Rabu, 29 September 2010

DUNIA SEORANG GADIS

Sophie Amundsend sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dia telah menempuh paruh pertama perjalanannya bersama Joanna. Mereka membicarakan tentang robot. Joanna beranggapan otak manusia itu seperti komputer yang sangat canggih. Sophie tidak terlalu sepakat. Tentunya manusia bukan sekadar sepotong perangkat keras!

Ketika sampai di depan pasar swalayan, mereka berpisah. Sophie tinggal di daerah pinggiran kota dan jaraknya dari sekolah hampir dua kali lebih jauh daripada rumah Joanna. Tidak ada rumah lain di sebelahnya. Jadi rumah tersebut seakan berada di ujung dunia. Di dekat situ ada hutan.

Dia berbelok menuju Clover Close. Di ujung jalan ada tikungan tajam, yang dikenal sebagai Captain's Bend. Orang-orang jarang melewati jalan itu kecuali pada akhir pekan.

Saat ini awal bulan Mei. Di beberapa kebun, pohon-pohon buah dikelilingi dengan bertandan-tandan daffodil. Pohon birkin telah diselimuti daun berwarna hijau pucat.

Ketika Sophie membuka pintu gerbang halamannya, dia memandang ke kotak surat. Biasanya ada banyak surat sampah dan beberapa amplop besar untuk ibunya. Tumpukan surat itu sering ditinggalkannya begitu saja di meja dapur sebelum dia naik ke kamar untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah.

Seringkali, ada beberapa surat dari bank untuk ayahnya. Tetapi ayah Sophie bukanlah seorang ayah yang biasa. Dia adalah nakhoda sebuah tanker minyak besar, dan selalu bepergian hampir sepanjang tahun. Selama beberapa minggu ketika dia berada di rumah, dia akan sibuk ke sana ke mari untuk membuat rumah itu enak dan nyaman bagi Sophie dan ibunya. Namun jika dia berada di laut, dia tampaknya sangat jauh.

Hanya ada sebuah surat di kotak surat, dan itu adalah untuk Sohhie. Pada amplop putih tertulis: 'Sophie Amundsend, 3 Clover Close.' Itu saja. Tidak dituliskan siapa pengirimnya. Perangkonya pun tidak ada.

Setelah Sophie menutup pintu gerbang, dia buru-buru membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas yang tidak lebih besar dari amplopnya sendiri. Bunyinya: 'Siapakah kamu?'

Tidak ada yang lain, hanya dua kata itu yang, ditulis tangan dan diikuti dengan sebuah tanda tanya besar.

Dia melihat amplop itu lagi. Surat itu jelas untuknya. Siapakah yang memasukkannya ke dalam kotak surat?

Sophie segera memasuki rumah merah itu. Sebagaimana biasa, kucingnya Sherekan berusaha menyelinap keluar dari semak-semak, melompat ke tangga pertama, dan menyusup masuk melalui pintu sebelum Sophie menutupnya. Selain Sherekan, Sophie juga punya tiga ekor ikanmas, Goldtop, Red Ridinghood, dan Black Jack. Selanjutnya dia mendapatkan dua ekor burung parkit yang dinamakannya Smiit dan Smule, lalu Govinda si kura-kura darat.

Sophie melemparkan tas sekolahnya ke lantai dan meletakkan semangkuk makanan kucing untuk Sherekan. Lalu dia duduk di atas bangku dapur dengan surat misterius di tangannya.

Siapakah kamu?

Dia tidak tahu. Dia adalah Sophie Amundsend, tentu saja, tetapi siapakah Sophie itu? Dia benar-benar tidak mengerti.

***

Bagaimana seandainya dia telah diberi nama lain? Anne Knutsen, misalnya. Apakah dia lalu menjadi orang lain?

Tiba-tiba dia ingat bahwa ayahnya semula ingin dia dinamai Lilemor. Sophie berusaha untuk membayangkan dirinya bersalaman dan memperkenalkan dirnya sebagai Lilemor Amundsend, namun semua itu tampaknya tidak benar. Tetap saja itu adalah orang lain yang memperkenalkan dirinya.

Dia melompat dan pergi ke kamar mandi dengan surat aneh di tangannya. Dia berdiri di depan cermin dan menatap matanya sendiri.

"Aku Sophie Amundsend," katanya.

Gadis di dalam cermin itu tidak bereaksi sama sekali. Apapun yang dilakukan Sophie, gadis lain itu melakukannya dengan cara yang persis sama. Sophie berusaha untuk memukul bayangannya dengan gerakan kilat namun gadis itu pun bergerak sama cepatnya.

"Siapakah kamu?" Sophie bertanya.

Dia tetap tidak menerima tanggapan, tapi merasa sedikit bingung apakah dia atau bayangannya yang mengajukan pertanyaan itu.

Sophie menekan jari telunjuknya ke hidung di cermin itu dan berkata, "Kamu adalah aku."

Karena dia tidak mendapatkan jawaban, dia membalik kalimat itu dan berkata, "Aku adalah kamu."

Sophie Amundsend sering merasa tidak puas dengan penampilannya. Orang sering bilang dia memiliki sepasang mata indah berbentuk buah almond, namun itu barangkali hanya diucapkan orang-orang sebab hidungnya terlalu kecil dan mulutnya agak terlalu besar. Dan telinganya terlalu berdekatan dengan matanya. Yang paling buruk dari semua itu adalah rambutnya yang lurus, yang tidak mungkin diapa-apakan.

Kadang-kadang ayahya akan membelai rambutnya dan menyebutnya 'gadis dengan rambut jerami'. Bagi ayahnya itu tidak menjadi soal, sebab bukan dia yang dijatuhi kutukan untuk hidup dengan rambut lurus berwarna gelap. Krim rambut maupun styling gel sama sekali tidak berpengaruh pada rambut Sophie. Kadang-kadang dia menganggap dirinya begitu jelek sehingga dia bertanya-tanya apakah dia terlahir cacat. Namun apakah yang sesungguhnya menentukan penampilan kita?

Bukankah aneh bahwa dia tidak mengenal siapa dirinya? Dan bukankah tidak masuk akal bahwa dia tidak pernah diizinkan untuk ikut menentukan bagaimana penampilannya? Dia hanya sekadar ditimpa penampilan seperti itu. Dia memang dapat memilih kawan-kawannya sendiri. Dia bahkan tidak memilih menjadi seorang manusia.

Apakah manusia itu?

Sophie kembali menatap gadis di cermin itu.

"Ah, sebaiknya kau ke atas dan mengerjakan PR biologiku," katanya, nyaris seperti minta maaf. Begitu sampai di ruang tengah, dia berpikir. Tidak, lebih baik aku pergi ke taman.

Ketika dia berdiri di luar, di atas jalan berkerikil dengan surat misterius di tangannya, perasaan yang sangat aneh menyerangnya. Dia merasa seperti sebuah boneka yang tiba-tiba dihidupkan oleh sapuan sebatang tongkat sihir.

Bukankah ajaib bisa berada di dunia saat ini, berkelana ke sana ke mari dalam suatu petualangan yang mencengangkan!

Ketika Sophie mulai memikirkan tentang hidup, dia mulai menyadari bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Aku berada di dunia sekarang, pikirnya, tetapi suatu hari aku akan pergi.

***

Adakah kehidupan sesudah kematian? Ini adalah pertanyaan lain yang sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh Sophie.

Belum lama nenek Sophie meninggal. Selama lebih dari enam bulan Sophie merindukannya dari hari ke hari. Sungguh tidak adil bahwa kehidupan harus berakhir!

Sophie berdiri di atas jalan berkerikil, berpikir. Dia berusaha untuk berpikir ekstra keras mengenai hidup agar dia dapat melupakan bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Tetapi itu mustahil. Begitu dia berkonsentrasi pada kehidupannya sekarang, pikiran tentang kematian pun memasuki benaknya.

Hal yang sama terjadi sebaliknya: hanya dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang pasti mati maka dia dapat menghargai betapa senangnya dia bisa hidup. Ini seperti dua sisi mata uang yang berulangkali dibalik-baliknya. Dan semakin besar dan semakin jelas satu sisi, semakn besar dan semakin jelas pula sisi lainnya.

Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu nantinya harus mati, pikirnya. Namun sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.

Sophie ingat nenek mengatakan sesuatu semacam itu pada hari ketika dokter menyatakan dirinya sakit. "Baru kali inilah aku menyadari betapa kayanya kehidupan ini," katanya.

Sungguh tragis bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit dulu sebelum mereka memahami betapa berharganya hidup itu. Atau, kalau tidak, mereka harus menemukan dulu sebuah surat misterius di dalam kotak surat!

Barangkali dia harus memeriksa kalau-kalau ada lagi surat yang datang. Sophie bergegas ke pintu gerbang dan melihat ke dalam kotak surat hijau. Dia terperanjat ketika mendapati bahwa di situ terdapat sebuah amplop putih lain, persis seperti yang pertama. Tetapi kotak surat itu jelas-jelas sudah kosong ketika dia mengambil amplop pertama! Amplop ini bertuliskan namanya pula. Dia menyobeknya hingga terbuka dan meraih selembar catatan yang ukurannya sebesar yang pertama.

Dari mana datangnya dunia? Dikatakan di situ.

Aku tidak tahu, pikir Sophie. Tentunya tidak ada orang yang benar-benar tahu. Namun bagaimanapun Sophie menganggap itu sebuah pertanyaan yang wajar. Untuk pertamakali dalam hidupnya dia merasa tidak pantas hidup di dunia tanpa setidak-tidaknya mempertanyakan dari mana ia berasal.

Surat-surat misterius itu telah membuat kepala Sophie pusing. Dia memutuskan untuk pergi menyendiri di sarangnya.

Sarang itu adalah tempat persembunyian Sophie yang paling rahasia. Sophie telah menemukan lubang kecil di pagar itu sejak dia bisa mengingat. Ketika merayap ke sana dia memasuki sebuah rongga di antara semak-semak. Rongga itu seperti sebuah rumah mungil. Dia tahu tak seorang pun dapat menemukannya di sana. Ke situlah dia pergi jika dia merasa sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia. Hari ini dia hanya bingung.

Dengan menggenggam kedua amplop di tangan, Sophie berlari melintasi taman, merangkak dengan kedua kaki dan tangannya, dan membuka jalan menembus pagar tanaman itu. Sarang itu tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhnya saat berdiri tegak, tapi hari ini dia duduk di atas serumpun akar yang bertonjolan.

Dari sana dia dapat melihat keluar melalui lubang pengintip kecil di sela-sela ranting dan dedaunan. Ketika masih kecil dia suka berpikir sungguh menyenangkan memperhatikan ibu dan ayahnya mencari-carinya di antara pepohonan di situ. Sophie selalu menganggap taman itu sudah merupakan dunia tersendiri. Setiap kali dia mendengar tentang Taman Firdaus yang diceritakan dalam Bibel, dia seperti diingatkan untuk duduk di sini di dalam sarangnya, mengawasi surga kecilnya sendiri.

Dari mana datangnya dunia?

Dia tidak mempunyai gagasan sekilas pun. Sophie tahu perlu mencari tahu dari mana ia berasal. Tetapi mungkinkah sesuatu itu selalu ada? Jauh di lubuk hatinya dia memprotes gagasannya? Jadi angkasa pasti telah diciptakan dari sesuatu yang lain.

Tapi jika angkasa berasal dari sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pasti juga berasal dari sesuatu yang lain pula. Sophie merasa dia hanya menyeret-nyeret permasalahan. Pada satu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan. Namun apakah itu mungkin? Bukankah sama mustahilnya dengan gagasan bahwa dunia selalu ada?

Mereka telah belajar di sekolah bahwa Tuhan menciptakan dunia. Sophie berusaha untuk menghibur dirinya dengan pemikiran bahwa ini barangkali pemecahan terbaik untuk seluruh masalah itu. Tetapi dia lalu mulai berpikir lagi.

Dia dapat menerima bahwa Tuhan telah menciptakan angkasa, tetapi bagaimana dengan Tuhan sendiri? Lagi-lagi ada sesuatu jauh di lubuk hatinya yang memprotes. Meskipun Tuhan dapat menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai 'diri'. Maka hanya tinggal satu kemungkinan: Tuhan selalu ada. Tetapi dia telah menolak kemungkinan itu! Segala sesuatu yang ada harus ada permulaannya.

Oh, persetan!

Dia membuka kedua amplop itu lagi.

Siapakah kamu?

Dari mana datangnya dunia?

Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh menjengkelkan! Dan, ngomong-ngomong, dari mana datangnya surat-surat itu? Itu juga sama misteriusnya, nyaris.

Siapakah yang telah menyentakkan Sophie keluar dari keberadaannya sehari-hari dan dengan tiba-tiba membawanya berhadapan dengan teka-teki besar tentang alam raya?

Untuk ketiga kalinya Sophie memeriksa kotak surat. Pak Pos baru saja mengantarkan kriman hari itu. Sophie mengaduk setumpukan surat sampah, terbitan berkala, dan dua surat untuk ibunya. Juga ada sebuah kartu pos bergambar pantai tropis. Dia membalik kartu pos itu.

Di situ tertempel sebuah perangko Norwegia dan diberi cap pos 'Batalyon PBB'. Mungkinkah itu dari Ayah? Tapi bukankah dia berada di suatu tempat yang sama sekali lain? Itu juga bukan tulisan tangannya.

Sophie merasakan detak jantungnya sedikit bertambah cepat ketika dia melihat kepada siapa kartu pos itu dialamatkan. Hilde Moller Knag, d/a Sophie Amundsent, 3 Clover Close....

Sisa alamat itu benar adanya. Kartu pos itu berbunyi:

Hilde Sayang, selamat ulangtahun ke-15! Karena aku yakin kamu akan mengerti, aku ingin memberimu sebuah hadiah yang dapat membantu berkembang. Maafkan aku telah mengirimkan kartu pos ini ke alamat Sophie. Itu adalah cara yang paling mudah. Salam sayang dari Ayah.

Sophie lari kembali ke rumah dan masuk ke dapur. Pikirannya kacau. Siapakah Hilde ini, yang berulang tahun tepat sebulan sebelum ulangtahunnya sendiri?

Sophie mengambil buku telepon. Ada banyak orang yang bernama Moller, dan hanya sedikit yang bernama Knag. Tapi tak satu pun dalam buku petunjuk itu yang bernama Moller Knag.

Dia mengamati kartu misterius itu lagi. Tampaknya itu asli, juga di situ terdapat perangko dan cap pos.

Mengapa seorang Ayah mengirimkan sebuah kartu ulangtahun ke alamat Sophie, sedangkan sudah jelas sekali bahwa kartu tersebut ditujukan ke tempat lain? Ayah macam apa yang mau memperdaya putrinya sendiri lewat sebuah kartu ulangtahun yang dengan sengaja dikirimkan sembarang alamat? Bagaimana mungkin itu merupakan 'jalan termudah'? Dan selain itu, bagaimana dia dapat melacak Si Hilde ini?

Kini Sophie punya tambahan masalah yang mengganggu. Dia berusaha untuk meluruskan pikirannya.

Siang ini, dalam waktu hanya dua jam, dia telah dihadapkan dengan tiga masalah. Masalah pertama adalah, siapa yang telah meletakkan dua amplop putih di kotak suratnya. Yang kedua adalah, pertanyaan-pertanyaan sulit tersebut.

Masalah ketiga adalah, siapakah Hilde Moller Knag, dan mengapa Sophie yang dikirimi kartu ulangtahunnya? Sophie kembali bertanya, ini pasti perbuatan ayah untuk lebih mendewasakan pikirannya? Atau ada episode lain dari dunianya? Sophie yakin bahwa ketiga masalah itu saling terkait. Pasti begitu.

the end

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner