Jumat, 24 September 2010

Cinta Semusim

Dia memang seperti angin, membelai sukma dengan berbagai rasa. Selalu saja ada pesan yang disampaikan sehabis melewati pertemuan. Pesan itu dikirimkannya ke ponselku lima menit setelah aku sampai di rumah. Pesan yang selalu penuh makna. Seperti orangnya.
Aku mengenalnya pertengahan tahun lau, waktu ...aku tengah syuting sinetron produksi salah satu PH untuk tv swasta.

Pekerjaan di film memang melelahkan sekaligus mengasyikkan. Satu hari penuh aku diforsir untuk menyelesaikan adeganku karena sinetron yang aku perankan memang kejar tayang. Begitu istirahat, aku menepi di bawah pohon sambil mengambil air mineral yang telah disediakan.

Sambil menikmati sejuknya air mineral yang membasuh dahaga, angin turut membelai. Rambutku yang sedikit panjang dimainkan angin. Sejuk.

Menyendiri sambil istirahat dengan skenario di tangan, dan melihat-lihat beberapa adegan lagi yang masih tersisa untukku. Namun konsentrasiku sedikit buyar ketika ekor mataku menangkap seorang pemuda yang tengah asik duduk di ujung jalan dengan kacamata hitamnya.

Rambutnya yang sedikit gondrong menambah ketampanannya.

Dia bukan kru film dan bukan pemain. Aku tahu betul. Karena sudah empat hari syuting berjalan dan sejak awal pemuda itu tidak terlihat sebelumnya. Tapi kelihatannya ia enjoy saja dengan lingkungan sekitar. Apa orang iseng yang cuma mau menonton syuting? Ah, aku pikir orang seperti itu tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk sekedar menyaksikan syuting. Pasti ada kepentingannya. Atau kekasih dari salah satu pemain? Tapi siapa? Ah, entahlah.

Kehadiran pemuda itu menyita pikiranku. Aku tertarik pada sosoknya. Keingintahuanku timbul. Iseng, aku melangkah mendekatinya.

"Hai, sedang apa?" sapaku, sok akrab.

pemuda itu menoleh dan sedikit agak heran. Ia melepaskan kacamata hitamnya dan menoleh ke kiri kanan, mungkin khawatir sapaanku bukan untuknya.

"Anda sedang apa? Sendirian saja?" sapaku lagi.

Ia tidak langsung menjawab, tapi melempar senyumnya.

"Boleh aku duduk?" Nakalku kumat.

pemuda itu belum juga membuka suaranya.

Aku duduk tidak jauh darinya.

"Lagi istirahat?" Suaranya sedikit berat.

Aku menoleh dan mengangguk. Sapaannya tanpa basa-basi.

"Kapan selesai syutingnya?"

Sekarang, giliran aku yang tidak langsung buka suara. Karena sepertinya pemuda itu tidak asing dengan suasana syuting ini.

"Yah, mungkin besok atau lusa," jawabku.

pemuda itu mengambil ranting dan memainkannya di atas tanah.

Aku memperhatikannya saja.

"Anda di sini sedang apa? Apa tengah menunggu seseorang?" tanyaku menggoda.

"Kenapa memangnya?" Pemuda itu balik bertanya, tak menjawabi pertanyaanku.

"Ah, nggak, cuma tanya," jawabku pendek.

Pemuda itu kembali diam.

Aku membolak-balikkan naskah skenario yang aku pegang.

"Memangnya tidak boleh ya, aku di sini?" Pemuda itu menoleh dan matanya menjajahku.

Aku sedikit gugup. Niatku yang ingin mengusilinya jadi salah tingkah. "Ah, nggak. Nggak kok. Siapa yang bilang nggak boleh?"

Pemuda itu kembali tersenyum.

Ia berdiri. "Aku ke sini cuma main saja," katanya sambil memainkan ranting yang masih di tangannya.

Benar apa kataku. Ternyata ia cuma lelaki iseng yang ingin menonton orang syuting sambil melihat artisnya. Tapi... apa ia tidak kenal denganku? Sepuluh lebih sinetron yang sudah aku bintangi, masa pemuda ini tidak tahu aku.

"Mbak Manda sendiri, sedang apa di sini? Apa lagi break?"

Oh, ternyata ia mengenaliku. "Iya, nih," kataku. "Jangan panggil Mbak, dong. Ketuaan lagi. Panggil saja nama saya."

Cowok itu tersenyum. "Selesai syuting ini, sinetron apa lagi yang akan Anda mainkan?"

"Anda orang film?"

Ia menoleh dan tersenyum. "Saya wartawan dan penulis cerita, " jawabnya.

"Oh," aku mengangguk-angguk. "Maaf, nama...."

"Praditya." Pemuda itu mengulurkan tangannya memintas kalimatku yang belum rampung.

Aku menyambut uluran tangan Praditya. Tapi... sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. "Anda.... Anda Praditya Anugrah Senja?!" tanyaku tergagap.

Praditya mengangguk.

"Oh, saya sepertinya akrab betul dengan nama Anda. Tapi, di mana saya pernah mendengarkannya, ya?"

"Mungkin di skenario yang Anda pegang," kata Praditya.

"Ah, ya." Aku terlonjak, memperhatikan skenario yang ada di tanganku. Dan jelas betul nama penulis cerita itu adalah Praditya Anugrah Senja. "Ya, aku baru ingat. Ternyata Anda yang menulis cerita ini, ya?"

Praditya tersenyum sembari mengangguk.

Dari perkenalan itu, akhirnya aku jadi akrab dengannya.

***

Praditya ternyata pemuda yang menyenangkan. Suka humor, dan selalu penuh kejutan. Satu hal yang amat aku sukai dari dirinya ialah, Pra, demikian kuakrabi namanya, pintar. Wawasannya luas. Ia selalu dapat membawa setiap pertemuan jadi jauh dengan rasa jenuh. Mungkin karena ia wartawan, atau juga karena ia seorang pengarang. Selalu ada hal baru yang dapat membuat aku kian terpesona dengan kepribadiannya. Terutama kalau ia tengah memberikan pandangannya tentang dunia seni yang aku geluti.

"Manda, kalau kamu ingin selangkah lebih maju dari apa yang sudah kamu dapatkan dari kesibukanmu sebagai pemain sinetron saat ini, kamu juga harus bisa menempatkan diri kamu di tengah-tengah masyarakat atau pencinta akting-aktingmu," ujar Pra, pada suatu pertemuan yang kesekian denganku di sebuah rumah makan di bilangan Selatan Jakarta.

"Maksud kamu?" Aku belum mengerti arah pembicaraanya.

"Maksudku, kalau kamu memang sudah sering main sinetron, tapi dari segi popularitas belum juga terangkat, kamu harus ada kiat sendiri bagaimana mengangkat pamor kamu itu," jelasnya.

"Kasih tahu, dong," rajukku, manja.

"Ya, publikasi. Kamu kan kenal saya, saya bisa mengundang teman-teman wartawan untuk menulis kamu di media mereka masing-masing. Sebab pertimbangan saya begini, kamu memang sering main sinetron, tapi sinetron yang kamu perankan tersebut katakanlah berdurasi satu jam.

Setelah sietron itu selesai tayang, kamu pun hilang begitu saja dari penglihatan penggemar kamu. Tapi kalau kamu ditulis dalam sebuah media seperti majalah, koran atau tabloid misalnya, itu bisa kamu jadikan dokumentasi, dan media cetak itu sifatnya tidak langsung hilang. Seperti majalah misalnya, usai dibaca orang, masih ada orang-orang lain yang akan membacaanya. Jadi dengan demikian membuat kamu semakin dikenal banyak orang, " kata Pra, mengusul.

Aku mendengarkan saja.

"Selain itu," lanjutnya. "Lewat berita di media tersebut, kamu juga bisa menyampaikan visi dan misi kamu dalam menggeluti dunia seni peran. Sehingga penggemar atau pembaca yang membaca tentang kamu jadi tahu apa alasan kamu mengeluti dunia seni. Apa sekedar iseng, atau memang sudah menjadi jiwa keseharian, atau ada hal-hal lain yang ingin kamu capai melalui aktivitas kamu itu."

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan mendengar penuturan Pra yang panjang lebar itu. Semua nasehat dan sarannya, memang ada benarnya. Namun jujur saja aku akui, aku jadi bimbang mendengarkan penjelaskannya itu. Karena aktivitasku di dunia seni peran ini pun aku tidak dapat mengatakan karena alasan apa. Mencari popularitaskah, nafkahkah, atau memang tuntutan jiwaku yang menyukai dunia seni peran.

Ah, aku tidak bisa memberikan jawaban itu kepada diriku sendiri, terlebih pada Pra. Lagi pula aku masih kelas dua SMA. Aku hanya ingin memanfaatkan waktu luangku dengan kegiatan. Kebetulan aku senang dengan akting, maka seni peranlah jalan untuk penyalurkan bakatku.

Atau dari kegiatanku ini aku mencari popularitas seperti yang Pra katakan? Ah, mungkin juga. Karena, sudah menjadi sifat manusia bila ingin diperhatikan dan dikenal banyak orang. Tapi... aku pikir itu pun bukan tujuan utamaku. Apakah arti kepopuleran kalau aku... ah, terus terang saja memang rutinitasku di dunia seni peran hanya untuk mengisi hari-hari kosongku yang selalu dihantui oleh penyakit yang sejak kecil sudah aku derita.

Aku mepunyai penyakit turunan dari Mama. Penyakit yang telah merenggut Mama dari keluargaku itu adalah sesak nafas. Karena penyakit yang aku derita inilah mungkin yang memotivasiku untuk lebih banyak berkegiatan. Karena kalau aku diam saja, hawa dingin di tubuhku kadang membuat nafasku jadi sesak. Dengan banyak bergerak dan beraktivitas, otomatis membuat tubuhku hangat. Dan kehangatan di dalam tubuhku itulah yang membuat hidupku bergairah.

Ya, karena alasan itulah mungkin yang membuat aku menerjuni dunia seni peran ini.

"Manda, kamu melamun," suara Pra mengagetkanku.

"Eh, ng-nggak" Aku tampak gugup.

"Bagaimana dengan saranku tadi, apakah kamu dapat menerimanya?" tanya Pra.

"Apa yang selalu kamu katakan, aku tak pernah bisa menolaknya," jawabku lalu melempar seulas senyum. "Toh semuanya demi kebaikanku juga. Semuanya masuk nalar."

Pra membalas senyumku.

Selalu ada nuansa indah yang aku rasakan setiap kali bertemu dengan Pra. Meski kami jarang bertemu karena kesibukan kami masing-masing, tetapi setiap kali bertemu selalu memberikan kesan tersendiri di hatiku. Ah, aku tidak pernah berani mengatakan pada diriku kalau aku menyukai Praditya.

Aku memang simpatik padanya. Tapi untuk mencintainya, aku masih memiliki trauma yang harus aku enyahkan, dan memupuk keyakinan sebenih kalimat bijak yang mengungkap bahwa tidak semua laki-laki itu bullshit! Jauh, jauh sebelum mengenal Praditya, aku memang selalu disakiti oleh laki-laki. Namun, Praditya beda! Ia menjanjikan hari baru dan perlahan melamur semua kenangan pahitku tentang seorang laki-laki penyelingkuh.

Dan untuk saat ini kami memang dekat. Yang jelas, aku merasa senang dan damai bila dekat dengannya. Sedangkan Praditya sendiri, setiap kali bertemu denganku belum sekali pun menyinggung masalah hati dan bentuk hubungan kami. Meski dari gerak dan tindakannya yang kikuk telah menjelaskan bahwa ia memang ada hati, namun aku tidak berani mengartikannya lebih jauh. Terlebih mengambil kesimpulan sepihak jika ia meencintaiku. Menurutku, cinta dan kasih sayang jelas beda makna dan beda tempatnya.

Cinta menurutku pula, penuh dengan tuntutan. Apabila tuntutan yang dilandasi oleh cinta tak kesampaian, akan membuahkan sakit yang teramat sangat di dalam hati yang paling dalam. Sedangkan kasih sayang, adalah ketulusan yang dapat diberikan kepada siapa saja selagi kita simpati dan menyukai orang tersebut. Dan bentuk rasa yang aku rasakan terdapat Praditya saat ini baru hanya sebatas bentuk kasih sayang.

Aku masih takut untuk mencintai Praditya. Karena kalau sudah bicara cinta, akan ada tuntutan dari cinta itu sendiri. Dan kalau tuntutan itu tidak dapat Pra penuhi, aku takut Pra dan aku saling menyakiti. Sedangkan aku kepingin hari-hariku bersama Praditya selalu ditaburi bunga-bunga indah. Yang membuat hari-hariku jadi selalu penuh kebahagiaan. Bisakah semua itu selamanya kudapatkan bersama Praditya?

***

Bulan ini adalah bulan yang bahagia buat Manda, karena pada bulan ini, ada satu hari pada tujuhbelas tahun silam, ia menangis untuk kali pertama. Tangis pertama yang disambut dengan doa, tawa dan senyum bahagia.

Itulah hari kelahiran Manda.

Oh, sweet seventeen, Manda.

Karena itulah ia ingin merayakannya dengan penuh meriah. Mengundang teman-teman, dan... Praditya.

Manda ingin, di hari ulang tahunnya itu ia diliput oleh wartawan hiburan, baik media cetak maupun elektronik, dan pada saat itulah, ketika kuli disket itu bertanya, siapa pujaan hatinya, Manda akan memberikan isyarat kepada Praditya.

"Pra akan memberikan kado apa di hari ulang tahun Manda nanti?" ungkap Manda, suatu ketika saat bertemu Praditya di petang hari.

"Pra akan mendoakan Manda biar menjadi artis yang sukses," kata Praditya.

"Uh, itu sih basi," rajuk Manda, manja. "Manda kepingin hadiah yang istimewa." Praditya tersenyum. "Ya, nanti Pra beri hadiah yang istimewa. Dan berita mengejutkan buat Manda!"

"Hadiah apa? Berita mengejutkan apa?" kejar Manda, penasaran.

Pra mengulum senyumnya "Ada deh, lihat saja nanti, dan kamu harus sabar menunggunya," kata Praditya.

Nyatakan Manda tak sabar menunggu hari pesta ulangtahunnya. Ia ingin melihat kejutan apa yang akan diberikan oleh Praditya, orang yang selama ini selalu mengisi mimpi indahnya.

***
Pesta ulang tahun ketujuhbelas Manda itu, meriah. Dirayakan di sebuah hotel berbintang di bilangan Jakarta. Manda menjadi seperti bidadari, gaun yang dikenakan dan keceriaan paras wajahnya, membuat para undangan turut bahagia. Tetapi, ada yang membuat Manda gelisah, karena hingga acara dimulai, Praditya ternyata belum juga datang.

Ketika tiup lilin dan potong kue, Manda bingung untuk memberikannya kepada siapa potongan kue ulangtahun ketujuhbelasnya itu. Akhirnya, kedua orangtuanya adalah yang diutamakan. Padahal ia ingin memberikan potongan kue pertama itu kepada Praditya. Tapi, ke mana Praditya, hingga acara berjalan, ia belum juga kelihatan batang hidungnya.

Wartawan sibuk meliput acara pesta ulangtahun Manda yang begitu meriah. Berbagai pertanyaan pun dilontarkan. Tetapi Manda tidak semangat menjawabnya. Ia kehilangan arah tanpa Praditya di sisinya. Menjelang usai acara, Praditya baru datang. Pra langsung mendekati Manda dan mengucapkan selamat.

"Selamat ya, Manda. Kamu sekarang sudah menjadi artis yang dikejar-kejar wartawan," kata Praditya.
"Terima kasih," sambut Manda. "Terus kejutannya mana?"

Praditya melempar senyumnya. Lalu ia melangkah ke depan, menghampiri seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang tergerai. Gadis itu digandengnya mendekati Manda. "Ini kejutannya, saya membawa seseorang yang selama ini selalu mengisi hari-hari sepi saya di hari ulangtahun kamu. Namanya, Erna Dewi. Mahasiswa Sastra Inggris semester akhir," kata Pra. "Saya terlambat ke acara ulangtahun kamu karena menunggu Erna yang datang dari Yogya cuma untuk menghadiri acara tiup lilin kamu."

"Erna," kata Erna sambil menyodorkan tangannya kepada Manda.
Manda menyambutnya dengan serba salah.
"Pra sudah sering cerita tentang Manda, senang bertemu dengan kamu," kata Erna sambut melepas senyumnya.

Manda balas tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Tetapi sejurus kemudian ia kembali tenang. Meskipun ada sakit yang ia rasakan, tapi sakit karena apa, ia pun tak mengerti. Apakah karena ia patah hati karena Praditya? Tetapi Pra tidak pernah mengutarakan cintanya kepada Manda. Pantaskah kalau ia meratapinya?

Ah, Manda memang terlalu banyak berharap cinta Praditya, tetapi Pra ternyata mungkin, mengganggap Manda hanya seperti adik saja. Dan Manda berusaha untuk menerimanya. Cinta yang sempat ia rasakan, seperti cinta semusim yang kini hilang dibawa musim lain. Dan itu terjadi di saat usia Manda tujuhbelas tahun. Manda tidak mau patah hati di usianya yang masih remaja. Jalan panjang masih terbentang di depannya, meskipun tanpa Praditya, Manda berusaha akan menjadi orang yang bisa berdiri di kaki sendiri begitu pun saat mendapatkan cintanya nanti.
"Pra, terima kasih atas segalanya," kata Manda.
Pra tersenyum. "Sukses buat kamu," balasnya.

Manda balas tersenyum, puluhan kamera tertuju ke arahnya. Dan Manda malam itu menjadi bintang di hari ulangtahunnya.



Selesai

0 komentar:

Posting Komentar

 

Shine Huang. Design By: SkinCorner