Selasa, 23 November 2010

Celaka Tiga Belas

Aku hanya menyisakan gigil di beranda rumah.Kopi di cangkir telah dingin dan laron-laron mati di bawah cahaya neon.Sedari tadi aku menunggu kantuk yang tak datang-datang.

Ranting pohon rambutan di hadapanku menjelma ribuan kepompong yang bergelantungan serupa harapan.Tak ada suara kecuali dengung nyamuk dan tetesan ledeng bocor dari rumah tetangga. Saat-saat seperti inilah aku selalu terkenang padanya. Pada beranda yang kerap menjadi panggung saat memainkan tiap babak tentang Ai-phing. Tentang mimpimimpi dan permainan api.Juga sesekali tentang warna sandalnya yang lucu. Lalu kami tertawa menunggu hujan reda di beranda. Ai-phing,tahukah kau,saat kulihat di kedalaman matamu. Bunga-bunga sedemikian mekar di halaman, angsa-angsa menari, kupu-kupu meneguk rumpun sari. Kita tak pernah peduli matahari telah terlalu lama pergi. Masih di beranda ini.

Cangkir kopi yang sama saat Ai-phing menyuguhiku dengan kopi yang kemanisan. Selalu begitu meskipun ia tahu betapa aku tak pernah benarbenar menghabiskannya. Lalu ia mencicipi dan mengacungkan jempol meyakinkan bahwa kopi buatannya begitu nikmat. ”Jangan terlalu banyak kopi, takarannya kukurangi dan gulanya kutambah,” katanya sambil mengaduk cangkir itu sedemikian lama hingga gulanya benar-benar larut. Ah,Ai-phing.Hal yang sepele pun membuatku sebegitu haru mengenangmu. Barangkali segala macam cara telah tuntas kulakukan. Bertumpuk surat cinta telah pula kutuliskan namun tak pernah benarbenar bisa kusampaikan. Sudah tujuh tahun beranda ini menjadi penjara yang kejam.

Tujuh tahun sudah kekangenanku menjadi kutukan. Sakit. Di sini, beranda ini kini serupa patung-patung putih yang berusaha mengucapkan diri dan kenangannya tentang seseorang. Seseorang yang pernah duduk di beranda ini dan meninggalkan semacam rasa perih dan kerinduan yang tak bisa berhenti, tak terobati. Beberapa tahun lalu pernah kudengar Ai-phing akhirnya menggapai cita-citanya menjadi guru bagi anak-anak terbelakang di pedalaman Kampar Hulu, Kabupaten Indragiri Riau. Tapi, bagaimana mungkin aku menyusulnya? Sementara ia sudah beranak dua dan lelaki selingkuhan yang menjadi suaminya itu telah membuatnya bahagia? Lelaki yang dulu potretnya secara tidak sengaja kulihat di dompetnya.

Lelaki yang dulu sempat membuatku menampar Ai-phing dan menerbangkan seribu sayap kupukupu di beranda rumah. Lelaki yang memiliki penghasilan yang baik karena bekerja sebagai mandor perkebunan sawit. Lelaki yang berhasil membuat Ai-phing melawan rezim keluarga dengan minggat kawin lari seusai wisuda. Namun sungguh,aku mengenal Ai-phing sangat dalam. Ia memilih jalan hidup sendiri seperti impiannya tempo hari di beranda ini.Menjadi guru, mengajari anak-anak membaca buku, mengajaknya mengenal angka,dan sesekali berlatih menari.Tapi, Ai-phing tak mau melakukannya di kota ini.Katanya,di kota ini guru-guru sudah sulit sekali dikenali.

Guru-guru di sini hanya berpikir besarnya tunjangan dan kenaikan gaji.Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Diamdiam aku pun merajut impian baru, di pedalaman. Ya, di pedalaman agar aku bisa mengikuti kibas sayapnya. Tapi, menjadi apakah aku? Penebang hutan? Pengumpul rotan? Ilmuwan? Atau, seorang buyayang mengajarkan agama? Semakin larut. Bunga-bunga rambutan bergoyang di antara dedaunan.Masih dengan dengung nyamuk dan tetesan ledeng bocor dari rumah tetangga.

Cangkir kopi di depanku semakin mengarca di antara derit kursi bambu yang kududuki dengan gelisah. Nyala rembulan semakin tampak setelah lindap di balik awan pekat. Hujan setengah malam adalah perihal biasa di kota Sungai Penuh. Mungkin di kota kecil yang dikelilingi jejeran Bukit Barisan ini hujan turun sepanjang tahun. Aku dan Ai-phing sepakat bahwa hujanlah yang kerap memperpanjang durasi setiap pertemuan.

***

Stasiun Gambir sudah ramai di pagi hari. Aku memesan tiket ke Yogyakarta jam 2 siang. Masih tersisa setengah hari untukku menunggu kereta Senja Utama. Setelah kepergian Ai-phing aku memang kerap meninggalkan Kota Sungai Penuh untuk sekadar melanjutkan hidup jika tidak ingin disebut melarikan diri dari kenyataan apalagi frustrasi,lalu terbunuh sepi.Begitu sakit aku kehilangan Ai-phing, terlebih jika mengenang bahwa aku sempat menghitung berapa jumlah pori-pori pada tubuhnya.Benar kata orang bahwa kulit itu adalah candu.

Aku memesan makanan dan kopi di warung padang sambil membuka-buka koran pagi menghilangkan kebosanan. Beberapa pengamen datang bergantian tanpa sepeser pun yang kuberikan. Aku begitu malas mendengarkan apa pun pagi ini.Tidak juga suara wanita sales obat kuat yang berdandan seksi. Beberapa halaman koran kulumat di antara kepulan asap.Menunggu membuat asbak di depanku begitu cepat penuh dengan puntungan- puntungan. Beberapa tahun terakhir aku memang begitu akrab dengan suasana perjalanan. Aku tidak menyalahkan Ai-phing yang menyebabkanku tidak tahu ke mana harus pulang. Kereta Senja Utama datang enam jam lagi. Biasanya selepas senja kereta ini akan menurunkan penumpang di Stasiun Tugu,Yogyakarta. Lalu aku akan mampir di jalan Pajeksan membeli dua atau tiga liter lapen untuk dibawa pulang dan meminumnya hingga tuntas memakai cangkir putih di beranda.

Berusaha menanggalkan kenangan kopi manis buatan Ai-phing. Tapi, rupanya aku ini memang laki-laki keturunan bengal. Justru mabuk semakin membuatku meracaukan segala perihal tentang Ai-phing.Tentang Ai-phing dan seribu sayap kupu-kupu di Taman Nasional Kerinci Seblat nun di belantara Sumatera. Di depanku melintas-lintas berbagai macam asongan. Mulai dari rokok, makanan, ikat pinggang dari kulit buatan, hingga pernakpernik murahan.Tiba-tiba mataku seperti tertusuk ranting yang runcing. Dadaku berpacu mencari tahu.

Di balik keramaian orangorang aku melihat perempuan berkerudung kuning menyelinap menawarkan dagangannya. Aku berdiri mendekati perempuan itu. Wajahnya kian jelas, namun aku tidak begitu yakin bahwa aku benar-benar mengenalnya.Ai-phingkah itu? Hatiku dilanda puting beliung, menghamburkan bertumpuk rasa sakit dan nyeri yang asing. Bagaimana mungkin Ai-phing ada di Stasiun Gambir dan tiba-tiba menjadi penjual roti? Wajah perempuan itu semakin kentara dibalik kerudung kuningnya yang lusuh. Tubuhnya yang ramping terlihat kurus dibalut kaos bergaris tipis. Ia menjinjing dua keranjang penuh roti beraneka rasa.

Ah, tidak mungkin itu Ai-phing. Alisnya yang runcing semakin kukenali meski matanya tak lagi bening seperti dulu selalu kutelusuri demikian dalam.Wanita itu belum melihatku. Ia masih berusaha meyakinkan kepada setiap orang di depannya bahwa roti yang dijualnya masih hangat dan nikmat. ”Ai-phing!” Wanita itu melihat ke arahku. Aku yakin sekali bahwa keterkejutannya tidak kalah dengan yang kurasakan. Namun sungguh, ia tampak begitu tenang. Ia mendekatiku. ”Rotinya, Mas? Ada roti sirup, cokelat,pisang… dan ini rasa kopi. Silakan mau yang mana.Lumayan buat sarapan atau bekal di jalan. Nanti kalau di kereta mahal lho.” ”Ai-phing?” ”Harganya murah lho, Mas. Cuma dua ribu lima ratus kok.”

***

Musala Baiturrahmah di pojok benteng, kidul Alun-alun Yogyakarta, Selepas salat isya masih terdapat beberapa jamaah istiqamah yang belum beranjak pulang. Mereka sengaja aku undang untuk menjadi saksi pernikahanku dengan Ai-phing.Hanya ada beberapa piring penganan dan minuman gelas yang kusuguhkan. Aku dan Ai-phing telah menikah siri malam ini dan ustad Ramlan yang biasa mengimami salat yang menjadi penghulunya. Cara ini terpaksa kami tempuh meski aku tahu betul bahwa Majelis Ulama telah memfatwakan haram. Malam ini aku resmi menjadi suami Ai-phing.Tak satu pun keluarga kami yang tahu perihal pernikahan ini.

Kami masih terlalu pengecut untuk memberitakannya kepada keluarga di kampung.Biarlah kami menikmati masa-masa indah ini dengan cara kami sendiri. Waktu-waktu yang begitu aku nantikan setelah tujuh tahun kesakitan. Aku telah memiliki Ai-phing seutuhnya. Juga Pheng-Kai dan Yong-Theng yang kini telah kuanggap sebagai anakku sendiri meski mereka masih belum terbiasa memanggilku bapak. Kami tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari musala itu.Ai-phing tidak lagi menjadi penjual roti di Stasiun Gambir seperti yang kutemui dua minggu yang lalu ketika transit perjalanan dari Kota Sungai Penuh menuju Yogyakarta.

Sebuah perjalanan yang tidak seperti biasanya. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Ai-phing di tempat yang tidak pernah aku duga. Aku juga tidak pernah membayangkan nasib Ai-phing menjadi sedemikian rupa.Aku sungguh-sungguh tidak peduli dengan statusnya sebagai janda beranak dua yang terlunta- lunta di Jakarta dan bukan lagi seorang guru bagi anak-anak buruh sawit di Sumatera. Ai-phing di Jakarta hendak mencari kerja karena suasana pelosok Kampar sudah tidak lagi memberi kenyamanan baginya. Suaminya meninggal beberapa bulan lalu tanpa ada tetangga yang mau menguburkannya. Tidak juga seorang pun yang datang melayat atau memberi ucapan belasungkawa.

Kematian yang benar-benar mereka anggap hina.Ia memilih Jakarta karena berusaha mengubur rasa trauma dan sakit hati dengan rimba Ibu Kota.Entahlah,Ai-phing memang selalu begitu, selalu menganggap dunia begitu mudah ditaklukkan. Di Ibu Kota ia terpaksa berjualan roti keliling karena Jakarta menolak mentah-mentah ijazah PGSD-nya. Ia tidak punya muka jika harus kembali ke Kota Sungai Penuh dan meminta maaf kepada orang tua. Juga tidak berniat kembali ke Kampar dengan menyimpan alasan yang enggan ia ceritakan. Aku tidak bertanya, tapi aku yakin suatu saat ia pasti akan menjelaskan semuanya. Lagi pula masih banyak waktuku bersama Ai-phing setiap harinya untuk menumpahkan segala tanya.

***

Empat tahun berlalu sejak pernikahanku dengan Ai-phing. Ai-phing menjadi ibu rumah tangga yang baik yang menyeduhkan kopi untukku setiap harinya.Tidak lagi dengan cangkir putih seperti dulu, namun masih dengan rasa yang sama, sedikit kopi dengan banyak gula. Pheng-Kai dan Yong-Theng sudah bersekolah dan sudah memanggilku dengan sebutan bapak. Anak kami yang ketiga perempuan bernama Suci baru pandai berjalan. Ai-phing masih terlihat cantik meski tubuhnya semakin kurus. Begitu pun aku dan anak-anak kami.Padahal aku selalu memberikan uang untuk membelikan makanan yang memenuhi standar gizi. Namun, masih saja kami sekeluarga mengalami penurunan berat badan yang tak bisa berhenti.

Sesekali di antara kami bergiliran merasakan mual,muntah-muntah, dan terkadang hingga tiba-tiba menjadi gampang lupa. Rambut Ai-phing semakin banyak yang rontok, menjelang subuh nafasnya kerap tersengal-sengal dengan batuk yang berat.Pagi hari aku ke apotek membeli obat TBC, lalu batuk itu reda untuk beberapa hari kemudian kumat lagi. Suatu malam Ai-phing mengeluh jika pangkal pahanya nyeri dan gatal-gatal,mungkin berjamur. Ia mengolesinya dengan salep herpes sisaan obat Pheng-Kai untuk sekadar menghilangkan gatal. Tapi ternyata hal itu terus berlanjut hampir tiap malam menjelang kami tidur. Ai-phing selalu mengeluh dengan gangguan di pangkal pahanya.

Keesokan harinya aku mengajaknya ke Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, khawatir jika penyakit itu tidak kunjung sembuh meski telah di beri salep herpes dari apotek. ”Positif.” Aku benar-benar gila mendengar penjelasan dokter. Ai-phing positif mengidap AIDS. Dan itu artinya aku, Yong-Kai, Yong-Theng, dan Mei-lan juga positif tertular AIDS. Aku tidak lagi mendengarkan penjelasan-penjelasan dokter berikutnya.(*)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner