dan sekarang sayangku, jika kamu telah selesai membaca jawabanku, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti bakar kesukaanmu?”

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan saya tahu harus melupakan “romantisme film-film? itu sendiri. Saya berjanji takkan pernah lagi memaksanya memetik “bunga” itu, saya akan mencintai cintanya yang tulus, jujur dan apa adanya meski terlihat kurang romantis.

Itulah kehidupan, ketika seseorang dikelilingi cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dalam perkawinan, karena sering kita mengabaikan pengorbanan-pengorbanan kecil sehari-hari dan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian. Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sederhana, sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tak berbentuk dan bisa juga dalam bentuk yang tidak kita ingini.

Bunga, perhatian, saat-saat yang romantis, sapaan lembut, dsb, hanyalah bentuk awal dari suatu hubungan jangka panjang. Diatas semuanya itu, pilar cinta sejati berdiri kokoh justru melalui pengorbanan-pengorbanan kecil setiap hari, pengorbanan-pengorbanan sederhana yang jarang kita sadari dan hargai keberadaannya, namun sungguh bermakna.

Cintaku Ini Adalah Luka


Hari ini hitam, seperti malam. Pekat tak mau beranjak cahaya. Tubuh siapa bulan itu, yang wajahnya selalu kuingin: segalanya cukup, tak terang seperti terik matahari. Suara siapa sepi itu, yang damainya selalu kuharap: tak ada resah. Cinta siapa yang tak membuat luka? Aku tak tahu sebab semua cinta adalah luka.

Di ujung malam aku diam sebab hening itu yang kuingin. Segalanya lebih baik bisu. Biarlah kata disimpan bibir rapat. Aku tak butuh huruf-huruf yang kupahami sebagai perih. “Hei, kenapa kau lanjutkan kisah asmaramu jika pengkhianatan cinta dan sakit hati yang kau dapatkan?

Bukankah perjalanan cintamu yang dulu-dulu adalah sapaan Tuhan agar engkau berkaca? Kenapa tak kau pakai cermin itu? Atau engkau telah buta oleh cinta pada perempuan yang kini akhirnya menyakiti perasaanmu dan mengkhianati janjimu?” Tidak ada jawaban sebab aku tak menginginkannya.

Bayangan dia kembali muncul di antara gelap. Ia tersenyum kepadaku. Wajahnya yang indah dan manis. “Oh, Vy! Tak kuasa aku menahan sakit yang begitu perih dan bahkan mencabik-cabik hati ini hingga lebur. Tutup, senyumanmu palsumu itu! Tutuplah mulutmu itu.

Jangan pergunakan serpihan kata-kata bahkan kalimat untuk sekadar bercakap-cakap denganku. Biarlah, biarlah kucoba pahami engkau melalui kisah cinta kita yang ternyata engkau khianati. Aku sanggup. Aku mampu mengerti segalanya hanya dengan diam.

Simpan saja sisa katamu dan kalimatmu itu untuk berdoa agar janji palsumu itu dibersihkan. Selebihnya, doakan aku agar tidak menjalani hidup seperti yang dulu kita jalani dan alami. Itu pun jika sempat. Tidak juga tak apa, sebab aku punya cukup bukti dari jejak cintamu yang penuh luka bahwa hidupmu tak bahagia denganku.”

Aku menangis. Air mata ini seperti gerimis yang tak serius. Jatuhnya tak kunjung sering, tak kunjung deras. Kupahami itu sebagai kelelahan. Dan mungkin hanya sebanyak itulah air mata yang tersisa sebab hidupku selalu menuntut tangis, terkuras yang disebabkan akan cinta dan janji yang palsu dari setiap wanita.

“Maafkan aku, Van! Bahkan hingga kini, hidupku yang beranjak menuju ujung pun tak pernah berhasil ku hapus air matamu. Aku belum mampu, bukan tak mau melakukannya. Hentikan tangismu itu, Van! Cukup! Aku tak mau melihatmu terluka untuk yang kesekian kalinya. Aku sudah mengerti, sudah paham. Tumpahkan saja segala lukamu itu padaku. aku terima dan aku rela!”

Aku ingat. Hubunganku dengannya, air mata itu sempat jatuh di kuburan Ibuku. Di sana dia berucap,” Van, kakak dan adikmu adalah masa depan yang Ibumu inginkan. Tak bijak rasanya jika kamu harus menyimpan harapan pada masa lalu.

Engkaulah masa saat ini yang bisa Ibumu titipkan harapan itu untuk masa yang akan datang. Belajarlah dari masa lalu, niscaya akan kau dapati gambar ibumu, kakakmu, dan adikmu.

Tataplah semua gambar itu meski semuanya sedang menangis sebab kesedihan adalah pelajaran, bukan nista atau cela.

Engkau laki-laki, arungi semua laut dengan bidukmu. Jangan katakan itu tak mungkin sebab keberhasilan masa depanmu adalah apa yang kau yakini hari ini.

Semakin engkau yakin, semakin engkau mempunyai kekuatan untuk meraihnya. Dan hentikan segalanya jika engkau merasa ragu. Jangan memaksakan diri. Jangan takut dikatakan kalah sebelum berperang sebab bertempur tanpa strategi adalah kekonyolan.

Hidupmu adalah hidupmu. Itulah prinsip. Jangan terburu-buru, mulailah dari yang teramat kecil dan dekat sebab hidup adalah proses.” Sampai di sini kata-katanya digulung air mata, dan tak berhenti hingga untaian doa-doa selesai digumamkan.

AKU menangkap isyarat pertalian dari dua peristiwa: masa lalu dan masa yang tengah ku hadapi saat ini, ketika wajah dia dan Ibuku hadir di ujung malam. Tangisku, Ibuku, dan dia malam ini adalah luka jika harapan-harapan yang pernah dititipkannya di sebuah kubur tahun lalu, diartikan sebagai beban.

Dari kedip mata Ibuku, aku ingin mengatakan bahwa harapan-harapan orang tua atas anaknya di kemudian hari adalah beban yang dititipkan untuk dipikul sang anak. Si anak kehilangan kebebasan gerak sebagaimana hidup layak.

Sedikit-sedikit kaki si anak bergetar menahan beban. Atau langkahnya terhenti untuk menyeimbangkan beban dengan kekuatan tubuhnya. Jika suatu saat si anak tak kuat menahan beban itu, hanya ada dua kemungkinan yang akan dilakukannya.

Pertama, ia akan mempercepat langkah supaya lekas sampai ke tempat yang dituju agar beban bisa ditanggalkan. Demi mencapai itu, si anak mengabaikan semua keinginan dan kepentingan dirinya demi bakti seorang anak pada orang tua.

Kedua, ia akan menanggalkan semua bebannya tanpa memikirkan siapa yang membebaninya dengan harapan sebab baginya hanya ada satu masalah, yaitu tubuhnya sudah tak kuat menahan beban.

“Karena itu, saat ini aku menangis!” tiba-tiba hati ini berkata. Tak bisa lagi aku mencegahnya untuk berkata-kata, meskipun sebetulnya aku tetap ingin ia menggunakan sisa tenagaku untuk mengingat Tuhan. Sebab aku yakin, tak ada yang lebih penting bagi seseorang yang dikerubungi masalah selain Tuhan.

“Aku merasa itu semua adalah kesalahan. Aku yakin, sekecil apapun harapan kamu adalah beban bagi dirimu. Untuk itu aku datang malam ini. Untuk meminta maaf kepadamu karena dulu telah banyak menyimpan harapan…” suara dia berhenti. Hanya bibirnya yang terlihat bergerak seolah mengucapkan sesuatu, tetapi tak sedikitpun suara ku dengar.

“Waktumu telah habis, Vy!” pikirku. Kembali aku harus memahaminya lewat isyarat. Itu lebih baik dari sekadar kata-kata. Apalagi jika kata-kata itu membuat luka.

Aku memahami segala tentang dia. juga tentang cintanya yang membuatku terluka. Tak hanya riwayat tentang penolakan cintaku untuknya, yang saat itu aku dan dia sebagai kekasih, tetapi juga tentang pengkhianatan cinta seorang kekasih.

Namun demikian, hidupku dan hidupnya tetap berjalan. Seperti hari yang hingga saat ini tak pernah berhenti, berkurang, atau melebih. Hanya jejaknya masih dapat jelas tergambar, paling tidak dalam ingatanku.

Tak mungkin aku melupakannya. Pertengkaran demi pertengkaran yang kerap terjadi, masih mampu ku ingat dengan jelas. Bahkan terasa baru kemarin itu semua terjadi. Semua adegan yang terjadi dan kata-kata yang diucapkan, tak pernah bisa ku hapus, meski luka baru bermunculan. Hingga hari ini aku berkesimpulan bahwa semua masa laluku adalah luka.

Aku harus mengatakan bangga memiliki seorang kekasih sepertinya. Meski cintaku terluka, demi masa depannya, aku mampu bertahan. Ia mampu menafikan segala luka cintaku, meski pada akhirnya akan membuat luka baru untukku dan hatiku serta perasaanku ini.

Bagaimana aku tidak luka jika waktu itu aku mengetahui dia menjalin hubungan lain dengan pria lain ? Bagaimana aku tidak luka jika jalinan cintanya telah menjadi luka bagiku ? Benarkah demi cinta dia kepadaku membuat dia menafikan luka yang diakibatkan cintaku dan dia?

Cinta apa yang diberikan kepadaku jika perpisahan yang menjadi kenyataan? Benarkah itu semua dinamakan cinta? Cinta yang luka.

Ada garis-garis putih samapta langit, seperti kilatan siang yang sengaja diciptakan Dayang Sumbi untuk mengelabui ayam supaya berkokok tanda pagi segera tiba. Wajah dia semakin jelas dan nyata. Tak ada tanda-tanda keberadaan darah di sekitarku. Ini ujung dari segala penghabisan waktu, dan aku harus memanfaatkannya untuk mengingat kembali silsilah luka cinta seorang wanita seperti dia.

“Wahai engkau wanita, cinta yang luka yang kau berikan padaku, menoreh luka abadi di ingatanku. Aku melihat sendiri dirimu menjalin hubungan dengan pria lain. Mungkin luka ini tidak akan seberapa hebat merasuk, jika kamu belum merasakannya. Tapi ini kenyataan, kau yang telah menyakitiku dan mengkhianatiku. Vy, aku sangat merasakan luka cintamu itu karena aku juga laki-laki yang terkhianati akan janji.

Aku juga jadi ragu, cinta apa yang diberikanmu untukku jika cinta dengan akhirnya menjadi sebuah luka. Haruskah kukatakan bahwa cinta yang diberikan padamu untukku adalah cinta yang luka?”

Tak ada suara, juga air mata. Aku seolah telah menjadi padang tandus tak berpenghuni, kerontang dan sunyi. Hanya kepasrahan yang kerap diamini gelisah karena tak kuasa memastikan waktu akan cinta sejati tiba. Segalanya condong ke masa lalu sebab ingatan tentang catatan cinta berderet lebih panjang daripada prestasi belajar.

Angin laut sudah kembali menghempas daratan, mengantarkan sampan nelayan untuk pulang. Alam sudah menciptakan tanda-tanda dan isyarat bahwa hari sudah beranjak siang. Aku tak berniat membayangkan wajah nelayan yang masih berada jauh di tengah laut sebab diri yang dekat saja masih dalam ancaman yang tak mampu diduga.

Banyak atau sedikit ikan yang didapat oleh mereka, itulah nasib. Hidup hanya mencipta dua pilihan, tersakiti atau menyakiti.

Tak ada pilihan ketiga. Tapi masa depan diri di hadapan Tuhan, tak bisa dilimpahkan begitu saja pada nasib dan takdir sebab hidup menuntut pertanggungjawaban. Hanya ada diri sendiri yang melakukan di hadapan Tuhan menitipkan segalanya.

“Wahai engkau wanita palsuku, izinkan aku mengatakan bahwa cinta itu hanya luka. Cinta yang kamu berikan untukku juga luka, terlebih setelah hidup jiwaku berkiblat kepadamu. Aku semakin merasakan luka cintamu, bukan karena aku laki-laki setia, tapi aku mengalami semua apa yang telah kau berikan padaku, sakit dan pengkhianatan,” aku berhenti sejenak. Nafas terasa sesak. Itulah kejamnya luka. Jangankan mengalami kembali, mengingatnya pun sungguh menyakitkan.

“Cintaku tak diizinkan oleh orang tua perempuan yang akan kujadikan pasanganku. Tapi aku tetap bertahan sebab saat itu masih percaya, cinta adalah pohon yang kelak akan berbuah kebahagiaan, manis dan lezat. Kenyataannya, dia sama-sama pengkhianat!

Cintanya tidak berbuah bahagia bagiku, tapi membelah diri menjadi cinta-cinta berikutnya yang diperuntukkan pada laki-laki lain. Pasanganku adalah wanita yang sama-sama mengubah cinta menjadi luka abadi.

Aku sendiri tak percaya karma. Karenanya, tidak mengartikan kesamaan nasib cinta kita sebagai sebuah karma. Namun yang menjadi permasalahan adalah apa yang harus ku lakukan sebagai seorang pria, jika kelak mempunyai anak. Aku tidak ingin mewariskan cinta yang demikian pada anak-anakku.

Cukup, akulah yang terakhir merasakannya. Aku tidak ingin melakukan pertengkaran di depan mata anak-anak seperti yang kau lakukan dulu terhadapnya. Aku tidak ingin menjadi pelari yang mengestafetkan luka.”

Bayangan wajah dia tampak pudar oleh cahaya. “Wahai engkau pencari cinta sejati, mari kita sama-sama mengatakan bahwa cinta itu luka, tapi jangan sampai terdengar orang lain sebab aku tak ingin mereka percaya pada apa yang kita ucapkan itu. Kisah cinta kita, kitalah yang merasakannya. Dan masing-masing dari mereka punya hak untuk menyimpulkan arti cinta dari apa yang dialami dan dirasakannya sendiri.”

Cinta itu luka. Kalimat itu ku ucapkan dengan khidmat dalam hati. Aku percaya, dia pun melakukan hal yang sama, meski aku tak mendengarnya. Bayangan wajahnya menghilang seiring perjalanan terang.

Aku tetap tak beranjak. Memang, sejak hari itu, hari perpisahanku dengan dirinya, di sanalah tempat dudukku menunggu kedatangannya. Di sanalah ku kubur cintaku, dibawah pohon di tepi laut. Ya, itu bukan tempat pemakaman umum sebab hanya akulah yang dikubur disana. Sendiri.”

Beberapa hari yang lalu, orang-orang pinggir laut menemukan hatiku telah menjadi mayat. Tergeletak di atas pasir dengan kondisi telah membusuk. Aku memang bukan orang kampung itu. Sangat wajar jika mereka tak mengenaliku. Apalagi dengan kondisi hati yang sudah tak berbentuk. Ditanamlah hatiku di sana, di bawah pohon di tepi laut.

Aku memang membunuh hati dan cinta ini dengan cara menceburkan diri ke laut. Aku bunuh hati dan cinta setelah tak percaya lagi cinta. Setelah cinta ku definisikan sebagai luka. Cinta itu luka.

Kisah Pohon,Daun dan Angin

 
 
POHON
Orang-orang memanggilku “Pohon” Karena Aku sangat Baik dalam menggambar Pohon.
Aku selalu menggunakan gambar Pohon pada sisi Kanan sebagai Trademark pada semua lukisanku.
Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali,tapi hanya ada satu wanita yang benar-benar kucintai.

Dia tidak cantik,tidak memiliki tubuh seksi.Tapi dia sangat peduli dengan orang lain.
Gayanya yang sederhana dan apa adanya,kemandiriannya,kepa
ndaiannya,dan kekuatannya.Aku Menyukainya...SANGAD....!!

Satu-satunya alasanku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku.Aku takut jika kami bersama,semua perasaan yang indah ini akan hilang.Aku Takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya,Karena Itu,Aku memilihnya hanya untuk menjadi “SAHABAT”.Menjadi Sahabatnya aku akan bisa 'memiliki'nya tiada batasnya.Tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Selama ini dia selalu menemaniku dalam berbagai kesempatan,sebagai sahabat...
Dia Tahu aku mengejar gadis-gadis lain.Ketika dia melihatku mencium pacar ke-2,dia hanya tersenyum dengan berwajah merah... “Lanjutkan saja,”katanya,setelah itu pergi meninggalkan kami.

Esoknya,matanya bengkak dan merah.Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis.Akupun berusaha membuatnya tertawa dengan mengajaknya bercanda sepanjang hari.

Kali lainnya di sebuah sudut ruang dia menangis. Hampir 1 jam kulihat dia menangis.Aku paham betul apa yang membuatnya menangis.Pacarku yang ke 4 tidak menyukainya.Mereka berdua Perang Dingin .Aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin,tapi aku masih tetap bersama pacarku.Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget.Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku.

Esoknya dia masih bisa tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.Aku tahu dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia.Aku juga Sedih....

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke-5 ,aku mengajaknya pergi.Setelah kencan satu hari itu,aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya.Dia mengatakan kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku.

Aku bercerita bahwa aku telah memutuskan hubungan pacarku.Sementara,dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang.

Aku tahu pria itu,dia sering mengejarnya selama ini.Pria yang baik,penuh energi dan menarik.Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku.Aku hanya tersenyum dan mengucaokan selamat padanya.Ketika sampai di rumah,sakit hatiku bertambah kuat,dan aku tidak dapat menahannya.Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku.Aku tidak bisa bernapas dan ingin berteriak .Dan Aku menangis.!

Handphoneku bergetar,ada SMS masuk...
“DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal ?”


DAUN
Aku sangat suka mengoleksi daun-daun,karena aku merasa bahwa daun membutuhkan banyak kekuatan untuk meninggalkan pohon yang selama ini kutinggali..

Selama ini aku dekat dengan seorang pria ,bukan sebagai pacar tapi “sahabat”.Ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya,aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya: Cemburu .

Mereka hanya bersama selama 2 bula.Ketika mereka putus aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya.
Aku menyukainya dan aku juga tahu bahwa dia juga menyukaiku,tapi mengapa dia tidak pernah mengatakannya??Jika dia mencintaiku,mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah??

Waktu terus berjalan,hatiku semakin sedih dan kecewa.Aku mulai mengira baha ini adalah cinta bertepuk sebelah tangan.Tapi,mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekadar seorang teman??

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati.Aku tahu kesukaannya,kebiasaannya,tapi perasaanya kepadaku tidak pernah bisa kupahami.Kadang aku merasa bodoh,karena aku juga berkeras tidak mau mengungkapkan perasaanku.Selain alasan itu,aku mau tetap disampingnya,memberinya perhatian,menemani dan mencintainya.Berharap suatu hari dia akan datang dan mencintaiku.

Seorang Pria mengejarku.Setiap hari dia mengajarku tanpa lelah.segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku.Aku mulai berpikir,mungkinkah aku bisa memberikan sebuah ruang kecil dihatiku untuknya???

Dia seperti angin yang hangat dan lembut,mencoba untuk meniup daun untuk terbang dari pohon .Aku tahu Angin akan membawa pergi DAUN yang lusuh jauh ke temapat yang lebih baik.Meski berat,akhirnya aku meninggalkan pohon.Tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku tinggal.
Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...

ANGIIN
Aku menyukai seorang gadis bernama DAUN..Tapi,dia sangat bergantung pada Pohon,sehingga aku harus menjadi”ANGIN”yang kuat agar bisa meniupnya terbang jauh dari pohon.

Aku selalu memperhatikan daun duduk sendirian atau bersama teman-temannya ,memperhatikan Pohon.Ketika pohon berbicara dengan gadis-gadis,ada Cemburu dimatanya,Ketika Pohon melihat ke arah daun,ada senyum di matanya.Memperhatikannya menjadi kebiasaanku,Seperti Daun yang suka melihat Pohon .Satu hari saja tak kulihat dia,aku merasa sangat kehilangan.

Aku melangkah dan tersenyum padanya.Kuambil secarik kertas,kutulisi dan kuberikan kepadanya.dia sangat kaget.Dia melihat kearahku,tersenyum dan menerima kertas dariku.
Esoknya dia datang menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu.Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi.Daun tidak mau meninggalkan Pohon.

Aku kembali menghampirinya dengan kata-kata yang sama,meski sangat pelan,akhirnya dia memulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku.Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku,tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku.Aku telah mengucapkan kata CINTA tidak kurang dari 20 kali kepadanya.Hampir setiap kali dia mengalihkan pembicaraan,tapi aku tidak menyerah.Keputusanku bulat,aku ingin memilikinya.

Suatu hari,dia bilang bahwa dia memberikan kesempatan untukku.Kuletakkan telepon,melompat dan berlari seribu langkah kerumahnya.Dia membuka Pintu bagiku.Kupelu erat-erat tubuhnya.Akhirnya aku bisa membuat daun meninggalkan pohon dan berjanji akan membawanya

Wajah Didalam Kanvas

Kutatap awan yang bergerak di atas sana, bergulung saling berkejaran. Awan-awan itu sangat lamban. Saat itu tinggiku baru mencapai pinggang ibu, mungkin empat tahun, aku tidak begitu tahu pasti.

Awan-awan itu terlihat begitu dekat. Seringkali aku melompat-lompat ingin meraihnya walaupun aku tahu bahwa usaha tersebut sia-sia saja. Keinginan hatiku yang lebih besar untuk dapat menyentuhnya selalu mengalahkan logika kecil ini.

Di saat seperti itu Ayah dan Ibu tertawa-tawa melihat tingkahku yang lucu. Mereka menggerak-gerakkan mulut. Aku tahu mereka sedang mengatakan sesuatu, namun hanya gerakan yang aku lihat. Tidak pernah aku mengerti apa yang mereka katakan, hingga usiaku 14 tahun.

Sekian tahun berlalu tanpa arti mendalam di masa kecilku, pasti karena umurku masih terlalu muda untuk mengerti. Sehingga hari itu, hari dimana aku menyadari bahwa hanya akulah yang tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar.

Hari yang masih tergambar jelas di dalam ingatanku. Kuingat Ibu membawaku ke dokter. Dimana seorang lelaki di balik seragam putih bersih, yang kemudian selalu kupanggil Om Dokter. Ia meraba telingaku, mengetuk-ngetuk dengan jarinya, dan melakukan beberapa pemeriksaan yang sangat tidak aku mengerti.

Tubuhnya yang besar membuat aku ketakutan dan tangannya yang memegang-megang telinga dan wajah rasanya ingin kugigit lalu berlari keluar dari ruangan itu. Pemeriksaan itu rasanya tidak akan pernah berakhir. Kemudian Ibu dan dokter itu, rona muka keduanya sangat serius. Lalu kulihat Ibu mengucurkan air mata. Sebuah kepedihan yang sangat dalam tersirat dari wajah bulat itu.

Naluri kecilku mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah, tapi aku tidak tahu. Ibu menggunakan jari-jarinya yang kasar untuk menyeka air mata. Om Dokter masih terus berbicara, kelihatannya penting, Ibuku hanya manggut-manggut. Rasa takutku tiba-tiba hilang. Kuawasi keduanya dengan naluri yang tak pernah aku gunakan sebelumnya.

Mulut Om Dokter bergerak-gerak. Kepala Ibu menangguk-angguk banyak kali.

‘Ha! aku tahu!’ kataku dalam hati.

‘Ibu mengerti apa yang dikatakan Om Dokter.’

Kucoba membuat wajah serius dan sedih seperti yang dilakukan Ibu, tapi air mataku tidak dapat menetes dan kesedihan yang Ibu alami tidak dapat aku alami.

‘Mengapa aku tidak mengerti?’

Naluriku memperjelas masalah itu, ‘ Setiap orang menggerakkan mulutnya kepada orang lain dan orang lain disekitar memperhatikan mulut yang bergerak tersebut, lalu mereka mengerti. Namun mengapa aku tidak dapat mengerti satupun dari semua gerakan mulut orang-orang sekitarku? Hanya gerakan tangan yang dapat aku mengerti. Apa arti semua ini?’

Seharian aku bertanya-tanya di dalam hati. Kucoba untuk bertanya kepada Ibu tetapi dia tidak dapat menjelaskannya kepadaku. Yang dia bisa hanyalah menggerak-gerakkan mulut. Aku putus asa dan marah karena dia tidak dapat menjawab pertanyaanku.

Keesokan harinya, aku dan anak tetangga yang seumur denganku sedang bermain bersama. Ibunya datang menghampiri, temanku menengadah menggerakkan mulut sementara si Ibu tersenyum kemudian menggerakkan mulutnya. Ia memberikan sebuah boneka pada kawan kecilku. Saat itu senyumnya manis sekali, semanis putri kahyangan. Aku mendekati dia dan berkata,

‘Kau cantik sekali.’ Dia mengkerutkan keningnya. Kuulangi lagi,

Kau cantik sekali.’ Dia masih tidak mengerti. Kubawa ia pada Ibu dan berkata,

‘Mama, Ibu ini cantik sekali.’ Namun Ibuku juga mengkerutkan kening. Aku hampir tidak percaya dan putus asa. Kukatakan sekali lagi, kugerakkan mulutku, kutunjuk Ibu itu, kutunjuk boneka yang ia berikan kepada kawanku, kujelaskan bahwa ia sangat cantik waktu tersenyum memberikan boneka itu pada anaknya.

Senyummu bahkan lebih manis dari senyum Ibuku.’ Lalu semua orang tersenyum sangat lebar. Aku yakin mereka sangat bahagia.

‘Oh, akhirnya kalian semua mengerti.’ Hatiku lega. Mereka dapat mengerti aku.

Kami kembali bermain.

Di tengah keasyikan kami bermain, Ibuku bersama Ibu kawan kecilku datang dari depan rumah membawakanku sebuah boneka yang sama dengan temanku. Aku bahkan tidak sadar kapan mereka meninggalkan rumah.

Namun bukan itu yang membuatku menangis. Untuk pertama kali di dalam hidupku hatiku hancur, padahal aku hanyalah seorang gadis kecil berusia 4 tahun. Hatiku perih tersayat-sayat. Kugigit lidahku, kubiarkan air mata bercucuran di pipiku menerima boneka itu. Ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang . Di dalam pelukannya kuberkata,

‘Ibu, aku tidak meminta boneka ini. Aku bukan menangis karena bahagia. Aku hanya bilang, Ibu itu cantik sekali waktu tersenyum memberi boneka pada anaknya.’

Semenjak hari itu aku tidak begitu tertarik untuk pergi bermain bersama kawan-kawan kecilku lagi.

Untuk apa? Kalian tidak dapat mengerti aku. Bahkan Ibuku sendiri tidak.’

Kuhabiskan hari-hariku menyaksikan teman-teman bermain dari balik jendela rumah. Karena letaknya yang sangat strategis, aku hampir dapat menyaksikan setiap orang yang lalu lalang, anak-anak sekolahan bermain di lapangan, lapangan volley tempat orang dewasa bermain pada sore hari, dan anak-anak ayam yang mengikuti induknya mengais-ngais tanah mencari makan. Di pangkuanku selalu setia menemani boneka plastik kesayangan pemberian Ibu, boneka yang tidak pernah aku dambakan.

Menonton kehidupan manusia tidak pernah membosankan, apalagi dihiasi dengan alam. Bila banyak orang hanya mempunyai satu tanggapan terhadap sampah, kotor, maka aku dapat melihat segi keindahan sampah. Menyaksikan kehidupan dari balik jendela rumahku, sepanjang waktu, setiap hari, membuat mataku dapat melihat segi artistik dari semua kehidupan.

Aku bahkan dapat menikmati menyaksikan kucing tetangga yang sedang jongkok mengerang mengeluarkan kotoran. Semakin lama memandang, kehidupan yang ada di depanku bergerak semakin lamban.

Bahkan suatu saat aku dapat merasakan kehidupan itu berhenti. Mematung di sudut yang sangat indah. Dan pada saat itulah aku selalu tersenyum sendiri. Kubiarkan pemandangan itu di depan mata dan pikiranku berlama-lama. Sangat indah. Menakjubkan. Mempesonakan.

Hanya itu pulalah kenyataan yang tidak membuat ibuku khawatir akan keberadaanku. Bila aku meloncat-loncat gembira menyaksikan keindahan itu, ia tersenyum. Ia mengerti aku masih dapat berbahagia dalam kesendirianku.

Di hari ulang tahunku yang ke-6, kulepaskan Momo, boneka plastikku. Ibu membeli sebuah tas lengkap dengan isinya. Aku tidak pernah ke sekolah, namun aku merasa berada di sekolah, di balik jendela rumah. Yang paling pertama kutarik adalah buku polos dan crayon. Kugoreskan kehidupan yang terhenti itu di dalamnya. Sangat polos, namun menakjubkan untuk seorang anak seperti aku.

“Apa yang kira-kira ia gambar?” kata seorang wanita berbisik di sisi kanan belakangku.

Aku melirik ke arahnya untuk melihat sekilas. Ia telah membuyarkan lamunanku.

“Belum tahu pasti,” jawab pria dibelakangnya.

Mereka terlihat seperti pasangan orang penting dalam acara showku yang pertama ini. Mereka kelihatan kurang cocok dimana si wanita terlalu cantik dan sangat muda untuk si lelaki yang pendek, gemuk dengan wajah berparut itu. Tapi yang pasti si lelaki memperlihatkan kecemerlangannya. Seorang wanita di samping mereka yang mengenakan pakaian berwarna hijau pudar menaruh telunjuknya di bibir.

‘Terima kasih,’ ucapku dalam hati.

‘Pusatkan pikiran!’

Dalam hitungan kesepuluh aku kembali pada lukisanku. Mengilustrasikan perjalananku dalam melukis.

Suatu sore yang indah, seperti biasa para tetangga berkumpul di lapangan volley. Setelah menonton mereka beberapa menit, terbersit niatku melukis pemandangan indah itu, dimana mereka kelihatan ceria berlari-lari menerima bola yang keras, lalu mengarahkan ke depan, setelah itu bola melambung di depan net yang kemudian seorang yang berada di baris depan berlari kencang dan melompat memukul bola dengan keras ke arah lawan.

Kuperlihatkan hasil lukisan itu pada Ibu. Ia membelalakkan mata hampir tidak percaya. Dengan bangga Ibu menari-nari sambil memamerkan lukisanku pada para tetangga yang juga terkagum-kagum. Ibu menggendongku diatas pundaknya layaknya seorang ratu. Aku merasa bangga sekali dengan kebahagiaan yang baru saja aku berikan pada Ibu. Karena ia sangat menyukainya, kuperkenankan Ibu menyimpan gambar itu.

Aku tak pernah tahu apa yang ia lakukan pada gambarku. Suatu hari ia datang membawa sebuah tabloid dan memperlihatkan sebuah gambar. Hatiku terlonjak girang saat menyadari bahwa itu adalah gambar yang aku buat.

Perhatian Ibu pada potensiku sangat tinggi. Ia selalu memastikan aku mendapatkan cukup kertas dan crayon. Tidak hanya sampai di situ, di saat umurku bertambah, ia membelikan peralatan melukis yang baru. Mulai dari pewarna air, cat air, cat minyak, hingga kertas berukuran sangat besar, kain dan semua perlengkapan yang aku butuhkan.

Kadang aku berpikir, bagaimana caranya ia dapatkan semua ini? Setiap kali aku selesai menggambar sebuah lukisan yang indah, Ibu selalu menyimpannya. Aku mengerti ia akan mengirimkannya lagi untuk dimuat di tabloid, namun hal itu tak pernah terjadi lagi.

Kadang aku berpikir mungkin ia memajangnya atau menyembunyikan di suatu tempat, namun tidak pernah dapat kutemukan. Hanya satu yang aku tahu, semenjak aku melukis setiap hari, Ibu sering ke luar rumah dan pulang membawa oleh-oleh untukku. Kami selalu makan enak dan Ibu sering membelikan aku pakaian yang indah.

Suatu hari aku bertanya tentang kemana gerangan semua lukisanku. Ibu menjawab, tapi tentunya aku pura-pura mengerti walaupun sebenarnya aku tidak mengerti. Keesokan harinya Ibu malah datang dengan seorang lelaki asing.

Lelaki itu tidak membuat aku takut sama sekali. Wajahnya bersahabat, senyumnya manis dan ubannya satu persatu menjorok dari rambutnya yang kejung. Ia sangat tertarik dengan apa yang ia lihat di kamarku. Dinding kamar aku lukis dengan bunga-bungaan, rumput dan binatang-binatang kecil.

Kupu-kupu adalah favoritku. Aku kira hal yang aku lakukan pada kamarku itu adalah hal yang wajar dan semua anak bisa melakukannya. Dinding rumah bagian dalam semuanya tergores indah bagaikan taman. Aku tidak tahu bahwa ternyata gambar-gambar itu sangat istimewa.

Lelaki asing itu perlahan-lahan menyiapkan sebuah kanvas kosong, mengambil alat-alat yang aku biarkan berserak di atas meja warna-warni hasil tumpahan bahan pewarna. Ia mengambil kuas dan kemudian menggoreskannya di atas kanvas. Ia memandang ke arahku dan menggerakkan mulut. Aku mencoba mengerti apa yang ia katakan, aku tidak tahu. Tapi ia memulai lukisannya tepat di tengah-tengah kanvas dan menunjuk bagian bawah dan atas, seolah-olah ia berkata ini untukmu dan ini untukku.

‘Kau ingin aku melukis denganmu?’

Aku pun mendekatinya, menempatkan diriku tepat di depannya, menarik sebuah kuas baru dari kaleng cat minyak yang kosong, lalu aku menyatukan diri dengannya. Ia menggoreskan sesuatu, aku membuat garis panjang. Ia menggambar lagi, dan aku menirunya. Lagi dan lagi.

Hasilnya?

Kami telah menciptakan sebuah gambar rumah dibawah naungan matahari, lengkap dengan bayangannya di dalam air sungai yang bening. Ia menggambar rumahnya dan mataharinya sedangkan aku menciptakan sungai dan bayangannya.

Kenangan awal itu begitu manis membuatku sadar bahwa aku mempunyai teman, aku tidak akan lagi sendiri di dalam duniaku. Waktu itu aku berumur sepuluh tahun.

Lukisan tersebut telah mengubah hidupku selamanya. Satu jam yang lalu waktu memasuki gedung ini, lukisan itulah yang pertama kali aku lihat. Setiap pengunjung mau tidak mau harus melihat gambar ini, karena mereka meletakkannya tepat di depan pintu masuk. Bersendirian terpampang dengan bangga berkata, “Disinilah aku ditemukan.”

Lelaki asing yang kemudian aku panggil Papa itu menjemputku setiap pagi dari rumah dan hanya akan mengantarku pulang setelah makan siang. Kami hanya melukis dan melukis. Ia memperkenalkanku pada beberapa tekhnik. Sekali-kali membawa aku jalan-jalan ke kota, ke gunung, ke sungai dan ke banyak tempat, dan bahkan sekali-kali kami ke sanggar tari, theater dan banyak lagi. Sepulangnya kami akan menggambar lagi. Tak kusangkal kebahagiaan yang ia ciptakan untukku. Namun hanya ada satu hal yang belum pernah dapat aku jawab.

‘Mengapa tiada seorang pun yang dapat mengerti apa yang kuinginkan seketika itu juga? Cara mereka memandangku sangat beda dengan cara mereka memandang satu sama lain. Mengapa?’

Di hari ulang tahunku yang kesebelas, kutuangkan perasaan ini di dalam lukisan. Papa memandang lukisan itu sangat lama. Aku mencoba menjelaskan kepadanya. Dengan menggerakkan mulut, dengan tangan, dengan air mata. Akhirnya ia mengerti. Detik itu juga ia membawaku ke sebuah tempat yang belum pernah aku kunjungi. Sebuah klinik.

Aku tidak mengerti apa yang ia lakukan dan apa yang telah menjadi pembicaraan kedua orang itu. Kakek setengah baya berjubah putih membawa kami keruangan kecil yang tertutup dan penuh dengan alat-alat yang tidak aku mengerti.

Aku diminta duduk di depannya. Ia menggerakkan mulut ke arah telingaku beberapa kali. Kemudian ia mengambil sebuah benda dan menempelkannya di telingaku. Aku sedikit ngeri. Selang beberapa waktu, satu hal yang tidak pernah aku kenal sebelumnya terjadi.

Telingaku berdengung. Aku ketakutan. Seluruh tubuhku seperti disengat listrik.

‘Apa ini?’ Aku beranjak dari kursi dan melotot pada kedua orang yang tersenyum. Mengherankan sekali, bahagia dengan ketakutanku. Aku melepaskan alat itu dari telinga.

‘Apa itu tadi Papa?’ Papa mencoba menjelaskan sesuatu kepadaku, namun aku tidak dapat mengerti.

‘Apakah ini jawabanmu terhadap lukisanku? Apa yang kau katakan?’ Kulihat Papa berusaha keras menjelaskan padaku. Kugelengkan kepala.

Aku tidak mengerti, Papa. Aku tidak mengerti apapun yang ada di sekitarku. Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau katakan saat ini.’

Semenjak saat itu, Papa membawaku ke tempat yang sama berkali-kali. Hingga pada suatu hari ia memberikan aku bingkisan indah berwarna merah. Terbungkus rapi dalam sampul yang sangat unik. Bingkisan tersebut berisi alat yang aku mengerti untuk diletakkan ditelinga, karena sama dengan yang di klinik. Hanya saja yang ini lebih kecil ukurannya, dan bisa aku bawa kemana-mana. Papa memasangkannya di telingaku. Seketika ketakutan yang aku rasakan di klinik berubah menjadi sensasi yang membuat bulu kudukku berdiri.

‘Aku mendengar bunyi, irama, nyanyian yang sangat indah.’ Sebuah cicitan yang tak pernah aku dengar. Kucari asalnya, kulihat ke atas, dan bunyi itu tak salah lagi berasal dari sangkar burung. Papa menurunkan sangkar burung itu dan mengangguk. Aku berkata,

‘Papa, bunyi burung ini ………’ Seketika aku terhenyak. Sepertinya aku baru saja mendengar diriku sendiri.

“Papa, Ou ou wa wa mbo mbo!” Hanya begitu bahasaku.

‘Apakah itu bunyiku sendiri?’ Aku menganga sambil bertanya di dalam hati. Papa menatapku dengan sangat bijaksana, walaupun ia kelihatannya mengerti namun aku yakin dia tidak dapat membayangkan perasaanku pada saat itu. Kututup mulutku dengan perasaan malu.

“Ya, itu suaramu sendiri,” Papa berkata lembut. Pada saat itu aku belum mengerti arti ucapannya.

‘Tapi Papa, aku hanya bisa ou ou wou wu sementara suaramu berirama seperti burung.’

“Uu wooowo.” Aku takut mendengarkan suaraku. Mengerikan, sementara suara Papa berirama seperti burung itu. Suara Papa berpola, tapi aku tidak.

Bunyi, suara. Dunia ini penuh dengan bunyi yang tidak pernah aku dengar. Mereka punya irama, aku tidak. Aku tidak pernah mendengar irama mereka, aku bahkan tidak pernah sadar bahwa aku juga memiliki bunyi, seperti burung itu. Hanya saja burung itu begitu merdu dan aku, oh ……’

“Uuuuuuuuuu ….” Aku menangis mendengar suaraku yang buruk. Aku menangis karena butuh 12 tahun untukku sehingga bisa menikmati indahnya bunyi alam.

‘Mengertilah apa yang ingin aku katakan Papa, aku mendengarmu. Aku mengerti. Aku tidak punya iramamu, irama Ibu dan irama orang-orang sekitarku. Dan Papa, suaraku buruk sekali.’

Mungkin Papa mengerti bahasa air mataku. Ia mendekapku saat melihat air mata mengalir dari pipiku. Lalu ia memeluk dan menciumku bagaikan seorang ayah.

‘Beginikah suaraku saat menangis?’ Aku terisak-isak. Untuk kedua kalinya hatiku hancur. Pantas mereka memperlakukan aku berbeda, karena aku memang berbeda.

Mulai hari itu pelajaran yang aku dapatkan bukan hanya melukis, tetapi juga irama bahasa. Melatih lidahku menggunakan bahasa indah ini. Bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan dari dunia. Perlahan-lahan aku pun belajar membaca, berhitung dan segala sesuatu yang seharusnya telah kupelajari di sekolah dasar 6 tahun yang lalu.

“Oh, siapa gadis kecil itu?” tanya wanita tadi sambil berbisik.

“Sssst!” jawab yang ditanya. Aku dapat merasakan bahwa ini merupakan pengalaman pertama wanita tadi ke tempat seperti ini.

‘Ah, akhirnya selesai juga.’

Ku bubuhkan tanda tangan di atas kanvas mengakhiri lukisan ini.

Cindy, apakah arti lukisan ini?” tanya seseorang dari belakang.

“Menatap Aura Kehidupan!” jawabku lantang yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan para hadirin.

Di dalam sana terlukis wajahku yang kagum saat pertama kali menyaksikan aura kehidupan. Menatap gambar yang tak seorangpun mampu visualisasikan selain aku. Mata yang ada di dalam sana adalah mata lebar seorang gadis cilik, dari balik jendela rumah lamaku, memandang detak waktu yang terhenti. Tanpa bunyi, tanpa suara, tanpa senandung merdu alam raya ini. Alam bisu.

“Cindy Cecilia“ Saat kutatap lukisan itu sekali lagi, aku teringat saat pertama kali aku mencoba menyebutkan namaku. Dengan suara yang gagap dan lidah yang sangat kaku untuk digerakkan.

“Ini dia bidadari kecilku,” Ibu datang dengan seseorang yang belum pernah aku kenal sebelumnya.

“Mirna! Ini Pak Hasan. Pak hasan! Mirnawati.” Kami tersenyum satu sama lain dan berjabatan tangan.

“Mirna, Pak Hasan ini menawarkan untuk memasarkan lukisanmu yang berikutnya.” Aku mengkerutkan kening meminta penjelasan lebih.

“Lukisan yang sekarang sudah habis terjual seluruhnya, dan permintaan masih banyak. Untuk itu, Pak Hasan akan mempersiapkan showmu yang kedua. Dan yang ini harus dalam persiapan yang lebih matang.” Aku hampir tidak percaya apa yang baru saja kudengarkan.

“Dan tentunya lebih bergengsi,” Pak Hasan menambahkan kalimat Ibuku.

“Kapan?”

“Maret tahun depan, di Singapore.” Aku terperangah.

‘Sampai sejauh itukah lukisanku melanglang?’ Beberapa menit berbasa-basi kami berpamitan. Aku pergi menjumpai para pengunjung lain, melayani pertanyaan mereka satu persatu, walaupun dengan bahasa yang tidak selancar mereka, namun setidaknya aku dapat mengerti mereka dan mereka dapat mengerti aku.

Di akhir acara, kulepaskan alat bantu dengar yang setia bertengger di telingaku saat berbicara kepada orang lain. Kukelilingi show room ini dan menatap lukisanku satu persatu. Di dalam sana, aku berada suatu waktu yang lalu. Tanpa suara. Bila kutatap lagi lebih dalam, kadang aku ingin kembali berada didalamnya.

Dunia tanpa suara yang sepi sebenarnya sangatlah indah, dan penuh arti. Kadang aku dapat melihat angin dan menciumnya. Kadang kulihat aura setiap orang yang mencerminkan hati mereka. Dunia ini mempunyai sisi yang lain, seperti di dalam lukisan itu. Gerakannya bagaikan sebuah slow motion yang dapat aku goreskan ke dalam kanvas ini. Dan dunia itu pulalah yang telah memberiku berkah yang sangat besar ini.

Jumat, 22 Oktober 2010

CINTA TIDAK SOAL BENTUK BADAN

"Kenapa sekarang kamu gemuk banget?" tanya Rudi saat melihat perubahan pada bentuk tubuh Kezia yang begitu drastis.
"Ehm... ehm... ak-aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena liburan semester panjang dan aku tidak ada kerjaan." Kezia beralasan.
"Kok bisa? Dulu-dulu, kamu tidak pernah kayak begini. Memang ada apa dengan kamu?" tanya Rudi heran.

"Kan aku sudah bilang, aku tidak tahu. Manusia kan bisa berubah sewaktu-waktu. Betul, kan?" ujar Kezia berbohong.

"Oh, begitu....aku mengerti." Rudi hanya bisa pasrah dan tak bisa mengorek-ngorek lagi lebih dalam.

"Kenapa kamu ajak aku ke sini? Bukannya kamu sudah tidak mau ketemu sama aku?"
"Memangnya tidak boleh, ya? Aku cuma kangen."

Deg-deg-deg....
Jantung gadis itu berdetak lebih kencang meskipun hanya berselang beberapa detik. Mukanya merah padam, terdiam dengan hati tak menentu. Seakan tak percaya atas pendengarannya sendiri.

Seakan menyangsikan hadirnya sosok tampan yang telah mengucapkan kalimat manis tadi, sungguh pun ia nyata berada di hadapannya kini. Sosok yang yang sampai detik ini masih dinantikannya itu.
Tak percuma hari itu ia berdandan dengan sangat cantik dan modis. Namun sayangnya....

Ya, itu tadi!
Disesalinya perubahan badannya yang sekarang agak melar. Namun begitu, tak disadarinya, sesungguhnya kecantikan di wajah seorang Kezia masih terpancar apalagi kalau ia tersenyum. Tidak terhalangi oleh badannya yang kini agak gemuk. Setidaknya tidak sampai melebihi obesitas dan sejenisnya.

"Masa? Kangen? Bukannya kamu sudah lupa sama aku dan menghilang begitu saja? Kamu sudah jadian sama Jenny sekarang, kan?" tanya Kezia dalam nada menginterogasai.

"Aku sudah tidak sama dia lagi. Dia sudah mengkhianati aku. Mungkin aku kena karma. Aku jadi sadar kalau aku dulu sudah jahat banget sama kamu!" Rudi mencoba meraih tangan Kezia, tetapi gadis itu berusaha menghindar. "Kenapa? Kamu sudah lupakan aku selama ini? Sudah tidak ada perasaan sayang lagi?"

"Bukan begitu!" elak Kezia.
"Tapi, kenapa?" tuntut Rudi.
"Aku sudah tidak bisa percaya lagi sama kamu. Dan ditambah lagi, aku belum siap!"
"Belum siap kenapa? Aku maklum kalau kamu belum bisa percaya sama aku. Tapi belum siap karena apa?"
"Karena aku sekarang gemuk! Aku tidak pantas bersanding di samping kamu!"

"Aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, Kez. Asal kamu janji untuk menguruskan badan, diet, atau apalah namanya. Jadinya kamu juga yang cantik, kan? Pokoknya, aku tetap sayang sama kamu."
"Apa benar? Kamu pasti bohong! Jangan kamu sakit hati aku lagi! Please!"

"Iya, aku janji!"
Di cafe itulah Rudi dan Kezia kembali merajut hubungan percintaan mereka kembali. Kezia seolah-olah melupakan begitu saja perbuatan Rudi yang 'mendepak'nya karena kegemukan. Ia berselingkuh dengan gadis lain yang bertubuh langsing, Jenny. Namun sekarang cowok itu datang, dan kembali mengumbar kalimat gombal yang lebih dahsyat dari 'rayuan pulau kelapa'.

Sehingga seorang Kezia dapat dibuainya hanya dengan sebaris kalimat maaf. Kali ini emosi dan ruapan amarah hati Kezia meluyak menjadi rindu dan sayang. Terhadap pemuda yang pernah mencampaknya begitu saja. Dan pemuda bernama Rudi itu berjanji dengan sungguh-sungguh akan menjaga Kezia dengan baik. Serta melunakkan standar pasangan yang diinginkannya, yaitu harus berbadan langsing.

***

Kezia menangis bahagia di atas tempat tidurnya. Di dalam kamar tidur yang bernuansa merah-jambu serta terdapat banyak hiasan bunga dan boneka. Rupanya, doa yang telah dihaturkan selama delapan bulan terakhir ini didengar oleh Tuhan. Rudi kembali lagi ke pelukannya. Tak percuma ia tetap setia dan menutup hatinya terhadap pemuda manapun yang mencoba mendekatinya.

Tok-tok-tok....
"Kezia, sudah malam. Ayo turun makan malam!" seru Mama sambil mengetuk pintu.
"Ehm... Kezia tidak lapar, Ma! Tadi juga sudah makan."
"Ah, yang benar? Ya sudah, tapi jangan bohong, ya?"
"Iya."

Rasa lapar Kezia hilang begitu saja tertutup oleh kebahagiaan. Padahal, sedari tadi ia hanya makan sereal di pagi hari dan minum jus mangga di cafe tadi bersama Rudi. Keinginan untuk diet tiba-tiba muncul mengikrar di dalam angannya. Ia jelas tidak ingin mengecewakan Rudi yang begitu tampan.

Kez, cinta itu platonis! Ia tidak berpamrih. Ia mau menerima kamu apa adanya! Jadi, untuk apa kamu menyiksa diri berlapar-lapar begitu? Jadinya, kamu bisa jatuh sakit lagi!

Suara hatinya muncul begitu saja begitu ia menutup mata sebentar. Tak diindahkannya suara batinnya tersebut, dan meneguhkan tekadnya untuk tetap berdiet keras supaya menjadi langsing. Tidak ada salahnya kan mempunyai tubuh langsing seperti dulu? Lagian, kan lebih sehat! begitu dalihnya dalam hati. Sesaat kemudian,

lambungnya mulai mengeriut keroncongan, dan itu merupakan sirine kalau ia harus makan. Namun ia hanya menahan lapar dengan rasa sakit yang luar biasa.

Di dalam 'penyiksaan diri', ia bangkit dari tidurnya. Meraih buku hariannya di laci meja belajarnya. Dibukanya lagi buku hariannya yang bersampul putih bergambar piano dengan tuts-tuts khas hitam dan putihnya. Begitu dibuka, selembar kartu ucapan dari Olive, sahabatnya, terjatuh. Kartu ucapan yang berisi kata-kata bijak:

'Jangan pernah lagi menyentuh bagian lama dalam kehidupanmu yang telah membuatmu sedih, bingung dan menangis. Itu bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan itu pasti akan membuatmu bertumbuh dan tidak berkutat jatuh bangun di dalam lubang yang sama.'

Kezia teringat lagi kata-kata penghibur yang pernah dilontarkan sahabatnya itu

"Lupakan Rudi, Kez. Kalau dia memang cinta sama kamu, dia pasti menerima kamu apa adanya. Dia bisa menerima kehadiran kamu utuh sebagai seorang kekasih, bukan dari bentuk fisik. Bukan dari tubuh langsing atau gemuk, ringkih atau gembrot. Tapi murni berlandaskan hati."

Mengingat kalimat itu, airmata Kezia menitik. Tangannya refleks membuka lembar demi lembar buku hariannya itu. Ada begitu banyak tulisan yang menggambarkan hatinya yang patah dan retak karena Rudi. Rudi yang lebih memilih Jenny hanya lantaran perkara sepele. Langsing! Dalam intuisinya pula, Kezia merasa Jenny itu lebih cantik, pintar, kaya dan lebih segalanya darinya. Dilema pun muncul karena ia baru saja menyentuh masa lalu itu kembali, dan menerima meskipun pernah demikian menyakitkannya. Padahal,

ia sudah berjanji kepada Olive untuk melupakan Rudi. Sebab ia sadar, sudah begitu banyak segi kehidupannya yang berantakan gara-gara Rudi. IPK-nya turun drastis. Badannya yang bertambah gemuk tak terkontrol karena stres.

Hubungan dengan keluarga dan teman-temannya yang semakin renggang karena keegoisan Rudi yang melarangnya terlampau bergaul dengan kawan-kawan lamanya.
Sekarang, mestikah ditepisnya janjinya kepada Olive untuk memulai segalanya dengan hari yang baru, dan tak terkungkung oleh wajah tampan Rudi?

"Jangan musuhi makanan, Kezia! Makanan bukan musuhmu. Makanan adalah sahabat kita. Dia menopang hidup kita, menjadi darah dan daging bagi fisik kita. Musuhmu adalah dirimu sendiri, yang tidak dapat dapat melupakan masa lalu."

Kezia tersedu. Olive memang sedang tidak berada di hadapannya. Olive sedang tidak memarahi, terlebih-lebih menghakiminya. Tetapi ia merasa menjadi seorang pidana mati yang dilematis.
Ah, cinta itu memang telah membutakan nuraninya.

***
Seminggu kemudian....
Diet ketat yang telah dilakukan Kezia rupanya cukup berhasil. Bobotnya turun dari 65 kg menjadi 62 kg. Senyum bahagia tampak jelas di wajahnya. Celana pinsil yang tadinya agak sempit kini sedikit lebih longgar. Ia juga menyiapkan kue nastar buatannya sendiri untuk dibawakan ke rumah Rudi. Kezia memang ahli dalam hal memasak dan membuat kue. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa tubuhnya gemuk karena ia harus mencoba masakan dan kue-kue yang dibuatnya sendiri.

"Tante, Rudi-nya ada?" tanya Kezia pada Mamanya Rudi.
"Kezia? Oh, Rudi-nya lagi pergi sama Natasya."
"Natasya siapa, Tante? Temannya Rudi, ya?"
"Rudi belum kasih tahu kamu, ya? Mereka berdua kan sudah mau tunangan! Mereka lagi pergi ke toko emas pesan cincin," ujar Mamanya Rudi sambil tersenyum.
DUAARRRRRT!

Kezia merasakan gemuruh berdentam di atas kepalanya. Ia lunglai dan tubuhnya melimbung seketika. Ditahannya sekuat mungkin airmata yang meruap di pelupuk matanya dengan kerongkongan memerih. Toples kue nastar yang akan diserahkannya pada Rudi terjatuh, dan isinya terburai berantakan. Kezia tidak menjawab apapun dan langsung meninggalkan tempat kejadian. Tangisnya meledak, tak mampu dibendungnya lagi.

"Kezia, kamu tidak apa-apa?" tanya Mamanya Rudi prihatin, separo berteriak dan berusaha mengejar Kezia yang sudah membuka pintu mobilnya.

***

Buku harian tempat pencurahan hatinya itu kembali terisi....

'Aku hanya budak cinta yang gemuk. Pacarku pergi meninggalkan aku karena aku gemuk. Padahal, gemuk itu alamiah dan merupakan proses pertumbuhan yang tak dapat aku elakkan. Namun, ia tidak bisa menerimanya. Percuma saja aku hidup karena kalaupun aku kurus, aku tidak bisa meraihnya kembali. Selamat tinggal!'

Dengan wajah sembab dan berurai airmata, Kezia mengambil sebilah pisau silet dari toilet. Diletakkannya mata pisau silet di atas pergelangan tangan kirinya. Bermaksud memotong urat nadi yang mengalirkan darah di sana. Dan baru saja ia hendak mengiris urat nadinya, tiba-tiba Olive masuk mementangkan pintu kamarnya....

Selesai

Aku Dan Dia

 Angin sore berhembus dengan lembut, membungkus diriku dalam hangatnya udara musim panas. Aku melepaskan sandalku dan menjinjingnya. Aku suka merasakan pasir-pasir lembut ini masuk ke sela-sela jariku, merasakan kakiku tertimbun olehnya. Deburan ombak yang berdesir mengikuti irama langkahku terdengar seperti musik di telingaku.

Di sebelahku, Niko menghirup dalam-dalam udara pantai yang segar dan basir asin. Rambutnya yang berwarna coklat ditiup angin dan menari-nari menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak berubah sama sekali sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku tidak dapat mengingat kapan terakhir kali aku merasa sedamai ini....
Aku pertama kali bertemu dengan Nicholas di pantai ini. Hari itu, Niko – begitu panggilanku untuknya, terlihat seperti mahasiswa Indonesia kebanyakan yang bersekolah di San Francisco. Dalam balutan jeans yang digulung sampai lutut dan kaos biru muda, ia terlihat santai dan tanpa beban. Dan justru hal itulah yang menarik perhatianku kepadanya.

Perkenalan kami berlanjut ke barter nomor handphone dan alamat, dan tidak lama kemudian kami pun menjadi sahabat karib. Kepadanya yang santai dan easygoing, aku dapat mencurahkan semua masalahku, terutama mengenai pacarku yang sedang bekerja di Indonesia.
Segala kekhawatiranku, kekesalanku dan kecurigaanku pun dihapus Niko dengan mudah melalui canda tawa dan saran-saran yang diberikannya.

Kepadanya aku juga menceritakan bebanku sebagai anak tertua di keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki sama sekali—bagaimana aku harus sekolah tinggi demi meneruskan usaha Papa, dan pada saat bersamaan menjadi teladan bagi adik-adikku yang sudah tidak memiliki seorang Mama.

***

"Tahu nggak, Sha, apa masalah kamu?" tanya Niko suatu saat dengan mimik yang lucu. Hanya dia yang dengan berani-beraninya memendekkan namaku, Sarah, menjadi 'Sha'. Biar demikian, aku cukup menyukainya sih. Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalaku.
"Kamu ini terlalu bagaimana ya, nggak santai! Kamu harus lebih terbuka sama orang lain, lebih easygoing.... Pernah nggak sih, semua yang kamu ceritakan ke aku kamu ceritakan ke pacarmu? Nggak pernah, kan? Kamu harus lebih banyak share sama dia. Wajar saja dia marah kalau kamu nggak suka cerita.

Kalau begitu terus, dia akan jadi merasa tersisih, Sha," sambung Niko panjang lebar.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Benar juga, sih. Rio memang suka marah kalau aku menceritakan soal Niko, bagaimana dekat aku dengannya, dan bagaimana aku merasa bebas menceritakan masalah-masalahku. Atau, apa mungkin dia cemburu ya? Aku tertawa geli membayangkannya. Walaupun keren dan banyak cewek yang naksir, Niko itu cerewet sekali kepadaku, sampai-sampai terkadang aku menjulukinya 'my sister' – habis, seperti cewek, sih! Namun, aku yakin dia bukan gay karena ia pernah menceritakan kisah cintanya yang dulu padaku.

Persahabatan kami pun berlanjut terus, sampai tiba waktunya kami berdua harus kembali ke Jakarta karena kuliah kami sudah tuntas. Begitu sampai di Jakarta, aku memperkenalkannya kepada Papaku, yang sangat menyukainya. Namun, ketika aku memperkenalkannya kepada Rio, reaksi pacarku selama lima tahun tersebut benar-benar tidak kusangka.

"Aku nggak suka sama dia, Sar!" ujar Rio datar, dengan ekspresi masam yang membuat wajah gantengnya menjadi tidak enak dilihat. "Aku pingin kamu menjauhi dia. Toh sekarang sudah ada aku, kamu juga tidak perlu dia lagi, kan? Kalau mau teman jalan-jalan, kan ada Cindy, Rosa, atau Bianca...." lanjutnya sembari menyebutkan nama teman-temanku saat SMA dulu.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Rio tidak mengerti arti persahabatan Niko bagiku. Dia memang benar-benar cemburu. Namun saat itu, aku mengira kecemburuannya hanya akan berlangsung sementara saja. Toh, kalau dia sudah mengenal Niko lebih baik, pasti dia akan menyukainya.

Di sisi lain, walaupun Rio sangat tidak ramah kepadanya, Niko tetap ceria dan menganggap Rio sebagai teman. Ia juga masih sering menghubungiku, dan kadang-kadang ia main ke rumahku untuk menemani adik-adik perempuanku yang masih kecil-kecil. Mereka suka sekali dengannya karena ia pandai bercerita dan masakannya sangat enak. Selain menemani si kecil Natasha bermain dan membaca, Niko juga sering membantu memberikan solusi-solusi masalah cowok untuk Theresia yang mulai beranjak remaja. Tahun demi tahun terlewati, dan Niko tetaplah teman yang terbaik untukku. Kami sering bertemu, sekedar hanya untuk berbincang-bincang.

Kami bahkan mengajukan diri untuk menjadi guru sekolah minggu di gereja bersama-sama.

Hubunganku dengan Rio juga menjadi semakin serius. Kami telah berpacaran selama lebih dari tujuh tahun. Ia sudah bekerja untuk Papa, membuat pernikahan semakin berada di dekat mata. Bagiku, semua yang kami lewati bersama telah menjadi suatu pattern yang amat sangat predictable. Ya, mengapa aku harus khawatir? Rio laki-laki yang baik, dia luwes dalam pergaulan dan akrab dengan semua saudara-saudaraku, mempunyai tabungan yang lebih dari cukup untuk memulai suatu rumah tangga dan kami tidak pernah berselisih lebih dari pertengkaran-pertengkaran kecil. Dan bukankah aku juga telah mengenakan cincin 'janji' dari Rio?

Akan tetapi sore itu aku tidak mengenakan cincin tersebut. Aku tidak pernah mengenakannya apabila sedang bersama-sama Niko. Rio telah memberikan ultimatum kepadaku seminggu yang lalu, sebelum aku dan Niko berangkat bersama-sama ke San Francisco untuk menghadiri reuni angkatan kami saat kuliah dulu.

"Aku nggak mau kamu dekat dengan Niko lagi. Kita sebentar lagi akan menikah Sar, dan aku sering mendengar orang-orang mempergunjingkan kedekatanmu yang tidak wajar dengan Niko. Bagaimanapun juga dia laki-laki dan kamu perempuan. Aku percaya kepadamu, tapi kamu harus memutuskan hubunganmu dengannya," ultimatum Rio. Tanpa ekspresi. Dingin sekali.

Aku menoleh ke sampingku dan melihat Niko yang juga sedang menatapku dengan tatapan matanya yang lembut. Hari ini aku harus mengatakannya. Katakanlah! Jeritku dalam hati. Katakan kalau kamu tidak dapat menemuinya lagi! Namun pada saat kata-kata yang telah aku persiapkan hendak meluncur dari bibirku, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan sebaliknya merangkul pundak Niko.

Pada saat itu, aku menyadari sesuatu yang telah aku sangkal selama bertahun-tahun. Aku tidak dapat mengakhiri persahabatanku dengan Niko karena aku membutuhkannya setiap hari untuk seumur hidupku. Aku ingin selalu melihatnya tersenyum, mendengarkan canda tawanya dan merasakan kehadirannya di sisiku ketika aku sedang sedih dan gundah. Ternyata aku menyayanginya dan membutuhkannya lebih dari seorang sahabat.

Aku menatap ke dalam bola matanya yang berwarna hitam pekat bagaikan telaga. "Sejujurnya, aku... aku sayang kamu... aku nggak bisa kehilangan kamu...." Airmataku pun tumpah membasahi kemejanya.

Namun Niko hanya diam memelukku dan mengusap rambutku.
Setelah tangisku terhenti, barulah ia memegang kedua pundakku dan menatap lurus ke dalam mataku. "Tahukah kamu Sha, apa yang selalu kudoakan setiap minggu di gereja?" Ia tersenyum. "Aku mendoakan kebahagiaanmu. Namun jika ia tidak bahagia bersama Rio, Tuhan, maka izinkan aku yang membahagiakannya...."

Tangisku pun pecah kembali dan kami berpelukan lama sekali, seperti dua orang yang baru menyadari cinta mereka berdua. Angin bertiup dengan pelan, ombak berdesir dengan lembut... seakan menjadi saksi cinta kami berdua.

Sejak saat itu, aku dan Niko tidak pernah lagi mengenal kata berpisah. Sore itu aku menyadari bahwa aku bertanggung jawab atas kebahagiaanku sendiri. Kata orang, cinta yang sejati tumbuh karena kebersamaan. Kadang kala, orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, karena takut kau berpaling dan memberi jarak.

Namun bila suatu saat ia pergi, barulah kau akan menyadari, bahwa ia adalah cinta yang tidak kau sadari. Tampaknya, aku tidak hanya sekedar membutuhkan Niko.... Aku telah jatuh cinta, walau aku tidak pernah menyadarinya sampai detik aku hampir kehilangan dirinya.

Ternyata aku cinta dan kutakut kehilangan dirimu yang kukasihi....

Selesai

HINGGA UJUNG WAKTU

 Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja....

Shit! rutukku dalam hati. Kenapa lagu ini sih? Aku menarik napas dalam-dalam dan menghelanya dengan perlahan. Ini lagu yang paling tidak ingin kudengar, apalagi saat sekarang ini. Saat dimana aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berbaring di atas ranjang dan mengistirahatkan kaki kananku yang patah karena kecelakaan mobil sialan tiga hari lalu itu.

Ya, kecelakaan mobil gara-gara pacar 'tersayangku', si Karina, yang merengek-rengek minta dijemput karena supirnya tidak masuk kerja. Minta dijemput mau ke salon. Oh my God! Apa tidak bisa ya cuci rambut sendiri di rumah? Sudah bagus aku mau menjemputnya, eh masih saja dia menelepon ke handphone-ku saat aku sedang menyetir dan berteriak-teriak agar aku lebih cepat lagi sampai di rumahnya. Padahal dia tahu, aku paling tidak bisa ditekan seperti itu.

Dan benar saja, pada saat aku sedang meladeni Karina di telepon, tiba-tiba sebuah mobil Kijang biru memotong jalur di depanku dan aku pun membanting setir agar menghindari tabrakan dengan mobil itu. Bodohnya lagi, aku malah menabrak pohon di sebelah jalan. Bagian depan mobilku hancur, kakiku pun patah, benar-benar hari yang sial! Parahnya lagi, gadis 'tersayangku' itu tidak bersikap simpatik sama sekali ketika mengunjungiku di rumah sakit, malah ngambek karena tidak bisa ke salon. Benar-benar menyebalkan!

***

Akhirnya aku menemukanmu
Saat kubergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah
berhenti
memilikiku....

"Kak Jason? Ada tamu buat kakak, nih. Cewek. Aku suruh masuk ya?" Tiba-tiba suara Sella membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati adik perempuanku sedang menjulurkan kepalanya ke celah pintu kamarku. Di belakangnya, aku samar-samar melihat bayangan seseorang berbaju merah.

Wah, pasti Karina nih, mau minta maaf! ujarku dalam hati. Dengan sedikit sebal aku pun menjawab, "Ya, suruh masuk saja Sel. Thanks, ya?"

Namun, setelah Sella mempersilahkan tamu tersebut masuk, aku mendapati diriku sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang tidak pernah aku sangka akan aku temui lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Gadis yang berdiri di hadapanku sekarang ini bukanlah Karina, dan juga bukan teman-teman wanitaku lainnya—untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bisa membaca apa yang dia pikirkan, dan aku tidak bisa lagi mengetahui isi hatinya dari raut wajahnya.

Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada di sini
Dan pekat pun berakhir sudah....

"Mel. Tumben kamu ke sini?" sapaku dengan suara bergetar. "Sudah hampir lima tahun ya, sejak kita terakhir bertemu."
Melissa, gadis itu, hanya tersenyum tipis dan berjalan menghampiri ranjangku. "Ya, Jason. Apa kabar kamu? Aku dengar dari Roy, kamu kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu? Kok bisa?" tanyanya sembari menarik kursi dari belakang meja belajarku dan duduk di sebelah ranjangku, menghadapiku.

Aku menghela napas dan berujar, "Ceritanya panjang Mel, pokoknya ini semua gara-gara pacarku, Karina. Entah mau apa perempuan itu...."
Dengan tertawa getir, aku menatapnya dalam-dalam, namun ekspresi Melissa tidak berubah, tetap tak dapat dibaca. "Sejak kapan kamu di Indonesia, Mel? Terakhir aku dengar... kamu kerja di luar negeri?"
Melissa menganggukkan kepalanya.

"Iya, aku sekarang kerja di Jepang, jadi konsultan ekonomi di sebuah perusahaan multinasional di sana. Lumayan, aku betah juga. Ini juga aku sedang ambil cuti, makanya aku bisa pulang. Dan kebetulan aku dengar kamu sedang rawat jalan, makanya aku mampir, sekalian menanyakan kabar kamu. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?"

"Aku baik-baik saja, sekarang sudah dapat kerjaan sebagai asisten dokter di Gleneagles. Yah, doakan saja ya semoga sukses nantinya, seperti kamu," sahutku sambil bercanda.

Melissa tertawa lebar, dan untuk sesaat aku bagaikan terbawa kembali ke masa lalu, dimana senyum dan canda tawanya hanyalah untukku seorang....

"Bisa saja kamu. Aku juga belum sukses, kan kamu tahu sendiri cita-citaku adalah...."

"... to eliminate world poverty," potongku dengan cepat.
Melissa membelalakkan matanya dan menatapku dengan aneh.
"Kok kamu bisa ingat? Kan sudah lama sekali!" sahutnya bingung.
"Yaaa, bagaimana aku lupa sih. Kamu kan sudah beratus-ratus kali mengatakannya padaku.

Kalau sudah sebanyak itu, tentulah aku pasti ingat!" ujarku, lalu menderaikan tawa dan memberanikan diri untuk mengusap rambutnya. Aliran listrik bagaikan menjalar dalam tubuhku saat aku menyentuh dirinya. Sudah lama sekali....

Akhirnya aku menemukanmu
Saat kubergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku....

"Ah, masa sih!" Melissa tersipu malu. "Kamu selalu begitu deh, ingat hal-hal yang aneh mengenai aku. Tidak pernah ingat yang bagus-bagus."
"Tentu saja aku ingat yang bagus, Mel! Mau bagaimanapun juga, kamu kan cinta pertamaku!" protesku dengan ekspresi lucu.
Melissa berhenti tersenyum dan menundukkan kepalanya, ekspresinya lagi-lagi sulit dibaca. Duh, salah lagi deh.... Harusnya memang tidak boleh bawa-bawa masa lalu lagi! sesalku dalam hati.

"Mel...." ucapku dengan halus, mencoba untuk memperjelas situasi.
"Jas, sepertinya kamu haus ya, aku ambilkan minum ya!" potongnya dengan ekspresi ceria yang seperti dibuat-buat.

Sebelum aku mampu mengatakan hal-hal lain lagi, dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju meja belajarku untuk mengambil gelas minumku. Namun, pada saat itu, bukan dialah yang aku perhatikan, melainkan bayangan kerlipan sesuatu yang bersinar di tangannya. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya—mungkinkah?
"Ini Jas, minum ya? Kamu kan lagi sakit, harus banyak minum air!" ujarnya sembari kembali duduk dan memberikan gelas kepadaku.

Dengan senyum lemah aku menurut dan meneguk air yang ada di dalam gelasku dan meletakkannya di meja sebelah ranjangku setelahnya. Sambil tersenyum Melissa meletakkan kedua tangannya di atas lututnya dan kali ini aku dapat melihat secara jelas cincin emas putih berhias berlian yang melingkari jari manis tangan kanannya.
"Mel. Kok tumben kamu pakai cincin? Bukannya seingatku, kamu paling tidak suka ya?" tanyaku sambil mencoba biasa-biasa saja, padahal hatiku sudah tidak enak setengah mati.

Tiba-tiba ekspresi Melissa berubah, rona merah menghiasi wajahnya dan dia menundukkan kepalanya. Aku terdiam, tidak tahu harus berucap apa. Setelah terdiam untuk beberapa lama, akhirnya dia pun bicara.

"Ini cincin tunanganku, Jas. Aku akan menikah bulan depan dan setelah menikah, aku akan pindah kembali ke Jakarta. Salah satu alasan aku datang hari ini adalah untuk memberitahukan hal tersebut kepadamu, dan untuk mengundangmu ke hari pernikahanku." Suaranya bergetar. "Kamu harus datang, ya?"

Pada saat itu aku dapat merasakan wajahku memucat. Aku merasa mual sekali. Pada saat itu, semua kenangan yang pernah aku lalui bersama Melissa kembali membayangiku secara bergantian....
Saat kami bertengkar untuk pertama kalinya, setelah dua bulan kami berpacaran. Aku sedang marah, marah sekali waktu itu, dan aku berteriak kepadanya agar pergi dariku, agar tidak menggangguku lagi. Aku ingat pada saat itu dia kaget sekali melihatku seperti itu, airmata mengalir di kedua belah pipinya dan dia lari menjauhiku sembari menangis tersedu-sedu.

Pada saat itu, pada saat aku melihatnya menangis karena aku, hatiku bagaikan terkoyak dan aku pun mengejarnya, ingin menarik semua kata-kataku yang telah melukai hatinya, untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya!

Saat kami berciuman untuk pertama kalinya, setelah hampir setahun kami berpacaran. Itu adalah saat-saat di mana aku sedang merasa benar-benar jatuh, benar-benar depresi dan benar-benar sendiri. Namun Melissa tidak pernah meninggalkanku, dengan sejuta kata-kata penghiburan ia mampu menyejukkan hatiku, dan segala yang ia lakukan membuktikan kepadaku bahwa ia benar-benar mencintaiku. Saat bibir kami bersentuhan, pada saat itulah aku tahu, bahwa memang dialah satu-satunya gadis untukku!

Saat kami mengucap janji untuk saling mencintai selamanya, saat aku menyematkan cincin di jari manisnya. Cincin murah yang aku beli dari hasil kerja sambilanku, cincin yang menandakan bahwa Melissa adalah gadis milikku, dan hanya milikku seorang. Pada saat itu aku benar-benar yakin bahwa masa depan kami tidak mungkin dipisahkan, bahwa kami akan menikah suatu saat nanti dan bila saat itu tiba, Melissa akan menjadi milikku sepenuhnya.

Saat kami berpisah, saat aku meninggalkannya tanpa sekali pun menoleh lagi ke belakang. Aku harus mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya agar dia pergi dan menjauh dariku. Dia tidak tahu bahwa pada saat itu hatiku sama hancurnya dengan dirinya, dia tidak tahu betapa sulitnya bagiku untuk menyakitinya. Namun aku benar-benar berengsek, bahkan setelah putus pun aku terus menyakitinya, aku melakukan hal-hal yang tidak pernah dapat dia lupakan. Aku tahu, bahwa aku tidak pantas baginya. Tapi aku tidak bisa mengenyahkan perasaan ini, bahwa masih ada suatu tempat di hatiku untuknya bahkan hingga sekarang.

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Tak 'kan henti bernyanyi....

Namun gadis yang sekarang duduk di hadapanku bukanlah Melissa yang dahulu milikku. Dia bukanlah Melissa yang selalu memanjakanku, yang selalu menomorsatukanku, yang selalu mencintaiku. Wajahnya tidak berubah, bibirnya masih menyunggingkan senyum yang sama seperti lima tahun lalu, matanya masih memancarkan cahaya yang sama, cahaya penuh cinta. Hanya saja, tatapan itu bukanlah ditujukan kepadaku lagi. Apakah egois bila aku masih ingin memilikinya?

Ekspresi wajah Melissa perlahan berubah dari malu menjadi bingung. "Jas? Kamu tidak apa-apa? Kamu masih sakit?" ujarnya khawatir sembari menyipitkan matanya. "Mau aku panggil Mama kamu?"
Aku berusaha tersenyum, walaupun sulit. "Aku tidak apa-apa kok, Mel. Kaget saja, tahu-tahu kamu sudah mau menikah. Padahal sepertinya baru kemarin kita berpacaran...."

Melissa tertawa. Tawa yang tulus. "Iya ya, sebenarnya kita berpacaran lama juga ya, hampir tiga tahun waktu masa SMA dulu. Yah, semuanya tinggal kenangan manis. Betul, tidak?" candanya.
Aku terdiam. Mungkin bagi Melissa, semua itu hanya kenangan. Namun bagiku tidak. Sampai detik ini, masih ada bagian dari hatiku yang kusimpan hanya untuk dia.

Mungkin untuk selamanya, mungkin hingga ujung waktu. Sudah lima tahun kita tidak bertatap muka, ataupun saling memberi kabar, namun ketika kami bertemu, aku merasa diriku terbawa kembali ke masa lalu, masa-masa yang bahagia, masa-masa di mana dia adalah milikku seorang. Gadis-gadis yang aku pacari setelah dirinya, bahkan Karina pun, tidak akan pernah bisa menggantikan Melissa. Dia cinta pertamaku, dan akan tetap menjadi cinta pertamaku selamanya....

Hanya Melissa satu-satunya gadis yang paling mengerti diriku. Hanya dia yang mengerti betapa besar gengsiku, betapa moody diriku apabila sedang dilanda masalah, betapa besar tekananku bagi diriku sendiri. Saat Melissa memutuskan untuk pergi lima tahun lalu dari hidupku, saat dia bahkan tidak mau menjadi sahabatku, aku merasa bahwa aku telah kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Seseorang yang telah membuatku menjadi diriku yang sekarang ini.

Aku tidak ingin kehilangan Melissa, tidak dahulu, tidak sekarang, tidak selamanya.
"Mel..." mulaiku. Aku ingin mengatakan padanya, bahwa aku masih mencintainya, bahwa hanya dialah satu-satunya gadis yang pernah benar-benar aku cintai. Gadis yang ingin aku jadikan sebagai istriku, sebagai pendamping hidupku, hingga ujung waktu....

Namun dia memotong ucapanku setelah dengan kaget melihat jam dinding di atas ranjangku. "Wah, sudah jam tiga siang, Jas! Aku harus pergi nih, ada janji sama Adam, tunanganku. Dia mau ngajak aku lihat-lihat property di komplek rumah orangtuanya. Yah, aku lega kamu baik-baik saja, Jas." Melissa tersenyum. "Kamu harus datang ya, bulan depan! Aku benar-benar harap kamu bisa datang." Dia bangkit dari kursinya dan meluruskan roknya.

Aku menatapnya tanpa dapat berkata apa-apa. Da mengembalikan kursi yang dia duduki ke tempatnya semula dan mengulurkan tangan kanannya kepadaku.

Aku ingin sekali menarik tangan tersebut dan memeluknya, mengatakan padanya bahwa aku tidak mau dia menjadi milik pria lain, bahwa hanya akulah pria yang paling tepat untuknya. Namun... aku tak sanggup. Aku tahu, inilah kebahagiaannya, bersama Adam, dan aku tidak akan pernah dapat memberikannya kebahagiaan yang sama, betapa keras aku mencoba. Pada akhirnya, aku menyambut uluran tangannya dan menyalaminya.

"Selamat ya Mel. Aku bahagia untukmu." Kata-kata palsu tersebut meluncur dari bibirku. Aku tidak dapat menyangkal bahwa hatiku sakit sekali ketika mengucapkannya. "Aku dan Karina pasti akan datang."
Melissa tersenyum hangat dan menepuk bahuku. "Begitu dong, Jas. Oke deh, nice seeing you again. Take care, ya?" Dia pun beranjak pergi, berjalan menuju pintu kamarku dan membukanya. Sebelum menutup pintu kamarku, Dia menjulurkan kepalanya di celah pintu dan berucap, "Cepat sembuh ya, Jas!" Kemudian, dia menutup pintu dan... dia telah pergi. Meninggalkanku, seperti aku meninggalkannya lima tahun silam.

Aku tidak sadar bahwa pada saat itu, setetes airmata mengalir di pipiku dan jatuh di atas telapak tangan kiri yang sedang memeluk bantal di pangkuanku. Lantunan lagu masih membayangiku, dan mendengarnya aku tidak lagi terbuai, namun bercampur antara rasa sakit dan kekosongan yang mengisi relung hatiku pada saat ini.

Saat aku berkhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu....

(Sheila On 7) ©

Kamis, 21 Oktober 2010

Guru dan Semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.

Ya Tuhan, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

PERTEMUAN YG TAK PERNAH ADA

Kriiing....

"Ve... Noveeee...." panggilan—teriakan tepatnya—yang tak kuharapkan pagi ini.
"Yaaa...?" sahutku malas.
"Telepon tuh!" Makin keras teriakan Bubi.
"Cowok apa cewek?" balasku berteriak. Enggan rasanya meninggalkan hangatnya selimut.
"Cewek!" Jadi agak bersemangatlah buat menerimanya.
"Bangun, Bung. Jam sembilan tuh, nggak kuliah apa?" Rentetan pertanyaan langsung keluar begitu pintu kamarku terbuka. Sedang yang nanya malah asyik baca koran. Di TV reporter menawarkan sajian informasi pagi. Sepertinya Bubi tak ingin ketinggalan berita hari ini.
"Hallo...."
"Novi?" tanya selantun suara dari seberang horn.
"Ya, saya sendiri, dari siapa ya?" Tubuhku langsung tenggelam di kursi malas.
"Noviyanti?"
"Nggak lucu!" Aku paling nggak suka diledek begitu, tapi hanya beberapa orang yang tahu 'nama jelek'-ku. Namaku yang diplesetkan dari Noveanto Tri Rukmana menjadi 'Noviyanti'. Dih, memangnya aku banci apa?! Pasti, teman-teman SMA-ku. Siapa lagi?
"Dih marah, lupa, ya?" Tak ada sedikit pun nadanya berubah, tetap centil.
"Yusi?" tanyaku ragu, yang di seberang malah tertawa renyah.
"Baru bangun, Ve?" Tanya itu terlontar setelah si Empunya suara bernama Yusi itu puas tertawa.
"Baru mau tidur, Mbak! Semalam begadang nonton bola!" ujarku gondok. "Dari mana, nih?"
"Jakarta, iseng-iseng aja nelepon. Sempet nelepon ke Ella, dari dia aku dapet teleponmu. Kamu masih ngontrak aja, Ve?" Satu pertanyaan yang menekankan kata 'masih'.
"Emang kenapa kalau aku masih ngontrak...."
"Kenapa? Nggak kenapa-kenapa. Cuma mau tanya harga cabe keriting?" Masih suka mempermainkan kata juga anak satu ini. Gaya bicaranya sama sekali belum berubah. "Ve-Ve! Kamu ini gimana, sih?"
"Oh, kirain kamu mau ngajak aku kemping bareng?" Kulontarkan selantun kalimat humor, membalas Yusi yang sedari tadi dengan norak menggodaku.
"Justru. Hei, asal jangan pakai acara tersesat lagi kayak dulu, ya?"Kami tertawa bareng. Lalu aku mulai serius. "Oke, apa kabar, Si?" tanyaku.
"Yah, beginilah. Masih sehat-sehat saja. Kamu?"
"Sama...." Aku diam sesaat. "Kuliahmu gimana?" tanyaku dengan suara lamat.
"Kenapa kamu, Ve? Lagi suntuk?"
"Emang kenapa, nggak boleh nanyain kuliahmu?"
"Bukan, pertanyaanmu itu lho, seperti orang yang kehabisan ide cerita!"
"Terus terang aku bingung, Si. Mau nanya apaan? Ada ide?"
"Kamu pengarang, manfaatkan dong daya khayalmu. Dan lagi salahmu sendiri, kenapa surat-suratku nggak kamu balas."
"Sori, Si. Aku sibuk!" jelasku berbohong. Tepatnya, malas!
"Sibuk mengkhayal, sibuk ngibulin orang lewat cerita pendekmu?" sambar Yusi cepat.
"Tapi, kan dapet duit," ujarku sombong.
"Iya, sih. Tapi lupain aja terus temen jauhmu ini. Lupain...."
"Salah sendiri. Kenapa pindahnya jauh-jauh ke Palembang."
"Alaaa, kalo deket juga percuma, paling yang ditraktir cuma si Yayangmu itu aja," kata Yusi, lalu tertawa.
"Cemburu nih, ceritanya?"
"Ya, jelas cemburu dong!"
"Trus, yang di sono gimana?"
"Bokin maksud kamu? Nggak ada, Ve."
"Ah, masa...?" godaku dengan hati sedikit berbunga.
Lalu tawa itu terputus dengan diam.
"Aku lagi pengen pulang ke Belitung, Ve." Nada bicara Yusi berubah. "Bener-bener pulang, pengen balik ke SMA lagi...."
"Hei, ada apa nih? Kamu dilanda kasmaran ya, Si?" Aku masih mencoba memancing banyolan konyolnya.

"Di Palembang aku nggak nemuin temen kayak kita-kita dulu." Pertanyaanku dicuekin. "Aku kangen sama kamu, Ella, Wiwik, Ronald, Abit, Yayan, Dedi, Uli. Aku pengen lihat tampang kalian setelah tiga tahun terakhir kemarin. Hm, rambutmu makin godrong kan, Ve?"
Aku tak menjawab.
Yusi melanjutkan cerocosannya. "Jelek, tahu nggak, Ve?! Mendingan rapi mirip foto kita di Pantai Tanjungkelayang."
"Lagi malas potong aja, Si," elakku.
"Kayaknya teman-teman berubah ya, Ve?"
"Wajar, kan? Orang harus berubah, kalau nggak mau ketinggalan kereta."

"Dalam surat-surat mereka, surat kamu setahun yang lalu, termasuk telepon kita saat ini, ada kesan yang jauh banget. Terasa ada jarak yang sekian kilometer gitu. Ngerasa nggak, Ve?"
"Emang iya! Kamu telepon dari mana sekarang?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, dosa tahu?!" Yusi separo mendamprat. "Aku lagi serius, Ve!"
"Oke, deh. Kalau kamu betul di Jakarta, gimana kalo siang ini kita ketemu?"
"Nggak bisa, soalnya hari ini aku harus pergi, Ve. Mungkin malah langsung pulang."
"Emang dalam rangka apa ke Jakarta?" tanganku mengambil gelas kopi Bubi.
"Iseng aja, pengen ngegodain kamu, Ve."
"Kamu telepon dari Palembang, Si?" selidikku. "Jangan bohong. Kamu bukan sedang di Jakarta, kan?"
"Asli. Aku di Jakarta. Aku nggak bohong. Aku telepon dari Horizon, kok."
"Kerja di mana Mbak, tahu-tahu nginep aja di Hotel?" ejekku.
"Ada deh...." Yusi kumat lagi centilnya. "Nah, nah. Begitu, kan? Lupa teman lama."
Yusi tertawa sebelum bilang. "Jatah, Ve. Aku ikut seminar di sini."
"Wah, bahaya! Udah main seminar-seminaran."
"Ini seminar benaran, Mas Noviyanti!"
Kali ini aku tidak tersinggung dipanggil 'Noviyanti'. Aku terkekeh.
"Udah, ah. Ngomong sama kamu bikin pikiran nggak konsen."
"Benar nih, udahan neleponnya?"
"Kasihan kamunya, Ve."
"Kenapa?"
"Mulutmu udah berbusa, tahu!"
"Sial!"
"Yuuuk, Nove. Sampai ketemu lagi."
"Ingat, Si. Dua tahun lagi reuni SMA."
"Wah, sori. Aku nggak bisa...."
"Kenap...?"

Pertanyaanku belum selesai ketika bunyi 'tut-tut-tut' di sebarang sana memutus pembicaraanku dengan Yusi.

"Sialan!" makiku. Mana aku tak tahu ia tinggal di kamar nomor berapa di hotel!
"Anak SMA mana lagi yang mutusin kamu?" Bubi masih bertanya dengan gaya asal di sofa. Di layar kaca depannya masih ada durasi berita pagi yang menayangkan prakiraan cuaca.
Mending tidur lagi!

Dan dalam tidur aku bermimpi berjumpa dengan teman-teman SMA-ku. Bercanda di kantin, tertawa godain adik kelas. Dan aku lihat Yusi berdiri tersenyum di dekat pintu kelas. Damai sekali.

***

Dua hari kemudian....

Ehm, 022-2513465. Bandung. Aku mencoba mengingat-ingat nomor telepon Ella.
Nada panggil empat kali.
"Hallo?"
"Hallo... hei, La?" Kuakrabi suara mezosopran itu.
"Dari mana aja, Ve?" Ada nada cemas, senang dan kesal yang jadi satu.
"Dari tadi, La," candaku, menanggapi pertanyaannya yang 'Dari mana aja, Ve?' dengan menjawabi 'Dari tadi'.
"Aku telepon berkali-kali ke rumah, kamu nggak pernah ada."
"Biasa, aku....?"
"Sibuk!" ujar Ella menimpali kalimatku yang belum rampung.
"La, liburan yuk?"
"Ve...." potong Ella cepat.
"Ssst..." Aku yang memotong. "Aku dulu yang cerita. Liburan semesteran kan, udah dekat nih. Kamu ada rencana pulang nggak?"
"Ke Belitung?" Ella bertanya seperti pikun.
"Bukan! Ke laut!" Aku mendesah jengkel, pura-pura sewot. "Ya emang ke mana lagi, Non?!"
"Ada apa sih? Emangnya kenapa?"
"Kenapa?!" tanyaku berbalik bak salesman. "Emangnya kamu nggak rindu ngumpul bareng. Kayak tiga tahun kemarin?"

Tak ada jawaban dari Bandung.

"La... hallo, hallo?" Semangatku bersua via suara sahabat lama menglayu seiring tanggapan apatis yang kuterima.
"Kamu belum dengar, Ve?" Tiba-tiba Ella dari seberang sana menayaiku dengan suara lunglai.
"Soal?"
"Soal Yusi!"
Ada apa dengan Yusi?! benakku mulai bertanya cemas.
"Tiga hari kemarin, Yusi dari Jakarta. Dia ikut seminar lingkungah hidup. Waktu pulang bis rombongannya...." suara Ella langsung serak.

Aku lunglai. Tanpa Ella lanjutkan lagi kalimatnya pun aku sudah tahu kelanjutannya.

"Aku coba nelepon kamu, tapi kamu nggak pernah di rumah," kata Ella lagi. "Aku sudah coba menghubungi teman kita lainnya. Yusi...." Kalimatnya terputus oleh tangis.
Aku tak bisa bicara apa-apa lagi.
Diam. Hampa. Sampai Ella menutup teleponnya.
Lalu telepon dua hari yang lalu...?!

***

Rencana reuni yang sama-sama disusun sejak keluar SMA tak pernah terwujud.

Kutatap pedih foto di Pantai Tanjungkelayang sore-sore yang terbingkai di atas meja belajarku dengan delapan orang berdiri berpelukan—tertawa ceria. Cewek ketiga dari kiri. Cewek yang penuh canda. Kini sosok itu memudar. Meninggalkan cerita riang yang tak pernah hilang.

the end

SENYUMAN DIBALIK PINTU

Untuk kesekian kali, kakiku merambah genangan becek aspal jalan yang berlubang. Malam ini terasa bertambah dingin. Lampu jalan yang lapisan kristalnya mulai nampak kotor, menambah bias keredupan malam. Sesekali tubuhku dihantam genangan air yang terlindas roda mobil. Aku hanya diam.

Aku merasa malam ini aku dihujat malam.

Di depan pintu rumah. Aku termenung, memandang kayu rapuh pintu itu. Namun untuk kesekian kali aku bangga melihat pintu itu yang masih setia menungguku. Dan tetap setia menjaga istriku yang terbaring tak berdaya.

Tak perlu aku membangunkan istriku, seperti malam-malam sebelumnya.

Kurebahkan badanku di kursi.

"Baru pulang, Onde?" Wanita yang kucintai itu bertanya lirih. Masih saja, dia selalu menyebut nama kesayanganku.

Aku tersenyum, kucoba menghampiri dia walaupun badan ini rasanya ditelikung lelah yang luar biasa, dan enggan beranjak dari sandaran.

"Iya, Ona. Hm, tadi hujan di luar deras sekali. Sekarang sudah berhenti." Tanganku membelai rambutnya yang mulai kumal.

Dulu rambut Ona yang panjang lebat dan hitam mengkilat adalah salah satu keindahan yang memikatku.

"Bajumu basah. Ganti baju dulu, Onda. Sebentar masuk angin."

Masih saja perhatiannya membungkam kejenuhanku.

"Oya, Ona. Eh, ini obatnya diminum dulu...."

Aku melangkah ke bilik kamar. Selama sakit, istriku selalu tidur di ranjang, di balik lemari penyekat ruangan tamu. Aku sudah kehabisan kata untuk mengingatkannya agar tidur di kamar. Namun dia selalu berdalih untuk selalu pertama hadir menyambut ketika aku pulang.

***

Di depan cermin, kucoba memandang wajahku yang kuyu. Kucoba tersenyum agar aku tahu, bagaimana wajahku jika tersenyum ketika menghadapi istriku. Sebab aku yakin, senyuman adalah satu-satunya hadiah terindah yang selalu aku berikan kepada istriku.

"Ini senyuman paling menyakitkan, senyuman tanpa keikhlasan." Dengan cepat-cepat aku membuang wajahku dari cermin setelah merutuk dalam batin.

Kuambil pakaian kering yang belum sempat aku setrika. Lalu menuju ke dapur untuk memanaskan air. Sambil menunggu air untuk kopi, kakiku melangkah di atas sajadah. Ya, kupasrahkan semua beban ini di hadapan-Mu....

"Tuhan... aku tidak meminta dan tidak meratap. Tuhan... aku hanya berharap agar tatapan-Mu tidak pernah alpa dalam mengawasiku."

Tidak ada doa khusus dan tidak ada amalan khusus. Karena dalam pandanganku, doa dan amalan adalah hilangnya keikhlasan. Sebab doa dan amalan berujung suatu yang minta balasan. Padahal ketika Tuhan memberi, hal tersebut merupakan sebuah konsekuensi dan tanggung jawab. Makanya aku tidak mau main-main terhadap doa dan amalan.

Suara air yang mendengung dalam didih, menyeret langkahku meninggalkan arah kiblat tepat ketika kusudahi doa. Kutuangkan gelas dan menyeduh kopi dan segelas teh hangat.

***

"Sudah diminum obatnya?" Kuangkat kepala Ona dan kurebahkan badannya untuk bersandar.

"Belum, Onde. Minta tehnya."

Teh manis hangat kuku kesukaan istriku, kuambil dan kuminumkan. Ada perasan sejuk di hati ketika aku bisa berbuat begitu. Mungkin sesejuk teh manis yang mengaliri tenggorokannya.

"Ona... aku mau ke Bapak."

"Ada keperluan apa, Onde?" Mata sayu istriku melirik wajahku. Ada kecurigaan di sudut matanya.

Ia tahu selama ini aku tidak pernah menengok Bapak – ayahku, begitu juga ia. Setelah perkawinan sakral yang tanpa restu dan tanpa didasari keikhlasan di hati mereka – terutama ayahku, kami tak pernah menengok mereka lagi. Bukannya menaruh dendam, namun kami mengurung pertengkaran yang bakal terjadi.

"Ona, maafkan Onde...." Aku menahan napas.

Matanya mencari jawaban. Tapi tak ada kalimat yang terjaring. Dan ia hanya diam dalam sunyi.

"Ona tidak harus sakit begini terus. Ona harus mendapat perawatan yang lebih baik. Onde akan pinjam uang ke Bapak."

"Onde, Ona tidak apa-apa kok. Kondisi Ona sudah cukup baik. Ona sudah bisa bangun... huk-huk...."

Istriku mencoba menyenangkanku dengan mencoba bangkit, namun dia tidak bisa menyembunyikan sakitnya sehingga batuknya mulai mendera.

"Tuh kan, Ona belum sembuh!" Kurebahkan badannya untuk berbaring kembali. Dan aku juga membaringkan tubuhku di sampingnya.

Batuknya menyeruak ke langit-langit, menampar ibaku, mengeringkan airmataku.

"Onde, tidak usahlah ke Bapak, kalau hanya untuk pinjam uang."

Aku hanya membisu. Antara keraguan dan ketakutan. Keraguaan akan penerimaan Bapak terhadap kehadiran anaknya yang hilang. Dan ketakutan akan kesehatan istriku yang akan semakin parah.

Aku memijit punggung istriku. Dan tanpa sadar, diselingi batuknya dan rencana esok pagi yang sudah tersusun di benakku, aku sudah tertidur dalam kelelahan.

***

Halaman rumah yang sudah bertahun tidak aku singgahi, masih nampak seperti dulu. Masih asri karena selalu dimanja tangan Ibu.

Sejenak, aku teringat masa kecil. Aku berayun bersama adikku di samping Bapak yang sedang membetulkan letak pot bunga kala itu.

Dengan perasaan berat, kuberanikan untuk menapak arah menuju pintu begitu lamunan silam itu buyar dari benakku. Ada satu kenangan setiap aku melangkahkan kaki di halaman rumah ini.

"Masih ingat jalan pulang?!" Suara berat yang lama pernah aku kenal, sertamerta menghentikan langkahku.

Kuarahkan pandangan secara lamat menuju arah sumber suara. Kutemukan wajah Bapak tanpa guratan kangen di wajahnya. Yang ada hanya rasa asing nan hambar. Saling tak mengenal.

"Bagaimana kabarnya, Bapak serta Ibu...?" Aku mencoba mengakrabi sepotong hati yang beku di hadapanku. Ah, dulu kami pernah demikian karib dalam hari-hari. Namun sekarang....

"Hal terlucu yang pernah aku dengar!" Lelaki itu sertamerta membuang muka.

Aku seperti mayat hidup, dicaci tanpa berani menatap, dihakimi tanpa berani membela.

"Aku butuh uang, Pak. Ona sakit."

"Semua orang butuh uang!" ujarnya menghardik. "Dan hanya orang yang tidak tahu diri saja yang berani mengemis uang."

Perkataan itu membuat aku semakin melupakan niatku, melupakan dia sebagai seorang ayah, dan melupakan aku sebagai anak yang terlahir dari darah dan dagingnya sendiri. Tapi setiap mengingat istriku yang terkapar sakit, maka urunglah niatku menentang!

"Ona sakit, Pak!" Saya masih memohon. "Saya pinjam uang tidak banyak, hanya untuk ongkos perawatan ke rumah sakit. Dan tidak lama uang itu akan saya kembalikan."

"Lebih baik mengasihani anjing daripada...."

"Pak, cukup!" Suara yang aku kenal datang menghardik dari balik pintu.

"Kembali... masuk kataku!" Orang yang sebenarnya tidak aku anggap sebagai ayah itu memaki seorang wanita paruh baya, yang tidak lain adalah ibuku.

"Dan kau... pergi dari sini! Dan jangan pernah ke sini!"

Aku menatap galau. Tiba-tiba kebencianku kembali membuncah. Ia sama sekali terlihat bukan seorang ayah bagiku. Ia iblis! Iblis yang melaknat putranya yang khilaf menentukan jalan hidupnya karena melakukan hubungan terlarang sebelum menikah dengan seorang gadis bernama Ona. Bagiku, dia terlihat seperti seorang pemerkosa yang memaksa ibu untuk melahirkan aku – ya Tuhan, maafkan aku atas kesalahan ini!

Dan aku menyalahkan diriku, kenapa aku mengabaikan perkataan istriku.

Aku melangkah kembali, menapaki rumput halaman rumah yang menyimpan kenangan.

Sesampai di ujung gang, sepatah suara menghentikan langkahku. Suara yang lamat-lamat aku kenal dan pernah kuakrabi suatu waktu dulu.

"Pak Sholeh?!"

"Den, ini titipan Ibu."

"Siapa yang kasih, Pak Sholeh?"

"Ibu. Eh, Aden tinggal di mana?"

Aku terdiam

"Wah, bilang ke Ibu, terima kasih. Akan kukembalikan secepatnya."

Aku berlalu secepatnya setelah menerima amplop yang diserahkan lelaki tua yang sudah mengabdi hampir separo hidupnya pada keluargaku. Tanpa membukanya pun aku sudah tahu apa isinya. Uang! Uang yang kuperlukan untuk keperluan perawatan Ona di rumah sakit!

"Den, Den!"

Tak kugubris. Suara itu memanggilku, dan pelan-pelan hilang di pertikungan jalan menuju jalan raya.

***

Dalam perjalanan aku mampir ke rumah seorang teman yang bertugas sebagai seorang mantri, dan bertanya berapa ongkos perawatan di rumah sakit. Namun aku mendapatkan jawaban yang tak pasti. Padahal, hanya ia satu-satunya jalan menuju akses murah berobat ke rumah sakit yang berongkos mahal.

"Wah, maaf. Kau langsung saja ke administrasi rumah sakit. Aku lagi sibuk."

Aku pulang dengan informasi nihil.

Siang menjalar sore.

Sambil menunggu reda hujan yang tiba-tiba mengguyur tak begitu lama tadi, kusempatkan untuk membeli makanan kesukaan istriku. Sambil menatap kecipak air hujan yang belum reda, aku membayangkan raut wajah istriku yang akan tersenyum manis. Sebab hari ini aku membawakan makanan kesukaannya, dan esok hari dia tidak akan di ranjang menanti aku pulang. Sebab ia akan ditemani oleh perawat di rumah sakit!

Aku bersenandung dalam hati. Dan berharap hari-hari esok akan melewati hari dengan keindahan....

Hujan belum reda.

Sore yang merambat berlalu menggapai malam. Hari ini seperti kemarin. Untuk kesekian kali, kupaksa kakiku merambah genangan becek aspal jalan yang bertambah lubangnya dari hari ke hari. Namun malam ini tidak terasa dingin. Ada semangat yang menyala yang menghangatkan badanku, meski lampu jalan masih seperti dulu dengan lapisan kristalnya mulai nampak retak, menambah kelu gelapnya malam dari hari ke hari.

Masih saja tubuhku dihantam genangan air yang terlindas roda mobil. Namun kali ini aku hanya tersenyum. Sebab ada secercah harap yang membenderang, meski berupa noktah. Tidak seperti malam-malam lalu.

***

Di depan pintu rumah. Aku tersenyum. Menyapa kayu rapuh pintu itu. Aku harap untuk kesekian kali, pintu itu dapat bercerita suatu waktu, dan membuatku bangga bahwa seseorang masih setia menungguku di rumah. Seseorang yang telah bersamaku mengarungi kehidupan yang mahaberat ini. Dan namanya Ona, istriku tercinta!

Dalam, sangat dalam harapan yang akan kulukiskan.

Di bawah lantai segelas air teh tumpah, beling pecah berhamburan bercampur darah yang memerah kental. Sesosok tubuh tergeletak kaku bersandar di ranjang. Matanya memejam, namun senyumannya tetap hadir untuk menanti aku pulang. Seperti biasa!

Pandanganku mengabur. Sekelilingku gelap.

Aku hanya bisa mengingat kalimat yang sering kucetuskan padanya yang membandel:

"Aku sudah kehabisan kata untuk mengingatkanmu, Ona. Kamu tidur saja di kamar. Jangan menungguku pulang."

Namun dia selalu berdalih untuk selalu pertama hadir menyambut ketika aku pulang....

the end
 

Shine Huang. Design By: SkinCorner