Senin, 23 Agustus 2010

Nawa Kyeoreonhaejulla ...? Hyeonhee

Bagaimana rasanya menjadi seorang pengantin ? ah, aku sama sekali tidak tahu. Ataupun menjadi seorang pengiring pengantin? Tanyakan aku sejam lagi, karena sejam lagi aku baru akan merasakan pengalaman pertamaku menjadi seorang pengiring pengantin.
Namaku hyeon, dan aku diminta sangmi onnie untuk menjadi salah satu pengiring pengantin di hari pernikahannya, hari ini. aku mematut refleksiku di depan cermi setinggi tubuhku.
Dalam cermin itu, tampak seorang gadis dengan halter top berwarna putih dengan pita kecil di sekeliling dada berwarna soft pink. Itu aku, aku sendiri agak sedikit kaget ketika menyadari bahwa aklah yang direfleksikan cermin itu. Jujur, aku bukan tipe gadis pesolek yang hobi memakai gaun. Aku lebih nyaman menggunakan celana jeans, kaos, dan sehelai jaket.
“hei, mau mengaca seharian penuh pun, kau takkan secantik aku!” sebuah suara menginterupsiku dari belakang. Ketika aku menoleh, aku mendapati seorang pria berdiri di ambang pintu dengan setelan jas hitam, ia terlihat sangat tampan.
Kim heechul, dia kekasihku selama setahun terakhir ini. walau gab umur yang terpaut di antara kami cukup jauh, aku tetap merasa nyaman dengannya. Tapi aku harus mengakui, saat –saat seperti ini sangatlah menggangguku. Saat di mana seharusnya ia memuji kecantikanku, bukan mencemoohnya.
“aku tahu kau memang cantik! Tapi mana ada pria yang mengakui dirinya cantik kalau dia normal!” kataku mengembalikan cemoohannya.
“kau!” rautnya tampak tersinggung. Ia berjalan ke arahku dan memelukku dengan sangat erat sambil terus menatap mataku. Aku sudah siap jika ia akan marah-marah dan menyemprotku dengan semua hal-hal yang akan disensor. Aku sudah terlalu terbiasa akan sifatnya yang labil. Yang membuatku heran adalah, ia hanya menyeringai dan mengajakku pergi dari ruangan ini.
Aku sampai terbengong melihatnya. Namun kesadaranku kembali ketika ia menarikku keluar.

!@#$%^&*(

Pernikahan sangmi onnie dan jungsoo oppa bukanlah pernikahan yang biasa. Jungsoo oppa adalah orang terkenal, sama seperti heechul, dan impiannya sejak dulu adalah ia ingin merayakan pernikahannya dengan semeriah mungkin. Jadi ketika ratusan orang berkumpul di ruangan ini, aku sedikit bingung.
Upacara pernikahan yang sacral dimulai ketika 12 pasang pengiring pengantin memasuki gereja. Bingung dengan 12 pasang pengiring pengantin? Yah, jungsoo oppa memiliki 12 dongsaeng tampan yang bersedia memeriahkan pernikahannya. Jadilah 12 namdongsaeng itu berpasangan dengan 12 gadis teman sangmi onni. Termasuk aku di dalamnya.
Heechul menggamit tanganku karena dialah pasanganku di pernikahan ini. oke, sebenarnya kami memang pasangan di dunia nyata. Maksudku, literally aku ini pacarnya. Tapi sikapnya selama ini lebih seperti pada teman saja.
Aku dan kesebelas gadis yang lain berdiri berderet si samping kanan pengantin sementara para pria berdiri di samping kanan.
Pastur mulai berbicara ketika buket bunga dan tas kecilku bergetar. Aku membuka tasku dan menemukan sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku membuka flipnya dan mulai membaca.
“hei, control mukamu! Jangan ngiler seperti itu!”
Si*lan! Heechul mengirimiku sebuah pesan mengejek. Aku menoleh ke arahnya dan melihatnya membuang muka. Aku yakin sekali ia baru saja melihatku yang membaca pesannya.
Dengan tenang dan tanpa membuat orang lain curiga, aku mengetik sebuah pesan untuk membalasnya.
“jungsoo oppa itu romantis! Tentu saja aku ngiler!”
Senyumku terkembang. Pastur masih berbicara. Entah beliau berkata apa karena aku sama sekali tidak konsentrasi mendengarnya. Ponselku bergetar lagi.
“cih, dasar genit!”
“mwo? Genit? Kalau aku genit kau apa?”
“aku? Aku ini tampan dan terkenal! Kau saja suka padaku kan?”
Aku mendesis kesal. Kupencet dengan sekuat tenaga keypad ponselku. Kekasih macam apa sih heechul ini? dia benar benar menyebalkan.
“jangan terbawa emosi, heechul suka sekali melihatmu kesal..” sebuah bisikan di telingaku membuyarkan ‘kemarahanku’ pada keypad ponsel.
Vie.
“mwo?” aku berbisik balik padanya.
“daritadi dia tersenyum melihatmu kalang kabut menerima pesannya, tahu!”
Aku sedikit terkejut. Dan benar saja ketika aku melihatnya tersenyum sambil berbisik pada hangeng gege di sampingnya.
“huh!” kataku akhirnya. Heechul memang pria yang sulit ditebak!

~!@#$%^&*()_

Sebuah pudding mampir di depan mataku ketika aku sedang duduk meratapi kakiku yang lecet akibat seharian memakai sepatu hak tinggi.
Pudding cokelat dengan dengan fla rasa vanilla.
Pudding kesukaanku. Dan aku dapat mencium aroma kopi dalam pudding itu. Padahal daritadi aku berkeliling mencari makanan, aku sama sekali tak menemukan pudding. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati heechullah yang berdiri di hadapanku dengan pudding tersebut.
“makanlah, kau belum makan kan?” katanya sambil duduk di sampingku. Dia menyodorkan piring pudding itu, namun aku mengacuhkannya. Aku masih kesal dengan sikapnya tadi di altar.
Dia meraih tanganku dan menaruh piring itu di kedua tanganku. “makanlah, aku tidak menemukan makanan yang cocok denganmu selain ini. jangan mempersulitku, nanti kau sakit..”
Kata-katanya membuatku sedikit tertegun. Seperhatian itukah seorang heechul padaku? Aku memang menyadari, dari tadi aku sama sekali tidak menemukan makanan yang cocok denganku. Dan semenjak tak ada makanan yang cocok, aku belum mengisi perutku sama sekali.
“gomawo..” kataku sambil menyendok pudding itu. Hmm~~ rasanya enak sekali. Aku benar benar menyukai pudding ini. ah, suda lama aku tak merasakan pudding seenak ini.
Aku terus melahap pudding super enak itu sampai hanya bersisa fla yang luber di sisi piring.
“you ate like pig..”
Tadinya aku mau marah mendengar heechul berbicara seperti itu. Tapi tepukan pelannya pada puncak kepalaku membuatku terdiam. Ini pertama kalinya ia menyentuhku dengan sangat lembut. Seakan akan aku ini boneka yang rapuh.
“sudah sana! Acara pelemparan bunganya akan segera dimulai!” suara heechul yang tadi lembut kini kembali ketus dan tidak perhatian.
“ah, malas!” kataku sama ketusnya.
“hya! Kau ini! memangnya kau mau menjadi perawan seumur hidup? Cobalah peruntunganmu! Kalau kau berhasil, akan ada pria bodoh yang akan menikahimu!”
Heechul mendorongku bangun untuk bergabung bersama gadis-gadis yang lain di bawah tangga karena sangmi onnie akan melemparkan buket bunganya dari atas.
Aku dengan setengah malas, ikut berdesakan. Tiba tiba perasaan itu muncul. Ketika aku melihat raut bahagia do wajah sangmi onni, aku tiba toba merasakan keinginan untuk berada di posisinya sebagai pengantin.
Aku rasa semua gadis pasti menginginkan hal manis seperti itu. Berjalan menuju altar dengan seorang yang mencintaimu menunggu di depan pastur. Aku menoleh ke arah tempatku duduk tadi dan mendapati heecul sudah tak ada lagi di sana.
Ah, bagaimana bisa impianku ini terwujud dengan pria seperti itu sebagai kekasihku?
Aku masih dalam lamunanku akan pernikahan yang bahagia ketika sebuah benda, terasa harum dan keras, jatuh ke tanganku. Aku tersadar dan melihat bahwa kini di tanganku ada sebuah buket bunga lily putih.
Bukankah ini buket sangmi onnie?
Beberapa pelukan mendarat di tubuhku dan aku menyadari bahwa akulah yang mendapat lemparan bunga dari sangmi onni. Aku mendapatkan bunga itu!
Ye ye ye! Aku bersorak dalam hati. Rasa senang meliputi hatiku.
Pelukan pelukan itu mengendur dan mereka menjauhiku sambil tersenyum menatapku. Aku menoleh dan melihat, dari tangga atas turunlah seorang pria yang sangat kukenal.
Heechul berjalan ke arahku yang berdiri tepat di tengah ruangan. Ia tersenyum lalu berlutut di hadapanku sambil membuka sebuah kotak beludru berwarna biru.
Aku dapat melihat sebuah cincin dengan ukiran klasik di sekelilingnya.
“hyeon-ah, this foolish guy who is standing in front of you.. Would you take him as your groom?”
*hyeon-ah, pria bodoh yang berdiri di depanmu ini, maukah kau menerimanya sebagai mempelai priamu?

!@#$%)($%&*(

“yah, ini hanya kurang pas di bagian pinggangnya kan?” Hyera mengukur pinggangku dengan sebuah tali ukur yang lalu ia sampirkan di leher ketika selesai, khas kerjaan seorang penjahit karena ia menolak aku memanggilnya seorang designer. Katanya ia belum pantas disebut designer..
“ah, sebenarnya tidak apa kok.. aku nyaman-nyaman saja.”
“hhaha, setiap pengantin kan harus tampak cantik di hari pernikahannya..” Hyera tertawa hingga matanya membentuk bulan sabit. “benar kan oppa?”
Hyera meminta persetujuan heechul yang sedang duduk di sofa dekat aku berdiri. Ia hanya membolak-balik majalahnya tanpa menghiraukanku yang tersenyum padany. “Hyera, aku minta tolong agar hyeon dibuat secantik mungkin. Kan tidak mungkin di pernikahan kami nanti pengantin prianya lebih cantik!”
Mataku membulat mendengarnya. Tapi ketika hendak membalas perkataannya, aku malah terbungkan karena heechul membuka mulutnya lagi.
“walau sebenarnya sejelek apapun hyeon, ia akan tetap menjadi ibu dari anak-anakku..”

…the end..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner