Kamis, 19 Mei 2011

Purnama Tenggelam

Tentu saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah Mahabharata karya Mpu Vyasa yang pernah kaubaca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatotkaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam Mahabharata, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah!

Kau baru saja tiba di Negeri Rembulan. Ya, Negeri Rembulan yang selama ini hanya ada dalam angan-anganmu, menggenapi mimpi-mimpi remajamu. Akhirnya kau bisa menginjakkan kedua kakimu di Rajasthan, tempat kau bisa melihat purnama dari titik paling sempurna dari belahan dunia mana pun. Ketika kemudian kau tak sengaja melihat perempuan itu datang dari arah berlawanan, begitulah, kalian lalu berkenalan.

Adalah hal biasa bukan? Kau selalu berkenalan dengan orang-orang yang kau temui selama perjalananmu.

Tapi ia berbeda, batinmu. Wajah perempuan itu seperti Srikandi yang wajahnya kau kenali dari patung lilin di Kurusetra yang dua hari lalu kau singgahi. Benar-benar seperti pinang dibelah dua. Sorot mata tajam seperti ujung pedang, hidung mancung sebagaimana mestinya perempuan India, dagunya lancip, dan wajah berbinar seperti bulan.

Namanya Devi, usianya sembilan belas tahun lebih satu hari. Ia lahir ketika malam purnama, ketika bulan membentuk lingkaran bulat sempurna seperti bola. Dan malam ini ia merasa seperti burung, terbang bebas ke mana pun ia mau. Ia sedang mencari ksatria untuk mendampingi hidupnya selamanya, tepat saat bulan purnama bersinar sempurna.

Begitulah ia bercerita padamu di bawah purnama. Di Padang Pasir Thar yang mengelilingi Rajasthan, kau menggenggam erat jemarinya.
"Perempuan sembilan belas tahun sepertiku sudah selayaknya bersuami," ucap dia sembari mengerlingkan mata.

Kau hanya tersenyum, menatap wajahnya tanpa berkedip. Jemarimu semakin erat menggenggam jemarinya yang kurus.
Sungguh malam yang sempurna.
Di bawah guyuran cahaya purnama, kalian saling berbagi cerita. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi masa mudamu, tentang obsesimu untuk pergi menjelajahi India karena kau terbius pada keindahan yang kau saksikan dalam film Bollywood dan cerita Mahabharata, tentang gadis-gadis cantik dalam film-film India yang sering kau saksikan ketika masih muda. Dan kau merasa tak malu ketika kau juga bercerita tentang negaramu yang porak-poranda akibat krisis ekonomi dan korupsi yang merajalela. Kau tak lupa berusaha sedikit merayunya, kau katakan padanya bahwa wajahnya seperti Srikandi, dia hanya tersenyum, lalu kalian sama-sama tertawa.

Purnama semakin menggila menerangi India, dan kau sepertinya terlalu cepat jatuh cinta….
Kau teringat akan masa remajamu ketika kau sering harus menginap di rumah tetanggamu demi menyaksikan film Bollywood yang selalu diputar menjelang tengah malam. Dari sanalah kau kali pertama tahu betapa indah India, dan sejak saat itu kau terobsesi dan berjanji kelak akan menginjakkan kaki di India. Ketika remaja kau juga membaca kisah dalam Mahabharata. Kau begitu tertarik pada cerita tentang pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa 3000 tahun silam di India, dan sejak saat itu keinginanmu untuk menjelajah India semakin menggebu, kemudian angan-angan itu selalu menghiasi mimpi malam-malammu.

Begitulah cerita, kini kau menginjakkan kedua kakimu di India, setelah berbulan-bulan berjalan kaki menelusuri negara-negara lain di penjuru Asia. Seperti mimpi yang nyata, seperti utang yang ditunaikan. Namun, yang kau rasakan adalah miris dan kecewa, India tak seindah cerita-cerita yang pernah kau baca.

Iya, India memang berbeda, kau begitu kecewa ketika menerima kenyataan bahwa India tak seindah dalam adegan film ataupun cerita-cerita yang pernah kaubaca, semua orang sibuk mencari Rupee, ratusan orang rela berjubel seperti ikan sarden di atas gerbong kereta ataupun bus kota demi menghemat ongkos, bioskop-bioskop tua yang selalu penuh, ah, nama besar Gandhi dan Tagore seakan tenggelam di negerinya sendiri. Dan rasa kecewa semacam itu pula yang kau rasakan ketika kau menemui ayah Devi untuk meminangnya.

"Kau hanyalah seorang pengembara, anak muda, selain itu kau punya apa?" lelaki tua itu memang tak salah, kau membatin. Seorang ayah tentu selalu mencari lelaki yang mapan untuk bakal suami anaknya.
"Kau sudah menyiapkan berapa Rupee untuk membawa anakku?"
Tentu saja kau terkejut, hatimu remuk, caranya menawarkan anaknya seperti menjual wanita murahan saja—seperti cukong-cukong dan mucikari yang pernah kau temui di jalan-jalan kecil Kota Kalkuta. Pyuh, kau meludah di hadapannya.

Kau memang hanya pengembara, menggerakkan tubuhmu tanpa tujuan yang kau tahu. Kau hanya ingin membuang kecewa, kecewa terhadap negerimu yang porak-poranda, ribuan mil dari Rajasthan, Jakarta sudah menjadi neraka, kuburan raksasa yang sudah dipersiapkan para penguasa kepada setiap orang yang hendak melawan mereka, jika kau tak segera pergi, kau hanya tinggal menunggu mati, apalagi sebagai mahasiswa, kau adalah sasaran empuk para penguasa.
"Curilah aku dari ayahku, Rama. Bawalah aku lari ke negaramu, mungkin di sana aku akan menemukan impian yang tak pernah aku dapatkan di Rajasthan."
Kau hanya diam, memandangi lentik alis perempuan yang meratap di hadapmu, di atas dua mata bulat. Kau mengecup keningnya di bawah sorotan rembulan yang membulat sempurna.
Purnama di Rajasthan jangan pernah dilewatkan….

Kau teringat pada sebuah tulisan yang kau temukan dalam sebuah tulisan di majalah travelling, tentang purnama di Rajasthan. Bahkan kau sangat mengingat kata demi kata yang dituliskan di majalah itu: "Di Padang Pasir Thar Kota Puskhar, salah satu sudut di Provinsi Rajasthan, purnama akan tampak begitu sempurna, membulat seperti bola, dan letaknya tepat di atas kepala kita, seperti bola lampu yang menempel di langit-langit kamar kita, seakan-akan purnama memang diciptakan khusus untuk penduduk kota ini."

Sepertinya, kekecewaanmu pada India akan terbayar lunas di Rajasthan. Setelah perjalanan menjenuhkan menyusuri sudut-sudut kota Kalkuta, perlakuan tidak menyenangkan oleh polisi Amristar, hiruk-pikuk New Delhi yang sangat padat sekali, mendapati Sungai Gangga yang kumuh di Varanasi, benar-benar tak seindah cerita dalam film Bollywood.

Namun kau mendapati suasana yang sama sekali berbeda ketika menjejakkan kedua kakimu di Rajasthan, tak seperti di kota-kota sebelumnya yang membuatmu tak betah, di Rajasthan, semua orang yang berlalu-lalang seakan tersenyum memberi ucapan selamat datang, wajah-wajah yang ramah, dan kota yang begitu indah.

Pada malam hari, ketika kau tiba di Padang Pasir Thar, kau sungguh tak percaya mendapati purnama seakan-akan hanya berjarak beberapa meter di atas kepalamu, kau sungguh bahagia dan terpesona, dan hatimu terasa semakin berbunga-bunga ketika tak sengaja kau melihat seorang perempuan datang dari arah berlawanan, dan kalian berkenalan.

Kalian duduk berdua beralaskan hamparan pasir, kau dan Devi, walau sebenarnya kalian tak hanya duduk berdua karena begitu banyak orang yang datang memenuhi Padang Pasir Thar untuk melakukan ritual purnama, namun bagimu, purnama itu hanyalah milik kalian berdua.
Saat itu, tentu saja kau tak pernah menyangka, bahwa perempuan itu hanya akan menambah cerita kelam perjalanan panjangmu menyusuri India.

"Apakah aku mencintai orang yang salah?"
Pertanyaan itu kini diam-diam menggelayuti hatimu. Walau seharusnya yang kau tanyakan adalah, "Apakah aku terlalu cepat jatuh cinta?" Ah, sebelumnya kau memang tak pernah merasakan cinta yang lebih indah dari ini, dan tentu saja indah dari ini, dan tentu saja lebih luka dari segalanya.
Kini kau merasa kesepian di tengah Padang Pasir Thar yang telah menjelma lautan manusia. Setiap purnama, orang-orang dari pelosok India berduyun untuk melakukan ritual purnama, semacam persembahan dan ucapan terima kasih kepada dewa, membaca doa-doa dan pujian menurut kepercayaan mereka.

Devi baru saja meninggalkanmu, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda untuk tempat bermalam mereka, sebagian yang tak punya biaya hanya tidur beralaskan pasir dan beratapkan purnama, —seperti kalian.

Ah, dia memang tak pernah mau mengerti, betapa kalian bernasib hampir sama, mempunyai kekecewaan yang sama terhadap kampung halaman, negara yang sama-sama kacau, poor country, dan secercah harapan kalian yang sama-sama sirna.

Kau benar-benar merasa sepi, kau merebahkan diri di atas pasir, memandang rembulan yang bersinar seperti bola lampu dengan watt tinggi. Ah, kau jadi teringat dengan kamarmu, kamar kecil tempatmu biasa merebahkan diri, ribuan mil dari India, di sebuah kota kecil dekat Jakarta, tempat kau menghabiskan masa remaja. Kau tersadar, terkadang pepatah memang benar, hujan batu di negeri sendiri lebih berarti daripada hujan emas di negeri orang.
Tiba-tiba kau ingin sekali pulang ke Indonesia, sepetak tanah yang sudah hampir kau lupa. Kau benar-benar rindu, rindu untuk mencium aroma tanah negeri kelahiranmu. Kau segera mengemasi barang-barangmu, kau telah bertekad untuk pulang, pulang ke tanah kelahiranmu, tanah kelahiran nenek moyang.

Baru beberapa jauh dari tempatmu melangkah, seorang lelaki paruh baya menegurmu, menawarimu untuk mampir kedalam tendanya, "Perempuan, Tuan. Silakan dipilih, boleh dibawa ke hotel atau di dalam tenda."

Kau begitu tercengang, bukan karena tawaran lelaki itu, namun kau melihat Devi duduk di antara perempuan-perempuan yang ditawarkan di dalam tenda, mengenakan pakaian minim bahkan nyaris telanjang. Kau merasa benar-benar tak percaya!

Di pinggiran Rajasthan, ketika kau hendak meninggalkan negeri itu dalam keterasingan, sekali lagi kau melihat rembulan. Kau lihat warna rembulan yang langsat berubah pucat, lalu perlahan kenangan dan mimpi-mimpimu memudar, seperti purnama yang tenggelam di Rajasthan.

Rabu, 18 Mei 2011

Sepucuk Surat

Keringatku untuk bertahan menyayangiMu, jika diibaratkan tetesan air Maka air tersebut kini sudah menjadi gumpalan air sungai yang besar. Tapi apa daya? Pintu hatimu belum terbuka. Akan aku tunggu pintu itu terbuka hingga keringatku kering dan tubuhku merapuh. Entah, rasanya detik ini sudah kering dan merapuh. Akankah kembali tumbuh???

Berawal dari lukisan senja aku alunkan dan aku teteskan semua desiran ombak yang telah mengantarkanku pada seorang perempuan di tengah gersangnya matahari. Akankah kau mengingat itu?. Aku tulis surat ini dikala aku tak sanggup lagi untuk membendung sekian gumpalan yang membuatku tersesak hingga terpuruk dan jatuh dalam kegelapan. Aku ungkapkan semua yang aku rasa, berharap kan ada sang malaikat kecil yang mengerti tentang diriku.

Ingatkah adek Tanggal 10 November 2009, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional aku mengenalmu, di saat kita masih sama-sama dalam setatus kader baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Yang pada saat itu hendak mendeklarasikan dirinya di Makam Pahlawan Nasional Yogyakarta bahwa kader 2009 lahir untuk menjawab kegelisahan dan meneruskan perjuangan pahlawan negeri ini. Tapi di saat itu juga aku mengenalMu meski tidak sesempurna hari-hari berikutnya. No HP mu adalah satu jawaban pasti bahwa aku bisa mengenalMu lebih jauh...

Di sanalah kisah-kisah indah terukir dan mulai memancarkan sinar harapan. Hari demi hari, malam demi malam kekuatan sang malaikat menjadi penyemangat diriku untuk mengenalmu lebih jauh melewati sms dan telpon. Tak ada satu niat indah dalam hatiku kecuali bisa mengenalmu lebih dalam dan mengajakmu berlari kecil ditengah gersangnya kehidupan yang mengelilingiku. Dan harapan itu mulai terwujud saat aku benar-benar bisa mengajakmu menyelami tentang hidupku.

Kulantunkan melodi kasih pada sang fajar dan embun pagi, berharap dia akan mengerti dan menberiku isyarat tentang arti sebuah rasa. Deretan kisah hendak aku ukir bersamamu namun disaat aku tahu bahwa diriMu masih berstatus milik orang lain hatiku terluka kecil. Kurangkai benang-benang di hatiku yang kusut dan ku yakinkah bahwa tak lama lagi semuanya akan berubah menjadi keindahan yang menbuatku tersenyum bangga. Hanya satu kata yang aku tahu sabar dan menanti hari itu terwujud.

Sesekali kuajak dirimu ke suatu tempat yang sangat sederhana. Tempat nungkrong sahabat-sahabat aktifvs Mahasiswa, MATO KOPI namanya. Kita memilih tempat di bawah pohon rindang dan mulai bercerita tentang keseharian kita, aktifitas kampus, sesuatu yang menjengkelkan dan menyenagkan yang terjadi dan sampai pada obrolan harapan-harapan masa depan yang hendak kita raih bersama. Sungguh walaupun kejadian itu tanpa terencana, aku sangat bahagia. Entah dirimu?. kalau tidak salah ingat, insyaAllah kita kesana lebih dari tiga kali.

Andai aku harus menggambarkan tentang suasana yang kurasakan saat bersamamu, mungkin tumpukan lembaran kertas yang ada di dunia ini tak kan mampu menampung semua itu, tapi yang jelas aku bahagia dengan berada disampingMu. Sesekali juga aku sempatkan bermain ke kosmu, malam atau siang bahkan sore kusisakan waktuku untuk melihat sang purnama yang terlukis indah di wajahmu. Walaupun pada kenyataannya, obrolan yang kau paparkan disana hanya menggambarkan kisah kasihmu dengan pacarMu. Sabar dan sabar hatiku menerima semua. Begitulah ku mengingat semua itu….

Dan tibalah pada masa dimana harapan keindahan itu pupus dan sirna dengan kehadiran fakta yang menbuatku harus menerima kenyataan. Yaitu: kesibukanmu dengan EO yang kau geluti di Fakultas. Saat itu, waktu yang biasa kau hadirkan untukku mulai tersita, bahkan tak sempat untuk menberikan perhatian padaku. Bertepatan juga dengan fenomena lost contect di antara kita yang membuat komonikasi diantara kita putus. Ditambah lagi dengan kenyataan yang menbuatku sangat-sangat tersakiti bahwa kau telah menjalin hubungan dengan seorang dosen, info itu aku dapat dari sahabatMu. Sungguh bernasib malang hatiku.

Untuk menbuktikan kebenaran info itu, diam-diam kuselidiki dan ternyata benar-benar terjadi. Semua itu terlukis dalam catan pesan terakhirku untukmu:

Pesan Terakhir….!!!

Good luck nenk! Aq lihat kok tadi yang pas turun dari motor…

Lah abank ada dmn? Koq gak nyapa….

Tadi abank lihat. Cium tangan udah cukup menjadi bukti

Maksud abank apa? Maafin nenk y...

Gak koq gak ada maksud apa-apa! N yang terpenting nenk gak salah. Apapun yang menjadi keputusan nenk merupakan hak paten nenk.

Ciuman tangan sudah cukup menjadi bukti bahwa aQ tidak bisa menpertahankan Idealisme perasaanQ. Maafkan n maafkan aQ!!

Beliau UstadzQ. Awalnya Qta cuma sebagai teman curhat, dia banyak ngasih masukan ke aQ. Beliau juga ngajarin aQ tentang Fikih wanita. Ya hubungan Qta kayak aQ ama abank dulu, Qta share. Gak ada perlu di maafin koq, yang harus minta maaf itu aQ.

Iya sama-sama...

Abang masih mau temanan ama nenk to? Gak ada yang berubah dari semua ini toh? Nenk gak mau teman-teman nenk jauh gara-gara nenk berteman ama orang lain. Sebelum nenk nikah, nenk berhak temanan ama siapa aja. Nenk memang dekat ama beliau.

Dari dulu hingga sekarang apa yang pernah aQ tanamkan dalam hatiQ tidak pernah berubah! Apapun alasannya!

Jujur pada saat Qita lost kontek, aQ mantau nenk dari jauh dan dekat!

Demi Allah!!! aQ amini jika itu yang terbaik buat nenk walau aQ harus terbakar dengan kekecewaanQ.

Makasih y bank! Nenk juga ngerasa kalau abank perhatian ama nenk. Nenk senneng!. Pasti abank lihat perubahan yang sangat besar ama nenk. Nenk juga ngerasa gitu. Nenk juga gak tahu apa penyebabnya. Nenk kadang merasa bersalah ama kamu. Tiap lewat depan Syari'ah, nenk pasti mikir koQ gak pernah ketemu abank?. Nenk benar-benar minta maaf kalau udah nyakitin abang.

Di setiap sepertiga malam! aQ besitkan ingatanQ padamu dan berdo'a kepada Sang Khalik.

" Ya Allah! Lindungilah dia dalam rahmatMu. Ampuni segala dosanya. Bimbinglah dia dalam keridhaanMu. Yakinkan dia pada kebenaran yang sesungguhnya.

Ya Allah! Jika dia adalah kebaikanQ maka yakinkan hatiQ padanya. Jika dia adalah masa depanQ maka biarkan hati ini subur walau harus gersang dahulu.

Ya Allah! Apapun yang menjadi rahasiaMu. Semuga demi kebaikan Qta berdua dunia dan akhirat". Hanya itu nenk yang aQ pinta ama Sang Khalik.

Nenk jadi pingin nangis! Makasih banget y. Nenk tahu abang sayang banget ama nenk. Abank selalu korban perasaan buat nenk tapi nenk malah kayak gini. Nenk gak tahu lagi. Hidup nenk gak tertata.

Jangan pernah nenk sesali setiap hal yang terjadi karena itu merupakan bagian dari proses khidupan. Syukuri dan syukuri!.

Dulu, Hari ini, esok dan nanti!!! aQ akan bertahan bersama puing rindu yang aQ yakini. Jika aQ mampu mengepakkan sayap potensi diriQ. Maka akan aQ luapkan semuanya. Itu janjiQ ama alam nenk.

2 Februari 2010

Entah aku harus mengadu sama siapa tentang luka hatiku yang tertusuk ilalang. Sekian tekadku untuk menjauh dari bayanganmu, malah kau semakin dekat dan berada di urat nadiku. Aku buang dan aku tepis tentang semua kenangan indah tentangmu namun aku tidak bisa berbohong, kenyataan tentang kenangan bersamamu semakin tampak jelas diingatanku. Sungguh aku lelah jika harus jujur. Namun perasaan ini yang memotivasiku...

Teringat aku pada kisah Minke, sosok seorang pribumi yang tergambar dalam Novel Tatralogi Pramoedya Ananta Toer. Minke hendak mencintai seorang wanita asal keturunan pribumi Jawa dan Eropa. Namanya Annelies, putri kesayangan Nyai Ontosoroh. Sungguh dia perempuan yang sangat cantik dan menawan dimasa itu, hingga tak satupun gadis yang ada di negeri Hindia Belanda yang mampu menandingi kecantikan dan kelembutannya. Dan dengan sekejap mata pertemuan pertama dirumah Nyai Ontosoroh itu melahirkan kisah kasih diantara mereka.

Jika aku menggambarkan kecantikanmu, dek di dalam hati dan pikiranku. Sungguh tak ada bandingannya sosok Annelies itu. Bagiku kau adalah mentari pagi yang menberikan sinar indah untuk bumi manusia. kelembutanMu mengalahkan lembutnya embun pagi hari dan seluruh keindahan alam ini terpancar dalam sosokMu yang menawan. Namun sayang, semua itu hanyalah beban yang melilitku hingga aku terpuruk dalam perasanku sendiri.

Jika Minke dapat menjerat hati Annelies dengan sekejap mata dan membuat Annelies jatuh hati padanya, adalah suatu yang wajar. Sebab dalam diri Minke tersimpan kharismatik dan pribadi yang berpendidikan, hartawan dan sosok pemuda satria harapan bangsa. Sehingga sangat pantas mereka berdua bersatu dalam kesatuan cinta. Tapi tidak denganku, ternyata perjalanan kasihku untuk memiliki diriMu dek tidak semulus Minke. Mungkin banyak kekurangan yang ada pada diriku sehingga kau sulit menerima diriku? Aku pikir itulah kenyataannya sehingga kau lebih memilih seseorang yang secara pribadi mempunyai segalanya. Terlalu naif memang hanya bermodalkan perasaan. Kembali aku bersabar dan berlari dari impian itu.

Hingga di akhir tetesan tinta ini, air mataku mengalir tanpa aku sadari. Setahun lebih aku bertahan untukmu namun tidak pernah keringat itu terbalas. Sabar dan sabar itulah yang selalau menjadi hiasan dinding dalam hatiku dan kini sudah mulai merapuh dan mengering. Teringat kejadian kemeren pas di Jakarata. Sungguh kau menganggapku hanyalah patung gundik tak bernyawa dengan kehidupan tak berarti. Kembali tetesan air mata hati menghiasi di semenanjung kehidupanku.

Aku sadar, barang kali aku yang terlalu naif dan jangan-jangan aku yang salah mengertikan tentang makna dari perasaan itu. Ya sudahlah. Aku yakin semua ada hikmahnya. Dan aku tidak menyesali semua perasan ini, bahkan aku berterimkasih karena kau telah menagajari aku banyak hal.

Sebelum ku benar-benar lari dari kehidupanmu sang dewi mentariku. Biarkan aku masuk dalam kehidupanMu meski sekejap mata untuk mengucapkan bahwa aku benar-benar menyayangimu.

Terakhir, terimakasih atas segalanya. Kau memang yang terindah yang pernah aku kenal dan selamanya kau akan menjadi sejarah dalam Hidupku. Semuga kau selalu bahagia atas pilihan hatimu.

Puisi Terakhir Untukmu

Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai. Bahkan kita belum sempat bertemu. ya? Padahal, antara Musi dan Batanghari sesungguhnya masih satu jiwa. Mungkin karena itu pula, perkenalan kita yang singkat, kata-kata yang serba terbatas, dan senyum yang belum kunjung tertangkap oleh retina itu bukanlah penghalang bagi hati kita untuk saling mendekat. "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?" "Tergantung sejauh mana pemahaman kita tentang kepemilikan, Mi." "Apa kamu siap memiliki kehilangan?"

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya paham bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hilang. Siap atau tidak siap, kita harus menerimanya. ~

Belakangan ini aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Pak Yovie mendaulatku untuk membacakan monolog di sebuah acara di Pangalengan. Ya, baru saja aku lulus kuliah dan menjalani hari-hari pengabdianku di sebuah instansi di bawah Kementerian Keuangan.

Sebenarnya aku tidak suka udara dingin. Udara dingin pernah membuatku menyerah menempuh pendidikan di ITB. Saat itu hidungku hampir selalu berdarah-darah karena pembuluh darah yang rapuh—tak kuat udara dingin. Dan besok aku harus pergi ke sana lagi. Dua ketakutan lahir di dadaku. Pertama, karena udara dingin itu. Kedua, karena kenangan-kenangan di masa lalu yang segera menyergapku begitu aku menjejakkan kaki di Bumi Parahyangan itu.

"Hati-hati, Di."

Kau berkata seakan-akan aku akan menghilang selamanya. Memang, di acara itu juga akan diadakan arung jeram. Siapapun yang lengah bisa saja terpental dari perahu, menumbur batu, pingsan, lalu terbawa arus ke kematian. Tetapi, tentu aku tidak ingin berpikir macam-macam. Aku percaya pada standar keamanan yang diterapkan.

Hal kedua, entahlah, aku juga merasa kau mencintaiku. Sementara aku belum siap mencintaimu. Kau sendiri yang paham, betapa luka telah akrab dengan dadaku. Segala cinta yang pernah mampir tiba-tiba berlenyapan satu per satu dengan cara yang kadang tidak bisa kuterima dengan logika. Katakanlah pacar pertamaku yang mata duitan itu, pacar keduaku yang memutuskan menikah dengan orang lain tanpa memberikan alasan yang dapat kuterima, dan terakhir Si Dokter Gigi yang menyerah karena mengetahui pola mutasi di tempat bekerjaku yang baru. Hanya kau, yang berani meyakinkan aku, bahwa bagaimanapun aku, kau akan tetap di sampingku.

***
Kau takut kecoa. Aku takut cacing. Kau suka kucing. Aku suka kepiting. Dahimu bekernyit, "Apa bagusnya kepiting?" "Apa bagusnya kucing?" "Kucing itu hewan yang lucu dan manja." "Kepiting itu jalannya miring." "Semua orang juga tahu kepiting jalannya miring." "Kepiting punya capit." "Semua orang juga tahu kepiting punya capit." "Tapi orang-orang tidak tahu kalau kau malu, mukamu akan seperti kepiting rebus."

Kau diam. Dan pasti memerah. Aku memang belum pernah melihat wajahmu. Tapi aku yakin jenis kulitmu yang putih itu akan mudah memerah kalau terkena panas dan menahan malu. "Di...." "Ya?" "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki?"

Giliran aku yang diam. Kau juga diam di seberang sana. Perlahan, udara dingin di Kemayoran mengepung tulang-tulangku. "Di, aku mencintaimu...." lanjutmu pelan dan langsung menutup telepon setelahnya.

***
Aku sempat beranggapan bahwa perempuan-perempuan yang mencintaiku akan berakhir dengan airmata. Hal ini tentu bukan tidak beralasan. Penyair seperti aku cenderung memilih kesunyian sebagai tempat pelepasan. Katarsis. Dan pada akhirnya, mereka merasa diduakan. Padahal, aku tentu masih mencintainya. Masih mencintai setiap kenangan dan waktu yang pernah kubagi. Aku hanya memiliki duniaku sendiri. Aku hanya mencintai kesunyianku sendiri—selain cintaku pada kecintaan yang dipersembahkan untukku. "Luka adalah lelucon yang datang tiba-tiba."

Tiba-tiba di perteleponan kita yang kesekian, kau mengatakan hal itu. Sepertinya selama ini aku abai pada perasaanmu. Sepertinya selama ini aku hanya peduli pada kelukaanku sendiri. Dan hari itu aku menyadari bahwa luka bukan hanya milikku. Tetapi juga milikmu. Dan aku begitu ingin belajar kepadamu tentang cara menghadapi kelukaan yang sedemikian akut. "Hidup yang lucu, atau kita yang lucu?" "Atau Tuhan yang lucu?" Aku tertawa. Kau tertawa. Dan kita saling menertawakan diri kita masing-masing. "Kenapa kau mencintaiku, Mi?" "Karena itu kamu...." "Karena aku?" "Jika orang lain, aku tidak akan mungkin mencintai." "Apa istimewanya aku?" "Apa butuh keistimewaan untuk mencintaimu, Di?" Kau begitu sering membuat aku terdiam dengan pertanyaan dan pernyataanmu. "Kau tidak tahu masa laluku?" "Apa kau tahu masa laluku?" "Tidak." "Aku tidak peduli dengan segala hal yang pernah kau lakukan di masa lalumu, Di...." "Aku tidak berani mencintaimu, Mi." "Aku tidak memaksa kamu mencintaiku. Tapi setidaknya biarkan aku mencintaimu, ya?"

***
Mungkin seminggu lagi aku akan pulang ke Palembang. Tetapi, kau bilang seminggu lagi kau akan kembali ke Bandung—sebab telah habis masa liburmu. Jarak antara Palembang—Jambi sama dengan jarak antara Jakarta—Bandung. Tetapi jarak di antara kita sesungguhnya jauh lebih dekat dari sepasang bola mata yang tak kunjung saling bisa membaca.

Setelah buku Kumpulan Cerpen "Dongeng Afrizal" ku terbit, aku memang merencanakan akan melakukan tur ke sejumlah kota untuk bedah buku. Palembang, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, sudah barang tentu menjadi tujuan wajib. Sebentar lagi juga ulang tahunmu, mungkin menemuimu nanti akan menjadi sebuah hadiah kejutan terindah.

Akan tetapi, kesibukan-kesibukan yang makin padat, antara pekerjaanku sebagai CPNS di Ditjen Perbendaharaan yang dimix dengan rutinitasku sebagai penulis (dan penyair) membuat kita jarang sekali berkomunikasi. Terakhir kali kau mengirim SMS untuk mengirimkan bukuku itu ke rumahmu. Aku sempat mencandaimu, ingin ditambahkan apa di buku tersebut—semisal tanda tangan, cap bibir, atau foto-fotoku. Tetapi, SMS yang terlewat malam itu tidak kau balas. Kau pasti sudah tertidur.

Setelah itu, aku tidak tahu kenapa aku lupa menanyakan kabarmu. Dan heran pula diriku mengetahui kau tidak sekali pun megirim atau menanyakan kabarku. Mungkin kau sedang sangat sibuk—sepertiku.

Akhirnya, karena aku lamat-lamat merasakan rindu mengalir di benakku—memikirkanmu, aku mengirim SMS kepadamu:

Tami, apakah kirimanku sudah sampai ke hatimu? Tidak dibalas. Mungkin kau sedang tidak punya pulsa.

***
Beberapa jam kemudian, kau menghubungiku. Namun bukan suaramu. "Nak Pringadi, ya?" Suara seorang perempuan yang lebih tua terdengar bersahaja. "Saya ibunya Tami." Lanjutnya mengenalkan diri. Mendadak hatiku gelisah. "Iya, Bu, saya Pringadi, Taminya ke mana, Bu?" "Bukunya sudah sampai. Tadi kami baca. Tidak salah Tami mengagumimu dan banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan Nak Pringadi." Aku diam. "Kalau Tami ada salah-salah kata selama berteman dengan Nak Pringadi, mohon maafkan dia ya?" "Tami ke mana, Bu?" aku mengulang pertanyaanku. Dadaku tiba-tiba sesak. "Tami belum sempat membaca bukunya. Tami keburu dipanggil Allah. Beberapa hari lalu, dia masuk rumah sakit. Demam berdarah. Dia...." "Jangan dilanjurkan, Bu!" aku memotongnya. "Ini pasti bercanda, kan?" "Ini kenyataan, Nak." "Tapi baru beberapa hari lalu kami berkomunikasi, Bu. Kematian tidak mungkin datang secepat ini pada perempuan sebaik dia!"

Aku tidak mendengarkan perkataan selanjutnya dari ibunya Tami. Aku mendadak lemas. Terisak. Dan membiarkan suara di sana berbicara sendiri.

Kubuka laptopku dan kusaksikan profil facebooknya. Segala kenangan tentangnya mendadak bermunculan dan berkelindan di mataku. Sebuah kalimat yang sering ia utarakan itu mengiang-ngiang di benakku.

Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di? Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah mengisi rongga dadaku. Sebab di langit mana pun kita berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender yang bertanggalan, seperti helai dedaunan--- terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan, kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit, tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah melebihi semua gegabah yang sering kulakukan. Andai kita berpisah, pastilah karena bulan di langit sudah tak sama. Angin malam, gerak bayangan di remang taman, dan sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim; Aku tergeletak. dadaku retak.

Mati Suri

Tubuhku melayang-layang ringan. Bak kapas. Terus meninggi. Seperti disedot ke langit tertinggi. Entah keenam ataukah ketujuh? Setelah itu, kurasakan sekelilingku penuh nyala terang menyilau mata hingga kedua kelopak mataku sontak mengatup rapat tak kuat dengan sorot benderangnya.

Setelah berada di ketinggian tertinggi, kali ini tubuhku seperti dicampakkan bak kapas yang memburai dari dedaun pohonnya. Seperti diterjunkan begitu saja entah oleh siapa. Ringan, melayang, entah berapa lama aku berada dalam posisi seperti ini. Beberapa saat berikutnya, tubuhku melesat cepat dan tiba-tiba saja aku telah berada di sebuah lorong panjang yang dipenuhi Nur warna putih, lalu berubah menguning, jingga, kembali memutih dan… tiba-tiba berubah merah. Semerah darah.

Byur!

Tubuhku lesat ke dalam air. Aku terpekik bukan buatan saat mendapati air yang menciprat-ciprat ke wajahku ternyata tak sebening atau sekeruh air yang biasa menggenangi sungai-sungai. Air ini berwarna merah kental dan… bau anyir. Lekas kupencet kuat-kuat hidungku dengan ibu jari dan telunjukku, seraya mengeratkan dua bibirku rapat-rapat. Hei! Berada di manakah aku? Apakah aku berada di telaga neraka? Oh, bulu kudukku kontan meremang. Badanku ditelikung gigil bukan kepalang.

Hey! tapi, mengapa tak kurasakan hawa panas meriap-meriap sekujur badan? Bukankah deskripsi tentang neraka itu, sebagaimana kata para dosen agama sewaktu aku masih duduk di bangku kuliah dulu, sungguh teramat sangat mengerikan. Panas luar biasa, hingga tak ada sesiapa pun yang mampu membayangkannya sebetapa panasnya hawa neraka. Justru yang kurasakan saat ini adalah rasa gigil menyengat tulang tersebab air berwarna merah yang tengah merendam tubuhku—kecuali bagian leher hingga kepala—ini berasa dingin. Dingin sekali. Mungkin melebihi dinginnya es batu yang semalaman dikungkum di dalam lemari kulkas.

Tiba-tiba terasa ada yang menarik-narik kedua pundakku. Kupalingkan wajah, tapi tak kutemukan sesiapa.

Dan, tubuhku melayang lagi. Mengawang. Sejurus lalu sekujur tubuhku seperti dilesatkan hingga akhirnya kedua ketiakku menyantol di seutas tali warna hitam mengilat. Tipis sekali tali ini? Tapi, mampu untuk menahan sekujur tubuhku dengan berat 65 kilogram.

Hei! Jangan-jangan tali ini adalah… sirathal mustaqim? Tali yang berasal dari sehelai rambut dibelah tujuh. Tali jembatan yang membentang di atas neraka jahanam yang menghubungkannya ke pintu surga?

Lantas, dengan posisiku yang masih menggelantung seperti ini, lagi-lagi tubuhku seperti ditarik lekas hingga menghantam keras sebuah pintu besar menjulang tinggi dengan nyala kuning terang tapi tak menyilaukan. Anehnya, sekujur badanku tak berasa sakit sama sekali. Lekas kuberdiri menghadap pintu megah yang kutaksir tercipta dari berbongkah-bongkah emas murni berates-ratus karat. Indah dan gagah sekali. Mulutku sampai terlongo-longo seraya tak hentinya mendecak kagum.

Sontak aku teringat sesuatu. Hei! Jangan-jangan aku telah sampai di surga? Berarti, pintu megah di hadapanku ini adalah pintu surga? Kedua sudut bibirku sontak melengkungkan senyum. Tak sabar, lekas kumenggegas langkah seraya tanganku menjulur hendak meraih handel pintu megah bersinar kuning keemasan itu. Tapi, aku terperangah saat kedua kakiku tak bisa mengayun sama sekali. Tak bisa bergerak laksana batu. Seketika senyumku menyirna.

"Hei! Mau ke mana kau?"

Tiba-tiba, sebuah suara yang begitu keras mengagetkanku. Kepalaku celingukan. Tapi tak kutemukan muasal suara itu. Tak ada siapa-siapa.

"Tak perlu kau mencari-cariku hei anak manusia. Penglihatanmu itu terbatas!" suara itu menggema lagi.

"Ssi… siapa kau sse… sebenarnyaa?" gagap kumelontar tanya, sementara pandanganku mengedar ke sekililing yang tetap saja kosong.

"Aku adalah malaikat!"

Hah? Ma… malaikat? Aku tercekat luar biasa. Wajahku memucat dan tubuhku bergetar seperti tersengat aliran listrik.

"Kau saat ini berada di depan pintu surga!" terangnya sebelum kumenanya. Hebat! Sepertinya ia mendengar gumam batinku?

"Tapi, kau jangan senang dulu anak manusia! Kau tak diperkenankan masuk ke dalam surga," lanjutnya, kali ini dengan suara berat tapi lebih pelan dan tak sesangar barusan.

"Me… mengapa aku tak boleh mencicipi surga wahai Malaikat?" tanyaku penasaran sekaligus tak terima dengan vonisnya. Karena seingatku, sewaktu di dunia, aku tergolong rajin beribadah. Sesibuk apa pun, aku selalu luangkan waktu untuk menunaikan shalat lima waktu. Masanya orang-orang berzakat dan bersedekah, aku pun berzakat dan bersedekah. Masanya orang-orang puasa Ramadhan dan tadarus hingga terkantuk-kantuk, aku pun menjalaninya.

"Ya, ya, ya, aku tahu kalau kau orang yang tergolong ahli ibadah," katanya membuatku terperangah. Hei! Lagilagi dia menahu isi hatiku?

"Tapi, ada yang kau lupakan wahai manusia yang sok alim," lanjutnya kali ini dengan nada ketus.

"Apa itu wahai Malaikat?" Dahiku mengerut-ngerut.

"Selama ini kau telah menelantarkan istri dan anak-anakmu. Kau terlampau disibukkan oleh pekerjaanmu. Kau tak mau tahu bagaiman pergaulan anak-anakmu di luar sana. Kau tak acuh! Kau juga tak pedulikan anakmu menenggak alkohol, kau menutup mata saat anak perempuanmu bergaul bebas dan berzina dengan pacarnya, kau juga tak peka saat istrimu selalu dirajam dingin tiap kau tinggalkan selama berminggu-minggu hingga akhirnya istrimu mencari laki-laki lain dan diam-diam berselingkuh di belakangmu!"

Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar ceracau panjang sang malaikat tak berwujud itu. Wajahku kian pasi seraya merunduk dalam. Semua vonis yang dituduhkan malaikat itu sungguh tak kupungkiri adanya. Benar! Benar sekali jika selama ini aku tak mengacuhkan keluarga, dan lebih menomorsatukan pekerjaan. Tapi, bukankah aku bekerja siang dan malam demi keluarga juga?

"Ya, ya, ya. Memang bekerja demi menafkahi anak istri itu suatu keniscayaan bagi seorang suami. Tapi, bukankah di sebalik itu ada nafkah batin yang selama ini telah kau alpakan? Kapan kau meluangkan waktu buat mendidik istri dan anak-anakmu?" cecar sang malaikat, kali ini dengan nada seperti orang yang tengah marah. Lagi-lagi tanpa kubersuara, malaikat itu telah menahu isi hatiku.

Mulutku berasa kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali. Seperti ada yang menggemboknya. Aku tak bisa mengemukakan beragam dalih lagi sekadar membela diri, bahkan sekadar bertanya lagi pun aku tak mampu. Suasana mendadak tersungkup hening.

Tiba-tiba kudengar suara menggemuruh. Tubuhku seperti ditarik ke belakang. Kasar. Aku terpekik saat tubuhku dilesatkan tiba-tiba hingga aku terpeleset. Masih untung kedua tanganku bisa menjangkau tali hitam berkilat itu. Posisiku sekarang menggelantung di atas sungai yang kuyakini berisi lautan darah itu.

Aku terpekik bukan kepalang saat kedua bola mataku melirik ke bawah sana. Air berwarna merah bau anyir yang semula berasa dingin itu tiba-tiba mendidih dan mengeluarkan asap memutih. Sekujur tubuhku sekonyong-konyong mulai merasakan hawa panas yang ditimbulkan oleh asap itu. Dan jeritku pun tak tertahankan manakala seperti ada yang menginjak telapak tanganku yang tengah mencengkeram kuat-kuat tali hitam berkilat itu hingga tubuhku terpelanting, terperosok ke dalam lautan darah didih itu. Kulit tubuhku serasa dibeset (dikelupas) dan rasanya sakit luar biasa. Aku tak mampu lagi menjerit karena mulutku telah dipenuhi air serupa darah didih itu. Sejurus lalu, seperti ada yang menarik tubuhku. Lalu kurasakan tubuhku melesat tinggi. Mengawang. Setelah itu, aku dilempar ke sebuah lorong panjang sempit dan gelap. Tubuhku serasa terjepit, sakit bukan kepalang.

"Aww! Aduh!" aku mengaduh kesakitan.

"Ma, Papa udah sadar, Ma!"

Kudengar pekik suara seseorang yang teramat kukenali. Hei, bukankah itu suara Aurel, putriku yang baru semester dua di universitas ternama?

Kubuka kedua mata dan lekas kuedarkan pandangan ke sekeliling. Kulihat tembok yang mengelilingiku semuanya berwarna putih. Tubuhku kini tengah terbaring lemas di atas ranjang yang juga berseprei polos warna putih. Perlahan kesadaranku berangsur mengutuh meskipun aku belum bisa menggerakkan sekujur tubuh.

Entah telah berapa lama aku tak sadarkan diri di rumah sakit ini. Kecelakaanlah yang menyebabkan aku berada di ranjang rumah sakit ini. Aku tak bisa mengendalikan setir saat tiba di persimpangan mendadak seorang pengemis nongol di depan mobilku.

"Papaa!" Lamunku mengabur saat kudengar suara Liliana, istriku, memanggilku seiring suara derap langkah-langkah kaki yang semakin mendekat. Dan aku tercekat luar biasa hingga kedua bola mataku serasa mencelat dari kelopak saat beberapa detik berikutnya aku telah dikelilingi oleh orang-orang berwajah menyeramkan.

Kulihat Aurel yang dulu berwajah putih mulus tanpa sebutir pun jerawat kini berwajah memucat dengan bola mata memerah. Dan yang membuatku terpekik adalah rambut kepalanya berubah menjadi ratusan ular yang menjuntai-juntai sementara kepalanya menjulur-julur ke arahku. Tak jauh beda dengan istriku, rambutnya pun dikelilingi ratusan ular tapi wajahnya dipenuhi benjolan merah bernanah.

Dan yang membuatku langsung menjerit tak tertahankan saat kulihat rupa Deva dan Devi, dua putra-putri kembarku yang baru lulus SMP yang posisinya keduanya berada persis di samping bahu dan lenganku. Kepala Deva dan Devi dipenuhi bulu-bulu lebat menghitam, sementara wajahnya moncong serupa anjing dengan lidah panjangnya yang terus terjulur memuncratkan liur hingga membasahi wajahku.

Purnama Tenggelam

Tentu saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah Mahabharata karya Mpu Vyasa yang pernah kaubaca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatotkaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam Mahabharata, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah!

Kau baru saja tiba di Negeri Rembulan. Ya, Negeri Rembulan yang selama ini hanya ada dalam angan-anganmu, menggenapi mimpi-mimpi remajamu. Akhirnya kau bisa menginjakkan kedua kakimu di Rajasthan, tempat kau bisa melihat purnama dari titik paling sempurna dari belahan dunia mana pun. Ketika kemudian kau tak sengaja melihat perempuan itu datang dari arah berlawanan, begitulah, kalian lalu berkenalan.

Adalah hal biasa bukan? Kau selalu berkenalan dengan orang-orang yang kau temui selama perjalananmu.

Tapi ia berbeda, batinmu. Wajah perempuan itu seperti Srikandi yang wajahnya kau kenali dari patung lilin di Kurusetra yang dua hari lalu kau singgahi. Benar-benar seperti pinang dibelah dua. Sorot mata tajam seperti ujung pedang, hidung mancung sebagaimana mestinya perempuan India, dagunya lancip, dan wajah berbinar seperti bulan.

Namanya Devi, usianya sembilan belas tahun lebih satu hari. Ia lahir ketika malam purnama, ketika bulan membentuk lingkaran bulat sempurna seperti bola. Dan malam ini ia merasa seperti burung, terbang bebas ke mana pun ia mau. Ia sedang mencari ksatria untuk mendampingi hidupnya selamanya, tepat saat bulan purnama bersinar sempurna. Begitulah ia bercerita padamu di bawah purnama. Di Padang Pasir Thar yang mengelilingi Rajasthan, kau menggenggam erat jemarinya.

"Perempuan sembilan belas tahun sepertiku sudah selayaknya bersuami," ucap dia sembari mengerlingkan mata.

Kau hanya tersenyum, menatap wajahnya tanpa berkedip. Jemarimu semakin erat menggenggam jemarinya yang kurus.

Sungguh malam yang sempurna. Di bawah guyuran cahaya purnama, kalian saling berbagi cerita. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi masa mudamu, tentang obsesimu untuk pergi menjelajahi India karena kau terbius pada keindahan yang kau saksikan dalam film Bollywood dan cerita Mahabharata, tentang gadis-gadis cantik dalam film-film India yang sering kau saksikan ketika masih muda. Dan kau merasa tak malu ketika kau juga bercerita tentang negaramu yang porak-poranda akibat krisis ekonomi dan korupsi yang merajalela. Kau tak lupa berusaha sedikit merayunya, kau katakan padanya bahwa wajahnya seperti Srikandi, dia hanya tersenyum, lalu kalian sama-sama tertawa.

Purnama semakin menggila menerangi India, dan kau sepertinya terlalu cepat jatuh cinta….

Kau teringat akan masa remajamu ketika kau sering harus menginap di rumah tetanggamu demi menyaksikan film Bollywood yang selalu diputar menjelang tengah malam. Dari sanalah kau kali pertama tahu betapa indah India, dan sejak saat itu kau terobsesi dan berjanji kelak akan menginjakkan kaki di India. Ketika remaja kau juga membaca kisah dalam Mahabharata. Kau begitu tertarik pada cerita tentang pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa 3000 tahun silam di India, dan sejak saat itu keinginanmu untuk menjelajah India semakin menggebu, kemudian angan-angan itu selalu menghiasi mimpi malam-malammu.

Begitulah cerita, kini kau menginjakkan kedua kakimu di India, setelah berbulan-bulan berjalan kaki menelusuri negara-negara lain di penjuru Asia. Seperti mimpi yang nyata, seperti utang yang ditunaikan. Namun, yang kau rasakan adalah miris dan kecewa, India tak seindah cerita-cerita yang pernah kau baca.

Iya, India memang berbeda, kau begitu kecewa ketika menerima kenyataan bahwa India tak seindah dalam adegan film ataupun cerita-cerita yang pernah kaubaca, semua orang sibuk mencari Rupee, ratusan orang rela berjubel seperti ikan sarden di atas gerbong kereta ataupun bus kota demi menghemat ongkos, bioskop-bioskop tua yang selalu penuh, ah, nama besar Gandhi dan Tagore seakan tenggelam di negerinya sendiri. Dan rasa kecewa semacam itu pula yang kau rasakan ketika kau menemui ayah Devi untuk meminangnya.

"Kau hanyalah seorang pengembara, anak muda, selain itu kau punya apa?" lelaki tua itu memang tak salah, kau membatin. Seorang ayah tentu selalu mencari lelaki yang mapan untuk bakal suami anaknya.

"Kau sudah menyiapkan berapa Rupee untuk membawa anakku?"

Tentu saja kau terkejut, hatimu remuk, caranya menawarkan anaknya seperti menjual wanita murahan saja—seperti cukong-cukong dan mucikari yang pernah kau temui di jalan-jalan kecil Kota Kalkuta. Pyuh, kau meludah di hadapannya.

Kau memang hanya pengembara, menggerakkan tubuhmu tanpa tujuan yang kau tahu. Kau hanya ingin membuang kecewa, kecewa terhadap negerimu yang porak-poranda, ribuan mil dari Rajasthan, Jakarta sudah menjadi neraka, kuburan raksasa yang sudah dipersiapkan para penguasa kepada setiap orang yang hendak melawan mereka, jika kau tak segera pergi, kau hanya tinggal menunggu mati, apalagi sebagai mahasiswa, kau adalah sasaran empuk para penguasa.

"Curilah aku dari ayahku, Rama. Bawalah aku lari ke negaramu, mungkin di sana aku akan menemukan impian yang tak pernah aku dapatkan di Rajasthan."

Kau hanya diam, memandangi lentik alis perempuan yang meratap di hadapmu, di atas dua mata bulat. Kau mengecup keningnya di bawah sorotan rembulan yang membulat sempurna.

Purnama di Rajasthan jangan pernah dilewatkan….

Kau teringat pada sebuah tulisan yang kau temukan dalam sebuah tulisan di majalah travelling, tentang purnama di Rajasthan. Bahkan kau sangat mengingat kata demi kata yang dituliskan di majalah itu: "Di Padang Pasir Thar Kota Puskhar, salah satu sudut di Provinsi Rajasthan, purnama akan tampak begitu sempurna, membulat seperti bola, dan letaknya tepat di atas kepala kita, seperti bola lampu yang menempel di langit-langit kamar kita, seakan-akan purnama memang diciptakan khusus untuk penduduk kota ini."

Sepertinya, kekecewaanmu pada India akan terbayar lunas di Rajasthan. Setelah perjalanan menjenuhkan menyusuri sudut-sudut kota Kalkuta, perlakuan tidak menyenangkan oleh polisi Amristar, hiruk-pikuk New Delhi yang sangat padat sekali, mendapati Sungai Gangga yang kumuh di Varanasi, benar-benar tak seindah cerita dalam film Bollywood.

Namun kau mendapati suasana yang sama sekali berbeda ketika menjejakkan kedua kakimu di Rajasthan, tak seperti di kota-kota sebelumnya yang membuatmu tak betah, di Rajasthan, semua orang yang berlalu-lalang seakan tersenyum memberi ucapan selamat datang, wajah-wajah yang ramah, dan kota yang begitu indah.

Pada malam hari, ketika kau tiba di Padang Pasir Thar, kau sungguh tak percaya mendapati purnama seakan-akan hanya berjarak beberapa meter di atas kepalamu, kau sungguh bahagia dan terpesona, dan hatimu terasa semakin berbunga-bunga ketika tak sengaja kau melihat seorang perempuan datang dari arah berlawanan, dan kalian berkenalan.

Kalian duduk berdua beralaskan hamparan pasir, kau dan Devi, walau sebenarnya kalian tak hanya duduk berdua karena begitu banyak orang yang datang memenuhi Padang Pasir Thar untuk melakukan ritual purnama, namun bagimu, purnama itu hanyalah milik kalian berdua.

Saat itu, tentu saja kau tak pernah menyangka, bahwa perempuan itu hanya akan menambah cerita kelam perjalanan panjangmu menyusuri India.

"Apakah aku mencintai orang yang salah?"

Pertanyaan itu kini diam-diam menggelayuti hatimu. Walau seharusnya yang kau tanyakan adalah, "Apakah aku terlalu cepat jatuh cinta?" Ah, sebelumnya kau memang tak pernah merasakan cinta yang lebih indah dari ini, dan tentu saja indah dari ini, dan tentu saja lebih luka dari segalanya.

Kini kau merasa kesepian di tengah Padang Pasir Thar yang telah menjelma lautan manusia. Setiap purnama, orang-orang dari pelosok India berduyun untuk melakukan ritual purnama, semacam persembahan dan ucapan terima kasih kepada dewa, membaca doa-doa dan pujian menurut kepercayaan mereka.

Devi baru saja meninggalkanmu, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda untuk tempat bermalam mereka, sebagian yang tak punya biaya hanya tidur beralaskan pasir dan beratapkan purnama, —seperti kalian.

Ah, dia memang tak pernah mau mengerti, betapa kalian bernasib hampir sama, mempunyai kekecewaan yang sama terhadap kampung halaman, negara yang sama-sama kacau, poor country, dan secercah harapan kalian yang sama-sama sirna.

Kau benar-benar merasa sepi, kau merebahkan diri di atas pasir, memandang rembulan yang bersinar seperti bola lampu dengan watt tinggi. Ah, kau jadi teringat dengan kamarmu, kamar kecil tempatmu biasa merebahkan diri, ribuan mil dari India, di sebuah kota kecil dekat Jakarta, tempat kau menghabiskan masa remaja. Kau tersadar, terkadang pepatah memang benar, hujan batu di negeri sendiri lebih berarti daripada hujan emas di negeri orang.

Tiba-tiba kau ingin sekali pulang ke Indonesia, sepetak tanah yang sudah hampir kau lupa. Kau benar-benar rindu, rindu untuk mencium aroma tanah negeri kelahiranmu. Kau segera mengemasi barang-barangmu, kau telah bertekad untuk pulang, pulang ke tanah kelahiranmu, tanah kelahiran nenek moyang.

Baru beberapa jauh dari tempatmu melangkah, seorang lelaki paruh baya menegurmu, menawarimu untuk mampir kedalam tendanya, "Perempuan, Tuan. Silakan dipilih, boleh dibawa ke hotel atau di dalam tenda."

Kau begitu tercengang, bukan karena tawaran lelaki itu, namun kau melihat Devi duduk di antara perempuan-perempuan yang ditawarkan di dalam tenda, mengenakan pakaian minim bahkan nyaris telanjang. Kau merasa benar-benar tak percaya!

Di pinggiran Rajasthan, ketika kau hendak meninggalkan negeri itu dalam keterasingan, sekali lagi kau melihat rembulan. Kau lihat warna rembulan yang langsat berubah pucat, lalu perlahan kenangan dan mimpi-mimpimu memudar, seperti purnama yang tenggelam di Rajasthan.

Tuan Alu Dan Nyonya Lesung

Tuan Alu memeriksa setiap pori-pori di kepalanya. Bagian ujung dari tubuhnya yang selalu tertumbuk ke bumi itu kini ia sebut kepala. Ini bermula sejak sebilah parang memangkas badannya. Sejak ia terpisah dari akar yang membesarkannya. Sejak ia memutuskan untuk menerima hidupnya dengan perasaan terbalik.

Dahulu, ia hanya mengenal pucuk yang setiap detik tumbuh ke atas menuju puncak. Sekalipun yang disebut puncak itu hanyalah awang-awang. Kini ia tidak lagi berpucuk. Ia kini mengenal ujung dan pangkal. Bagian pangkal ia namai saja dengan kepala. Jadi, kalau ada yang berteka-teki, siapa yang menguras hidupnya dengan kelapa di bawah dan kaki di atas? Tuan Alu akan menjawab: itulah dirinya.

Dahulu, ia mengenal akar yang setiap detik mengedap-menyusup ke perut bumi. Menyerap sari tanah untuk di kirim ke batang, ke daun hingga terbitlah buah dan bunga. Kini ia hanya tahu dengan atas dan bawah. Ke atas untuk berayun dan ke bawah untuk menumbuk.

Tuan Alu pun sudah mengganti cara ia menggunakan perasaan. Ketika pangkal batangnya di tebang parang, ia merasakan sakit. Sangat sakit.Tapi, secepat kilat ia paksa dirinya menukar perasaan sakit itu dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Ia tekankan pada dirinya: diperlukan banyak kesakitan untuk keluar dari kesepian.

Sesungguhnya, Tuan Alu dahulunya tumbuh sebagai sebatang kopi yang ceria. Akarnya kuat. Batangnya liat. Daunnya rimbun, hijau gelap. Ulat bulu sangat senang mengakhiri petualangannya di salah satu dahan Tuan Alu. Membungkus badannya dengan serat kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Sekawanan semut hitam juga nyaman bersarang di tampuk-tampuk daun Tuan Alu. Begitu juga dengan tupai. Sekalipun sering terjatuh ketika melompat dari ujung dahan Tuan Alu, namun tupai tak pernah bosan berayun dan meloncat di situ.

Sungguh, kehidupan yang sangat nyaman bagi Tuan Alu. Ia terbilang paling rimbun di belantara kebun tinggal itu. Akan tetapi, siapa yang tahu, ia tampak selalu bahagia, selalu riang dan rindang, rupanya sedang mangandung malang. Ia mengidap sakit sepi. Sepi. Sepi di tengah keramaian belantara. Tumbuh ceria, riang, dan rindang lalu setiap musim menerbitkan buah saja, ia rasakan tidak cukup. Selalu ada yang mengentak-entak dalam umbut batangnya.

Teman-temannya yang lain, yang sama-sama tumbuh di kebun itu banyak yang iri. Kelemahan dan kesalahannya dicari-cari. Ia dimaki sebab tumbuh susah-payah hanya untuk menerbitkan buah yang pahit. Kasihan pada manusia yang suka kopi. Ia dicerca, karena punya anak banyak. Selepas musim berbuah, anak-anak kopi akan bermunculan tidak hanya di sekitar batangnya. Buah yang keluar dari pencernaan luak pun bisa tumbuh di mana pun terserak.

Tuan Alu, di masa itu, sudah mulai berani menyimpulkan takdirnya. Hidup adalah pertumbuhan yang pahit. Buahnya juga pahit. Ketika sebilah parang berdesing, memangkas batangnya, ia berusaha cepat sadar, barangkali ada kehidupan baru yang lebih baik untuknya. Barangkali ia akan segera keluar dari kepahitan, dari kesepian. Ia ucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya.

Benar. Ada kehidupan baru untuknya. Sisi bagian pangkal yang dulu menopang batangnya kini dibentuk sedemikian rupa yang jika diperlukan akan digunakan untuk menumbuk cekungan batu. Tuan Alu menamainya kepala sekalipun posisinya selalu di bawah. Kehidupan yang terbalik. Perubahan nasib yang terbalik. Tapi ia menemukan sesuatu yang baru. Sakit sepi yang ia kandung perlahan kikis. Apalagi sejak ia diberi seorang teman: Nyonya Lesung.

Sebenarnya tidak jelas, siapa yang dipersiapkan untuk siapa? Apakah Tuan Alu didatangkan dari belantara untuk Nyonya Lesung? Atau sebaliknya, Nyonya Lesung didatangkan dari sungai untuk Tuan Alu? Yang jelas, bagi Tuan Alu, sejak kehadiran Nyonya Lesung, hidupnya berubah sama sekali. Selain telah berhasil melepaskan diri dari kesepian, ia juga telah berhasil menukar perasaannya. Pengalaman yang dulu dirasakannya sakit seperti ketika menanggung luka akibat tebasan parang, telah ia ganti dengan rasa senang. Bersama Nyonya Lesung ia temukan keasyikan baru. Sekalipun itu, jika dinilai dengan perasaannya semasa masih berwujud sebatang kopi, sungguh menyakitkan.

Ia periksa lagi kepalanya, kini, begitu banyak luka di sana. Ia mulai melupakan sakit luka kepalanya itu sejak tangan-tangan yang setiap hari mengayunkan kepalanya menghentak ke cekungan tubuh Nyonya Lesung menghantam tumpukan biji kopi. Biasanya, ia dan Nyonya Lesung saling hentak, saling tikam, saling gesek di atas tumpukan padi yang akan dikelupas jadi beras. Atau di atas timbunan beras yang akan jadi tepung. Kini diganti dengan biji kopi yang harus dikelupaskan.

Seketika, Tuan Alu teringat masa lalunya. Mestikah kini ia menumbuk buahnya sendiri. Biji-biji kopi itu, dalam istilah manusia adalah juga darah dagingnya sendiri. Ini pilihan yang sangat berat. Tapi pada telapak tangan-tangan yang selalu mengayun tubuhnya itu, sepertinya sudah tersurat takdir Tuan Alu.

Sedikit demi sedikit, Tuan Alu kembali merasakan perasaan yang selama ini sudah ditinggalkannya. Rasa sakit luka yang sudah dilupakannya terbit lagi. Ia tidak terima ditumbukkan ke biji-biji kopi. Ia saksikan dengan jelas, biji-biji kopi itu terkelupas. Dirinya seakan dicelupkan ke dalam lendir cabai paling pedas.

Nyonya Lesung sudah membujuknya. Ia bisikkan kepada Tuan Alu, "Jangan bersedih. Sedih itu sama dengan ngarai yang akan menggelindingkan kita kembali ke jurang sepi. Jangan berpikir, bahwa kau saja yang pernah luka, Sayang.

"Aku juga sudah kembali dari sakit menanggung sakit sepi itu!"

Nyonya Lesung pun mengulang kisah hidupnya pada Tuan Alu. Tuan Alu sebenarnya sudah bosan mendengar masa lalu Nyonya Lesung yang teramat nyinyir telah diceritakan padanya. Namun, karena sadar, dirinya sedang ingin ditemani, Tuan Alu menyimaknya seperti sangat menyukai perlawanan Nyonya Lesung pada nasibnya.

Nyonya Lesung memulai kisahnya dari semenjak ia terguling-guling digusur arus deras. Hujan paling garang turun berhari-hari dari langit. Air sungai meluap. Akan tetapi, ada satu rahasia yang belum pernah diceritakan Nyonya Lesung kepada Tuan Alu. Sengaja ia tahan menceritakannya. Ia takut menyinggung perasaan Tuan Alu yang kini sangat dicintainya.

"Sayang, kau tahu, aku ini batu. Keras. Tapi, aku takut pada air. Karena aku memang telah ditakdirkan keras, kami lawan perasaan takut itu. Ketakutan kami ganti dengan cinta. Maafkan aku, Tuan, sebelum bersamamu, aku sudah pernah mencintai air.

"Setelah hujan deras berhari-hari dan aku tergusur ke tepi, aku mulai memasrahkan diri. Jika cara mengungkap perasaan air seperti itu, aku belajar memahaminya. Sekali lagi, maafkanlah aku, Tuan.

"Dahulu tubuhku tak punya lubang. Semenjak terguling ke tepi, persis di bawah akar sebatang beringin yang kokoh, ada jalan air di atasku. Ujung akar beringin yang berpilin meneteskan air itu ke tubuhku.Tubuhku ditusuk setiap hari. Akhirnya aku berlubang. Sakit, Tuan. Dilubangi itu sakit. Tapi sakit juga sudah tidak berpengaruh lagi sebab sudah kuganti menjadi cinta.

"Seperti dirimu, aku ditemukan sepasang tangan. Ia melihat lubang di tubuhku sebesar kepalannya digenangi air. Sepasang tangan itu mandi di lubangku. Kemudian aku digelandang ke luar dari sungai. Tentu saja aku terjauh dari titik-titik air kekasih pertamaku itu.

"Tahukah kau, Tuan. Seperti sering kuceritakan padamu, aku ini induk segala sakit. Lepas dari tusukan air, aku disambut tikaman pahat. Lubangku diperbesar oleh pahat. Kepadaku ditekankan keharusan bersabar dan yakin, kehidupan baru telah menungguku. Aku dipersiapkan menjadi Nyonya Lesung. Tuan Alu, kekasih pendamping hidupku juga telah dipersiapkan. Hidup bersama air tidak menghasilkan banyak perubahan. Hanya sebatas alasan, bahwa kelembutan titik air bisa melubangiku!

"Kata tangan yang memahatku, sebetulnya lebih tepat memperkosaku: hidup bersama Tuan Alu akan lebih menyenangkan. Lebih jelas hasilnya.

"Jujur, pertama kali merasakan entakanmu di lubangku, aku seketika terbayang pada kelembutan sentuhan air. Ampun, Tuan. Pada persentuhan kita yang pertama itu aku diam-diam telah membanding-bandingkanmu!"

Tuan Alu merangkul Nyonya Lesung.

"Sekarang kita lupakan masa lalu masing-masing. Kita tidak bisa hidup dengan masa lalu. Kita sudah dibentuk dan ditetapkan alam untuk bersatu. Kita tidak mungkin lagi bercerai. Di mana pun, Tuan Alu adalah pasangan Nyonya Lesung!"

Sejak itu, memang, sampai cerita ini diterbitkan, Tuan Alu dan Nyonya Lesung tidak pernah terpisahkan. Sekalipun hanya satu dua orang menumbuk padi, tepung atau kopi, Tuan Alu dan Nyonya Lesung selalu terlihat bersama.

Kecuali, barangkali, alam berkehendak lain. Misalnya, karena jarang digunakan, ujung badan Tuan Alu kembali menerbitkan tunas lalu menjadi pucuk. Akar pun tersembul dari pangkalnya, menyerap makanan dari sari pati tanah dan akhirnya Tuan Alu tumbuh lagi sebagai sebatang kopi.

Begitu juga dengan tubuh Nyonya Lesung. Lantaran jarang ditumbuki Tuan Alu, lubang di badannya kembali mengeras, kembali ke bentuk semula, seperti sebelum dilubangi air. Ia pun menggelinding lagi ke arus sungai. Berendam ke dalam sunyi abadi. Ya, jika alam berkehendak lain.

Rabu, 11 Mei 2011

Sepucuk Surat

Keringatku untuk bertahan menyayangiMu, jika diibaratkan tetesan air Maka air tersebut kini sudah menjadi gumpalan air sungai yang besar. Tapi apa daya? Pintu hatimu belum terbuka. Akan aku tunggu pintu itu terbuka hingga keringatku kering dan tubuhku merapuh. Entah, rasanya detik ini sudah kering dan merapuh. Akankah kembali tumbuh???

Berawal dari lukisan senja aku alunkan dan aku teteskan semua desiran ombak yang telah mengantarkanku pada seorang perempuan di tengah gersangnya matahari. Akankah kau mengingat itu?. Aku tulis surat ini dikala aku tak sanggup lagi untuk membendung sekian gumpalan yang membuatku tersesak hingga terpuruk dan jatuh dalam kegelapan. Aku ungkapkan semua yang aku rasa, berharap kan ada sang malaikat kecil yang mengerti tentang diriku.

Ingatkah adek Tanggal 10 November 2009, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional aku mengenalmu, di saat kita masih sama-sama dalam setatus kader baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Yang pada saat itu hendak mendeklarasikan dirinya di Makam Pahlawan Nasional Yogyakarta bahwa kader 2009 lahir untuk menjawab kegelisahan dan meneruskan perjuangan pahlawan negeri ini. Tapi di saat itu juga aku mengenalMu meski tidak sesempurna hari-hari berikutnya. No HP mu adalah satu jawaban pasti bahwa aku bisa mengenalMu lebih jauh...

Di sanalah kisah-kisah indah terukir dan mulai memancarkan sinar harapan. Hari demi hari, malam demi malam kekuatan sang malaikat menjadi penyemangat diriku untuk mengenalmu lebih jauh melewati sms dan telpon. Tak ada satu niat indah dalam hatiku kecuali bisa mengenalmu lebih dalam dan mengajakmu berlari kecil ditengah gersangnya kehidupan yang mengelilingiku. Dan harapan itu mulai terwujud saat aku benar-benar bisa mengajakmu menyelami tentang hidupku.

Kulantunkan melodi kasih pada sang fajar dan embun pagi, berharap dia akan mengerti dan menberiku isyarat tentang arti sebuah rasa. Deretan kisah hendak aku ukir bersamamu namun disaat aku tahu bahwa diriMu masih berstatus milik orang lain hatiku terluka kecil. Kurangkai benang-benang di hatiku yang kusut dan ku yakinkah bahwa tak lama lagi semuanya akan berubah menjadi keindahan yang menbuatku tersenyum bangga. Hanya satu kata yang aku tahu sabar dan menanti hari itu terwujud.

Sesekali kuajak dirimu ke suatu tempat yang sangat sederhana. Tempat nungkrong sahabat-sahabat aktifvs Mahasiswa, MATO KOPI namanya. Kita memilih tempat di bawah pohon rindang dan mulai bercerita tentang keseharian kita, aktifitas kampus, sesuatu yang menjengkelkan dan menyenagkan yang terjadi dan sampai pada obrolan harapan-harapan masa depan yang hendak kita raih bersama. Sungguh walaupun kejadian itu tanpa terencana, aku sangat bahagia. Entah dirimu?. kalau tidak salah ingat, insyaAllah kita kesana lebih dari tiga kali.

Andai aku harus menggambarkan tentang suasana yang kurasakan saat bersamamu, mungkin tumpukan lembaran kertas yang ada di dunia ini tak kan mampu menampung semua itu, tapi yang jelas aku bahagia dengan berada disampingMu. Sesekali juga aku sempatkan bermain ke kosmu, malam atau siang bahkan sore kusisakan waktuku untuk melihat sang purnama yang terlukis indah di wajahmu. Walaupun pada kenyataannya, obrolan yang kau paparkan disana hanya menggambarkan kisah kasihmu dengan pacarMu. Sabar dan sabar hatiku menerima semua. Begitulah ku mengingat semua itu….

Dan tibalah pada masa dimana harapan keindahan itu pupus dan sirna dengan kehadiran fakta yang menbuatku harus menerima kenyataan. Yaitu: kesibukanmu dengan EO yang kau geluti di Fakultas. Saat itu, waktu yang biasa kau hadirkan untukku mulai tersita, bahkan tak sempat untuk menberikan perhatian padaku. Bertepatan juga dengan fenomena lost contect di antara kita yang membuat komonikasi diantara kita putus. Ditambah lagi dengan kenyataan yang menbuatku sangat-sangat tersakiti bahwa kau telah menjalin hubungan dengan seorang dosen, info itu aku dapat dari sahabatMu. Sungguh bernasib malang hatiku.

Untuk menbuktikan kebenaran info itu, diam-diam kuselidiki dan ternyata benar-benar terjadi. Semua itu terlukis dalam catan pesan terakhirku untukmu:

Pesan Terakhir….!!!

Good luck nenk! Aq lihat kok tadi yang pas turun dari motor…

Lah abank ada dmn? Koq gak nyapa….

Tadi abank lihat. Cium tangan udah cukup menjadi bukti

Maksud abank apa? Maafin nenk y...

Gak koq gak ada maksud apa-apa! N yang terpenting nenk gak salah. Apapun yang menjadi keputusan nenk merupakan hak paten nenk.

Ciuman tangan sudah cukup menjadi bukti bahwa aQ tidak bisa menpertahankan Idealisme perasaanQ. Maafkan n maafkan aQ!!

Beliau UstadzQ. Awalnya Qta cuma sebagai teman curhat, dia banyak ngasih masukan ke aQ. Beliau juga ngajarin aQ tentang Fikih wanita. Ya hubungan Qta kayak aQ ama abank dulu, Qta share. Gak ada perlu di maafin koq, yang harus minta maaf itu aQ.

Iya sama-sama...

Abang masih mau temanan ama nenk to? Gak ada yang berubah dari semua ini toh? Nenk gak mau teman-teman nenk jauh gara-gara nenk berteman ama orang lain. Sebelum nenk nikah, nenk berhak temanan ama siapa aja. Nenk memang dekat ama beliau.

Dari dulu hingga sekarang apa yang pernah aQ tanamkan dalam hatiQ tidak pernah berubah! Apapun alasannya!

Jujur pada saat Qita lost kontek, aQ mantau nenk dari jauh dan dekat!

Demi Allah!!! aQ amini jika itu yang terbaik buat nenk walau aQ harus terbakar dengan kekecewaanQ.

Makasih y bank! Nenk juga ngerasa kalau abank perhatian ama nenk. Nenk senneng!. Pasti abank lihat perubahan yang sangat besar ama nenk. Nenk juga ngerasa gitu. Nenk juga gak tahu apa penyebabnya. Nenk kadang merasa bersalah ama kamu. Tiap lewat depan Syari'ah, nenk pasti mikir koQ gak pernah ketemu abank?. Nenk benar-benar minta maaf kalau udah nyakitin abang.

Di setiap sepertiga malam! aQ besitkan ingatanQ padamu dan berdo'a kepada Sang Khalik.

" Ya Allah! Lindungilah dia dalam rahmatMu. Ampuni segala dosanya. Bimbinglah dia dalam keridhaanMu. Yakinkan dia pada kebenaran yang sesungguhnya.

Ya Allah! Jika dia adalah kebaikanQ maka yakinkan hatiQ padanya. Jika dia adalah masa depanQ maka biarkan hati ini subur walau harus gersang dahulu.

Ya Allah! Apapun yang menjadi rahasiaMu. Semuga demi kebaikan Qta berdua dunia dan akhirat". Hanya itu nenk yang aQ pinta ama Sang Khalik.

Nenk jadi pingin nangis! Makasih banget y. Nenk tahu abang sayang banget ama nenk. Abank selalu korban perasaan buat nenk tapi nenk malah kayak gini. Nenk gak tahu lagi. Hidup nenk gak tertata.

Jangan pernah nenk sesali setiap hal yang terjadi karena itu merupakan bagian dari proses khidupan. Syukuri dan syukuri!.

Dulu, Hari ini, esok dan nanti!!! aQ akan bertahan bersama puing rindu yang aQ yakini. Jika aQ mampu mengepakkan sayap potensi diriQ. Maka akan aQ luapkan semuanya. Itu janjiQ ama alam nenk.

2 Februari 2010

Entah aku harus mengadu sama siapa tentang luka hatiku yang tertusuk ilalang. Sekian tekadku untuk menjauh dari bayanganmu, malah kau semakin dekat dan berada di urat nadiku. Aku buang dan aku tepis tentang semua kenangan indah tentangmu namun aku tidak bisa berbohong, kenyataan tentang kenangan bersamamu semakin tampak jelas diingatanku. Sungguh aku lelah jika harus jujur. Namun perasaan ini yang memotivasiku...

Teringat aku pada kisah Minke, sosok seorang pribumi yang tergambar dalam Novel Tatralogi Pramoedya Ananta Toer. Minke hendak mencintai seorang wanita asal keturunan pribumi Jawa dan Eropa. Namanya Annelies, putri kesayangan Nyai Ontosoroh. Sungguh dia perempuan yang sangat cantik dan menawan dimasa itu, hingga tak satupun gadis yang ada di negeri Hindia Belanda yang mampu menandingi kecantikan dan kelembutannya. Dan dengan sekejap mata pertemuan pertama dirumah Nyai Ontosoroh itu melahirkan kisah kasih diantara mereka.

Jika aku menggambarkan kecantikanmu, dek di dalam hati dan pikiranku. Sungguh tak ada bandingannya sosok Annelies itu. Bagiku kau adalah mentari pagi yang menberikan sinar indah untuk bumi manusia. kelembutanMu mengalahkan lembutnya embun pagi hari dan seluruh keindahan alam ini terpancar dalam sosokMu yang menawan. Namun sayang, semua itu hanyalah beban yang melilitku hingga aku terpuruk dalam perasanku sendiri.

Jika Minke dapat menjerat hati Annelies dengan sekejap mata dan membuat Annelies jatuh hati padanya, adalah suatu yang wajar. Sebab dalam diri Minke tersimpan kharismatik dan pribadi yang berpendidikan, hartawan dan sosok pemuda satria harapan bangsa. Sehingga sangat pantas mereka berdua bersatu dalam kesatuan cinta. Tapi tidak denganku, ternyata perjalanan kasihku untuk memiliki diriMu dek tidak semulus Minke. Mungkin banyak kekurangan yang ada pada diriku sehingga kau sulit menerima diriku? Aku pikir itulah kenyataannya sehingga kau lebih memilih seseorang yang secara pribadi mempunyai segalanya. Terlalu naif memang hanya bermodalkan perasaan. Kembali aku bersabar dan berlari dari impian itu.

Hingga di akhir tetesan tinta ini, air mataku mengalir tanpa aku sadari. Setahun lebih aku bertahan untukmu namun tidak pernah keringat itu terbalas. Sabar dan sabar itulah yang selalau menjadi hiasan dinding dalam hatiku dan kini sudah mulai merapuh dan mengering. Teringat kejadian kemeren pas di Jakarata. Sungguh kau menganggapku hanyalah patung gundik tak bernyawa dengan kehidupan tak berarti. Kembali tetesan air mata hati menghiasi di semenanjung kehidupanku.

Aku sadar, barang kali aku yang terlalu naif dan jangan-jangan aku yang salah mengertikan tentang makna dari perasaan itu. Ya sudahlah. Aku yakin semua ada hikmahnya. Dan aku tidak menyesali semua perasan ini, bahkan aku berterimkasih karena kau telah menagajari aku banyak hal.

Sebelum ku benar-benar lari dari kehidupanmu sang dewi mentariku. Biarkan aku masuk dalam kehidupanMu meski sekejap mata untuk mengucapkan bahwa aku benar-benar menyayangimu.

Terakhir, terimakasih atas segalanya. Kau memang yang terindah yang pernah aku kenal dan selamanya kau akan menjadi sejarah dalam Hidupku. Semuga kau selalu bahagia atas pilihan hatimu.

Puisi Terakhir Untukmu

Karena dirimu, aku tahu, bahwa dicintai itu tidak lebih baik dari mencintai. Bahkan kita belum sempat bertemu. ya? Padahal, antara Musi dan Batanghari sesungguhnya masih satu jiwa. Mungkin karena itu pula, perkenalan kita yang singkat, kata-kata yang serba terbatas, dan senyum yang belum kunjung tertangkap oleh retina itu bukanlah penghalang bagi hati kita untuk saling mendekat. "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di?" "Tergantung sejauh mana pemahaman kita tentang kepemilikan, Mi." "Apa kamu siap memiliki kehilangan?"

Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya paham bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan hilang. Siap atau tidak siap, kita harus menerimanya. ~

Belakangan ini aku disibukkan dengan pekerjaan di kantor. Pak Yovie mendaulatku untuk membacakan monolog di sebuah acara di Pangalengan. Ya, baru saja aku lulus kuliah dan menjalani hari-hari pengabdianku di sebuah instansi di bawah Kementerian Keuangan.

Sebenarnya aku tidak suka udara dingin. Udara dingin pernah membuatku menyerah menempuh pendidikan di ITB. Saat itu hidungku hampir selalu berdarah-darah karena pembuluh darah yang rapuh—tak kuat udara dingin. Dan besok aku harus pergi ke sana lagi. Dua ketakutan lahir di dadaku. Pertama, karena udara dingin itu. Kedua, karena kenangan-kenangan di masa lalu yang segera menyergapku begitu aku menjejakkan kaki di Bumi Parahyangan itu.

"Hati-hati, Di."

Kau berkata seakan-akan aku akan menghilang selamanya. Memang, di acara itu juga akan diadakan arung jeram. Siapapun yang lengah bisa saja terpental dari perahu, menumbur batu, pingsan, lalu terbawa arus ke kematian. Tetapi, tentu aku tidak ingin berpikir macam-macam. Aku percaya pada standar keamanan yang diterapkan.

Hal kedua, entahlah, aku juga merasa kau mencintaiku. Sementara aku belum siap mencintaimu. Kau sendiri yang paham, betapa luka telah akrab dengan dadaku. Segala cinta yang pernah mampir tiba-tiba berlenyapan satu per satu dengan cara yang kadang tidak bisa kuterima dengan logika. Katakanlah pacar pertamaku yang mata duitan itu, pacar keduaku yang memutuskan menikah dengan orang lain tanpa memberikan alasan yang dapat kuterima, dan terakhir Si Dokter Gigi yang menyerah karena mengetahui pola mutasi di tempat bekerjaku yang baru. Hanya kau, yang berani meyakinkan aku, bahwa bagaimanapun aku, kau akan tetap di sampingku.

***
Kau takut kecoa. Aku takut cacing. Kau suka kucing. Aku suka kepiting. Dahimu bekernyit, "Apa bagusnya kepiting?" "Apa bagusnya kucing?" "Kucing itu hewan yang lucu dan manja." "Kepiting itu jalannya miring." "Semua orang juga tahu kepiting jalannya miring." "Kepiting punya capit." "Semua orang juga tahu kepiting punya capit." "Tapi orang-orang tidak tahu kalau kau malu, mukamu akan seperti kepiting rebus."

Kau diam. Dan pasti memerah. Aku memang belum pernah melihat wajahmu. Tapi aku yakin jenis kulitmu yang putih itu akan mudah memerah kalau terkena panas dan menahan malu. "Di...." "Ya?" "Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki?"

Giliran aku yang diam. Kau juga diam di seberang sana. Perlahan, udara dingin di Kemayoran mengepung tulang-tulangku. "Di, aku mencintaimu...." lanjutmu pelan dan langsung menutup telepon setelahnya.

***
Aku sempat beranggapan bahwa perempuan-perempuan yang mencintaiku akan berakhir dengan airmata. Hal ini tentu bukan tidak beralasan. Penyair seperti aku cenderung memilih kesunyian sebagai tempat pelepasan. Katarsis. Dan pada akhirnya, mereka merasa diduakan. Padahal, aku tentu masih mencintainya. Masih mencintai setiap kenangan dan waktu yang pernah kubagi. Aku hanya memiliki duniaku sendiri. Aku hanya mencintai kesunyianku sendiri—selain cintaku pada kecintaan yang dipersembahkan untukku. "Luka adalah lelucon yang datang tiba-tiba."

Tiba-tiba di perteleponan kita yang kesekian, kau mengatakan hal itu. Sepertinya selama ini aku abai pada perasaanmu. Sepertinya selama ini aku hanya peduli pada kelukaanku sendiri. Dan hari itu aku menyadari bahwa luka bukan hanya milikku. Tetapi juga milikmu. Dan aku begitu ingin belajar kepadamu tentang cara menghadapi kelukaan yang sedemikian akut. "Hidup yang lucu, atau kita yang lucu?" "Atau Tuhan yang lucu?" Aku tertawa. Kau tertawa. Dan kita saling menertawakan diri kita masing-masing. "Kenapa kau mencintaiku, Mi?" "Karena itu kamu...." "Karena aku?" "Jika orang lain, aku tidak akan mungkin mencintai." "Apa istimewanya aku?" "Apa butuh keistimewaan untuk mencintaimu, Di?" Kau begitu sering membuat aku terdiam dengan pertanyaan dan pernyataanmu. "Kau tidak tahu masa laluku?" "Apa kau tahu masa laluku?" "Tidak." "Aku tidak peduli dengan segala hal yang pernah kau lakukan di masa lalumu, Di...." "Aku tidak berani mencintaimu, Mi." "Aku tidak memaksa kamu mencintaiku. Tapi setidaknya biarkan aku mencintaimu, ya?"

***
Mungkin seminggu lagi aku akan pulang ke Palembang. Tetapi, kau bilang seminggu lagi kau akan kembali ke Bandung—sebab telah habis masa liburmu. Jarak antara Palembang—Jambi sama dengan jarak antara Jakarta—Bandung. Tetapi jarak di antara kita sesungguhnya jauh lebih dekat dari sepasang bola mata yang tak kunjung saling bisa membaca.

Setelah buku Kumpulan Cerpen "Dongeng Afrizal" ku terbit, aku memang merencanakan akan melakukan tur ke sejumlah kota untuk bedah buku. Palembang, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, sudah barang tentu menjadi tujuan wajib. Sebentar lagi juga ulang tahunmu, mungkin menemuimu nanti akan menjadi sebuah hadiah kejutan terindah.

Akan tetapi, kesibukan-kesibukan yang makin padat, antara pekerjaanku sebagai CPNS di Ditjen Perbendaharaan yang dimix dengan rutinitasku sebagai penulis (dan penyair) membuat kita jarang sekali berkomunikasi. Terakhir kali kau mengirim SMS untuk mengirimkan bukuku itu ke rumahmu. Aku sempat mencandaimu, ingin ditambahkan apa di buku tersebut—semisal tanda tangan, cap bibir, atau foto-fotoku. Tetapi, SMS yang terlewat malam itu tidak kau balas. Kau pasti sudah tertidur.

Setelah itu, aku tidak tahu kenapa aku lupa menanyakan kabarmu. Dan heran pula diriku mengetahui kau tidak sekali pun megirim atau menanyakan kabarku. Mungkin kau sedang sangat sibuk—sepertiku.

Akhirnya, karena aku lamat-lamat merasakan rindu mengalir di benakku—memikirkanmu, aku mengirim SMS kepadamu:

Tami, apakah kirimanku sudah sampai ke hatimu? Tidak dibalas. Mungkin kau sedang tidak punya pulsa.

***
Beberapa jam kemudian, kau menghubungiku. Namun bukan suaramu. "Nak Pringadi, ya?" Suara seorang perempuan yang lebih tua terdengar bersahaja. "Saya ibunya Tami." Lanjutnya mengenalkan diri. Mendadak hatiku gelisah. "Iya, Bu, saya Pringadi, Taminya ke mana, Bu?" "Bukunya sudah sampai. Tadi kami baca. Tidak salah Tami mengagumimu dan banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan Nak Pringadi." Aku diam. "Kalau Tami ada salah-salah kata selama berteman dengan Nak Pringadi, mohon maafkan dia ya?" "Tami ke mana, Bu?" aku mengulang pertanyaanku. Dadaku tiba-tiba sesak. "Tami belum sempat membaca bukunya. Tami keburu dipanggil Allah. Beberapa hari lalu, dia masuk rumah sakit. Demam berdarah. Dia...." "Jangan dilanjurkan, Bu!" aku memotongnya. "Ini pasti bercanda, kan?" "Ini kenyataan, Nak." "Tapi baru beberapa hari lalu kami berkomunikasi, Bu. Kematian tidak mungkin datang secepat ini pada perempuan sebaik dia!"

Aku tidak mendengarkan perkataan selanjutnya dari ibunya Tami. Aku mendadak lemas. Terisak. Dan membiarkan suara di sana berbicara sendiri.

Kubuka laptopku dan kusaksikan profil facebooknya. Segala kenangan tentangnya mendadak bermunculan dan berkelindan di mataku. Sebuah kalimat yang sering ia utarakan itu mengiang-ngiang di benakku.

Bisakah kita kehilangan tanpa pernah memiliki, Di? Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah mengisi rongga dadaku. Sebab di langit mana pun kita berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender yang bertanggalan, seperti helai dedaunan--- terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan, kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit, tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah melebihi semua gegabah yang sering kulakukan. Andai kita berpisah, pastilah karena bulan di langit sudah tak sama. Angin malam, gerak bayangan di remang taman, dan sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim; Aku tergeletak. dadaku retak.
 

Shine Huang. Design By: SkinCorner