Senin, 23 Agustus 2010

Alzheimer

Cerita ini saya ambil dari fanfiction-nya SUJU
menurut saya cerita ini sangat menarik untuk simak...
so check it out ....


Donghae tersenyum memandang foto itu. Foto bersama seorang laki laki yang sangat disayanginya. Eeteuk, kakaknya.

“Hyung. Kau tau, sekarang aku sudah jadi orang sukses, aku jadi dokter. Aku sudah bisa membiayai hidupku sendiri. Kau percaya itu, Hyung ?” tanya Donghae sambil menatap wajah kakaknya

“…”. Tidak ada jawaban

“Hyung. Kau dengar aku tidak ??” tanya Donghae lagi

“…”. Namun tidak ada jawaban

“Eeteuk hyung. Jawab aku ..” kata Donghae dengan suara yang lebih keras

Namun tidak ada jawaban lagi dari kakaknya. Ia hanya dapat melihat bahwa kakaknya sedang tersenyum. Tersenyum, dalam foto yang ada di genggaman tangannya. Donghae meletakkan foto itu di sampingnya. Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya meleleh, ia menangis tersedu sedu.

“Aku merindukanmu, hyung ..” ucap Donghae lirih

***
Donghae POV

Hari ini adalah hari ke 100 meninggalnya kakakku. Satu satunya keluargaku semenjak ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan mobil saat dalam perjalanan pulang dari luar kota. Eeteuk. Kakak yang sangat bertanggung jawab. Ia berhenti sekolah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami sehari hari. Namun, aku sebagai adik. Aku adalah adik yang tidak tau diri, tidak tau cara berterima kasih, adik yang tidak pantas untuk menjadi adik kandung Eeteuk. Saat ia terus bekerja keras untuk mencari nafkah, aku justru menghambur hamburkan uang yang telah didapatkannya dengan susah payah. Aku minum minum di bar, bolos sekolah, jadi anak berandalan, suka berkelahi, taruhan dengan teman temanku, padahal aku masih duduk di bangku SMA. Bahkan aku berkencan dengan perempuan yang aku tau bahwa kakakku mencintainya. Namun Eeteuk hyung tetap sabar mengahadapi sikapku yang sangat keterlaluan. Ia tetap bekerja dan membiayai sekolahku. Keadaan itu terus berlanjut, hingga datangnya sebuah kenyataan itu, kenyataan yang membuatku rasanya ingin mati saja.

***
Eeteuk POV

“Aku pulang” ucapku ketika masuk ke dalam rumahku yang sangat kecil itu, namun lumayan untuk penghuninya yang hanya 2 orang. Aku dan adikku, Lee Donghae.

Aku tidak menemukan adikku di rumah. “Donghaeya..”

Namun tidak jawaban. ‘Dimana dia ?’ tanyaku dalam hati

Akhirnya aku mencari adikku itu ke tempat tempat yang sering dikunjunginya. Tempat terakhir yang aku datangi adalah bar milik tetanggaku, KangIn.

***
KangIn POV

“Ya !! Donghaeya, bangun .. kakakmu datang” kataku pada Donghae sambil menepuk nepuk pundaknya.

Donghae tetap tertidur di tempatnya. Sepertinya ia sudah benar benar mabuk. Seingatku tadi ia memesan 5 botol minuman keras, wajar kalau ia sekarang mabuk seperti itu.

Aku memandang kakak kandung Donghae yang sedang mencoba membangunkan adiknya. ‘Sabar sekali dia’ pikirku.

***
Eeteuk POV

“Donghaeya, bangun. Ayo kita pulang, besok kamu harus sekolah” aku membangunkan adikku

Namun Donghae tidak bangun juga. Akhirnya aku memutuskan untuk menggendongnya di punggungku, walaupun memang berat, karena sekarang ia bukan Donghae kecil ku lagi.

Ketika sampai di rumah, aku menidurkan adikku di tempat tidurnya. Tercium bau alkohol dari mulut Donghae ketika aku menyelimutinya dengan selimut yang aku ambil dari lemari di kamarnya.

Aku memandang adikku itu. Aku membelai rambutnya dan tersenyum padanya, kemudian aku pergi ke kamarku

***
Donghae POV

“Ini” kataku sambil menyerahkan secarik kertas pada Eeteuk hyung, kemudian aku memasukkan tanganku ke dalam saku celanaku dan mengunyah lagi permen karet yang masih ada di dalam mulutku

“Apa ini ?” tanya kakakku ketika mengambil kertas itu dari tanganku

“Baca saja. Nanti kau juga tau sendiri” jawabku santai

Eeteuk hyung terdiam sejenak setelah membaca kertas itu. Kemudian ia tersenyum.
“Kau melakukan kesalahan apa lagi ?” tanyanya

“Tidak ada” jawabku singkat tanpa melihatnya

“Haduuhh .. kau ini, badannya aja yang tambah besar, tapi sifatnya masih aja kayak anak kecil” katanya sambil mengacak ngacak rambutku. “Baiklah, besok aku ke sekolahmu” lanjutnya

Aku tidak suka diperlakukan seperti anak kecil. Aku menghempaskan tangannya yang tadi mengacak ngacak rambutku, kemudian aku pergi keluar rumah.

***
Kibum POV

“Hei Donghae. Benar kau sudah jadian dengan temanmu yang namanya .. siapa itu, Kheynie?” tanyaku pada Donghae yang sedang meneguk softdrink nya

“Kheynie ?” temanku itu malah balik bertanya

“Iya, Kheynie” jawabku

Donghae mengangguk santai. Kemudian aku bertanya lagi padanya.
“Dia itu kan perempuan yang disukai kakakmu. Kakakmu sudah tau hal ini ?”

Donghae mengangguk santai lagi. Aku heran, tega sekali dia pada kakak kandungnya sendiri. ‘Jangan jangan kakaknya itu anak pungut, makanya Donghae kejam sekali padanya’ pikirku.

****
Donghae tertidur saat jam pelajaran. Guru yang saat itu mengajar di kelasnya tidak tahan pada sikapnya itu.

“Bangun, Donghae!” kata gurunya sambil memukul mukul meja Donghae dengan penggaris kayu

Donghae membuka matanya dan melirik ke arah gurunya kemudian kembali melanjutkan tidurnya.

“Saya bilang, bangun ..!!” geram guru itu

Namun Donghae tidak memperdulikan kata kata gurunya. Sampai akhirnya ..

“KELUAR KAMU !!”

Donghae bangun dari tempatnya. Ia berjalan ke pintu, kemudian menguap dan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Ia berjalan keluar dengan santainya, tanpa ada rasa bersalah sama sekali

***
Kheynie POV

“Donghaeya, kau kenapa ?” tanyaku pada kekasihku, Lee Donghae

“Tidak apa apa” jawabnya singkat tanpa melihat ke arahku

Ia berjalan cepat sekali. Susah untuk menyejajarkan langkahku dengannya, karena memang kakiku kalah panjang dibanding kakinya. Akhirnya aku mempercepat langkahku.

Aku terus mengikutinya. ‘Loh, rumah kan ke arah sana ?’ tanyaku dalam hati. Aku sempat menghentikan langkahku di persimpangan jalan itu. Ketika aku berbalik, ternyata Dong Hae sudah lumayan jauh. Kemudian aku berlari mengejarnya.

“Kita mau kemana ?” tanyaku

“Ke bar milik KangIn, yakin kau mau ikut ?” tanya Donghae tanpa melihatku lagi

“Aku ikut” jawabku

“Ya sudah” ia hanya menanggapi jawabanku dengan dua kata itu. ‘Ya’ dan ‘Sudah’, dan lagi lagi tanpa melihat wajahku.

Kesabaranku habis, aku butuh perhatiannya. Aku menarik tangannya, ia menghentikan langkahnya dan akhirnya ia menatapku.
“Kenapa ?” tanyanya

“Kenapa kau seperti itu ? Kenapa kau menganggap seolah olah aku tidak ada di sampingmu ? Kenapa kau tak pernah memperhatikanku ?” aku membentaknya, air mataku mulai meleleh.

Donghae meletakkan tangannya di kedua pipiku. Sikapnya berubah, inilah Donghae yang kukenal selama ini. Tiba tiba ia menarik tubuhku dan mengecup bibirku.

***
Eeteuk POV

Aku berjalan ke pintu ketika ada seseorang yang mengetuknya.
“Sebentar” ucapku

Ketika aku membuka pintu. Yang kulihat adalah adikku bersama dua orang yang menopang tubuhnya. Yang satu bernama Kibum, dan yang satu lagi, dia adalah wanita yang aku cintai, namun ia mencintai adikku, hingga saat ini aku belum bisa menghapus rasa cintaku walaupun aku sudah rela dengan hubungannya dengan adikku. Karena aku menyayangi keduanya,Donghae dan Kheynie, aku ingin mereka berdua bahagia.

“Kenapa lagi dia ?” tanyaku pada mereka dan ikut membantu untuk menopang tubuh Donghae

“Dia dihajar murid murid SMA lain, gara gara waktu dia membuang permen karetnya, permen itu menempel di sepatu seorang dari mereka” jawab Kibum

“Biasanya dia menang” candaku

“Aku tidak tau kenapa hari ini dia tidak melawan sama sekali” jawab Kibum lagi

Setengah jam kemudian, Kibum pamit untuk pulang. Tapi Kheynie masih saja merawat Donghae yang sekarang tergeletak di tempat tidurnya. Ia terus membersihkan luka luka Donghae. Aku hanya bisa melihatnya dari balik pintu. Kemudian Kheynie berdiri dari kursinya, mengambil tas, dan membelai rambut adikku, lalu mencium keningnya.

“Oppa. Aku pulang dulu” pamit Kheynie padaku sambil membungkukkan badannya

“Iya. Terima kasih” jawabku sambil tersenyum

***
Still Eeteuk POV

Hari ini aku pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Tidak kusangka saat aku sampai di rumah, ternyata adikku sudah pulang. Biasanya paling cepat Donghae baru pulang tengah malam. Sekarang adikku sedang sibuk memetik senar gitarnya di ruang tamu yang multifungsi sebagai ruang makan dan ruang nonton TV.

“Aku pulang” ucapku sambil terus berjalan ke kamarku. Namun adikku tidak menjawabnya.

“Hei, itu kamarku” tiba tiba Donghae berkata seperti itu padaku

“Kamarmu ?” tanyaku bingung

“Kamarmu yang itu” katanya sambil menunjuk pada sebuah ruangan di sebelah pintu masuk

Kemudian aku memalingkan wajahku ke ruangan yang ditunjuk oleh Donghae tadi. Di samping pintu ruangan itu terpajang foto orang tuaku dan Donghae yang sudah meninggal. Aku ingat bahwa itu memang kamarku. Tapi kenapa tadi aku lupa ?

***
Sementara itu….

‘Ada apa dengan dia ?’ tanyaku dalam hati. Aku heran melihat sikapnya barusan, sikap kakakku. Kenapa dia lupa kamarnya sendiri. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku kembali memainkan gitarku.

Tapi tiba tiba kefokusanku kembali hilang. Aku memalingkan pandanganku pada orang itu lagi. Kali ini dia berjalan bolak balik di dalam rumah, seperti mencari sesuatu. Aku juga tau apa yang sedang dicarinya. Tapi setelah itu ia kembali duduk di depan meja yang ada di depanku. Ia kembali menulis. Tiba tiba ia bertanya padaku dan itu membuatku semakin bingung.

“Donghaeya. Ini kamu yang beresin ?” tanyanya sambil menunjuk pada setumpuk kertas yang ada di meja

Aku menggeleng. “Bukan aku. Kan tadi kau sendiri yang membereskannya” jawabku

“Apa ? Aku ?” tanyanya lagi

“Kau ini kenapa sih ? Aneh” kataku sambil berlalu, pergi ke kamarku

***
Eeteuk POV

Aku mulai menyadari ada keanehan pada diriku. Sekarang aku mulai ‘pikun’. Bahkan aku lupa jalan pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk konsultasi dengan seorang dokter, dia adalah temanku, Dr. Hangeng
“Eeteuksshi. Ada apa ?” tanyanya saat aku masuk ke ruang prakteknya

“Aku merasa ada yang aneh pada diriku” jawabku

Kemudian Hangeng mempersilahkanku untuk duduk. Setelah itu aku menceritakan semuanya, tentang keanehan yang aku rasakan. Hangeng mengajukan sebuah pertanyaan saat aku selesai bercerita.

“Kau pernah pingsan karena kelelahan atau karena mengalami stress ?” tanyanya

Aku berusaha mengingat. Apakah aku pernah mengalami hal itu.

“Iya, pernah” jawabku

*flashback*

Hari itu aku tidak fokus pada pekerjaanku. Aku teringat kejadian semalam di depan rumah. Aku lihat Kheynie sedang berdiri berhadapan dengan adikku, Donghae. Aku ingin menyapanya, namun ..

“Donghaeya, aku mencintaimu” aku mendengar Kheynie berkata seperti itu pada Dong Hae

Tak kusangka setelah Kheynie menyatakan perasaannya pada Donghae, adikku itu langsung memeluk tubuhnya dan mereka pun berciuman, tepat di depan mataku. Aku tak bisa berkata apa apa saat itu. Aku memilih untuk pergi menjauh dari tempat itu.

Sekarang tiba tiba kepalaku terasa berat. Aku tidak mampu membuka mataku. Kepalaku sakit, sakit sekali.

*end of flashback*

“Yang aku tau, setelah itu aku baru sadar saat di rumah sakit” aku mengakhiri ceritaku

“Baik. Kita lakukan scan” kata Hangeng

Akhirnya aku melakukan scan yang disarankan oleh Hangeng. Setelah itu Hangeng memasang hasil scan pada sebuah papan yang ada cahayanya. Aku juga tidak tau papan apa itu.

Tiba tiba Hangeng tertunduk. Perasaanku menjadi tidak enak.

“Hangeng, ada apa denganku ?” tanyaku pada Hangeng
“Kau yakin, kau siap menerima hasilnya ?” Hangeng balik bertanya

“Iya” aku mengangguk, walaupun hatiku sangat cemas sekarang

“Kau mengidap Alzheimer” ucap Hangeng lirih

“Alzheimer ?” aku bingung. Penyakit macam apa itu. Aku tidak pernah mendengarnya.

“Iya, Alzheimer” jawab Hangeng lagi

“Apa itu ?” tanyaku lagi

***************************
Dirumah…..

Aku menangis sejadi jadinya di kamarku. Bagaimana mungkin aku mengidap penyakit seperti ini ? Aku pikir tubuhku terlalu kuat untuk terserang penyakit. Kata kata Hangeng terasa masih terdengar olehku.

“Ada gumpalan protein yang tak seharusnya ada di otakmu. Lama kelamaan kau akan melupakan segalanya. Melupakan teman temanmu, pekerjaanmu, kekasihmu, bahkan keluargamu. Kau akan mengalami kematian mental sebelum kematian fisik”

Tuhan, kenapa seperti ini ? Aku tidak ingin seperti ini, nanti siapa yang akan menjaga Donghae, siapa yang akan membiayai hidupnya. Dia tidak punya keluarga lagi selain aku. Tangisku semakin menjadi jadi

***
Donghae POV

Kakakku itu semakin aneh. Akhir akhir ini sering minum obat yang jumlahnya tidak sedikit. Aku mulai curiga.

“Hei. Itu narkoba ya ?” tanyaku

“Hahaha. Mana mungkin aku jadi pemakai. Yang benar saja” jawabnya sambil tertawa

“Lalu obat obat apa itu ?” tanyaku lagi

“Emm, kata dokter aku terlalu lelah kerja. Jadi dokter memberiku obat obatan ini” jawab Eeteuk, kakakku

***

Keesokan harinya…

“Dimana CD itu ?” tanyaku pada diriku sendiri

Tadi Kibum memintaku untuk mengembalikan CD nya yang kupinjam 2 bulan yang lalu, namun belum kukembalikan. Sekarang aku sedang sibuk mencarinya. Kakakku belum pulang kerja. Lengkap sudah, tak ada yang akan membantuku.

Aku mencarinya hingga ke kamar kakakku. Aku buka lemarinya, ternyata tidak ada. Aku beralih ke laci di samping tempat tidurnya. ‘Yup, ketemu’ kataku dalam hati. Aku menutup laci itu, tapi tidak bisa, ada yang mengganjalnya. Aku penasaran.

Aku menemukan penyebabnya. Itu adalah sebuah amplop. Kemudian aku membukanya. Ada kertas transparan, disitu ada gambar otak. “Gambar otak siapa ini ?” tanyaku. Aku meletakkannya di atas kasur kakakku. Kemudian aku menemukan sebuah kertas di dalam amplop itu. Disitu tertulis bahwa kakakku mengidap penyakit Alzheimer.
“Penyakit apa itu ?” aku bingung, karena nama penyakit itu benar benar asing di telingaku

***
Kibum POV..

Aku melihat Donghae sedang berada di perpustakaan. Ia duduk di depan meja komputer. Sepertinya ia sangat serius. Aku heran melihat perubahan sikapnya. Sedrastis itukah ?

“Tumben ke perpustakaan. Kesambet ya ?” candaku pada Donghae, temanku yang berandalan itu

“Aiiisshh. Diam kau !!” kata Donghae, wajahnya sangar sekali

“Kau sedang mencari apa ?” tanyaku lagi

“Tidak usah ikut campur” jawabnya lagi

Aku melihat ia membuka sebuah halaman web. Disitu tertulis ‘Alzheimer’. Donghae sangat teliti membaca kata demi kata pada website itu. Tiba tiba ekspresi wajahnya berubah. Ia berlari keluar dari perpustakaan.

“Hei .. Donghaeyaa .. Donghaeyaa..!” aku terus memanggilnya, namun ia tetap berlari tanpa memperdulikan panggilanku

***

Donghae POV

Kakakku. Kakakku sakit. Kakakku sakit parah. Dia akan melupakan semuanya, termasuk aku. Bodohnya aku, selama ini aku tidak pernah memikirkannya. Padahal dia selalu memikirkan aku. Aku sudah merebut Kheynie, padahal aku tau Eeteuk hyung sangat mencintainya. Aku memang bodoh. Seharusnya aku saja yang sakit, seharusnya aku saja yang menderita.Aku terus berlari, air mataku mulai menetes.
“Hyung .. Aku benar benar minta maaf” ucapku lirih.

Setelah tau bahwa kakaknya sedang sakit parah, sikap Donghae berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai menunjukan perhatian pada kakaknya. Bahkan mulai membantunya mengurus rumah saat Eeteuk belum pulang kerja.

Sekarang mereka berdua ada di sebuah ruangan multifungsi di rumah mereka. Mereka berdua merebahkan tubuh mereka di lantai.

“Aku sudah putus dengan Kheynie” ucap Donghae

Eeteuk terkejut.
“Kenapa ?” tanyanya

“Aku tau kau mencintainya” jawab Donghae. Eeteuk tersenyum.
“Memang, tapi dia mencintaimu. Aku sangat menyayangi kalian berdua, aku ingin kalian bahagia. Aku bahagia kalau kau juga bahagia dengan Kheynie ”

‘Bahkan demi aku, dia tidak memperdulikan perasaannya sendiri’ ucap Donghae dalam hati

“Sekarang aku saja yang bekerja” kata Donghae mengalihkan pembicaraan

“Kenapa gitu ?” tanya Eeteuk bingung

“Kau di rumah saja” jawab Donghae singkat Eeteuk terdiam sesaat. Ia tersenyum, ia sudah mengerti maksud adiknya.

“Kau sudah tau ya ?” tanyanya pada Donghae

“Tau apa ?” Donghae balik bertanya

“Penyakitku” jawab Eeteuk tenang

Donghae mengangguk. “Iya, aku sudah tau” jawabnya

“Hmm. Pantas saja sikapmu berubah akhir akhir ini” canda Eeteuk

“Hyung, apa benar kau akan lupa semuanya ?” tanya Donghae

“Iya, bahkan aku akan melupakan diriku sendiri” jawab Eeteuk tetap tenang

“Jadi, kau juga akan melupakan aku ?” tanya Donghae lagi, matanya mulai terasa panas

“Mungkin kenyataannya begitu. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah sepenuhnya melupakanmu, dan aku tidak boleh melupakanmu. Karena kau sudah kuanggap sebagai diriku sendiri. Aku janji aku akan tetap menyanyangimu, walaupun nantinya hanya akan tersimpan dalam hati dan tak bisa kutunjukkan seperti biasanya” jawab Eeteuk

Donghae merasakan air matanya sudah mengalir di pipinya. Ia berbalik membelakangi kakaknya. ‘HYUNG !!’ jeritnya dalam hati.
*****

Liburan ini, Donghae menghabiskan waktunya bersama Eeteuk, kakaknya. Kakak yang sangat dicintainya. Mereka bermain di game center. Jalan jalan keliling Seoul. Bahkan Eeteuk mengajaknya ke pusat perbelanjaan.

“Ngapain kita kesini ?” tanya Donghae pada kakaknya

“Aku mau ajarin kamu belanja” jawab Eeteuk

Disana Eeteuk mengajari adiknya bagaimana memilih barang dengan baik, dan tentu saja mengajarkannya bagaimana caranya menawar harga. Awalnya Donghae sempat bosan, karena ia merasa bukan disini tempat yang ia sukai. Tapi ia coba untuk merasa nyaman, demi kakaknya.

Saat perjalanan pulang ke rumah, mereka melewati mesin foto box. Eeteuk menghentikan langkahnya dan menarik tangan adiknya.

“Kita foto dulu ya. Kan jarang jarang kau mau menemaniku pergi seperti hari ini” kata Eeteuk

“Tidak mau. Aku tidak suka difoto” Donghae menolak mentah mentah ajakan kakaknya

“Ayolaaahh. Untuk kenang kenangan” bujuk Eeteuk

“Tidak mau” Donghae tetap menolaknya

“Oh begitu rupanya. Baiklah, Lee Donghae, aku sebagai kakak kandungmu memerintahkanmu untuk foto bersamaku. Dan kau sebagai adik kecil harus mematuhinya. Nanti aku buatkan kimchi deh” kata Eeteuk

“Baiklah.. terserahmu saja, hyung” akhirnya Donghae menyetujui ajakan itu

Itulah pertama kalinya sejak mereka beranjak dewasa, mereka foto bersama. Mereka berdua sama sama tidak tau bahwa foto itu adalah foto bersama terakhir mereka.

***
Donghae POV

Kondisi kakak semakin memburuk. Sekarang ia bahkan lupa hari ini tanggal berapa. Terkadang ia suka buang air kecil sembarangan, atau mungkin dia bahkan lupa kalau dia ingin buang air kecil. Setiap hari aku merawatnya. Aku ingin membalas semua yang telah ia berikan padaku, walaupun aku yakin sikapku padanya sekarang tidak mampu mengganti semua yang telah diberikannya padaku.

Yang membuatku lebih sedih, ketika Eeteuk hyung bangun tidur dan melihatku sedang menyiapkan makanan untuknya, ia bertanya padaku, “Maaf, kamu siapa ?”. Kemudian aku segera menjelaskan semuanya pada kakakku itu, walaupun dengan dada yang sesak karena aku menahan diriku untuk tidak menangis.

Sekarang aku sedang menemani Eeteuk hyung di rumah sakit. Hangeng hyung mengatakan bahwa kakak harus dirawat di rumah sakit. KangIn, temanku yang juga teman kakakku, berbaik hati untuk menggantikanku menemani Eeteuk hyung ketika aku sekolah. Terkadang Kibum, sahabatku, juga ikut bermalam di rumah sakit bersamaku.

Keadaan kakakku makin parah. Yang aku dengar dari Hangeng hyung, kakakku sudah mengalami kematian mental. Saat mendengar hal itu, aku menangis. Aku hampir saja menghajar Hangeng hyung.
Aku terus menerus menyalahkannya.
“Kenapa kau tidak bisa menyembuhkannya ?!” aku membentaknya.

“Maaf Donghae. Hanya ini yang dapat kulakukan untuk kakakmu. Penyakit ini belum ada obatnya” jawab Hangeng sambil tertunduk

Kibum dan KangIn terus memegangiku agar tidak menghajar Hangeng hyung.

Denyut jantung kakakku mulai melemah. Nafasnya mulai tidak teratur. Air mataku kembali mengalir.
“Hyung ..” aku memanggilnya

Ia tidak menjawabku, ia hanya memandangku sambil tersenyum dan akhirnya matanya tertutup perlahan lahan.

“HYUUUNNNGGG ..!!” aku berteriak memanggilnya. Aku memeluk tubuhnya erat erat sambil menangis

***
Setelah kakaknya meninggal. Donghae bertekad untuk mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya. Dan ia membuktikan itu. Ia lulus SMA dan mendapatkan beasiswa penuh untuk menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran di sebuah universitas terkenal. Ia ingin menjadi seorang dokter. Ia ingin menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang membuat ia kehilangan kakaknya.

Beberapa tahun kemudian, ia dinyatakan lulus, sekarang ia benar benar menjadi seorang dokter.

***
Donghae POV

Hari ini aku mengunjungi makam kedua orang tuaku dan makam kakakku yang tepat berada di sebelah makam mereka. Aku sempat menitikkan air mata, aku sangat merindukan mereka. Tapi aku yakin mereka sudah bahagia disana.

Aku duduk di sebelah makam kakakku.
“Hei, Hyung. Lihat aku sekarang. Keren kan ? Bahkan lebih keren darimu” candaku

Tidak ada yang menjawab candaan itu. Namun aku terus bercerita kehidupanku sekarang. Aku mengatakan padanya bahwa aku tidak akan pernah lagi minum minum dan tidak akan pernah lagi menyusahkan orang lain.

“Kau tau Hyung, sekarang aku dan Hangeng hyung sudah menemukan obat penyakit itu, walaupun tidak akan sepenuhnya menghilangkan penyakit. Tapi setidaknya obat itu bisa membunuh protein yang tidak seharusnya ada di otak. Tuh kan sekarang bahasaku jadi keren banget,haha” ucapku kemudian tertawa

Aku melanjutkan lagi kata kataku.
“Coba kau masih bisa bertahan sampai sekarang, dan meminum obat itu. Mungkin sekarang kau masih ada disini, menemaniku”

Air mataku menetes lagi. Aku berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu. Kemudian aku berbalik sebentar. Aku melihat ke arah makamnya, tersenyum dan berkata padanya.
“Hyung. Semoga kau bahagia disana. Aku janji aku juga akan hidup bahagia ..”
The End

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner