Rabu, 29 September 2010

DUNIA SEORANG GADIS

Sophie Amundsend sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dia telah menempuh paruh pertama perjalanannya bersama Joanna. Mereka membicarakan tentang robot. Joanna beranggapan otak manusia itu seperti komputer yang sangat canggih. Sophie tidak terlalu sepakat. Tentunya manusia bukan sekadar sepotong perangkat keras!

Ketika sampai di depan pasar swalayan, mereka berpisah. Sophie tinggal di daerah pinggiran kota dan jaraknya dari sekolah hampir dua kali lebih jauh daripada rumah Joanna. Tidak ada rumah lain di sebelahnya. Jadi rumah tersebut seakan berada di ujung dunia. Di dekat situ ada hutan.

Dia berbelok menuju Clover Close. Di ujung jalan ada tikungan tajam, yang dikenal sebagai Captain's Bend. Orang-orang jarang melewati jalan itu kecuali pada akhir pekan.

Saat ini awal bulan Mei. Di beberapa kebun, pohon-pohon buah dikelilingi dengan bertandan-tandan daffodil. Pohon birkin telah diselimuti daun berwarna hijau pucat.

Ketika Sophie membuka pintu gerbang halamannya, dia memandang ke kotak surat. Biasanya ada banyak surat sampah dan beberapa amplop besar untuk ibunya. Tumpukan surat itu sering ditinggalkannya begitu saja di meja dapur sebelum dia naik ke kamar untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah.

Seringkali, ada beberapa surat dari bank untuk ayahnya. Tetapi ayah Sophie bukanlah seorang ayah yang biasa. Dia adalah nakhoda sebuah tanker minyak besar, dan selalu bepergian hampir sepanjang tahun. Selama beberapa minggu ketika dia berada di rumah, dia akan sibuk ke sana ke mari untuk membuat rumah itu enak dan nyaman bagi Sophie dan ibunya. Namun jika dia berada di laut, dia tampaknya sangat jauh.

Hanya ada sebuah surat di kotak surat, dan itu adalah untuk Sohhie. Pada amplop putih tertulis: 'Sophie Amundsend, 3 Clover Close.' Itu saja. Tidak dituliskan siapa pengirimnya. Perangkonya pun tidak ada.

Setelah Sophie menutup pintu gerbang, dia buru-buru membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas yang tidak lebih besar dari amplopnya sendiri. Bunyinya: 'Siapakah kamu?'

Tidak ada yang lain, hanya dua kata itu yang, ditulis tangan dan diikuti dengan sebuah tanda tanya besar.

Dia melihat amplop itu lagi. Surat itu jelas untuknya. Siapakah yang memasukkannya ke dalam kotak surat?

Sophie segera memasuki rumah merah itu. Sebagaimana biasa, kucingnya Sherekan berusaha menyelinap keluar dari semak-semak, melompat ke tangga pertama, dan menyusup masuk melalui pintu sebelum Sophie menutupnya. Selain Sherekan, Sophie juga punya tiga ekor ikanmas, Goldtop, Red Ridinghood, dan Black Jack. Selanjutnya dia mendapatkan dua ekor burung parkit yang dinamakannya Smiit dan Smule, lalu Govinda si kura-kura darat.

Sophie melemparkan tas sekolahnya ke lantai dan meletakkan semangkuk makanan kucing untuk Sherekan. Lalu dia duduk di atas bangku dapur dengan surat misterius di tangannya.

Siapakah kamu?

Dia tidak tahu. Dia adalah Sophie Amundsend, tentu saja, tetapi siapakah Sophie itu? Dia benar-benar tidak mengerti.

***

Bagaimana seandainya dia telah diberi nama lain? Anne Knutsen, misalnya. Apakah dia lalu menjadi orang lain?

Tiba-tiba dia ingat bahwa ayahnya semula ingin dia dinamai Lilemor. Sophie berusaha untuk membayangkan dirinya bersalaman dan memperkenalkan dirnya sebagai Lilemor Amundsend, namun semua itu tampaknya tidak benar. Tetap saja itu adalah orang lain yang memperkenalkan dirinya.

Dia melompat dan pergi ke kamar mandi dengan surat aneh di tangannya. Dia berdiri di depan cermin dan menatap matanya sendiri.

"Aku Sophie Amundsend," katanya.

Gadis di dalam cermin itu tidak bereaksi sama sekali. Apapun yang dilakukan Sophie, gadis lain itu melakukannya dengan cara yang persis sama. Sophie berusaha untuk memukul bayangannya dengan gerakan kilat namun gadis itu pun bergerak sama cepatnya.

"Siapakah kamu?" Sophie bertanya.

Dia tetap tidak menerima tanggapan, tapi merasa sedikit bingung apakah dia atau bayangannya yang mengajukan pertanyaan itu.

Sophie menekan jari telunjuknya ke hidung di cermin itu dan berkata, "Kamu adalah aku."

Karena dia tidak mendapatkan jawaban, dia membalik kalimat itu dan berkata, "Aku adalah kamu."

Sophie Amundsend sering merasa tidak puas dengan penampilannya. Orang sering bilang dia memiliki sepasang mata indah berbentuk buah almond, namun itu barangkali hanya diucapkan orang-orang sebab hidungnya terlalu kecil dan mulutnya agak terlalu besar. Dan telinganya terlalu berdekatan dengan matanya. Yang paling buruk dari semua itu adalah rambutnya yang lurus, yang tidak mungkin diapa-apakan.

Kadang-kadang ayahya akan membelai rambutnya dan menyebutnya 'gadis dengan rambut jerami'. Bagi ayahnya itu tidak menjadi soal, sebab bukan dia yang dijatuhi kutukan untuk hidup dengan rambut lurus berwarna gelap. Krim rambut maupun styling gel sama sekali tidak berpengaruh pada rambut Sophie. Kadang-kadang dia menganggap dirinya begitu jelek sehingga dia bertanya-tanya apakah dia terlahir cacat. Namun apakah yang sesungguhnya menentukan penampilan kita?

Bukankah aneh bahwa dia tidak mengenal siapa dirinya? Dan bukankah tidak masuk akal bahwa dia tidak pernah diizinkan untuk ikut menentukan bagaimana penampilannya? Dia hanya sekadar ditimpa penampilan seperti itu. Dia memang dapat memilih kawan-kawannya sendiri. Dia bahkan tidak memilih menjadi seorang manusia.

Apakah manusia itu?

Sophie kembali menatap gadis di cermin itu.

"Ah, sebaiknya kau ke atas dan mengerjakan PR biologiku," katanya, nyaris seperti minta maaf. Begitu sampai di ruang tengah, dia berpikir. Tidak, lebih baik aku pergi ke taman.

Ketika dia berdiri di luar, di atas jalan berkerikil dengan surat misterius di tangannya, perasaan yang sangat aneh menyerangnya. Dia merasa seperti sebuah boneka yang tiba-tiba dihidupkan oleh sapuan sebatang tongkat sihir.

Bukankah ajaib bisa berada di dunia saat ini, berkelana ke sana ke mari dalam suatu petualangan yang mencengangkan!

Ketika Sophie mulai memikirkan tentang hidup, dia mulai menyadari bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Aku berada di dunia sekarang, pikirnya, tetapi suatu hari aku akan pergi.

***

Adakah kehidupan sesudah kematian? Ini adalah pertanyaan lain yang sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh Sophie.

Belum lama nenek Sophie meninggal. Selama lebih dari enam bulan Sophie merindukannya dari hari ke hari. Sungguh tidak adil bahwa kehidupan harus berakhir!

Sophie berdiri di atas jalan berkerikil, berpikir. Dia berusaha untuk berpikir ekstra keras mengenai hidup agar dia dapat melupakan bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Tetapi itu mustahil. Begitu dia berkonsentrasi pada kehidupannya sekarang, pikiran tentang kematian pun memasuki benaknya.

Hal yang sama terjadi sebaliknya: hanya dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang pasti mati maka dia dapat menghargai betapa senangnya dia bisa hidup. Ini seperti dua sisi mata uang yang berulangkali dibalik-baliknya. Dan semakin besar dan semakin jelas satu sisi, semakn besar dan semakin jelas pula sisi lainnya.

Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati, pikirnya. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.

Sophie ingat nenek mengatakan sesuatu semacam itu pada hari ketika dokter menyatakan dirinya sakit. "Baru kali inilah aku menyadari betapa kayanya kehidupan ini," katanya.

Sungguh tragis bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit dulu sebelum mereka memahami betapa berharganya hidup itu. Atau, kalau tidak, mereka harus menemukan dulu sebuah surat misterius di dalam kotak surat!

Barangkali dia harus memeriksa kalau-kalau ada lagi surat yang datang. Sophie bergegas ke pintu gerbang dan melihat ke dalam kotak surat hijau. Dia terperanjat ketika mendapati bahwa di situ terdapat sebuah amplop putih lain, persis seperti yang pertama. Tetapi kotak surat itu jelas-jelas sudah kosong ketika dia mengambil amplop pertama! Amplop ini bertuliskan namanya pula. Dia menyobeknya hingga terbuka dan meraih selembar catatan yang ukurannya sebesar yang pertama.

Dari mana datangnya dunia? Dikatakan di situ.

Aku tidak tahu, pikir Sophie. Tentunya tidak ada orang yang benar-benar tahu. Namun bagaimanapun Sophie menganggap itu sebuah pertanyaan yang wajar. Untuk pertamakali dalam hidupnya dia merasa tidak pantas hidup di dunia tanpa setidak-tidaknya mempertanyakan dari mana ia berasal.

Surat-surat misterius itu telah membuat kepala Sophie pusing. Dia memutuskan untuk pergi menyendiri di sarangnya.

Sarang itu adalah tempat persembunyian Sophie yang paling rahasia. Sophie telah menemukan lubang kecil di pagar itu sejak dia bisa mengingat. Ketika merayap ke sana dia memasuki sebuah rongga di antara semak-semak. Rongga itu seperti sebuah rumah mungil. Dia tahu tak seorang pun dapat menemukannya di sana. Ke situlah dia pergi jika dia merasa sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia. Hari ini dia hanya bingung.

Dengan menggenggam kedua amplop di tangan, Sophie berlari melintasi taman, merangkak dengan kedua kaki dan tangannya, dan membuka jalan menembus pagar tanaman itu. Sarang itu tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhnya saat berdiri tegak, tapi hari ini dia duduk di atas serumpun akar yang bertonjolan.

Dari sana dia dapat melihat keluar melalui lubang pengintip kecil di sela-sela ranting dan dedaunan. Ketika masih kecil dia suka berpikir sungguh menyenangkan memperhatikan ibu dan ayahnya mencari-carinya di antara pepohonan di situ. Sophie selalu menganggap taman itu sudah merupakan dunia tersendiri. Setiap kali dia mendengar tentang Taman Firdaus yang diceritakan dalam Bibel, dia seperti diingatkan untuk duduk di sini di dalam sarangnya, mengawasi surga kecilnya sendiri.

Dari mana datangnya dunia?

Dia tidak mempunyai gagasan sekilas pun. Sophie tahu perlu mencari tahu dari mana ia berasal. Tetapi mungkinkah sesuatu itu selalu ada? Jauh di lubuk hatinya dia memprotes gagasannya? Jadi angkasa pasti telah diciptakan dari sesuatu yang lain.

Tapi jika angkasa berasal dari sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pasti juga berasal dari sesuatu yang lain pula. Sophie merasa dia hanya menyeret-nyeret permasalahan. Pada satu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan. Namun apakah itu mungkin? Bukankah sama mustahilnya dengan gagasan bahwa dunia selalu ada?

Mereka telah belajar di sekolah bahwa Tuhan menciptakan dunia. Sophie berusaha untuk menghibur dirinya dengan pemikiran bahwa ini barangkali pemecahan terbaik untuk seluruh masalah itu. Tetapi dia lalu mulai berpikir lagi.

Dia dapat menerima bahwa Tuhan telah menciptakan angkasa, tetapi bagaimana dengan Tuhan sendiri? Lagi-lagi ada sesuatu jauh di lubuk hatinya yang memprotes. Meskipun Tuhan dapat menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai 'diri'. Maka hanya tinggal satu kemungkinan: Tuhan selalu ada. Tetapi dia telah menolak kemungkinan itu! Segala sesuatu yang ada harus ada permulaannya.

Oh, persetan!

Dia membuka kedua amplop itu lagi.

Siapakah kamu?

Dari mana datangnya dunia?

Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh menjengkelkan! Dan, ngomong-ngomong, dari mana datangnya surat-surat itu? Itu juga sama misteriusnya, nyaris.

Siapakah yang telah menyentakkan Sophie keluar dari keberadaannya sehari-hari dan dengan tiba-tiba membawanya berhadapan dengan teka-teki besar tentang alam raya?

Untuk ketiga kalinya Sophie memeriksa kotak surat. Pak Pos baru saja mengantarkan kriman hari itu. Sophie mengaduk setumpukan surat sampah, terbitan berkala, dan dua surat untuk ibunya. Juga ada sebuah kartu pos bergambar pantai tropis. Dia membalik kartu pos itu.

Di situ tertempel sebuah perangko Norwegia dan diberi cap pos 'Batalyon PBB'. Mungkinkah itu dari Ayah? Tapi bukankah dia berada di suatu tempat yang sama sekali lain? Itu juga bukan tulisan tangannya.

Sophie merasakan detak jantungnya sedikit bertambah cepat ketika dia melihat kepada siapa kartu pos itu dialamatkan. Hilde Moller Knag, d/a Sophie Amundsent, 3 Clover Close....

Sisa alamat itu benar adanya. Kartu pos itu berbunyi:

Hilde Sayang, selamat ulangtahun ke-15! Karena aku yakin kamu akan mengerti, aku ingin memberimu sebuah hadiah yang dapat membantu berkembang. Maafkan aku telah mengirimkan kartu pos ini ke alamat Sophie. Itu adalah cara yang paling mudah. Salam sayang dari Ayah.

Sophie lari kembali ke rumah dan masuk ke dapur. Pikirannya kacau. Siapakah Hilde ini, yang berulang tahun tepat sebulan sebelum ulangtahunnya sendiri?

Sophie mengambil buku telepon. Ada banyak orang yang bernama Moller, dan hanya sedikit yang bernama Knag. Tapi tak satu pun dalam buku petunjuk itu yang bernama Moller Knag.

Dia mengamati kartu misterius itu lagi. Tampaknya itu asli, juga di situ terdapat perangko dan cap pos.

Mengapa seorang Ayah mengirimkan sebuah kartu ulangtahun ke alamat Sophie, sedangkan sudah jelas sekali bahwa kartu tersebut ditujukan ke tempat lain? Ayah macam apa yang mau memperdaya putrinya sendiri lewat sebuah kartu ulangtahun yang dengan sengaja dikirimkan sembarang alamat? Bagaimana mungkin itu merupakan 'jalan termudah'? Dan selain itu, bagaimana dia dapat melacak Si Hilde ini?

Kini Sophie punya tambahan masalah yang mengganggu. Dia berusaha untuk meluruskan pikirannya.

Siang ini, dalam waktu hanya dua jam, dia telah dihadapkan dengan tiga masalah. Masalah pertama adalah, siapa yang telah meletakkan dua amplop putih di kotak suratnya. Yang kedua adalah, pertanyaan-pertanyaan sulit tersebut.

Masalah ketiga adalah, siapakah Hilde Moller Knag, dan mengapa Sophie yang dikirimi kartu ulangtahunnya? Sophie kembali bertanya, ini pasti perbuatan ayah untuk lebih mendewasakan pikirannya? Atau ada episode lain dari dunianya? Sophie yakin bahwa ketiga masalah itu saling terkait. Pasti begitu.

the end

Tragedi Sebuah Cincin

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku ketika hawa dingin kembali menghampiri. Menyesal juga aku menolak tawaran Bima untuk membawa sweater, yang akhirnya membuat aku harus panda-pandai menyembunyikan rasa dingin agar tidak ditertawakan.

"Dingin, kan?" tanya Bima seakan tahu isi hatiku. Diraihnya jemariku ke dalam genggamannya.

Aku hanya tersenyum kecut ketika melihat sorot matanya yang lembut. Aku juga tak kuasa menolak ketika ia mencoba menarik tubuh mungilku ke dalam pelukannya. Selalu ada rasa damai dan hangat yang mengalir ketika aku merebahkan kepala di dadanya.

"Shinta, kenapa sih kamu masih gengsi dan tidak terbuka denganku?" tanyanya lagi.

"Tidak terbuka apanya sih, Bim?"

"Gimana tidak terbuka, disuruh bawa sweater aja kamu keberatan. Ya panaslah, ya beratlah...," jelasnya kecewa.

Aku mencoba melepaskan tubuh dari dekapannya.

"Lalu bagaimana dengan masalah pertunangan kita, kamu masih juga belum mau terbuka?"

Sesaat aku terkejut dengan pertanyaannya, namun aku mencoba menutupinya dengan memberikan potongan apel.

"Shinta, aku serius! Kamu selalu mengalihkan pembicaraan jika menyangkut pertunangan yang kuusulkan. Apa Mama kamu tidak menyetujui keinginanku untuk berhubungan lebih serius denganmu?"

"Bim... aku bukan mengalihkan pembicaraan, kamu jangan menyimpulkan yang tidak-tidak dong!"

"Lalu mengapa kamu tidak menjawab saya iya atau tidak. Itu aja kok, yang aku tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu. Aku tuh sayang beneran sama kamu, dan aku juga mau serius," sambung Bima seraya menarik kembali jemariku.

"Iya, aku tahu kamu sayang sama aku. Tapi kamu juga mesti ngerti dong kalau aku masih mau kuliah," jawabku sekenanya. Sebenarnya aku paling tidak suka kalau ia sudah membicarakan hal-hal yang terlalu serius seperti ini. Bukannya aku tidak mau serius sama dia, tapi aku kan tidak mau ngecewain Mama dengan melantakkan kuliahku. Aku hanya tinggal punya Mama di dunia ini, beliaulah tempatku berlindung.

"Shinta...," serunya membuyarkan lamunanku. "Dengan bertunangan, bukan berarti aku akan melarangmu untuk meneruskan kuliah. Aku hanya ingin kepergianku ke Amsterdam nanti bisa membuatku tenang, sehingga aku bisa mengikuti pendidikan tanpa rasa was-was, kalau-kalau merpatiku dijerat orang," seloroh Bima seraya kembali membelai rambutku.

"Jadi... kamu serius dengan tawaran kantormu?"

"Shinta Sayang... aku tidak mungkin segencar ini mengajakmu untuk segera bertunangan, kalau rencana keberangkatanku masih tahun depan."

"Jadi...?"

"Iya. Aku terpaksa harus mendengar keputusanmu hari ini, karena bulan depan aku sudah harus mempersiapkan keberangkatanku," urainya seraya menatapku penuh permohonan.

***

Aku tak kuasa menahan airmata yang mengalir membasahi pipiku. Ada rasa haru dan bahagia mengalir bersama butiran-butiran airmataku. Bima merengkuh bahuku dalam gerak gegas, dan mengecup keningku kemudian.

"Maaf, Shin, kalau pernyataanku membuatmu bersedih," ujarnya dengan nada penyesalan.

"Apakah kamu sungguh-sungguh akan pergi meninggalkanku?" desah kecemasan tak dapat lagi kusembunyikan. Terbayang di hadapanku hari-hari yang panjang dan menjenuhkan karena dipisah oleh waktu dan jarak.

"Untuk itulah aku mohon pengertian kamu! Please, penuhi permohonanku. Dan aku janji tidak akan lebih dari setahun, semua ilmu manajemen Negeri Kincir Angin itu sudah aku babat habis, lalu segera pulang untuk menemuimu lagi," ujarnya mencoba meyakinkanku.

"Ak-aku...." Aku merasa lidahku kelu. Perbendaharaan kalimatku mandek. Padahal, aku ingin mengatakan bahwa aku mengabulkan permohonannya.

"Kamu mau kan memenuhi permohonanku?"

Aku tidak kuasa menjawab, hanya airmata dan anggukan lembut yang sanggup aku lakukan. Dan Bima kembali merengkuh bahuku sebagai reaksi bahagia. Sungguh, seketika ada rasa damai yang mengalir dalam hatiku.

Bima melepaskan pelukanku dan merogoh sesuatu dari dalam saku blue jeans lusuhnya. Sebuah kotak mungil berlapis beludru hitam ia raih dari sana. Bima memintaku membukanya. Ternyata sebuah cincin perak bermata kristal bertengger manis di dalamnya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Sesaat kemudian ia mengenakan cincin perak bermata kristal tersebut ke dalam jari manisku.

"Ok, oke. Aku sudah lega sekarang. Hari hampir gelap, kita pulang ya? Mamamu pasti sudah cemas," usul Bima seraya membantuku membenahi perlengkapan piknik ke dalam bagasi mobilnya. Belum setengah jam aku meninggalkan lokasi pantai, hujan tiba-tiba turun dibarengi angin kencang.

Aku mencoba mencari sebuah cd dalam laci dashboard ketika mobil melaju dalam kecepatan sedang. Aku hanya berhasil menemukan lagu lawas 'November Rain'-nya Gun 'n Roses. Lumayan ketimbang sunyi. Apalagi jalanan yang kami lalui mulai gelap. Kulirik Bima di sampingku, duduk dengan mimik serius seakan ia sedang mencoba menerobos gelap dan hujan. Entah mengapa aku merasa kangen sekali menatapnya saat ini.

Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba entah bagaimana awalnya, sebuah cahaya terang menyoroti kendaraan yang kami tumpangi. Belum sempat aku berpikir jauh, benda bersinar di hadapan kami makin mendekat, dan....

Brrraaaakkk!

Aku hanya sempat merasakan benturan keras di keningku, sesaat kemudian aku melihat sekelilingku menjadi gelap!

***

Aku merasakan ada air hangat menyentuh pergelangan tanganku. Kucoba membuka kelopak mataku yang terasa memberat. Perlahan, dan samar aku melihat bayangan sosok berlatar belakang serba putih. Aku mencoba membuka mataku lebih lebar. Aku melihat Tante Retno — Mama Bima duduk di sisi pembaringanku. Aku berusaha mengeluarkan sepatah kata, namun rasa kantuk yang berat seakan menekan kelopak mataku.

"Shinta... ini Mama," sapa sebuah suara yang sanggup aku dengar, dan suara itu seakan memberi kekuatan padaku sehingga aku bisa melihat dengan jelas orang-orang di sekitarku.

"Mama... Shinta sekarang berada di mana?" tanyaku dengan suara serak.

"Sayang, istirahat saja ya?" jawab wanita setengah baya yang duduk di samping pembaringanku, seraya mencoba menyembunyikan airmatanya. Aku berusaha mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang aku alami.

"Ma... di mana Bima?" tanyaku begitu kesadaranku sedikit demi sedikit kembali memulih. Tak ada jawaban yang terdengar. Kulihat Tante Retno menghampiri sisi kanan pembaringanku, lalu mencium keningku. Tiba-tiba aku merasakan ada yang tidak beres.

"Tante, di mana Bim?!" tanyaku lirih. Aku tetap tidak mendengar jawaban dari mereka. Namun aku juga tidak berani menyimpulkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Tiba-tiba tatapanku tertumpu pada pakaian yang mereka kenakan. Hitam, dan berkerudung! Aku mencoba mencari jawaban dari mata sayu milik Mama. Yang tergambar hanyalah kedukaan. Aku hanya mendengar Mama berkata lirih dan memintaku bersabar menghadapi cobaan.

Ya, Tuhan!

Aku tak kuasa lagi menahan airmata yang menerobos keluar membasahi pipiku. Aku mencoba menyentuh cincin perak bermata kristal pemberian Bim yang masih menghias di jari manisku. Pening kembali menyerangku. Sesaat kemudian aku merasakan sekelilingku menjadi gelap.

the end

If u love someone.....


Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 th.

Ketika saya sedang bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu seorang anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda saya dan kemudian saya mengejarnya dan memukulnya. Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu dan saling memukul satu sama lain di batas pagar itu.Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.

Dia sangat pendiam... dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan. Saya menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya tentang apa saja.Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami pulang kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.

Suatu hari,saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya sukai tetapi telah menyakiti hati saya.... Dia menghibur saya dan mengatakan segalanya akan beres. Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan membantu saya untuk melupakannya. Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya tahu bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya suka.

Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa persahabatan. Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja saya berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa ada sesuatu yang lain.Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri, sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya.

Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk mengatakannya. Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki tapi saya hanya duduk di sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap-cakap tentang cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita tentang impiannya. Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita bagaimana dia ingin menjadi orang kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan hanya menceritakan impian saya dan duduk dekat dengan dia.

Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan perasaan saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintainya tapi saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada diri saya sendiri bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya.

Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia selalu bersama-sama dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan pekerjaan di New York. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat yang sama saya sangat bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih karena saya menyadari ia pergi untuk pekerjaan besarnya. Jadi... saya menyimpan perasaan saya untuk diri saya sendiri dan melihatnya pergi dengan pesawat.

Saya menangis ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini adalah saat terakhir. Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis.Saya merasa terluka karena saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.

Saya memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi seorang analis komputer. Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu hari saya menerima undangan pernikahan. Undangan itu darinya. Saya bahagia dan sedih pada saat yang bersamaan. Sekarang saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan kami hanya bisa menjadi teman.

Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya. Itu adalah sebuah peristiwa besar. Saya bertemu dengan pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya. Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak mengacaukan apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi mereka. Saya mencoba bersenang-senang malam itu, tapi sangat menyakitkan hati melihat dia begitu bahagia dan saya mencoba untuk bahagia menutupi air mata kesedihan yang ada di hati saya.

Saya meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal yang tepat. Sebelum saya berangkat... tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan salam perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan saya.

Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di New York. Kehidupan saya harus terus berjalan. Tahun-tahun berlalu... kami saling menulis surat dan bercerita mengenai segala hal yang terjadi dan bagaimana dia merindukan untuk berbicara dengan saya.

Pada suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat kuatir mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah menulis 6 surat kepadanya.. Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima sebuah catatan kecil yang mengatakan: "Temui saya di pagar dimana kita biasa bercakap-cakap".

Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia melihatnya tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami kesulitan untuk bernafas.Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa dia tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak dapat menangis lagi...

Akhirnya kami kembali ke rumah dan bercerita dan tertawa tentang apa yang telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya tetap tidak dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya kepadanya.

Hari-hari berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia kembali ke New York, saya menemuinya dan menangis. Saya benci melihatnya harus pergi. Dia berjanji untuk menemui saya setiap kali dia mendapat libur. Saya tak dapat menunggu saat dia datang sehingga saya dapat bersamanya. Kami selalu bergembira ketika sedang bersama.

Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya berpikir bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya melupakannya.

Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari New York. Pengacara mengatakan bahwa ia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dalam perjalanan ke airport. Hati saya hancur. Saya sangat terkejut akan kejadian ini . Sekarang saya tahu... mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis semalaman. Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi terhadap seseorang yang begitu baik seperti dia?

Saya mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke New York untuk pembacaan surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan mantan istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya lagi setelah terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia menceritakan bagaimana mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia. Apapun yang dia kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia seperti saat pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan, satu-satunya yang diberikan kepada saya adalah sebuah diary.

Itu adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan kepada saya. Saya tak dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada saya? Saya mengambilnya dan terbang kembali ke California.

Ketika saya di pesawat, saya teringat saat-saat indah yang kami miliki bersama.Saya mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami berjumpa. Saya terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu bercerita bahwa dia jatuh cinta kepada saya di hari ketika saya patah hati. Tapi dia takut untuk mengatakannya kepada saya. Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala perkataan saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin mengatakannya kepada saya berkali-kali, tetapi takut. Diary itu bercerita ketika dia ke New York dan jatuh cinta dengan yang lain. Bagaimana dia begitu bahagia ketika bertemu dan berdansa dengan saya di hari pernikahannya. Dia berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.

Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan istrinya. Saat-saat terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca huruf demi huruf yang saya tulis kepadanya. Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini saya akan mengatakan kepadanya kalau saya mencintainya."

Itu adalah hari dimana dia mengalami kecelakaan. Hari dimana pada akhirnya saya akan mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya...

Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK MENGATAKAN KEPADANYA.." karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada..

Ayah! Aku Benci Ibu..!

Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Kehidupanku sejak kecil tidak kurang dan tidak juga berlebihan. Terpenuhi. Aku sangat mencintai ayahku. Dan aku sangat membenci ibu yang melahirkanku. Aku juga bukan anak yang bodoh dan juga bukan anak yang pintar di kelas. Ayahku bilang aku cerdas, karena setiap semester aku selalu masuk 3 besar. Ayahku seorang yang sangat baik, tidak pernah memukuliku semarah apapun dia kepadaku, ia adalah seorang penyabar. Ayahku adalah guru bagiku. Dia tahu apa yang aku sembunyikan di dalam hati. Dia tahu apa keinginanku. Tahu bagaimana mengobatiku jika aku sakit atau patah tulang, karena ia dulunya adalah dokter yang tidak pernah praktek karena kecewa pada sesuatu hal. Ayahku lebih tepat seorang penganut atheis-logical, ia percaya pada Tuhan tapi tidak percaya pada ajaran apapun. Dan menurutku tindakannya lebih beradab dan manusiawi daripada mereka yang rajin ibadah – setidaknya menurut pandanganku. Ayahku seorang demokratis. Intinya ia adalah sosok paling kukagumi dan banggakan walaupun pekerjaannya hanya sebagai “pekerja bebas” – setidaknya begitu yang tertera di KTP-nya. Ayahku dibesarkan di panti asuhan yatim piatu dan diadopsi ketika berumur 5 tahun oleh keluarga sederhana.

Satu hal yang membuatku membenci ibu yang telah melahirkanku hingga saat ini, ketika suatu malam aku dimarahi dan dipukuli karena tidak bisa mengerjakan PR. Aku sungguh tidak tahu apa yang dimaksud dalam buku tersebut dan memang di sekolahpun aku belum diajarkan. Aku mengalami trauma hingga beberapa tulangku retak dan aku tak lagi sanggup bertahan. Tubuhku biru dan memar oleh gagang sapu. Jeritan kesakitanku membuat ibuku membabi buta.

Tiga hari aku tak sadarkan diri, dan ketika sadar, aku sedang terbaring di rumah sakit dengan selang infus di tangan dan hidung. Ibuku duduk dan tertidur disamping lenganku. Wajahnya tampak kubil, seperti habis menangis berhari-hari. Aku mencari ayahku. Ia tidak ada. Ketika ibuku tersadar, aku pertama kali menanyakan padanya, “Papa, mana?”, ibuku menjawab dengan airmata yang terus berderai. “Papa sedang pergi, sayang”. Antara percaya dan tidak, tapi aku berpikir mungkin ayahku sedang ada pekerjaan. Pasti nanti malam atau besok pagi aku bisa menyapanya. “I miss you, Pa.”

Setahun aku kehilangan ayahku, ibuku dan keluarga lainnya tidak pernah ada yang bisa menjawab kemana ayahku pergi sebenarnya ketika aku bertanya. Hingga aku mulai mengira-ngira, “Papa ada dimana ya, sekarang?”, “Kenapa Papa meninggalkan, kami?”, “Atau sedang merantau?”, “Aku rindu sama Papa”. Setiap hari aku selalu menunggu di depan pintu rumah sebelum dan sesudah pulang sekolah, bahkan malam sebelum tidur akupun selalu turun kebawah melihat keluar, berharap ayahku pulang dan sedang menunggu dibukakan pintu dengan membawa oleh2 martabak dan makanan kesukaanku seperti biasa. Aku selalu senang menyambutnya pulang kerja walau tanpa buah tangan sekalipun. Dia adalah pahlawanku. Temanku. Sahabatku. Segalanya..

Lima tahun berlalu. Aku berhasil lulus dan masuk SMP. Ayah tidak juga pulang atau sekalipun menyurati kami. Bahkan tanpa berita sama sekali. Aku ingin sekali membagi kebahagianku bersamanya saat itu. Bisa masuk SMP dengan nilai terbaik. Antara benci dan rindu padanya saat aku membayangkan ketika kami bertiga berlibur ke suatu tempat yang bagi orang lain tempat itu biasa saja, namun bagiku adalah saat-saat yang indah dan tak terlupakan. Ayahku selalu bisa membuat suasana menjadi momen indah dan berkesan. Ia sangat pandai membuat suasana menjadi ceria dan happy. Terbayang momen-momen indah ketika sesekali ayahku pulang membawa makanan yang banyak dari warteg depan pasar jika habis menyelesaikan pekerjaan dan upahnya dibayar, karena waktu itu kami hanya hidup berkecukupan sehingga untuk makanpun saat itu kami harus bagi bertiga setiap hari. Kadang-kadang ayahku selalu berbohong dengan mengatakan, “Papa sudah makan. Kenyang” atau “Papa tidak suka”, atau “Kamu saja yang habiskan. Kalau tidak, ya buang saja.” Hari-hariku berdua dengan ibu tidak sehangat bersama ayah. Ibuku tidak lagi pernah memukuliku dan mulai berubah lebih sabar dan menyayangiku sejak aku pulang dari rumah sakit. Mungkin karena ayahku belum pulang, mungkin ketika ayahku sudah dirumah, aku akan dipukul lagi – setidaknya begitu pikiranku, hehe..

Tepat di tahun ke tujuh, atau 13 tahun berlalu tanpa ayah, aku berpendapat bahwa ia telah pergi untuk selamanya, atau yang paling ekstrim, ayahku pergi dengan wanita lain dan hidup bahagia dan melupakan kami. Ah, tidak mungkin! Ayahku bukan tipe seperti itu. Aku tidak percaya! Tidak! Ayahku baik!

Hari itu adalah hari kebahagianku, dimana aku lulus menjadi sarjana, tukang insinyur kata bang Doel, sama seperti ayahku yang juga sarjana engineering, “i-er”. Dan bukan hanya itu saja, aku juga sudah teken kontrak kerja menjadi karyawan tetap sebuah perusahaan pesawat terbang yang cukup terkenal di dunia – seiring cita-citaku sejak kecil ingin menjadi pilot komersial tapi tidak jadi – karena sejak semester IV aku terpilih dari ribuan mahasiswa menjadi pekerja magang diperusahaan perwakilan tersebut. Dan minggu depan aku akan berangkat ke Amerika bersama calon istriku, Sarah. Dan kami berencana dua hari kedepan akan menikah secara sederhana, walaupun kondisi perekonomian kami saat itu sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya, karena “uang pengganti transport”-ku sebulan selama magang, sudah mampu membiayai kuliah dan hidup aku dan ibu selama dua bulan kedepan.


Kebahagiaanku tidak berhenti sampai disitu saja, ketika selesai foto didepan convention hall, seseorang yang tidak asing bagiku, walaupun belasan tahun tidak bertemu muncul diantara kerumunan para sarjana baru yang tampak riang berfoto dan bercengkerama bersama keluarga dan kerabat di siang yang mendung menyelimuti Jakarta. Aku terpana. Hanya bisa menelan ludah. Lidahku kaku. Tak mampu berbicara. Mulutku terkunci. Tubuhku merinding berkali-kali. Shacking. Suasana ceria berubah menjadi dramatis, ibuku yang anggun dengan kebayanya menunduk pelan dan mulai berderai air mata. Tanteku – adik kandung ibuku – bersama suami dan putrinya juga terpana melihat kami begitu tegang dan gugup. Sarah tak kalah. Sosok yang kukenal itu menghampiriku tenang, tertatih dengan senyum kecil dan tongkat di tangan kirinya. Aku berlari memeluknya. “Papa, darimana saja? Kenapa papa meninggalkan kami? Kenapa?” aku tak sanggup menahan getar haru di dadaku, dan air mataku mulai berkumpul di pelupuk mata. Kulihat sekelilingku. Ibuku sedang berpelukan dengan tanteku, menangis dipundaknya. Dan eyangku terduduk lemas diatas sebuah kursi. Menyaksikan adegan reality itu. “Terima kasih. Siapapun engkau atau Tuhan. Keinginanku terkabul. Terima kasih, siapapun engkau” gumanku. “Aku bukan papamu, nak. Aku saudara kembar papamu.” Laki2 itu berbisik. Suaranya tertahan. “Saudara kembar?” tanyaku sambil melepas pelukannya, memandangi bola matanya dan melihat ibuku, meminta kejelasan.

Akhirnya kami pulang ke rumah bersama eyang, saudara kembar ayah – katanya, istri saudara kembar ayah – katanya juga, dan Sarah. Sementara Tante, Oom dan kemenakanku mengendarai mobilnya menuju rumah kami.

Dave, nama saudara kembar ayah. “Papamu sudah meninggal 13 tahun yang lalu, nak. Mamamu tidak menceritakannya. Di hari kamu siuman saat di rumah sakit” suaranya membuka suasana hening di ruang tamu rumah kami yang minimalis. Peninggalan ayahku. Ibuku masih terisak di pelukan tante dan eyangku. “Bagaimana bisa terjadi? Kecelakaan?” tanyaku mendesak. “Vidia, aku minta maaf, karena dia sudah dewasa dan harus tahu. Bolehkah?” Oom Dave meminta persetujuan ibuku, Vidia. Ia hanya mengangguk pelan. “Saat itu kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Papamu tidak bisa menolong kamu karena kamu mengalami luka dalam serius yang harus membutuhkan alat medis profesional. Saat itu dokter bertanya kenapa kamu bisa mengalami luka seperti itu. Papamu mengatakan bahwa kamu dipukul olehnya. Dokter itu menolong kamu, dan papamu ditangkap pol***. Papamu mengakui perbuatan yang tidak ia lakukan hingga ia masuk sel. Hari kedua papamu kritis karena disiksa dan dipukuli oleh p****i. Dan di hari ketiga karena lukanya yang parah dan tidak segera diobati, papamu akhirnya meninggal, nak”. Aku menggeram. Hatiku panas dan sedih luar biasa. Tigabelas tahun aku menanti kehadirannya siang malam. Aku memandangi ibuku dengan tatapan tajam dan ingin sekali menyalahinya. Ingin sekali aku memakinya. Ingin sekali aku .. ach, aku tak sanggup melihatnya yang menangis kaku. Aku tidak lagi mampu berbicara. Aku geram dan sakit hati melihat ibuku. “Papamu melakukan itu karena ia berpendapat, jika mamamu yang masuk tahanan maka tidak ada yang bisa merawat dan mendidik kamu hingga bisa seperti ini. Papamu mencintai mamamu dan kamu, nak. Dia telah berkorban untuk keluarganya. Dia adalah pahlawan dalam jiwa kalian, nak.” Hening. Aku benci ibuku!

Komplek pamakaman yang teduh. Sehari sebelum pernikahan sederhana kami. Sunyi dan tenang. Sebuah nisan marmer salib sederhana terukir, “Disini terbaring dengan tenang, Papaku tersayang dan suamiku tercinta, tiada pernah ada orang lain yang bisa menggantikanmu. Maafkan Mama, Pa..” aku tak mampu membendung air mata yang sudah menggenang. “Lahir 13 Maret 1963 – Meninggal 13 Maret 1995”.

Disamping makamnya yang sederhana dan rapih, aku bersujud meminta restunya bersama Sarah. Ibuku duduk di samping makam ayahku ditemani Oom Dave dan istrinya, tanteku dan suaminya, memeluk nisan. Aku menahan haru. Sarah bangkit dan memeluk ibuku yang terisak. “Mama, aku sayang padamu” dan langit pun turut berduka, hujan..

Minggu, 26 September 2010

Bersedia Mati Demi Hidupku

Pada zaman dahulu hiduplah dua orang jendral perang besar, Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang terus-menerus melakukan perlawanan terhadap sebuah pasukan Cyrus, yang bertekat menguasai Persia.

Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia sehingga membuat orang Cyrus karena ambisinya untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya, mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluarganya. Mereka lalu dibawa ke ibukota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasanya. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia tentu telah mendengar banyak tentang kegigihan Cagular.

“Apa yang akan kau lakukan bila aku akan menyelamatkan hidupmu?” tanya sang kaisar.

“Yang Mulia, “jawab Cagular. “Bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba, hamba akan kembali pulang dan tunduk patuh pada Yang Mulia sepanjang umur hamba.”

“Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?” Tanya cyrus lagi.

“Yang Mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk Yang Mulia, jawab Cagular.

Cyrus amat terkesan dengan jawaban dari Cagular. Lalu ia membebaskan Cagular dan istrinya. Bahkan ia mengangkat Cagular menjadi gubernur yang memerintah di provinsi sebelah selatan.

Pada perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya pada istrinya, “Istriku, tidakkah kau lihat pintu gerbang tadi? Tidakkah kau lihat korodor ruang pengadilan tadi? Tidakkah kau lihat kursi singgasana tadi? Itu semuanya terbuat dari emas murni! Gila!”

Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, tetapi ia menyatakan, “Aku benar-benar tidak memperhatikan semua itu”.

“Oh begitu!” Tanya Cagular terheran-heran, “Aneh, lalu apa yang kau lihat tadi?”

Istri Cagular menatap mata suaminya dalam-dalam. Lalu ia berkata, “Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku”.

I'm A Big Girl Dad

Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat & gagah. Hatinya lembut & sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, sampai kadang bunyi kelontangan saat berjalan. Karena itu kadang saya malu & pengen agar tubuh saya menciut & menghilang saja kala motor ayah saya masuk halaman sekolah.

Jarak rumah ke sekolah sekitar satu jam. Dia sering memakaikan jaket tebal agar saya tidak kedinginan diterpa angin pagi. Dan setibanya di-depan pagar sekolah dia selalu menurunkan saya & menciumi pipi saya berkali2. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai risih kala ayah mencium pipi saya. Apalagi di depan teman2. Saya kan udah umur 12 tahun? masak diciumin terus seperti anak balita aja? Sebel banget deh. Maka saya putuskan bahwa saya bukan anak kecil & tidak butuh kecupan di pipi lagi.

Suatu hari, seperti biasa, ayah saya mengantar sampai di depan gerbang sekolah, menurunkan saya, tersenyum lebar dengan senyum khasnya & memiringkan badannya hendak mencium pipi saya. Tapi saya segera mengangkat tangan & berkata, “Jangan ayah, aku malu!” itu pertama kalinya saya berkata begitu & wajah ayah tampak begitu keheranan. Dengan sebal saya berkata “Yah, aku kan sudah besar & sudah terlalu tua untuk dicium2 kayak anak balita.”

Ayah memandang saya beberapa saat, rasanya begitu lama ia memandang & matanya mulai sedikit berkaca2 & basah. Namun aku lihat dia berusaha menahan diri. “OK deh, kamu sudah gadis remaja sekarang. Ayah tak perlu menciummu lagi.” dia berbalik menuju motor bututnya & melambaikan tangannya pamit pergi. Tak lama sesudah itu, ia ditugaskan ke-Aceh & ia hilang & tak pernah kembali lagi. 26 Des 2004 badai Tsunami meluluhlantakkan Meulaboh-Aceh & menghancurkan pos tambang tempat dimana ayah saya ditugaskan.

Anda semua takkan bisa bayangkan apa yang akan saya korbankan sekedar untuk mendapatkan lagi ciuman sayang darinya. Untuk merasakan wajah tua & kumisnya yang kasar. Mencium bau tubuhnya yang khas. Dan untuk merasakan lengannya yang kuat merangkul pundakku, mengacak2 rambutku atau menggendong badanku.

Seandainya bisa, aku ingin ucapkan padanya ‘Ayah, aku sudah dewasa, tapi aku tak pernah terlalu tua utk mendapat ciuman darimu…

"I’m a big girl dad, but i never too old for your kiss”

( Sebelum kata terlambat hinggapi sesal dlm hidupmu,lakukan yg terbaik,berikan ciuman kasih mu untuk orang2 terdekat,,ayah,ibu mau pun saudara ,,,mereka adlh pelengkap bahagiamu )

Kisah Si Mungil "Anne"

Kisah berikut ini dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury.

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mempunyai keturunan.
Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa bulan,

sesuatu yang buruk terjadi. Bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya. Faktaini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depresi.

Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini.

Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama.

Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain?
Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne.

Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencana-Nya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam.
Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi.

Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasanganini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat.

Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis.
Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja.

Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan.
Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.....
Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil.

Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan.
Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam,tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa.
Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...


Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
 1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan.Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".

Mohon KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada sanak keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2 bisnis, atasan, bawahan, sebuah kelompok organisasi ataupun perusahaan, pelanggan, serta siapa saja yang Anda kenal.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.
PERTAMA, cuek/ tidak peduli/ tidak mengerti kisah ini.

KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.

KETIGA,tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara pandang tentang hidupnya.

KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara pandang tentang hidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknai hidupnya sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar "Hidup" menjadi "Hidup yang Lebih Bermakna". Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran Anda di dunia ini.

Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak dan Bagi Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i, Suami/Istri, Anak2 Anda, dst).

Tuhan menyertai kita semua.. ^^
 

Shine Huang. Design By: SkinCorner