Siau-Fung terbangun dengan muka pucat. Untuk kesekian kali, ia menemukan sepucuk surat di bawah bantalnya. Surat dengan bentuk tulisan yang serupa, sejak setahun lalu. Latin tegak dengan huruf k dan d yang bagus. Mirip tulisannya sendiri.
Kepada yang tercinta: Siau-Fung. Demikian tertera di sampul. Di bawahnya dituliskan alamat yang memungkinkan surat itu tiba di rumah ini. Memang tak ada kata 'di bawah bantal', namun surat dari Mong-Cai sampai ke tangannya selalu melalui bawah bantal.
Kali ini Siau-Fung tidak langsung membukanya. Ia mencoba mengingat berita terakhir yang dia sampaikan kepada Mong-Cai. Pasti ada sesuatu yang membuat Mong-Cai berminat membalasnya lebih cepat. Siau-Fung lupa, tapi ia masih bertahan untuk tidak segera membuka surat Mong-Cai. Kali ini ia memilih mandi lebih dulu, dan berniat minum teh manis.
Di bawah siraman air shower, pikiran Siau-Fung mengembara. Ia menuduh Mong-Cai sedang mempermainkannya. Lelaki itu tak pernah mau berkunjung lagi, meski berulang-kali Siau-Fung memintanya melalui surat."Mong-Cai, kekasihku. Bagaimanapun aku punya rasa rindu," demikian tulis Siau-Fung pada salah satu suratnya. "Dapatkah kau meluangkan waktu untuk singgah ke rumah? Berapa jauhnya antara Yogya dan Jakarta? Hanya tujuh jam perjalanan dengan Argo Dwipangga.
Bahkan hanya satu jam dengan Boeing 737. Demikian sibukkah, sampai hari Minggu pun kauhabiskan untuk melatih teater?"Surat Siau-Fung yang penuh harapan itu seperti terlempar sia-sia ke tengah buih lautan.
Surat balasan yang kemudian diterimanya nyaris tak sebanding dengan bara rindu di dadanya. "Siau-Fung di rumah, mungkin saat ini kau sedang menabur jagung untuk sepuluh merpati kesayanganmu. Sudahkah kau menonton film Onegin? Sebuah karya Alexander Pushkin yang demikian puitis.
Aku menyaksikan hampir sembilan kali, seperti ketika aku ketagihan Last Tango in Paris. Entah kenapa. Lalu aku teringat kau. Ya. Kau harus menontonnya."Sungguh Siau-Fung tak mengerti. Mengapa suratnya dan surat Mong-Cai seperti short message service yang salah waktu? Ada selisih informasi.
Siau-Fung teringat salah satu cerita Isaac Asimov. Dikisahkan tentang seorang ibu yang menyuruh anaknya di stasiun antariksa, agar terus mengajukan pertanyaan ke pesawat yang terkatung-katung di langit. Itu lebih efektif, ketimbang diam menunggu jawaban. Jika suaranya sampai, seseorang yang diajak bicara jauh di luar angkasa akan berturut-turut pula mengirim jawaban.
Disambarnya handuk, untuk membelit tubuh. Ia melompat dari kamar mandi serupa tupai. Di rumah itu, sepagi ini, mungkin belum banyak yang terjaga. Subuh baru saja selesai. Terdengar desis air yang dimasak Bi Ijah di dapur. Selebihnya kicau burung, dan suara permulaan acara televisi dari ruang tengah. Mungkin ayah baru saja bangkit dari kamar dan mencari siaran televisi melalui remote control.Setelah menyisir rambut, dan memandang wajahnya yang kuyu di depan cermin, Siau-Fung seperti teringat sesuatu.
Semalam ia tidur sangat sedikit. Rasanya ia telah menghabiskan waktu untuk menulis surat kepada Mong-Cai. Atau sesuatu yang lain?Dilepaskan handuk dari tubuhnya. Ia memandang pualam yang terbuat dari daging, memantul dari pengilon. Sepasang payudara yang kencang dan penuh, dengan warna biru samar di sekitar puting. Itulah pembuluh halus yang mungkin bekerja memancarkan air susu.
Terkadang Siau-Fung merasa jatuh cinta pada tubuhnya. Dibukanya lemari, mengambil celana dalam, t-shirt dan sepotong jins. Boleh jadi, semalam ia menulis buku harian."Siau-Fung!" Suara ibunya memanggil. Pintu kamarnya terbuka oleh dorongan tangan. "Kamu kuliah hari ini?""Ya. Kenapa?""Antar Mama ke toko bunga Chaniago Flowers di Tebet.""Ada yang ulang tahun, Ma?" tanya Siau-Fung sambil lalu."Astaga!" Ibunya masuk ke dalam kamar.
"Kamu lupa ulang tahun Adi?""Adi Tristianto? Kok Mama jadi repot?" Siau-Fung duduk di ranjang dengan kesal. Ada semacam bisnis antara orang tuanya dan salah satu rektor perguruan tinggi.
Adi anak rektor itu, yang dipuja dan dikagumi di kampus karena pesona intelektualnya."Aku alergi pemuda itu! Terlalu kurus. Dan, ia hanya berminat pada komputer."Ibunya ikut duduk di sebelahnya. Tersenyum sabar. "Setidaknya kau mulai memperhatikan dia. Mama bahkan tidak tahu kalau Adi jago komputer."Siau-Fung merasa semakin tak senang.
Rongga kepalanya hanya berisi Mong-Cai, seseorang yang jauh. Lelaki yang rajin menyuratinya dan langsung mengirimkan ke bawah bantal. Lelaki yang dalam suratnya kerap menceritakan beberapa pertunjukan teater yang sulit dilupakan karena sangat berkesan. Misalnya tentang 'Lelaki yang Mencintai Hujan'. Ah, mana surat itu? Siau-Fung berdiri dengan kasar."Kamu tidak pakai BH?" Ibunya mendelik. Namun, Siau-Fung tidak memperhatikan.
"Mama mandi dulu, ya. Awas, jangan ditinggal!"Siau-Fung tetap tidak menanggapi. Ia mencari surat Mong-Cai, lalu segera membacanya. Huruf-huruf di dalamnya bagai menari dan menyihirnya untuk terbang ke awang-awang."Kekasihku tercinta. Lama aku berpikir untuk datang ke Jakarta seperti harapanmu. Tapi, selalu saja ada pekerjaan yang memburu. Sesuatu yang sulit kutinggalkan, bahkan untuk sehari-dua.
Hampir setiap hari aku menerima tamu, yang datang tak tentu waktu. Pernah di suatu subuh, seorang kawan mengetuk pintu kamarku, meminta kepastianku mengisi acara di fakultasnya. Memang lagi-lagi teater. Sebuah dunia yang berisi blocking, cahaya, dan bahasa tubuh. Dunia yang kata-katanya bisa muncul dari mulut ataupun benda di sekitarnya. Dunia yang memiliki dimensi-dimensi waktu dalam satu proscenium, sepanjang kita mau menafsirkannya."Siau-Fung, saat ini sedang kutulis sebuah naskah yang sangat memesona. Setidaknya bagiku.
Kupilih judul Deja vu. Aku yakin kau tahu artinya. Sesuatu yang sama yang pernah terjadi. Kita terlibat di dalamnya, atau menyaksikannya. Ini tentang seorang lelaki yang kemudian bingung dengan suatu pilihan di akhir cerita. Maaf kalau aku membuatmu penasaran. Karena sesungguhnya, engkau pun membuat aku penasaran. Mungkin itulah yang menyebabkan cintaku tak kunjung padam.
Cinta yang tak menemui batas. Cinta yang mulai takut pada sebuah kenyataan. Siau-Fung, apakah saat ini, atau tadi, kau sedang menabur jagung untuk sepuluh merpati kesayanganmu?"Siau-Fung menghela napas. Ia tak pernah sekali pun memberi tahu tentang merpati peliharaannya kepada lelaki yang tidak menyukai telepon itu. Tapi Mong-Cai nyaris seperti Harry Potter dengan kepandaian yang lain. Ia bahkan tahu jumlah merpatinya. Apakah itu penyebab Siau-Fung jatuh cinta? Mencintai seseorang yang tahu benar, bahkan barangkali: letak tahi-lalatnya.
Bagaimana mungkin, Mong-Cai yang paham akan detail perasaannya, tega mengabaikan permintaannya?"Tahukah kau, Siau-Fung? Aku sedang memilih waktu yang tepat untuk mengunjungimu. Walaupun aku tak mempercayai sejumlah tempat dan nama-nama, tapi `waktu' bagiku sungguh memesona. Boleh jadi, hari Valentine sangat baik untuk pertemuan kita.
Hari yang penuh dengan bahasa bunga, saat terindah untuk memperkukuh akar-akar cinta. Antara kau dan aku, Siau-Fung. Kupikir, menunggu hari itu tiba, tidak memerlukan lautan kesabaran. Bukankah sudah amat dekat?"Kemudian Mong-Cai mengakhiri suratnya dengan kata-kata `peluk-cium'. Bahasa klasik yang mungkin banyak dipergunakan remaja tahun tujuh-puluhan. Ungkapan yang mulai tak lazim ketika e-mail menjadi pengganti surat dan kartu pos.
Tetapi, inilah yang barangkali membedakan romantisme Siau-Fung dan Mong-Cai dengan remaja zaman sekarang. Perjalanan surat dengan kendaraan prangko demikian memikat hati mereka. Mereka?Siau-Fung melipat kembali surat itu. Menghela napas, seperti bermaksud melupakan sesuatu yang menyedihkan. Serbuk harapan ditebar oleh Mong-Cai, tapi perasaannya gundah. Ia bergegas menuju meja makan.
Dihirupnya teh yang mulai dingin. "Ma, aku tunggu di mobil."Ia melewati ayahnya yang mulai membuka koran pagi. Pamit dan mencium tangannya. Ketika menuju garasi, ia teringat akan surat yang ditulisnya semalam untuk Mong-Cai. Ia kembali ke kamar dan mendapatkan yang dimaksud: catatan panjang serupa novelet dengan gemuruh badai di dalamnya. Riuh-rendah perasaan cinta yang mirip ombak dengan susunan gelombang yang beriring dahsyat.
Entah kenapa, ketika memasukkan sejumlah halaman tebal itu ke dalam amplop, matanya berkaca. Dadanya bagai hendak meledak. Membuat Siau-Fung lupa pesan ibunya untuk mengantar ke Chaniago Flowers. Ia meluncur sendiri dengan timbunan kegelisahan. Seperti berjalan dalam tidur, perilaku yang pernah menjadi kebiasaan ketika umur sepuluh tahun.
Seperempat jam kemudian ia telah berada di Jalan Matraman yang padat oleh sebuah pagi yang sibuk.Siau-Fung berlari kecil menuju fakultasnya setelah memarkir mobil di mulut Salemba. Ia abaikan bunyi handphone dalam tas kecilnya. Cita-citanya hanya satu: ingin segera berada di kelas dan mungkin sebuah tangis segera pecah di sana. Ada yang ia sesalkan dari tulisan Mong-Cai.
Valentine Day! Yang teringat mengenai hari itu adalah sebuah kematian. Sepanjang jalan ia mencoba mengaduk seluruh kenangan, namun tak kunjung muncul nama atau wajah seseorang yang mati di hari itu. Tapi, pasti seseorang yang sangat dekat, atau sangat berkesan."Mong-Cai, mungkin ini agak menyakitkan bagimu." Siau-Fung menuliskan kalimat tambahan di bawah surat panjangnya.
"Seandainya kau datang sebelum atau sesudah tanggal 14 Februari, aku sangat berterima kasih. Nanti tentu kuceritakan sebabnya." Dan, mobil pos keliling, pada tengah hari, segera mengurus perjalanan surat itu ke Yogya.***ARLETI menghabiskan waktu di Teater Bulungan. Mula-mula menemani Agung Setiaji Arya Dipayana dan Wulan Guritno yang sibuk menyiapkan pentas Sita Obong.
Namun, hingga jauh malam, ia tak hendak pulang. Ia tak peduli waktu. Sampai Aji membujuknya, bahkan kemudian mengantarkan ke rumah.Di meja kamarnya, Siau-Fung mendapatkan VCD film Onegin. Tidak ada sepucuk surat pun sebagai pengantar. Atau, Mong-Cai telah datang? Sementara ia justru pergi seharian. Kenapa orang rumah tidak meneleponnya? Siau-Fung nyaris membanting telepon genggamnya.
Tiba-tiba ia merasa menjadi anak tunggal dengan penyakit jiwa yang parah. Tinggal dalam kesunyian yang mengerikan, di rumah besar yang hampa.Sudah lewat tengah malam, ketika Siau-Fung memutar Onegin. Film yang pernah diceritakan Mong-Cai dalam suratnya. Namun, perasaannya tak kunjung tenang, karena besok tanggal 14 Februari.
Tanggal yang hendak ia hindari. Menyebabkan tubuhnya gemetar oleh rasa takut yang aneh. Jika besok Mong-Cai muncul di rumah, sama artinya lelaki itu telah mengabaikan harapannya! Telah mengkhianati perasaannya!Mata Siau-Fung nyaris tak terpejam sampai matahari terbit. Badannya demam, membuat ibunya sibuk menelepon dokter.
Tapi Siau-Fung menolaknya: "Aku tidak sakit, Ma! Aku cuma marah kepada Mong-Cai! Tolong jangan bukakan pintu untuknya! ""Mong-Cai?" Ibu dan ayahnya saling berpandangan. Perasaan khawatir mengalir."Dia yang selalu mengirimi aku surat! Kemarin dia datang, bukan?" Siau-Fung menunjukkan sebuah VCD dan, astaga! Dari laci mejanya, ternyata ada sebuah naskah drama Deja vu. "Mama bilang apa sama dia? Apakah dia akan datang lagi hari ini?""Siau-Fung, badanmu panas sekali...," Ibunya memeluk.
Tatapannya menyimpan cemas. Mengisyaratkan kepada ayahnya agar segera mengusahakan dokter. "Kamu semalam begadang, kan? Biar Mama telepon Adi untuk menemanimu."Siau-Fung serta-merta menolak. Bahkan dengan sedikit histeris. Berulang kali ia katakan, bahwa ia sama sekali tak berminat dengan pemuda kurus yang kutu-komputer itu.
Tapi, ada yang lebih membuatnya waswas. Bunyi bel pintu! Pandangan mata Siau-Fung tampak tegang. Siapa pagi-pagi datang bertamu?Kamar mendadak hening, karena semua telinga terpasang untuk suara berikutnya, sesamar apa pun. Siau-Fung mendengar ayahnya mempersilakan seseorang masuk ke rumah. Dari percakapan yang sayup, dapat diduga tamu itu laki-laki. Dan, langkah yang kemudian tersimak, agaknya mendekat ke arah kamar."Siau-Fung, ada yang mencarimu." Lalu terdengar ayahnya mempersilakan seorang laki-laki masuk. "Dari Yogya."Siau-Fung memandang tamunya dengan tangan kencang meremas sprei.
"Siapa kamu? Pasti bukan Mong-Cai!""Aku pemilik alamat yang selalu kaukirimi surat. Aku memang bukan Mong-Cai. Tapi aku kawan Mong-Cai. Namaku Landung. Ada enam belas surat kuterima, tapi aku tak berani membukanya. Aku tak yakin kalau kau tidak mengetahui.
Mong-Cai telah meninggal. Persis hari ini, setahun yang lalu."Siau-Fung seperti melihat seseorang dalam genangan minyak yang berkilau. Lambat laun mengabur. Pendengarannya hanya menangkap suara samar-samar. Mirip khotbah yang datar dari seseorang yang berjalan menjauh.
Ini memang hari yang ditakutkan. Hari yang mengingatkan trauma itu: ketika Mong-Cai tewas dalam sebuah kecelakaan. Landung gemetar ketika mulai membaca surat-surat Mong-Cai. Surat cinta yang selalu menyusup ke balik bantal tidur Siau-Fung. Surat yang ditulis perempuan itu, yang berperan sebagai Mong-Cai, sejak kepribadiannya terbelah. Dan, diam-diam mencintai tubuhnya sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar